
Qira dan lainnya memasuki istana kerajaan barat saat hampir larut malam, dengan Qira yang digendong oleh Wolf. Qira kembali sakit karena kepalaparan dan kehujanan,
sepertinya Qira tak bisa terkenah air terlalu lama. Karena setiap ia basah terlalu lama akan membuat ia sakit, terbukti saat ia tenggelam dulu, hujan-hujanan dan juga saat ini. sedangkan Zuzu digendong oleh kaisar Zauhan, sesekali kaisar Zauhan melirik Qira yang digendongan Wolf. Marah? Tentu saja, ia sama sekali tak ikhlas melihat Qira digendong mereka. Tapi ia tak memiliki hak sebesar Wolf dan Leon dimata Qira.
Sedangkan putri Tea bersama Leon.
Qira ditempatkan dikediaman naga, tepatnya kediaman kaisar Zauhan, sebelumnya Wolf dan Leon tak dibolehkan masuk. Karena itu Sebelum tidur, Qira makan terlebih dahulu serta minum obat dibantu oleh mereka, dan itu dilakukan diruang Tamu. Qira juga tak ingin diperiksa karena ia tau jika ia hanya lemas kelaparan. Setelahnya ia memilih berbaring dan terlelap tidur.
Pagi hari....
Mata Qira mengerjab-ngerjab saat merasaan mata hari pagi menerobos masuk dari sela-sela kamar dan menyerang kedamaian Qira. Saat mata Qira terbuka, pertama yang ia lihat adalah Zuzu yang tertidur disampingnya. Ada senyum tipis diwajahnya melihat wajah damai itu, tangannya terulur menyentu pipi gembu Zuzu yang sangat menggemaskan menurutnya. Rasanya Qira ingin sekali menggigitnya.
Mata Qira beralih kepada wajah damai pria dewasa yang sedang memeluk Zuzu sayang, wajah yang bisanya membuat Qira kesal, sekarang sangat damai dan polos. Ketampanannya menjadi berlipat ganda.
“Hm, sepertinya aku tak bisa berlama-lama. Aku kesini bukan untuk seperti ini. misiku belum selesai, aku harus pergi secepatnya.” Gumam Qira.
Apakah Qira sama sekali tak memiliki perasaan kepada kaisar Zauhan? Maka jawabannya belum ada sedikitpun. Ber beda dengan kaisar Zauhan yang memang sudah mengetahui jika dirinya menyukai Qira. Qira bukan tipekal orang yang mudah jatuh cinta. Hatinya masih keras dan dingin.
Qira beranjak dari tidurnya dan melangkah kekamar mandi. Ia memulih mandi dan membersikan dirinya, setelahnya ia memilih untuk menjalankan misi seperti yang ia susun sebelum pergi kekerajaan ini.
Tak Qira ketahui jika kaisar Zauhan tidak tidur sedari tadi. mata kaisar Zauhan terbuka saat Qira memasuki pemandian. “Aku tak akan membiarkanmu pergi dariku. Bagaimanapun caranya.” Gumamnya.
Ada pertanyaan mengapa kaisar Zauhan yang dingin bisa jatuh cinta? Karena nanti akan dijelaskan dicapter penjelasan.
Mata kaisar Zauhan beralih menatap anak kecil dipelukannya, ada seringayan jahat dibibirnya.
Pupukpuk..
“Bangun Hey... Bnagun..” Ia menepuk pipi Zuzu pelan untuk membangunkan anak itu.
“Hey bangun.... Ibumu mau pergi, cepat bangun...” Ucapnya sembari mengoyangkan badan Zuzu pelan.
Zuzu menggeliat kecil tanpa mau membuka matanya. Itu membuat kaisar Zauhan gemes sendiri, bagaimana bisa anak kecil ini sangat susah dibangunkan.
__ADS_1
Tangan kaisar Zauhan terulur kemata Zuzu, ia mengoyang-goyangkan dan membukanya dengan jari-jarinya. “Bangun. Ibumu mau pergi.” Bisiknya.
Zuzu mengeliat sebari menangis... “Uaaaa..... bu,,, ua,,, yaya hahat bu, uaa...(Nangis.... ibu ayah jahat ibu,,,,)” Teriakan dan tangisan Zuuzu menggema dikamar itu, bahkan masuk kedalam pemandian Qira.
“Ayo nangis lagi. Biar ibumu mendengar dan tidak pergi ayooo.” Ucap kaisar Zauhan membujuk. Bukannya meminta untuk diam, ia membujuk supaya tangisan itu menjadi lebih besar. Eth, jangan lupa. Tangisan iu memang rencana kaisar Zuhan.
“Uaa.... Bubu.... hiks hiks..” Teriakan Zuzu semakin keras. Ia bahkan menggeliat kekanan dan kekiri. Senyuman kaisar Zauhan semakin lebar, sengguh rencananya berhasil.
Qira yang sedari tadi pokus mandi menjadi resah. Cepat-cepat ia memakai bajunya dan keluar kamar untuk melihat Zuzu yang menangis.
Kaisar Zauhan cepat-cepat membenamkan wajahnya dibantal, ia tak tahan untuk tidak tertawa. Sedangkan Qira yang melihat kaisar Zauhan yang membenamkan wajah menjadi heran. Tidakkah sesak nafasnya? Biskaah ia bernafas? Cih, andai Qira tau jika ini semua rencana busuk kaisar Zauhan.
“Hey Zuzu. Mengapa kau menangis. Sini..” Ucap Qira sembari menentangkan tangan kepada Zuzu.
Zuzu bangkit dari tidurnya. Bukan menerima Qira. Ia malah menepuk lengan kaisar Zauhan.
Puk..
Puk...
Puk..
Puk...
Secara bruta ia memukul, menerjang yang terakhi menggigit.
“Kyakk.sakit..” Teriak kaisar Zauhan. Ia sedari tadi menahan semua pukulan dan terjangan Zuzu secara sukarela, memang dia salah kan? Jadi wajah saja Zuzu mengamu. “Kau mengadu pada ibumu ya? Tadi kau tak berani memukulku saat ibumu tak ada, saat ada ibumu baru kau membantaiku. Ckk licik kau rupanya.” Batin kaisar Zauhan.
Bisa bayangkan jika kecil saja sudah cerdas dan licik? Lalu bagaimana saat sudah besar?
Andai saja ia memukul kaisar Zauhan tadi, mungkin kaisar Zauhan sudah membuangnya. Tapi tidak mungkin jika ada Qira yang melihat hehhe...
“Iya pukul lagi... Lebih keras, lebih keras. Hahah.” Qira tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi menggemaskan Zuzu mengahajar kaisar Zauhan. Sudah tau Zuzu menangis, ia malah membenamkan wajah dibantal.
__ADS_1
“Bantu aku Hey..” Kaisar Zauhan duduk disisi ranjang sembari menghindar serangan harimau kecil ini.’
“Ya hat... ni pul...( Ayah jahat. Sini aku pukul.)”Zuzu sudah tak lagi menangis semakin semangatnya membalas dendam kepada kaisar Zauhan. Untung pukulannya masih kecil cxcx.
“Sudah. Aku mau mandi, kau mandikan dia.” Ucap kaisar Zauhan menatap Qira.
Qira mengangguk. Ia mengambil paksa Zuzu. “Hey predator ganas. Kita mandi.” Qira mengangkat tinggi Zuzu keatas. Lalu memasuki kamar mandi meninggalkan kaisar Zauhan.
Saat sesudah mandi Zuzu dan Qira keluar. Qira membelitkan handuk ditubuh mungil Zuzu. Sedangakn kaisar Zauhan cepat-cepat memasuuki kamar mandi. Qira hanya acuh. Ia pikir jika kaisar Zauhan ingin buang hajat.
Tapi sebenarnya karena kaisar Zauhan mau mandi sesegera mungkin supaya saat Zuzu selegai memakai baju, ia sudah selesai mandi. Ia hari ini akan menyusun rencana licik supaya Qira tak kabur darinya.
“Sudah tampan. Ayoo kita main dengan ayah Wolf dan Leon.” Ucap Qira kepada Zuzu yang sedari tadi sangat aktif.
“Tidak boleh. Dia harus sarapan dulu.” Ucap kaisar Zauhan yang baru keluar dari kamar mandi.
Qira tentus saja terkejut. Ia menatap kaisar Zauhan yang menggunakan handuk putih, dada bidangnya mengintip disela-sela handuk kimono itu, rambut panjangnya basah dan kusut. Tapi sayangnya pemandangan itu sangat indah. Bahkan lebih dari biasanya. Sesegera mungkin ia memakai baju.
Wajah Qira terlalu susah untuk kaisar Zauhan tebak. Apa ia terpesona, atau tidak, dan itu semua menambah kadar penasaran dirinya kepada Qira. Dengan seringayan licik pula ia mengambil ali Zuzu dari Qira.
“Zuzu. Sini sama ayah..” Ucapnya lembut, dengan raut wajh membujuk.
Dengan senang hati pula Zuzu menerima uluran tangan kaisar Zauhan. Senyum licik kaisar Zauhan semakin menjadi. “Ehmm... Qira...” Ucapnya.
Qira yang sedari tadi hanya diam mendongak menatap kaisar Zauhan. “Kenapa?”
Kaisar Zauhan duduk didepan cermin perunggu sembari menduduki Zuzu dipangkuannya. “Tolong sisir dan ikat rambutku. Aku tak bisa menyisirnya, karena tanganku harus menggendong Zuzu.” Bujuknya. Ia tersenyum sambil sedikit melirik reaksi Qira.
Sungguh ia rela menjadi orang yang bodoh saat i ni demi mendapatkan perhatian gadis kecil..
.
.
__ADS_1
.