
Putri Tea sangat berbeda dengan Qira. Mulai daris sikaf dan wajah. Jika sifat Qira sangat keras namun bijaksana, putri Tea bersikap polos dan menggemaskan.
Wajah Qira yang sangat cantik dengan wajah yang oval. Putri Tea beerwajah bulat dan pipi yang cubby, bibir tipis atas namun sexy dibawah membuat ia sangat menggemaskan. Ditambah mata bulat dan pupil hitam jerni menambahkan kesan manis didirinya. Rasanya ingin dikarungi dan dibawah pulang bagi yang melihatnya. Ya kecuali Qura dan yang temannya.
Umur putri Tea sama dengan Qira, hanya beda bulan. Sedangkan tingginya juga sama, hanya saja tubuh Qira lebih kurus dari putri Tea.
“Kau tak bisa memanjat pohon. Karena didepan sana ada sungai.” Sahut Qira.
Kalian ingatkan jika kerajaan ini dibangun sangat baik bukan? Jadi tidak akan bisa seseorang keluar lewat pagar beton jika ilmunya masih kecil!.
Wajah putri Tea menjadi murung. “Aku tau. Setidaknya jika aku bisa diatas pohon, aku bisa melihat dunia luar. Melihat perdesaan dari sana.” Ia menujukkan tangannya keatas pohon.
Qira dan lainnya mendongak menatap arah putri Tea arahkan, lalu menatap wajah polos nan sedih putri Tea. “Kau tak mau liat sendiri secara langsung?” Tanya Qira. Sedangkan yang lain hanya diam.
Putri Tea mengangguk. “Mau, tapi aku tak pernah disuruh keluar. Aku pernah keluar hanya saat umurku 6tahun. Itupun bersama kakekku.” Jawabnya sedih.
“Apa tubuhmu tidak berlumut?” Tanya Leon datar.
Putri Tea mengernyit, ia menatap tangannya yang mulus. “Tidak.” Jawabnya polos.
Qira terkekeh, ia tau jika Leon mengejek, tapi ejekannya salah tempat. Putri Teakan polos. Sedangkan Wolf hanya menatap putri Tea malas, ia malas meladeni gadis bodoh.
“Kau bodoh atau polos? “ Tanya Leon terkekeh.
“Aku tidak bodoh.” Cicit putri Tea sambil memajukan bibirnya sebal. Bisakah Qira menarik bibir itu semakin maju, dan menggigit pipi tembem itu? Sungguh Qira geregetan.
“Kalian mau kemana?” Cicit putri Tea lagi kepada Qira.
“Kami mau kepasar.” Jawab Qira.
Putri Tea membesarkan matanya penuh binar, ia menggenggamkan kedua tanganya kedepan dan berlari kecil mendekat kepada Qira, “Ikut kakak...” Ucapnya.
“Tidak... Kau hanya menyusahkan saja nanti.” Sahut Leon.
“Tapi, aku mau liat desa dan pasar, aku belum pernah melihat pasar.” Jawabnya lesuh sambil menggelengkan kepalanya.
“Tapi kau pasti merepotkan. Kau sangat manja.” Sahut Leon lagi. Sepertinya mengejek putri Tea adalah hoby baru Leon saat ini.
Putri Tea menganggat dagunya. “Aku tidak akan merepotkan. Aku tidak manja, aku boleh ikut ya.” Ucapnya. Cek, suaranya saja menggemaskan.
__ADS_1
“Tidak boleh.” Jawab Wolf tegas sambil menarik Qira menjauh. Bagaimana bisa mereka membawah gadis polos nan manja, sudah dipastikan hanya merepotkan. Kan sudah dikatakan, jika Wolf tak suka gadis manja.
“Oy ayolah kakak ipar. Aku mau ikut..” Rengek putri Tea sambil merangkul tangan Qira. Matnya sudah berkaca-kaca.
Qira menatap putri Tea ibah. “Ayo. “ Jawabnya tiga hurup namun membuat putri Tea melompat kesenangan.
“Terimakasih kakak ipar..” Ucapnya penuh kegirangan. Ia melangkah menarik lengan putri Qira. “Tapi kakak sudah pamitkan dengan kakakku?” Tanyanya.
Qira hanya mengangguk meski berbohong. ia bahkan tak perlu meminta izin kepada siapapun untuk hidup bebas.
Qira merasakan senang diganeng oleh putri Qira. Selama ia hidup, baru kali ini ia digandeng oleh teman perempuan. Bisa dikatakan jika putri Tea adalah teman perempuan satu-satu miliknya. Baik didunia modern lalu maupun didunia kuno ini.
Saat sudah ditempat kuda, senyum Qira melebar saat melihat Black baik-baik saja. Black pun meringik merasakan rindu kepada Qiea. Disana ada penjaga kuda yang membawah kuda untuk Qira dan lainnya. Ya kuda mereka sebelumnya.
“Hallo Black. Apa kau baik-baik saja?” Tanya Qira sambil mengelus serulai Black.,.
Black meringik sambil bermanja ditangan Qira. “Sangat baik. Aku merindukanmu.” Ucapnya.
Qira terkekeh geli melihat kuda hitam dan menyeramkan itu manja. “Oh ayolah, jika begitu, mari kita bersenang senang hari ini.” Ucap Qira.
Tentu saja Black meringik dan membungkuk mempersilakan Qira naik..
“Aku naik apa?” Cicit putri Tea polos.
Putri Qira menggeleng sambil memilin ujung hanfunya. “Tidak. Aku dulu mau belajar, tapi ibuku tak membolehkanku. Katanya gadis itu harus anggun bukan hebat.”
Qira menganggguk mengerti. Ia tak heran, karena memang dizaman ini gadis itu hanya istri. Bisa dikatakn budak suami, ya suami bebas merangkul banyak istri dan menempatkan diharem. Seorang gadis hanya diajarkan bersolek, berjalan anggun dan belajar tata kerama supaya mendapatkan suami yang berstatus tinggi. Tapi sayangnya Qira melenceng dari garis gadis dizaman ini.
“Kau bisa menaiki kuda bersamaku.” Ucap Qira.
Tapi sayangnya Black meringik dan mengangkatkan kakinya keatas, “Tidak mau..” Ucapnya.
“Mengapa?” Tanya Qira heran sambil memegang tali kekang erat takut terjatuh.
“Aku hanya memiliki satu tuan. Jadi jangan biarkan dia menaikiku, aku tak mau.” Jawabnya meringik lagi.
Qira menatap putri Tea yang sudah didekatnya dan menatap teman-temannya. “Black tak mau dinaiki orang lain. Bisakah kalian membawah putri Tea?” Tanya Qira.
Tentu saja Leon dan Wolf menolak. “Sudah kami katakan dia hanya merepotkan. Naik kuda saja tidak bisa.” Jawab Leon sinis.
__ADS_1
“Jika tak ada yang mau, maka kita tidak akan pergi.” Putus Qira tegas.
“Baiklah. Dia akan bersama Wolf.” Sahut Loen cepat.
Wolf menatap Leon tajam. “Kau saja.” Ucapnya sambil pergi meninggalkan Qira dan lainnya.
Qira menatap Leon penuh peringatan. “Iya. Ayoo kemarilah..” Ujar Leon mengalah. Ia turun dari kudanya.
Putri Tea sebenarnya merasah sedih awalnya. Tapi ia merasa senang karena Leon menerima. Matanya membulat saat Leon mengendongnya dan meletakkan dirinya diats kuda. “Ternyata kau lebih berat dibanding Qira.” Gumam Leon..
“Mengapa kau menggendongku? Aku bisa naik sendiri.” Jawab Putri Tea sedikit berteriak.
Leon menutup telinganya dan menaiki kudanya. “ Kau terlalu lama. Lagipula tubuhmu itu sangat kecil, bagaimana bisa kau naik kuda yang begitu besar.” Putri Tea diam saat mendengar ucapan Leon. Memang benar adanya, tubuh pendek sepertinya mana bisa jika tidak terlatih.
Qira mulai mendahului Leon menuju gerbang. Disana sudah ada Wolf yang menunggu. Saat itu belum ada yang bergerak untuk membuka gerbang. “Buka gerbangnya.” Ucap Qira dingin kepada penjaga.
Penjaga itu maju. “Maaf yang mulia. Tapi hamba tidak berani.” Jawabnya tegas.
“Aku sudah meminta izin kepada raja kalian. jika tidak percaya kalian tanya langsung saja.” Alibi Qira. Ia tau jika perajurit ini takut pada kaisar Zauhan.
Prajurit itu memandangi temannya. Temannya mengangguk menyetujui. “Baiklah yang mulia.” Ucapnya penuh hormat. Ia kembali dan menarik tali gerbang.
Ya disini ada tali untuk gerbang. Gerbang itu akan menjadi jembatan diatas sungai. Keren bukan? Tentu saja. Karena itu kerajaan ini sangat aman.
Senyum Qira melebar. “Ayoo. Kita bertarung.” Ucap Qira.
“Aku pasti menang.” Sahut Wolf duluan. Ia bahkan meninggalkan Qira dan Leon. Ia tau jika yang dimaksud Qira bertarung itu adalah bertarung menungangi kuda.
“Hey kau curang..” Teriak Qira.
“Duluan Qira...” Leonpun meninggalkan Qira yang masih berteriak.
Qira menepuk leher Black. “Ayo Black. Kita kalahkan para pembual itu..” Ucapnya.
Tentu saja Black meringik dan mulai membawah Qira penuh semangat.
Putri Tea memeluk kuda Leon erat. Ia sangat takut. “Ja jangan. Aku takut.” Ucapnya gugup.
Leon masih tertawa bahagia. “Buka matamu. Ini menyenangkan.” Jawab Leon.
__ADS_1
“Tidak mau.. ini sangat mengerikan. “ Jawab putri Tea.
“Bukalah. Aku akan memelukmu jika kau jatuh.” Jawa Leon. “Buka matamu cepat.” Ucap Leon. Rasanya menyenangkan melihat Putri Tea takut.