Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Kasih sayang


__ADS_3

Qira menyimak semuanya dengan seksama. Ia meringis sedih.” Maafkan aku, karena aku kalian terlibat masalahku. Andai aku mendengar nasehatmu Wolf saat itu.”


“Cek, kapan kau bisa merendah diri? Aku lebih suka Qira sombong.” Uap Wolf. Ia mencoba mencairkan suasana, sungguh ia tak ingin menangis didepan Qira karena rapuh dan rasa bersalah.


Qira menguap mengantuk. “ Kau ini, aku baik salah, sombong kau benarkan. Apa jadinya anakmu nanti.” Jawab Qira.


“Yang terpenting bagiku, semuga anakku tak menuruni sikapmu.” Jawab Wolf.


Qira tertawa keras. “Mana mungkin menuruni sikapku. Hey, jika aku ibunya baru menuruni sikapku.” Ucap Qira.


“Tapi kau bibinya nanti.”


“Hey mengapa kalian membhas anak saat ini? Seperti sudah mempunyai pasangan saja.” Ketus Leon.


Qira dan Wolf tertawa terbahak-bahak.


“Aduh. Kalian bisa saja.” Ucap Qira sambil mengulas perutnya yang nyeri. “Aku ada tugas buat kalian. bisakah kalian membantuku.” Lanjut Qira serius.


“Apa?” Tannya Wolf dan Leon serentak.


Qira melambaikan tangan untuk mendekat. Qira merangkul tubuh Wolf dan Leon yang kekar dan berbisik kepada mereka sesuatu. Wolf dan Leon menyimak secara seksama.


“Aku ingin kalian mencari bukti, jika perdana mentri pertahanan itu adalah mata-mata.”


“Bagaimana kau bisa yakin?” Wolf heran


“ Aku tau. Aku bisa membaca rencana mereka. Kita hanya mencari bukti, lalu kita bisa bebas dari penjara ini.” Jelas Qira.


“Wolf akan mengawasi putri Ping dan Leon mengawasi perdana mentri Hiyuang. Ah aku juga mengingat, dipikirannya juga menyebutkan satu nama. Jingji.” Ucap Qira lagi.


“Siapa itu? Lalu apa hubungannya semua ini kepada kita?” Tanya Wolf.


Qira menghela nafas, ia membuka bahunya. “Tanda apa ini?” Tanya Wolf saat melihat tanda dibahu Qira. Leon tak kalah terkejut akan hal ini.


Qira menjelaskan semuanya kepada Wolf dan Leon. Sama sekali tak ada yang ia tutupi. Wolf dan Leon pastinya mengepalkan tangan, mata mereka tajam marah. Tapi pebicaraan mereka terputus saat melihat satu gadis yang menyapa Qira.


“Hallo kakak ipar.” Ucapnya lugu.


Qira cepat-cepat menghentikan mulutnya. Ia menatap gadis yang menyapanya.

__ADS_1


“Jangan panggil aku seperti itu.” Jawab Qira sinis.


Gadis itu menunduk takut. “Ma maafkan aku, aku aku lebih suka memanggilmu kakak ipar dari pada yang mulia. Aku hanya ingin kita berteman meskipun kau permaisuri.” Ucapnya polos. Matanya berkaca-kaca.


Qira berdecap sebal. Mata gadis itu menatap Qira lugu. Hati Qira tentu saja luluh. “Bukan itu. Aku tak suka kau panggil kakak ipar atau permaisuri. Panggil aku Qira.”


“Tapi mengapa Qira? Bukannya nama kakak ipar Ming zu?”


“Ikuti saja kataku.” Tukas Qira. “Namamu putri Tea kan?” Tannya Qira...


Gadis itu mengangguk polos. Matanya sekarang beralih menatap Wolf dan Leon yang berwajah datar. “Halloo..” Ucapnya polos, ia bahkan melambaikan tangan.


Qira menyenderkan punggungnya disenderan kursi, kakinya terulur. “Wolf, Leon.” Ingatnya sat melihat wajah putri ping murung. Jika tidak diingatkan pastilah Wolf dan Leon tak akan menanggapinya.


“Hallo.” Jawab Leon cepat. Wolf hanya menganggukkan kepala. Mereka tau peringatan Qira itu.


“Putri Tea......!” Teriak salah satu wanita jauh dari sana.


Mata putri Tea membulat. “ Aku duluan. Sampai jumpa semua.” Ucapnya pamit lalu berlari. Ia bahkan mengangkat tinggi hanfunya supaya tak membuatnya repot.


Qira dan lainnya hanya tertawa saat melihat putri Tea berlari seperti anak kecil. Umur putri Tea sama dengan Qira, hanya beda bulan saja. Ada Pelayan senior yang mengejar putri Tea, pelayan itu membawa rotan dan buku.


“Hahah.” Tertawa Qira. “Wolf. Kau tau, dia menyukaimu.” Lanjutnya Qira,


Wolf menatap Qira datar. “Maksudmu? Ku liat dia biasa saja.” Sahutnya,


“Kita lihat saja kedepan hari. Tapi dia gadis yang baik.” Lanjut Qira. Wolf hanya acuh akan perkataan Qira, sedangkan Leon masih menatap acara kejar-kejaran putri Tea yang menurutnya lucu dan menggemaskan.


“Sudah. Kalian awasi apa yang aku suruh tadi.” Ucap Qira lagi.


Wolf dan Leon bangkit dan mengangguk. Tangan Leon teruliur mengelus rambut Qira lembut. “Kami akan melakukan yang terbaik.” Ucapnya.


Cup..


Ia mencium puncuk kepala Qira sayang.


“Hey, aku juga mau...!” Teriak Wolf. Ia menarik pundah Leon kencang.


Leon berdecap sebal. “Bisakah kau tak merusak suasanaku terhadap Qira..!”

__ADS_1


“Tidak.” Ucap Wolf. Ia memegang bahu Qira yang terangkat karena tertawa. “Kami janji akan mengeluarkanmu dari penjara ini.” Ucapnya,.


Cup..


Ia mencium pelipis Qira.


Jujur saja. Qira bukan lah orang yang genit atau menyukai dicium pria-pria tampan. Tapi entah mengapa, ia merasa jika kecupan dari Wolf dan Leon itu bagaikan curahan cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia tak pernah mendapatkan arus cinta yang begitu besar seperti ini.


Ia merasa jika kecupan itu bagaikan kecupan ibu dan ayah yang tak pernah ia dapatkan. Ia merasa semua itu adalah pengganti sakit karena tak mendapatkan kasih sayang orang tua. Dewa memang tak memberi ia orang tua penuh cinta. Tapi Dewa memberinya cinta dan sayang yang tulus melebihi Syurga.


‘Terimakasih Syurga..’


“Sudah. “ Ucap Leon menarik pundak Wolf tak kalah keras.


Qira memegang tangan kekar Leon dan Wolf. “Hati-hati. Terutamakan nyawa kalian.” Ucapnya. Qira berjinjit,


Cup..


Cup..


Ia mencium pipi Wolf dan Leon secara bergantian. “Semangat...!” Ucap Qira.


Wajah Wolf dan Leon memerah. Jujur saja, mereka belum pernah dicium seorang perempuan. “Ka kami pergi.” Ucap Wolf gugup. Ia memalingkan wajahnya yang tersenyum malu. Sedangkan Leon hanya berdehem dan pergi meninggalkan Qira yang masih terkekeh.


“Sudah tua masih baper. Makanya jangan kelaman jomblo.” Ucap Qira. Ia tau jika Wolf dan Leon salah tingkah, tubuh mereka saja sampai beku. Qira menggelengkan kepalanya.


Qira melangkah menuju kediaman kaisar Zauhan. Saat ia sampai disna, ia tak mendapatkan kaisar Zauhan, ia hanya mengidik bahu acuh. Matanya beralih kepada kertas yang terbuat dari kulit kayu, ada kuas dan tinta disana. “Aku ingin membuat surat ah.” Gumamnya.


Qira melangkah ringan menuju meja itu. Ia menyilangkan kakinya dan duduk. Ia mulai memoleskan kuasnya dengan tinta. Ia membuat tarian indah diatas kertas itu.


Matanya menetesi air mata saat membuat surat. Itu surat untuk ayah Alex dan Ayah Weynya.Tidak lupa saudara- saudaranya dan Kenzi. Tapi tak bisa Qira pungkiri jika ia merindukan kicauan Guang Lii dan Juang Lii. Dia memang lebih akrab dengan mereka dari pada saudara kandungnya sendiri.


Qira menggulung kertas itu dan melangkah keluar dari ruangan itu, ia tak lupa membawa pisau buah disana. Ia tak bisa tak membawa senjata untuk melindunginya,


Qira mendongak menatap langit saat ia sudah sampai didepan kediaman. Matanya mencari-cari burung yang terbang. “Cwuiiiit...” Ia bersiul saat melihat seekor burung elang terbang tinggi.


Seperti sihir, Elang itu turun dari ketinggian. Ia mendarat tepat didepan Qira. Qira berjongkok dari duduknya. “Hey, bisakah kau membantuku teman?” Tanya Qira sambil menaik turunkan alisnya.


“Ada apa?” Tannya elang itu dengan bahasanya.

__ADS_1


__ADS_2