
“Wahh. Ini sangat segar. Aku baru tau jika ini bisa diminum dengan mudah.” Jozu mengeleng takjub akan buah kelapa yang ia minum. Begitu juga dengan lainnya. Ia bahkan baru tahu cara membuka buah kelapa dari Qira.
“Benar. Andai aku tau jika buah ini bisa diminum, pasti sedari dulu aku meminumnya.” Sahut Yuan tak kalah takjub.
Qira terkekeh melihat kekuno'an mereka. Ahhh, Qira menjadi ingat saat ia bermain bola bersama dengan kakak-kakak dan ayahnya dulu. Ekspresinya sama-sama kagum. ia membuka kelapa yang berada ditangannya.
“Apa yang kalian lakukan?” Suara kaisar Zauhan membuat mereka mengalihkan pndangan keraha kaisar Zauhan yang baru sampai disana.
Yuan berdiri dengan antusias.” Kami minum ini. apa kau mau mencobanya?” Ia mengajukan kelapa yang sudah ia minum setengah airnya dengan binar mata yang sangat antusias.kaisar Zauhan memasang wajah datarnya. Minum bekas orang?
Ia hanya makan jika itu bekas Qira dan dari tangan Qira.
Yuan sudah bisa berbagi minum atau makanan kepada yang lain. Karena kondisi des yangbharua membuatnya tak boleh merasa jijik satu sama lainnya.
Menyadari jika kaisar Zauhan tak akan menerima pemberian Yuan, Qira mendekat sembari menyodorkan yang baru. Ia tak mau kaisar Zauhan diangap jahat dan sombong nantinya. Bukn karena perhatian , hanya saja mereka orang pendatang saat ini.” Tidak apa Yuan. Biar Zou minum kelapa yang sudah ku siapi saja.” Ucapnya.
Kaisar Zauhan menahan bahagianya dengan wajah datar. Ia mendekat sembari memeluk pinggang Qira.” Terimakasih sayang.” Ia meminum air kelapa ditangan Qira.
Yuan yang mendapatkan penolakan itu hanya diam, apa lagi sedari pertemuan pertama dirinya dengan kaisar Zauhan, tak pernah mendapatkan senyuaman, sapaan ataupun ucapan yang ramah. Hanya dengan Qira sang istrinya saja ia melihat kaisar Zauhan bisa berinteraksi dengan santai.
...
Qira dan lainnya pun sekarang berada dipara pengidap penyakit wabah. Satu kata yang meluncur spontan dipikirannya. ‘mengerikan’ bahkan ‘Sangat’ Kenapa? Karena tubuh mereka melepuh bagaikan habis terkena minyak panas.
“Obat ini yang paling enak sepanjang hidupku nona.” salah satu paru baya itu menatap air kelapa itu penuh minat.
“Benar. Ini sangat nikmat. Sungguh segar rasanya..” Sahut yang lainnya membuat Qira tersenyum tipis.
__ADS_1
“Dimana suamimu Qira?” Suara itu dari Ying yang sedari tadi diam sekarang bertanya pada Qira. sepertinya ia tertarik dengan kaisar Zauhan.
Apaan ini?
Menanyakan suami orang pada istrinya?
Ahh, untung istri gadungan.
Qira nenipiskan bibirnya sejenak.” Akupun tak tau.” Ucapnya santai.
Ying pun menatap Qira penuh harap. Ia mengikuti Qira yang memilih menaruh kendi yang berisi air kelapa itu kedapur, sepertinya ia masih tak ingin menyerah.” Eh..” Matanya melirik Qira sebentar untuk mendapatkan respon, namun sama sekali tak diberi respon.
Aah, ia menjadi kesal.
Qira melirik Ying sekilas lalu menghela nafas. tapi ia malas sekali mengurusi hal yang sama sekali tak penting seperti ini, ia berniat untuk pergi dan menangkap dalang dari racun ini, ahh, ia tak habis fikir, apa maksud dan tujuan dari ia menyebar racun ini. apakah karena dendam? Atau memang karena sutu kesenangan baginya. Secara kerajaan barat adalah kerajaan jaya nan makmur, bagaimana bisa kecolongan seperti ini.
Tepat sekali.
Ying masih saja merecoki Qira yang sekarang sedang sedang berfikir. Ia melirik Ying yang memasang wajah mumpeng berharap jawaban. Ia malas menjawab lalu perg begitu saja.
“Hey tunggu.” Ying berdecap sebal karena ditingal oleh Qira tanpa jawaban, apa salahnya coba hanya menjawab ‘Iya’ atau ‘Hm’’ saja, setidaknya bukan didiami seperti ini
Kacang..
..
Ditempat lain ada sepasang manik mat yang selalu mengawasi Qira. selalu mengawasi dan mencari tahu apapun yang Qira lakukan, sudah dua buan ia mencari tanpa menemui Qira dan sekarang ia menemui Qira, padahal ia kesini bukan itu tujuannya, aah, sekali dayung dua pulau terlewati.
__ADS_1
“Yang mulia. Dia sudah menunggu kedatanganmu, apa kita masih akan tetap disini yang mulia?” Ia bertanya dengan hormat. Matnya bahkan tak berkutik untuk melihat manik mata sang tuannya.
Pria itu menghela nafas. “Bagaimana bisa ia sudah menikah dalam waktu kurang dari dua bukan.” Tangannya mengepal, kukunya memutih hingga beberapa saat setelahnya telapak tangannya mengeluarkan darah karena tusukan kukunya sendiri. Ahh, bahkan ia tak menjawab pertanyaan pelayannya.
Pelayan itu hanya menunduk takut untuk menatap sang tuan.
“Akan ku pastikan kau akan ku taklukkan bagaimanapun caranya.” Ia membalikan tubuhnya meningalkan sang pelayan pria yang mematung ditempat. Ia pergi untuk menghadap seseorang yang penting untuk menjalankan permainannya.
...
Langkah tegas kaisar Zauhan membawa aurah yang mematikan, pria pun akan kagum dengan tatapan intimidasi yang ia buat. Ahh, ia pergi ketempat pembuatan obat bersama dengan Yaoyao dan Taotao.
Tapi disana sudah ada Qira yang sedari tadi kabur dari pertanyaan Ying yang tak penting baginya.”Sedang apa kau disini?”
Qira menjauhkan obat itu dari hidungnya. Ia baru saja mencium obat yang baunya sangat menyengat. Matanya mencari asal suara dan suara itu berasal dari balik pintu, dia adalah tabib Yaoyao.
Qira memasang wajah serius dengan meletakkan kembai obat itu ketempatnya.” Obat ini sudah tercampur racun.” Ucapnya serius.
Tabib yaoyao melotot tak percaya.” Bagaimana bisa? Itu adalah obat yang baru kita bawah kemarin.” Ia mendekat lalu memeriksa obat-obatan itu.
Qira menatap mereka serius.” Aku tau itu racun. Kan sudah ku katakan jika racun itu disebar memlalui udara. Sebut saja itu adalah racun terbang. Ini dibuat dari ilmu hitam. Bisa dikatan jika racun ini mengunakan tumbal dan tumbalnya kalian. Aku bisa jamin orang yang membuatkan racun ini adalah orang yang kuat.”
Kaisar Zauhan sudah berpikir hal yang sama, inilah yang ia suka dengan Qira. bukan hanya mengandalkan tampang ataupun kepolosan. Ia tak butuh gadis polos, gadis polos itu adalah kata lain dari gadis bodoh. sedangkan Qira itu pintar, mudah memahami situasi dan juga hebat. Apa lagi yang ia butuhkan? Cantik? Bahkan Qira bisa membuat 7kerajaan perang jika ia berdandan ayaknya putri. Untung ia berdandan bagaikan seorang pria.
“Tapi aku tak mencium apapun. Ini masih bersih Qira, jika memang ini ada racunnya, maka mereka sudah mati. ini obat yang kami gunakan tadi.” Taotao ikut memeriksa dan mencium obat-obat itu.
Qira menghembus nafasnya sebentar.” Racun ini memang bereaksi lamban, bukan sekaligus. Karena itu setiap para pengidap tak bisa sembuh. Kalian tidak curiga mengapa mereka tak bisa sembuh? Ini racun, racun buatan..” Qira ngotot dengan argumennya.” Bahkan kalian sudah terkenah racun sedari kalian memasuki tempat ini, dan jalan satu-satunya adalah mencari siapa pembuat racun ini supaya kita bisa mendapatkan penawarnya.”
__ADS_1