
Wolf membayar semua baju yang mereka beli dan melangkah pergi bersama lainnya. Mereka kembali ketempat penitipan kuda mereka sambil membawa makanan dan buah untuk Black dan kuda lainnya.
“Ayo kita cari makanan dulu baru pergi...” Ucap Leon.
“Kau benar. Aku juga cukup lapar, ayoo” Sahut Wolf.
Qira hanya mengikuti saja. Mereka membelah jalanan menuju salah satu kedai. Dan memesan beberapa makanan. Saat makanan tiba mereka dengan lahapnya makan bagaikan tak makan ribuan tahun.
“Lihatlah. Disini ada penginapan.” Tiba-tiba Leon bicara diselah-selah makan. Ia menunjukan tanda tulisan ‘penginapan.’
Wolf dan Qira menghentikan makannya dan menatap yang Leon arahkan. Wolf tersenyum gembira. “Benar. Ayoo kita tanya dengan salah satu pelayan.” Ucapnya semangat.
“Habiskan dulu makanan kalian. nanti baru kita tanya.” Sahut Qira. Ia masih makan makanannya lahap seakan tak peduli akan tidur dimana.
Wolf dan Leon menatap Qira. Mereka tau jika sifat Qira yang acuh ini karena memang hidupnya yang dulu membuatnya menjadi kebal terhadap apapun, ia tak peduli apapun. Ia bahkan tak melihat tubuhnya sendiri. Untunglah Qira cantik. Jika tidak kalian bisa bayangkan saja betapa kumal dan mengenasnya penampilan Qira.
“Baiklah.” Ucap Wolf. Ia menghabiskan makanannya dengan cepat. Ia tak ingin kalah cepat dengan pengunjung lain. Tak butuh hitungan menit makanannya sudah habis.
Qira bahkan menatap Wolf terkejut. Wolf tak perna makan seperti itu. Ia selalu makan dengan elegan dan mengagumkan. “Pelayan..!” Ucap Wolf.
Salah satu pelayang perempuan datang menemui panggilan Wolf. “Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanyanya gugup. Ada rona merah malu diwajahnya, bahakan wajahnya bagaikan kupu-kupu yang bertebaran, sedangkan Qira hanya menggeleng menatap teman-temannya penuh dengan pemujaan.
“Apa disini ada penginapan?” Tanya Wolf penuh kharismatik.
Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Wajahnya merah semerah tobat. Ia mulai mendekati Wolf. “Ada tuan. Disini juga menyediakan jasa untuk memuaskan tuan.” Ujarnya .
Wolf memundurkan kepalanya terkeut. Ia tak mengerti. “Apa disini ada layanan pijit juga?” Tanya Wolf. Ia memang sangat lelah. Ia pikir ‘jasa memuaskan’ untuk membuat ia Menjadi raja kembali.
Gadis itu menatap Wolf tersenyum, “Iya. Apapun untuk tuan.” Ucapnya genit.
Leon yang tak jauh dari Qira paham arah bicara Perempuan itu.. ia cepat-cepat bergeser mendekati Qira. Sedangkan Qira hanya tertawa melihat calon raja temannya yang sangat polos nan bijaksana ini.
__ADS_1
Senyum Wolf mengembang. “Aku pesan 3pelayanan yang akan memuaskan kami. Dan jangan lupa sediakan air hangat dan wewangian untuk kami mandi dikediaman ini. apa ada 3kamar kosong?” Tanyanya.
Pelayang itu tersenyum senang. Ia menatap Leon dan Qira. Ia berfikir wajar saja Wolf memesan 3kamar. Matanya tak kalah membesar saat melihat Leon yang sama tampannya dengan Wolf. “Apa tuan tak ingin memesankan jasa memuaskan kami?” Tanyanya lembut.
Entah apa yang Leon pikirkan. Ia mencengkram tangan Qira erat dan menggeleng. Jujur saja ia bahkan tak pernah berpikir hal sejauh itu. Tapi ia seorang pria. Siapa yang tau akan hal itu.
“Yasudah. Saya akan menyiapkannya tuan. Tuan mau pelayanan yang seperti apa?” Tanyanya lkepada Wolf.
Wolf mengernyit heran. Mengapa Leon ketakutan. Tapi ia mencoba berfikir jerni. “Pelayanan yang paling memuskan. Yang paling terbaik disini.” Jawabnya angkuh.
Perempuan itupun tersenyum. “Jika begitu tuan dan lainnya tunggu disini. Saya akan menyiapkan penginapan yang kalian pesan. Plus pelayanan yang sangat memuaskan.” Ucapnya mendesa.
Qira merinding mendengar ucapan perempuan itu. Sedangkan wajah Leon ,memerah padam. Jika dilihat memang hari ini sudah sangat larut malam, awalnya Qira juga sangat bingung. Tempat ini banyak sekali pria-pria dan arak. Ditambah pelayannya berpakaian seksi.
Ia ingin mengatakan kepada Wolf yang dimaksud ‘pelayanan yang memuskan itu’ negatif. Tapi ia mengulum senyum untuk menahan tawanya yang akan pecah saat membayangkan ekspresi Wolf akan kenyataan yang ada.
“Apa kau yakin Wolf?” Tanya Leon saat pelayan itu sudah pergi.
Andai Qira tak bisa mengendalikannya. Mungkin suara ia tertawa akan menggema didalam kedai itu. Ia mengisyaratkan kepada Leon unruk diam saja. Dan Leon pun hanya mengikuti instruksi Qira.
“Permisi tuan. Kami sudah menyiapkan penginapannya, penginapannya berada dilantai dua tuan.” Pelayan tadi yang menemui mereka datang lagi. Ia tersenyum manja kepada Wolf dan Leon. Lagi-lagi Leon mendekati Qira dan memeluk lengannya.
Sedangkan Wolf yang sama sekali tak tau apa-apapun tersenyum senang. Ia beranjak dari duduknya. “Akhirnya bisa istirahat dan bersenangp-senang. Ayooo” Ucapnya seakan-akan ia sudah tau apa yang akan terjadi.
Pelayan itu menatap Wolf dengan wajah merah merah merona. “Ayo ikuti saya tuan.” Ucapnya dengan sensual.
Dengan elegan Wolf berjalan. “Ayoo.” Ucap Wolf mengajak Qira dan Leon.
“Ehmm..” Qira berdehem untuk menahan tawanya. Ia melangkah mendekti Wolf dan Leon yang mengambil jarak dengan Pelayan itu. Mereka menyelusuri tangga mengikuti pelayan itu. Saat mereka telah sampai dilantai dua. Suara yang menjijikkan terdengar ditelinga Qira. Wajar saja, karena ia bisa mndengar suara dari jarak jauh. Telinganya sangat sensitip akan suara. Begitu juga Wolf dan Leon. Jangan lupakan jika mereka raja hutan...!.
“Suara apa itu?” Tanya Wolf.
__ADS_1
“Itu karena pelayanan kami tuan.” Jawabnya. “ Ini kamar buat tuan kecil. “ Lanjutnya sambil menunjukkan Qira. Ia mengira jika Qira adalah pria kecil. Sedangkan Qira hanya menganggukkan kepala.
“ Tuan tampan disana dan tuan gagah disana..” Ucapnya sambil mengarahkan pintu kamar disamping dan didepan Qira. “Dan untuk tuan. Pelayananannya sudah kami sediakan didalam. “Ucapnya.
“Terimakasih. Kau boleh kembali.” Ucap Wolf cepat. Ia sungguh tak sabar untuk istirahat. Saat pelayan itu pergi Wolf menatap Leon dan Qira. Entah ia merasa jika mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi ia sangat lelah untuk bertanya. “Tunggu apa lagi. Ayoo masuk” Ucapnya.
Qira pun menganggukkan kepala dan pergi menuju kamarnya. Saat melihat Qira masuk Leonpun juga masuk dengan secepa kilat.
Wolf tak menghiraukan Leon atau Qira. Ia melangkah masuk kekediamaannya ia hanya berfikir jika Leon bersemangat sama sepertinya yang memikirkan pelayanan pijit. Ia sama sekali tak tau jika pelayanan itu pijit plus-plus. Ia memesan 3 prlayan untuk emreka bertiga. bukan untuk dirimu sendiri. Tapi pelayan itu salah paham.
Ia melangkah masuk kedalam kediamannya. Ia mengunci rapat pintunya. Ia tak ingin orang melihatnya. Matanya membulat saat melihat 3wanita yang bertubuh tanpa busana diatas ranjangnya. Sontak membuatnya mundur membentur pintu. “Kyyaaa.....” Trriaknya bagaikan gadis perawan melihat benda pusakan pria. Ia menarik kedal pintu secepat kilat. Ia baru ingat jika baru ia kunci, karena kegugupan dan keterkejutannya membuat ia lupa cara membuka kunci tersebut.
“Tuan... ayoooo kami pijitkan...” Suara itu mendesah dan menggoda. Wolf menelan liur susah. Ia sangat takut bagaikan melihat kuntilanak. Kunci yang ia pegang terjatuh kelantai,.
“Mau kemana tuan. Ayooo. Tuan sangat tampan, aku tak tahan...” Salah satu wanita itu turun dari ranjang mendekati Wolf.
Sontak Wolf menjinjit dan melompat. Lagi-lagi suara teriakannya menggema. “Pergi... jangan dekati aku..” Ucapnya bagaikan mau diperkosa.
Wanita Lain lnya pun turun dari ranjang. Mereka sangat terpesona akan ketampanan Wolf. Mereka berjalan menggoda. Sontak Wolf menutup matanya melihat mereka. “Mataku masih suci. Pergi. Apa yang kalian lakukan dipenginapanku. “ Ucapnya kasar.
Salah satu wanita itu memegang dada bidang Leon dan mengelusnya. “Tuan sudah memesan kami disini. Ayooo kita main. Aku tak tahan melihat ketampananmu.”
Wolf secepatnya berlari menjauh dari mereka. “Pergii...!” Teriaknya. “Aku sama sekali tak memesan kalian.” lanjutnya.
Andai wajah Wolf tak terlalu tampan, mungkin mereka akan pergi. Tapi karena wajah sialnya itu membuatnya tambah sial. Bukannya menjauh tapi mereka malah mendekat. Lagi-lagi mereka menggoda Leon.
Sedangkan Qira. Ia berdiri didepan pintu untuk melihat Wolf. Saat Wolf sudah masuk, ia terkekeh sebentar dan melangkah jahil melihat Wolf. Ia sangat penasaran bagaimana ekpresi Wolf akan kebodohannya. Ia berjinjit tak disangkah jika Leon juga sama seperti dirinya.
Qira melihat Leonpun terkejut dan menempelkan telunjuknya dibibir sebagai isyarat ‘diam’. Leonpun terkekeh dan mendekati Qira. Belum sempat ia mengintip kekamar Wolf. Mereka mendengar teriakan Wolf yang menggema. Wajah Qira dan Leon menjadi diam karena tau jika ketinggalan season yang paling menarik. Tapi mereka cepat cepat tertawa saat mendengar teriakan Wolf menggema kembali pertanda mereka belum ketinggalaan semuanya. Mereka cepat-cepat melangkah c dan tertawa terbahak-bahak saat Wolf terdengar ketakutan.
Tak lama setelahnya Wolf tak segan-segan menendang pintu kediaman itu dan berlari sekencang mungkin. Dan bughhh... “Aduhh...” Ucap Qira dan Leon terjungkang terkena pintu terbang.
__ADS_1