Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Perpisahan


__ADS_3

Mata kaisar Alexon memerah dengan pedang bertengger erat ditangan kanannya, semua bagian tubuhnya tertutup rapat dengan alat perperangan saat ini, ia dibagian paling depan dan paling atas kapal, jangan lupakan posisi kaisar Long Wey disebelah kanan dan kaisar Xing disebelah kirinya. Bagian seterusnya adalah putra-putra mereka masih dengan tatapan garangnya. mereka masih diatas kapal, dapat mereka lihat jika disisi pinggir lautan banyak prajurit yang sudah siap menghalangi mereka, ada juga beberapa warga yang sudah siap mengahalang.” Kalian sudah siap?” Tanyanya kaisar Alexon dengan nafas naik turun, matanya memerah dengan sesak sekaligus semangat yang membarah.


“Siap Yang mulia...!!!” Semua prajurit mengangkat tangan yang memegang senjata keatas dengan semangat membara.


“Jika begitu mari kita serang.... Kita harus menang...!” Teriak kaisar Alexon lagi.


“Menang...!” Teriak merka.


Dengan nafas yang masih naik turun kaisar Alexon menjunjung tinggi pedangnya keatas lalu menaiki kudanya, diikuti oleh yang lain. saat sudah siap ia kembali mengatakan dengan lantangnya. “SERANG MEREKA. HABISI SIAPAPUN YANG MAU MENGHALANGI KITA....!” Itulah kalimatnya.


Hiya...... Semua orang siap dengan senjata masing masing. kaisar Alexon dan kaisar lainya. Kakak-kakak Qira sudah pergi dengan mengikuti para kaisar dan panglima didepannya. “Serang....!” Teriak kaisar Long Wey penuh dengan ambisi yang membarah, tak ada rasa takut ataupun gentar. Bahkan matanya menetes dengan rasa sakit didadanya, ia masih sangat jelas melihat mayat Qira didepan matanya, mengingat hal itu membuat ia mengepalkan tanganya lalu mengangkat wajahnya dengan gagah. ‘Lihat ayah nak, ayah pasti akan membalasnya.'


Suara kuda dan gemercik air terdengar jelas saat kuda dipacu dengan cepatrnya menuruni kapal, ribuan prajurit melangkah menuju daratan. Sunguh susah sekali jika harus menyerang kerajaan yang berbeda daratan ini. mereka harus menghabiskan waktu dilautan lebih dari tiga hari, ditambah harus melewati perdesaat menuju kota dan menghancurkan istana sebagai tanda jika kerajaan ini musna ditangan mereka.


Dengan semua itu tak ada rasa gentar didada siapapun, mereka melakukan dengan senang hati dan semangat yang membarah.


“Serang mereka....!” Suara dari kawannan lain juga menggema saat kerajaan Dewa turun mengikuti kerajaan Langit serta rombongan, merka memang kapal dibagian akhir membuat merka dibagian terakhir.


Trang.. tring.. semua sudah siap dengan acara perang antara pedang masing-masing, lawan saat ini masih sedikit, hanya ratusan orang membuat para kaisar dan petinggi tak harus turun tangan. Merka harus hemat tenaga untuk menghabisi kaisar Zauhan. merka harus bisa membunuh kaisar Zauhan, bukan rakyatnya...


....


Disisi lain sosok yang ikut berperang tanpa kuda itu memegang pedangnya erat melawan para prajurit. Dengan semangat membarah ia menebas kepala lawan tanpa hati dan tampa ampun. “Qira... Aku untuk mu...!” Ujarnya sembari memegang erat pedangnya.


Dia adalah Lian Lii. Ia menyelinap menjadi prajurit biasa supaya bisa membantu Qira. tak ada alasan membuat ia harus tetap dikerajaan. Ia harus turun untuk membas dendam meskipun nyawanya taruhan.


Kerajaan Langit memerintahkan Lian Li dan Zian untuk menjaga kerajaanya, tapi tak dihiraukan oleh Lian Li, hanya Zian Lii melindungi kerajaanya, mungkin?


Sedangkan kerajaan Iblis ada dua putra yang masih tinggal dan kerajaan Awan ada dua putra juga yang bertahan. Mereka sudah sama-sama berpesan pada para istri untuk tetap berada dikerajaan.


On Flashback...


Kulitnya masih putih meskipun umurnya sudah menginjak setengah abad, matanya terpejam menatap langit. Lama-kelamaan air matanya menetes dengan sendunya., bibirnya yang awalnya mengatup sekarang menghela nafas untuk mengusir rasa sesak dan juga rasa isak tangisnya sudah hampit beberapa minggu ini ia tak bisa tidur memikirkan anak angkat.


Anak angkat? Nyatanya seprti itu, tapi ia masih sangat ingat dengan kata-kata anak itu ‘Jangan bersedih karena tak memiliki anak atau tak mampu memiliki anak, sebab aku yang dilahirkan tanpa ibu dan kasih sayang. Jadi apakah kau mau jadi ibuku?’


Ringisan dengan isaknya kembali jatuh akibat mengenang kenangan itu, ia kembali ingat dengan kalimat anak angkatnya. ‘Aapakah aku boleh minta dikepang? sebab aku ingin sekali rasanya dikepang oleh ibu atau ayah...’ Dengan bulir hangat ia mengepang kepala anaknya, lalu dibantu oleh sang suami. Suaminya memberi aksesoris dengan tangan yang gemetar.


Ia memukul dadanya beberapa kali mengingat hal itu, meski bukan anak yang terlahir dari rahimnya, namun mampu membuat dunianya runtuh. Dunia awalnya penuh dengan kekelaman, dunia yang menyebutkannya selir mandul atau selir rendahal itu pudar dan menghilang ketika putrinya berkata. ‘Aku Putri Zhu Qira Han adalah anak dari Selir Xia, jadi bagi yang mau menghina ibuku katakan padaku. Akan ku bakar kalian hidup-hidup.’ Semuanya berubah dengan sekejab mata. Kaisar Long Wey yang cuek tak pernah menjenguknya,


Pelayan tak mengangapnya ataupun selir yang lain dianggap sempurna. ia dikucilkan dan semuanya mengkabur, semuanya hilang.

__ADS_1


“Kenapa kau meninggalkan ibu Qira? kenapa kau tak mengajak ibu hikshiksh..” Ia memukul dadanya sesak mengingat mata-masa itu.


Matanya membulat dikala ada tangan kekar memeluknya dari belakang. Kepala seseorang itu memasuki cengkuk lehernya, dapat ia rasakan jika bahunya berair. Sedikit bergetar tangan kokoh itu. Apakah ia menangis?


“Ya yang mulia?” Gumamnya bergetar. Ia mengelus tangan kaisar Long Wey lembut.


Kaisar Long Wey membalikkan tubuh selir Xia lalu mengusap air matanya. Itu disaksikan oleh rembulan dan bintang-bintang dilangit. Karena pencahayaan yang sangat redup, tapi didua sisi manusia itu masih dapat menatap wajah satu sama lain.” Maafkan aku tak mampu menjaga putri kita..” Ia mengecup singkat pelipis selir Xia dengan mata yang terpejam.


Sungguh. Jangan salahkan kaisar Long Wey yang berlebihan. Ia tak punya anak perempuan, bahkan diketurunanya memang tak ada yang memiliki anak keturunan perempuan. Entah itu kutukan atau bukan.


Namun dengan datang Qira mengubah pandangan kutukan. Semuanya menganggap Qira putri. Ia yang dulu tak tau rasanya bermanja-manja menjadi manja, ia yang dulu dingin menjadi harmonis dan ramah. Semuanya berubah ketika ia datang. gadis sombong dengan sejuta kemanjaannya, dengan sejuta tingkahnya ataupun ketegasannya.


“Aku akan berperang dua hari lagi. Jadi doakan aku supaya bisa membawah kemenangan untuk putri kita...” Ia mengecup punggung tangan istrinya. Sebelum ini ia sudah berpamitan dengan permaisurinya.


Selir Xia memeluk suaminya. Ia terisak tak tertahankan. Entahlah, ada rasa tak enak didadanya ia takut, sangat takut. Ia tak mau kehilangan orang yang sangat berharga untuk kedua kalinya. “Aku takut. Aku takut kau disana.... Jangan pergi..” Gumamnya pelan.


Kaisar Long Wey mengelus serulai istrinya lembut.” Tenanglah. Aku akan maju untuk putri kita sayang. Aku tak akan mengecewakannya...” Ia menegarkan istrinya sekuat tenaga.


Istrinya mendongak lalu menatap suaminya dalam.” Perasaanku tak enak. Aku tak mau kau pergi meninggalkanku, sebagaimana Qira. Qira sudah berjanji untuk kembali tapi ia pergi. Aku tak mau kau pergi juga yang mulia..” Ia berkata dengan bibir bergetar. Sungguh ia memiliki perasaan yang tak enak. Salahkh jika ia mengatakan itu firasat?


Kaisar Long Wey mengeleng.” Aku berjuang untuk putri kita. Kenapa kau marah? Apakah kau tak menyayangi putri kita? ayolah, doakan aku supaya aku dapat membunuh bajingann itu, bantu aku dengan semangatmu..” Tekan kaisar Long Wey.


“Tapi kau tak akan pergikan? Tak akan meningalkanku? Berjanjilah supaya kau tak meningalkanku Yang Mulia?” Ia menangis tanpa tau sebabnya lagi. Tadi ia mengis karena Qira, tapi sekarang ia menangis karena hatinya memberontak.


Lawanya bukanlah lawan biasa. meskipun mereka tiga kerajaan sealipun, tapi kerajaan Barat jauh lebih kuat. Dimana para penduduknya semuanya pandai bertarung, kaisar Kejam dan juga kekuatannya yang kuat membuat kaisar Long Wey merasaan berat hati. ia sudah memiliki getaran tersendiri dihatinya, entah itu apa.


Aselir Xia kembali mengis.” Berjanjilah kembali untuk membawah kemenangan...” Isaknya pada sang suami.


Kaisar Long Wey mengangguk.” Aku berjanji akan membawa kemenangan.” Tapi au tak berjanji untuk pulang’ Hikshiks;’’’ Itulah lanjutannya dalam hati kaisar Long Wey. Ia mendekap erat istrinya menyalurkan rasa sayangnya. Menyalurkan supayaa dihari berikutnya tak sakit menghadap langit.


“Aku menunggumu yang mulia...” Jawab selir Xia. Namumln tak dibalas oleh kaisar Long Wey. Ia lebih tertarik untuk memeluk selir Xia lebih erat lalu menengelamkan fikirannya.


Sebelum ini ia sudah berpamitan dengan permaisuri Fangnya, selir Sang dan kedua putranya. Mereka semua mendukung sebab mereka memang sudah sangat menyayangi Qira. mereka sudah menganggap Qira anak dan juga adik. Tapi selir Xia berbeda. Sebab Qira lebih dekat dengan selir Xia dan selir Xia adalah ibu angkat dari Qira. karena inilah kaisar Zauhan juga dekat lagi dengan selir Xia.


Intinya semua yang dilaukan Qira mampu membuat keluarganya yang kaku berubah menjadi hangat dan kebahagiaan.


Of Flashback...


......


“APA?!!!” Tanyanya membentak. Ia bahkan menepuk sisi singgasananya keras lalu berdiri saat mendengar kabar dari mata-matanya ini. didepannya ada pria tak lain adaah prajuritnya sedang bersimpuh dengan kedua tangan terkepal kedepan. Kepalanya menunduk menatap jempil kaki karena takut sang yang mu.ianya mengamuk.

__ADS_1


“I i iya yang mulia...” Ujarnya takut.


“ Bagaimana bisa mereka sudah sampai diperbatasan? Bukankah harusnya satu minggu tagi?!!!” Tanyanya.


Perperangan itu harusnya dilakukan satu minggu lagi sepengetahuannya. Tapi pagi ini ia mendengar kabar bahwa perbatasannya sudah diserang musuh, dan yang mengejutkan lagi kerajaan yang membantu bukan hanya dua. Tapi lima kerajaan. Bagaimana ia tak habis pikir coba? Apakah sebesar itu pengaruh Qira dikerajaan mereka?


Untunglah diperbatasan itu sudah diberi mata-mata olehnya, belum lagi ia sudah menyiapkan seluruh penduduknya siaga ditempat. Ia sudah mengungsi semua penduduk para wanita, anak-anak atau para lansia tua yang sudah tak dapat berperang atau melindungi dirinya sendiri.


“Ampun yang mulia. Hamba tidak tau...” Ia maish enga mengangkat kepala.


Kaisar Zauhan mengibaskan jubah kebesarannya.” Siapan semua pejabat dan suruh semuanya berkumpul dilapangan. Kita akan memulai untuk melawan mereka sekarang juga...!” perintahnya tegas.


“Ampun yang mulia. Mereka butuh dua hari supaya bisa kemari ka—“


“Apa kau mau mereka langsung menyerang istana kita? dasar bodoh...!” Ujar kaisar Zauhan kesal. Bagaimana bisa mereka bertarung didepan istanaya, yang paling dirugikan dirinya bukan orang lain.”Cepat kumpulkan semuanya sekarang juga. Kita berangkat...!” Teriaknya lalu pergi meningalkan singasana ternyamannya.


Tanganya mengepal dengan pandangan kedepan. Ia menatap nanar para pelayan yang sudah bergetar saat ia lewat. Aurahnya sangat uat membuat siapapun akan takut menatapnya. Apakah ia semenyeramkan itu? Tentu saja iya. Karenanya, ia sangat disegani.


Ia membuka kediamannya lalu mengambil peralatan perangnya, tapi tak sengaja sebuah kota berukir berwarna coklat jatuh membuat ia menatap asal... Ia bisa melihat kotak itu tepat dibawah kakinya.


Ia berjongkok untuk melihat apa isinya. “Apa ini?” Gumamnya pelan, ia membuka kotak itu lalu ia menemukan aksesois emas berbentu bunga Lili membuat ia menggenggam erat bunga itu. Ia ingat aksesoris itu. Itu milik Qira, pertama kali mereka bertemu namun langsung terjadi perkelahian antara dirinya darn gadis itu, namun berujung ia sangat mencintai gadis itu.


Bodohnya pula ia penyebab gadis itu meningal.” Qira..” Gumamnya. Ia memeluk aksesoris rambut itu lalu memeluknya erat. Ia masih sangat mencintai Qira. setiap harinya tak ada pengurangan kata cinta, yang ada bahkan bertambah banyaknya ia mencintai Qira. salahkah? Tentu saja salah, jika memang benar ia mencintai Qira, kenpa sampai ia tega membunuh Qira. dan sekarang ia mau berperang dengan kerajaan gadis yang ia cintai. Bagaimana lagi? apakah ia memang benar-benar mencintai Qira?


“Bagaimana? Apakah kau sudah tau recana kaisar Zauhan?” Suara itu membuat kaisar Zauhan tertegun. Ia yang sedari tadi menangis dalam diam sekarang sedikit terkejut. Apa tadi? Kenapa namanya disebut-sebut? apakah mereka mata-mata?


“Oya dia sudah bersiap-siap untuk melawan kerajaan Langit. Sebentar lagi akan terjadi perperangan besar haha....” Ujar lawannnya berbisik,namun kaisar Zauhan masih dapat mendengar jelas ucapan itu. Ia mendekat lalu mengepalkan tangannya. Ia berusaha tak gegabah, ia menempelkan telinganya didekat jendelah, karena jendela itu berukiran naga, ia dapat melihat dengan jelas siapa yang berbicara dicela ukiran itu.


“Iya... sepertinya akan terjadi perperangan besar. Sebab kaisar Zauhan sudah termakan ucapan kita. kita sekarang harus bersiap-siap sekarang untuk menghadiri perperangan ini, jika tidak kaisar pasti akan curiga. Mari kita cepat kesana.” Ujarnya lagi.


Tanpa diduga tangan kaisar Zauhan mengepal erat membuat kuku-kukunya memutih. giginya bergemuruh dengan rasa sesak yang syahdu. “Kau tak lihat tubuhku sekecil ini? aku bukan dilapangan, bagaimana bisa anak kecil pergi mengikuti perperangan?” Tanyanya heran pada sang lawan.


“Hahhjlhah. Benar, benar maafkan aku lupa dengan tubuh mungilmu ini. kau ingatkan apa yang sudah kita rencanakan?”


“Rencana yang mana? Rencana yang menghancurkan Istana ketika kalian pergi atau rencana untuk yang mana? Soalnya rencama kita banyak?”


“Dasar bodoh. rencana untuk kau memimpin pasukan didalam kerajaan ini nanti. Kau bisa yakinkan istana akan rata dengan tanah?”


Kaisar Zauhan mengepakan tanganya, ternyata ia sudah terlalu masuk kedalam rencana mereka. Pertama ia dihasut untuk membunuh Qira, kedua ia dihasut membenci dan mengatai Qira mata-mata., yang lebih parah adalah ia menerima perperangan ini. apakah sebegitu bodohnya ia sampai mempercayai orang-orang luar?


Sekarang ia harus bagaimana? Perperangan sudah tiba didepan mata sedangkan ia sudah terancam dengan dua hal. Satu kerajaannya kaan hancur dan yang kedua perperangan didepan mata. Ia harus melakukan yang mana? Dan yang paling ia benci adalah, mata-mata itu adalah perdana Menyri Wouncu dan juga Zuzu, Zuzu yang anak kecil cedel itu beribah bisa berbicara. Bahkan suaranya bagaikan orang dewasa. Apakah semua ini sudah sangat dierncanaan secara matang-matang? Betapa bodohnya ia mempercayai mereka.

__ADS_1


Brak...


__ADS_2