Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
hari terakhir


__ADS_3

Setelah Qira berpamitan kepada Shu Jin dan yang lain. Ia kembali keistana bersama Leon memenuhi janjinya untuk makan siang bersama Ayah dan kakak-kakaknya. Sesekali mereka bersenda gurau satu sama lain. Dan jangan lupa jika hari ini Qira menemui Jin Yu untuk menagi janji.


Dengan langkah pasti dan senyum mengembang ia pergi kekediaman Jin Yu. Tepatnya kediaman para tamu pangeran. Tapi saat dijalan ia berpapasan dengan jendral Zink yang berjalan berlawanan arah.


Qira tersenyum manis. Ia tahu jika Jenral Zink adalah orang yang tulus, karena itu ia tak segan untuk bersikap manis. “Permisi kakak...” Sapa Qira menghalangi jalan Jendral saat memberi hormat kepada Qira.


Jendral Zink mengangkat satu alisnya menatap Qira. Tak lupa memberi salam dan hormat“Apa putri perlu bantuan?” Tanyanya.


Qira tersenyum manis. “Kakak dimana Jin Yu?” Tanyanya.


Jendral Zink mengerutkan keningnya. Ada apa sampai putri ingin mencari putra mahkota mereka. Dan sejak kapan mereka saling mengenal. Tapi semua itu dengan mudah Qira baca. Sebelum pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.


“Aku ada urusan penting dengannya. Kakak tak perlu khawatir, mari antar aku...” Ucap Qira lalu menarik tangan kekar jendral Zink.


Lagi-lagi jendral Zink menegang. Ini kedua kalinya Qira seenak perutnya memegang tanganya. Tapi reaksi tubuhnya bahkan menghisap sumber kenyamanan yang ada. Dapat ia rasakan jika tangan Qira karas tak selembut tangan gadis atau putri biasanya.


Qira menarik jendral Zink dengan santai. Sesekali ia bersiul layaknya pria sejati. “Dimana tempatnya?” Tanya Qira menatap Jendral Zink.


Jendral Zink menatap Qira “Disebela sini putri.” Tangan kanannya mengarahkan untuk berjalan kearah kiri. Qira hanya menganggukan kepala dan melangkah lagi.


“Hm putri. Tanganmu.” Ucap jendral Zink takut. Semua pangeran yang berkeliaran menatapnya seakan-akan menghakiminya dan meminta penjelasan karena tangan yang saling trikat.


Qira langsung menatap jendral Zink dengan tanda tanya. Ia menatap sekeliling dan tahu maksud dari jendral Zink. “Tidak apa-apa, biarkan saja ayo...” Ucap Qira acuh. Jendral Zink hanya pasrah dan mengikuti langkah mungil Qira.


Tepat saat Qira sampai didepan pintu kediaman Jin Yu. Qira melepaskan tangan jendral Zink. Ia menaruh telunjuk tangannya diatas bibirnya. Seakan-akan berisyarat ‘diam’ jendral Zink hanya tertawa geli melihat tingkah anak-anak Qira. Ia adalah salah satu orang yang sangat beruntung karena dngan mudah Qira terima dengan sangat baik.

__ADS_1


Dengan hati-hati Qira melangkah mendekat kearah pintu dan membukanya secara berlahan supaya tek memberikan suara. Ada seringaian jahat diwajahnya. Tangan mungilnya menutup bibir jendral Zink saat ingin bertanya. Bahkan para pengawal penjaga kediaman itu diplototi oleh Qira.


“Apa kabar Jin Yu?” Ucap Qira ramah saat melihat Jin Yu duduk disofa sambil membaca buku.


Glegh.. Jin Yu menelan ludah kering. Jantungnya berdegup kencang, ini bukan karena jatuh cinta!. Ia kenal suara itu. Ia menatap seringaian jahat dari wajah Qira yang entah dari kapan disana bersama jendral Zink. Ia memberi isyarat kepada jendral Zink.


“Jangan coba coba. Aku tahu rencanamu Jin Yu,” ucap Qira menggoda. “Apa kau sudah siap melakukan perjanjian kita Jin Yu?” Tanya Qira.


Lagi-lagi Jin Yu hanya menelan ludah kering. Ia sangat menyesal bertemu Qira. Bisakah waktu terulang kembali?” Putri. Bisakah kita berteman dan melupakan semua hal yang telah berlalu.” Gigi putihnya berderet rapih.


“ Apa kau masih ingin mengajakku bernegosiasi lagi dan lagi Putra mahkota Jin Yu.” Qira menyeringai jahat. Ia mendekati Jin Yu yang sedang tegang memegang buku diatas sofa “Kakak Zink. Bisakah kau ambil hanfu ungu yang bahan terbaik serta alat untuk berhias. Jangan lupa hiasan kepala.” Ucap Qira tegas.


Jendral Zink yang tak mengerti apapun menjadi diam bingung. Tapi mata Jin Yu yang mengisyarankan ‘awas kau menurutinya. Akan ku bunuh kau’ membuat ia semakin bingung.


“Baik Putri.” Karena tak tahu apa-apa. Jendral Zink hanya menuruti saja. Toh bahan yang diminta Qira bukan barang berbahaya.


“Putri. Apakah kau sama sekali tak punya hati? Mengapa kau tega kepada laki-laki tampan sepertiku, kau bisa menjadi kekasihku jika kau ingin mengubah semua masalahku.” Ucap Jin Yu dengan sejuta kesombongan.


Bukan Qira namanya jika tidak sombong. Ia melipat tangannya diperut. Dengan duduk ala Mafia kelas atas menatap lawan begitu kejam. “Apakah kau setampan itu sehingga aku tergiur dengan negosiasimu?”


“Iya. Bahkan wanita diluar sana akan mengantri ingin bercumbu denganku. Kau tahu?” Ucap Jin Yu tambah sombong.


Andai Qira memiliki pistol. Sudah dipastikan ia akan memutar-mutarnya layak Mafia terhormat. Tapi nyatanya Qira hanya memberi senyum ejek khasnya. “ Kau terlalu sering bergelut dengan wanita malam rupanya....”


“Hey. Aku tak pernah tersentu dengan wanita murahan kau mengerti...” Teriak Jin Yu yang merasa tersinggung.

__ADS_1


“Lalu gadis mana yang ingin bercumbu suka rela denganmu?" Tanya Qira .


“Apa kau lupa aku calon Raja putri. Bahkan jika aku ingin menjadikanmu ratu itu sangat mudah. Tapi akankah lucunya jika aku menikahi sesama jenis.“ Ucapnya.


Ucapan Jin Yu mengarah kepada Qira. Bahwa Qira adalah pria. Bukan wanita. Qira ingin membalas lagi. Tapi jendral Zink sudah sampai dengan alas-alat yang telah diperintahkan Qira. Dengan cepat Qira mengambilnya. Mata Jin Yu seakan ingin menusuk jantungn jendral Zink. Tapi jendral Zink hanya berwajah bingung akan hal itu. Tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada jendral Zink, ia mulai mendekali Jin Yu.


“Ayo kita mulai....” Ujar Qira semangat.


Tentu saja Jin Yu memberontak dan ingin pergi. Tapi Qira bukanlah lawan yang seimbang. Dengan pelototan mata saja Jin Yu sudah setengah mati menahan takut. Jadi ia hanya pasra apa yang Qira lakukan sambil menyusun strategi untuk pergi melarikan diri.


“Putri bisakah kau pergi, aku akan menggunakan baju sendiri. Kau tidak mungkin bukan melihatku tanpa pakaian.” Ucap Jin Yu dengan suara sensual seakan-akan menggoda Qira.


Tapi nyatanya ia masih melawan Qira bukan wanita lain yang akan merona merah dan malu. Tanpa segan-segan Qira membuka baju Jin Yu secara paksa, ia tahu Jin Yu memiliki rencana untuk melarikan diri, “ Aku sudah terbiasa melihat tubuh laki-laki. Bukankah kau bilang kita satu jenis.” Ucap Qira santai. Memang benar Qira sudah biasa melihat dada Bidang Chao lah. Chio lah. Bahkan Leon dan Wolf. Jadi sudah bukan hal biasa baginya.


Awalnya ia ingin membuat Qira yang menahan malu. Sekarang Jin Yu yang memerah malu. Wajahnya lebih merah dari perempuan yang memakai blus on. Ia tak bisa mendorong Qira. Entah mengapa ia merasakan begitu lemah jika berhadapan dengan Qira.


Dengan cepat Qira membuka baju Jin Yu yang menyisakan celana pendeknya. Qira tersenyum misterius kepada Jin Yu. Jin Yu yang ditatap menjadi tambah merona. Bahkan rona merah menjalar sampai ketelinganya “Jangan... jangan dilihat asetku.” Ucapnya gugup.


Qira tak tahan untuk tidak tertawa. Sungguh, Jin Yu bisa membuatnya tertawa selepas ini. padahal mereka baru bertemu. Itupun dengan cara yang aneh.


Setelah memakai baju hanfu kepada Jin Yu tidak lupa Qira memberi hiasan wajah layaknya putri. Dengan bibir berwarnah merah merona. Alis lentik, bedak tebal. Hiasan kepala yang lebat. Qira mengerutkan keningnya menatap Jin Yu. Ia menajamkan matanya. “Seperti ada yang kurang.” Gumamnya.


Jin Yu memandang Qira curiga. Ia hanya pasra dengan apa yang Qira perbuat. Toh semua dia yang menciptakan. Matanya sontak melebar saat melihat mata Qira seperti menemukan harta karun dibagian dadanya. Pirasatnya menjadi sangat buruk saat itu juga.


Qira melangkah dan mengambil baju Jin Yu. Ia menyobeknya sedikit menjadi dua buah dan menggumpalkannya. Ia mendekati Jin Yu lagi. Ia menarik hanfu atas Jin Yu “ Ap... apa kau lakukan?. Apa kau ingin memperkosaku?” Teriak Jin Yu ketakutan “Aku masih perjaka....” Lanjutnya memberontak.

__ADS_1


__ADS_2