
.
.
.
.
**Qiqi. jika aku tak bisa menjagamu lagi maafkan Aku. Berjanjilah untuk selalu tersenyum. Kau harus tau jika aku sangat menyenangimu melebihi apapun!
Leon**
"Apa yang terjadi pada Leon? " Tanya Qira kepada burung itu.
"Aku diperintahkan untuk mengantarkan surat ini. Karena temanmu sedang disandra dan akan dihukum pancung oleh kakak tirinya..." Ucapnya lemah " Aku hampir dibunuh karena membawa surat ini untukmu. Bahkan tubuhku trr---" Tak sempat ia lanjutkan Qira mencengram burung itu.
"Tunjukan jalan dimana Leon berada sekarang!. " Ucap Qira serak. Ia tak ingin kehilangan Leon. Leon sangat berharga baginya.
"Tapi--"
"Cepat!." Teriak Qira. Burung itu gemetar saat terkena teriakan Qira. Dengan sedikit kasar Qira memeluk burung tersebut dan berlari menggunakan ilmu peringan tubuh.
Burung itu hanya pasra akan Qira yang mencengkramnya dengan erat. Dengan cepat Qira berlari menyelusuri hutan yang diarahkan oleh burung itu. Tangan kanannya masih memegang erat pedang yang ia gunakan saat bermain pedang.
Jantungnya terasa mati. Ia tak bisa berfikir apapun selain berlari dan cepat menemukan Leon. Ia tak akan tau apa yang ia lakukan jika Leonnya terjadi apa apa. Leon adalah orang yang paling ia percayai saat pertama kali ia masuk dalam dunia ini. Ia bahkan sudah menjadi bagian dalam hidup Qira.
“Kita sudah sampai nona.” Ucap burung itu.
sudah satu jam Qira menyelusuri hutan itu ditengah malam. Cahaya disana hanya rembulan, sesekali Qira tertabrak ranting kayu dan terjatuh, tapi itu bukanlah halangan baginya.
Ia sekarang berada didepan pohon besar yang penuh dengan akar pohon, dahan pohon itu melengkung kebawah membuat kesan seperti gerbang.
“Apa kau yakin ini tempatnya?” Tanya Qira. Ia sama sekali tak melihat apapun disana kecuali pohon itu. Disana sangat gelap. Ia berada dijantung hutan yang ia sama sekali tak pernah mengunjungunya. Ia melirik burung itu tajam.
“nona, anda cukup masuk kedalam dahan itu. Tapi kau harus hati hati, disana adalah dunia lain. Bisa dikatakan dunia raja hutan, jika kau tak bisa berhati hati maka nyawamulah yang akan jadi taruhannya.” Ucapnya sedikit lemah.
__ADS_1
Qira mulai melangkahkan kakinya mendekat kedahan kayu yang mirip dengan gerbang itu. Saat kakinya sudah menyentu sisi lain yang ada diseberang dahan itu, kakinya menunjukan Cahaya putih. Qira mulai memasuki seruh tubuhnya.
Silau. Itu pertama kali yang ia lihat, mata Qira menyipit untuk menstabilkan cahaya kearahnya. Sesaat setelahnya cahaya itu memudar dan menampilkan pemandangan yang luar nalar.
Bukannya tadi malam? Lalu mengapa disini menjadi siang?’ Batin Qira.
Ia menginjakkan kakinya dipuncak gunung. Disana ia bisa melihat sebuah desa yang besar. Layaknya dunia manusia biasa. Rumah berbaris rapi. Ada banyak orang orang yang berlalu lalang. Pemandangan disana sangat asri meskipun aura disana sangat aneh.
Tapi hal itu tidak ingin Qira fikirkan dan kagumi. Yang ia fikirkan saat ini adalah Leon. “Lalu dimana Leon berada?” Tanya Qira kepada burung itu.
“ Ia berada diistana raja hutan. Dibagian utara. Tak jauh dari sisni.” ucapnya.
“Baiklah. Tunjukan jalannya.” Jawab Qira. Ia mulai melangkahkan kakinya membelah Gunung itu. Ia mulai melewati curamnya jalan menuju desa. Ia harus menuruni lembah dan sungai. Ia lupa akan dirinya. Ia lupa tubuhnya sudah sangat lelah. Saat sudah didesa ia mulai meloncat dari genteng menuju genteng lain begitu seterusnya. Perbuatannya membuat semua orang keluar rumah untuk meliat dentuman keras yang terjadi pada gentengnya mereka. Tapi sia sia. Kecepatan Qira seperti angin. Bahkan mata manusia tak akan mampu melihat rupanya.
Qira menapakkan kakinya diatas dahan pohon dan memandang gerbang yang ada diujung matanya.
Gerbang itu sangat tinggih. Disana terdepat dua ekor singa besar. Tapi ukurannya tak sebesar Leon. Ia memandang itu dari kejahuan dan menyusun strategi supaya bisa masuk dengan mudah tanpa menghabiskan waktu untuk melawan mereka semua.
Ia mulai melihat semua sudut. Keningnya mengerut. Istana ini sungguh dijaga ketat. Dan disini sangat banyak orang. ‘ Apa disini ada pesta?’ Batin Qira. Pada pemuda dan pemudi semua berjalan beriringan. Mereka menggunakan baju yang berpariasi. Tapi semua baju mereka sangat indah. Ini seperti pesta yang diadakan oleh Ayahnya.
Tak ada cara lain dari pada menyusup dan membuat sedikit keonaran.
“Ada acara apa disini? Mengapa Ramai sekali dan dimana Leon?” Tanya Qira dengan burung yang dalam genggamannya.
“Itu acara ulang tahun raja baru. Ia baru diangkat beberapa bulan yang lalu dan,” Ia memberi jeda sesaat “ Dan Leon akan dieksekusi lima menit lagi dilapangan istana ini. Lapangan itu berada di bagian hujung bagian timur istana.” Burung itu menjelaskan secara rinci.
Qira yang mendengar Leon yang akan dieksekusi Menjadi kalang kabut. Ia sama sekali tak memikir lagi nyawanya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju arah eksekusi Leon. Ia mulai melompat dari kediaman satu kekediaman lainnya. Setiap yang ia pijaki membuat dentuman keras dan itu memancing para prajurit yang menjaga disana.
“Siapa itu?” Ucap salah satu prajurit.
Ia mendongak menatap langit. Ia hanya melihat bayangan yang berlalu begitu cepat. Bahkan ia sama sekali tak bisa menyesuaikan matanya. Ia berlari menuju bayangan Qira tujui “ Penyusup! Penyusup!” Teriak prajurit itu. Itu memancing banyak prajurit keluar dan mengikuti prajurit itu.
Qira mendaratkan kakinya ditengah lapangan. Disana ada banyak orang. Semua orang terkejut akan kehadiran Qira dari atas “Apa dia dewi?” Semua pertanyaan melintas dibenak mereka.
Qira menatap tajam kearah sekitar. Tatapannya berhenti pada sosok yang sangat ia kenal. Kakinya diikat dengan rantai merah menyala. Seluruh tubunya sudah terpapar banyak luka. Matanya sudah tak lagi bisa terbuka. Ia sangat lemah. Ada dua prajurit yang menyeret kakinya menuju tempat penggekusi. Tubuhnya diseret secara paksa. Bahkan mukanya menyentuh tanah yang bercampur kerikil.
__ADS_1
Amara Qira memuncak akan hal itu. Ia menatap tajam pada dua prajurit yang berhenti menatapnya.
“Siapa kau?” Pria itu berteriak lantang, ia berdiri dibelakang pria yang menggunakan baju hitam pekat. Ada sulaman emas dipinggirannya.
Leon membuka matanya lemah. Ia bisa melihat Qira samar samar. “Qiqi, kaukah itu?” Gumamnya.
Ada puluhan prajurit yang mengepung Qira dari setiap sudut. Ia membalikkan tubuhnya menatap pria yang duduk dikursi kebesarannya “Beraninya kau membuat Leonku seperti ini!” Teriak Qira lantang.
Semua orang terkejut melihat Qira.
Sudut bibir pria itu terangkat memandang Qira “ Apa kau kekasihnya?” Ucapnya.
Qira mulai melangkahkan kakinya untuk menghadap laki laki itu. Semua prajurit terlihat lebih waspada. “Itu bukan urusanmu. Lepaskan Leon ku maka kau akan aku bebaskan...” Ucap Qira dingin.
“Beraninya kau mengancamku! “ Ia bangkit dari tahtanya. Pria itu tampan tapi Qira sama sekali tak bergeming. Bahkan Qira memandang cemooh pria itu.
Qira mengeluarkan pedang yang ia genggam dari tadi. Semua prajurit semakin mengancam Qira. Qira menghentakkan kakinya. Pusaran angin melaju kencang disekitar nya.
Bus...
Bughh...
Uhukkk...
Semua prajurit itu jatuh dengan memuntahkan segelas darah. Qira mulai berlari mendekati Leon.
Blas
Blas.
Ia menebas kepala dua prajurit yang menyeret Leon. “Qiqi. Apa yang kau lakukan! cepat perrgi!” Gumam Leon lemah. Qira memandang Leon amarah ia mengusap wajah Leon kotor, wajahnya tersirat penderitaan mendalam.
Ada ratusan prajurit yang mengepung mereka. “Berhenti! Atau kami akan membunuh kalian!” teriak salah satu prajurit itu.
Qira menatap tajam para prajurit itu. “Apa kau ingin Leonmu selamat manis?” Sumber suara itu membuat semua orang memandangnya. Ia mendekat dimana Leon dan Qira berada. Wajahnya dihiasi senyuman licik.
__ADS_1