
.
.
.
.
.
hay para reader Qira. Kakak bakal up banyakan hari ini. tapi tolong tinggalin jejak.
.
.
Qira menatap mereka tajam. Ia menghentakkan kakinya. Keluar api dari dalam tanah. Dengan mengayunkan tangannya. Api itu menjalar cepat menerpa mereka. Semua mereka bertreriak histeris. tubuh mereka terbakar habis.
Hanya tersisa satu pria lagi. “semudah itu.” Ucap Qira. Ia meniup debu mayat yang ada ditangannya.
Pria itu menggeram marah. Ia maju dengan menodong pedang. Qira hanya diam ditempat. Pedang pria itu sama sekali tak menyentu Qira. Qira menggerakkan pedang ditangannya menuju tangan pria itu.
Clas..
Clas..
Kedua tangan pria itu putus. Pri itu menjerit histeris. Pekikan memilukan itu terdengar oleh Wolf dan Leon. Mereka seketika langsung bangun dari tidurnya dan bergegas keluar. Dapat ia lihat seluru rumput sudah terbakar hangus. Dan banyak debu yang berhamburan. Bau gosong menyengat dihidungnya. Bau ini seperti daging yang dibakar hingga menjadi arang. Pandangan mereka teralih kepada Qira yang memegang pedang yang bersimbah darah, dan seorang yang tergeletak ditanah dengan keadaan yang memilukan. Kedua tangannya putus. Badannya dipenuhi dengan darah.
“ Itu hukuman. Karena kau sudah merampok didesa ini” Ucap Qira ringan. Ia berjalan menjauhi pria yang bernasib tragis itu yang selalu mengucapkan akan membunuh Qira.
Leon dan Wolf mendekat. “Ada apa Qira?” tanya Leon.
“Ada perampok.” Ucap Qira. Leon dan Wolf tersentak kaget. “Bukankah kau mengatakan jika kerajaan ini sangat terjaga dan semua orang bisa beladiri Wolf. Mengapa masih ada hal seperti ini?” tanya Qira penuh selidik.
__ADS_1
Wolf memegang dagunya. “Apa kau baik saja Qira?” tanya Leon. Ia memeriksa seluruh tubuh Qira. Tapi Qira masih menatap Wolf meminta penjelasan.
“Ini adalah desa paling ujung dari kerajaan Qiqi. Mungkin karena itu. Atu aku juga tidak tahu, tapi setahuku memang begitu.” Jawabnya pusing sendiri.
“Kau tahu Qira. Sekuat apapun suatu daerah. Semakmur apapun disuatu daerah. Maka masih akan ada orang yang jahat, masih akan ada kejahatan dimana-mana. Akan masih ada orang yang kelaparan, akan masih ada orang miskin Qira. Tak semua orang peduli, tidak semua menjadi baik. Karena itu. Kita harus selalu berhati-hati dimana pun kita berada...” Ucap Leon lembut.
Qira mengenggukan kepalanya. Semua yang dikatakan Leon memang benar adanya. “Dan maafkan aku tak bisa melindungimu” Ucap Leon lemah.
“Ak aku juga minta maa. Aku tak bisa melindungimu. Padahal aku sudah berjanji.” sahut Wolf.
“Tidak masalah. Bukan kalian yang melindungiku. Atau aku melindungi kalian. Tapi kita sama-sama melindungi!. Kalian tak usah menunjukan wajah menjijikan seperti itu.” Ucap Qira.
“Sudah. Ayoo tidur. aku masih mengantuk” Lanjutnya. Wolf dan Leon mengiyakan. Mereka memilih tidur dikamar Qira. Awalnya Qira menolak. Tapi kerasnya mereka membuat Rindu hanya diam.
Disisi lain banyak warga yang tercengang luar biasa akan Qira. Ada beberapa dari mereka menatap itu langsung. Mereka sangat bahagia, setidaknya perampok peresah desanya sudah terbasmi.
Qira dan lainnya mulai tidur hingga nyenyak. Sebelum ayam berkokok, mereka memilih pergi dari sana. Tapi tak ia sadari. pagi-pagi sekali. Didepan penginapan Qira menjadi heboh seketika karena melihat tanah yang hangus, debu-debu berserakan. Serta yang lebih parah adalah mayat yang tangannya terpisah. Bisa dipastikan ia meninggal karena kehabisan darah.
“Dia seorang gadis pendekar. Aku melihatnya betapa mudah ia mengalahkan perampok itu.”
“Kau benar. Aku juga melihatnya diselah bambu rumahku.”
“Ia mengalahkan puluhan perampok.”
“Perampok yang meresahkan kita?”
“Iya. Mereka!”
“Mungkin gadis itu jelmaan Dewi.”
Satu desa itu menjadi bersujud serentak karena bersyukur. Sebenarnya perampok yang Qira lawan semalam itu semacam komplotan. Atau lebih sering dikenal organisasi perampok. Yang jumlahnya ratusan orang. Dikerajaan ini semua orang memiliki ilmu bela diri. Karena itu mereka membuat suatu komlplotan untuk saling melindungi dan berkerja sama dalam merampok.
...Lain sisi Kerajaan Langit....
__ADS_1
“Bagaimana, kalian sudah bertemu dimana Qira?” Tanya kaisar Alex khawatir. Semenjak kepergian Qira. Kaisar Wey dan lainnya memilih belum pulang kekerajaannya. Berita kehilangan Qira itu tersebar ketika pengambilan hadia lombah. Sekitar 3hari setelah kepergian Qira. Dan sekarang sudah berlalu 3hari Qira belum ditemukan.
“Maaf yang mulia. Kami sudah menyebar lukisan tuan putri. Kami juga mencari sampai pelosok desa. Tapi kami sama sekali tidak bertemu dengan tuan putri. Para penduduk pun juga tidak melihat tuan putri.” Jendral Luo bersimbuh didepan kaisar Alex. Ia cukup khawatir terhadap Qira. Sebab dari banyaknya putri, hanya Qira yang memanggilnya paman. Karena itu, ia menganggap Qira sebagai anaknya sendiri.
“Bagaimana ini kaisar Yuan?” Tanya kaisar Wey khawatir. Semua orang tak bisa tidur nyenyak karena kepergian Qira. Sedangkan Qira bersenang-senang.
“Apa kau tak memiliki kabar dari kerajaanmu Kaisar Wey?” Tanya kaisar Alex tak kalah khawatir. Wajah tuanya sudah berbaur dengan lingkaran gelap dimatanya. Menandakan ia tak tidur nyenyak.
“Sudah, tapi kami juga tidak mendapat kabar baik.” Jawab kaisar wey sedih.
“Ayah. Apa Qira diculik?” Tanya Xian Li. Disana 6 kakak Qira berkumpul. Sedangkan Kenzi, permaisuri dan selir-selir kaisar Wey sudah kembali keistana. Tidak mungkin istana mereka menjadi kosong.
“Tidak mungkin. Qira itu kuat. Sebelum penculik itu menyentuhnya. Kepalanya akan menggelinding seperti bola yang kita mainkan dulu.” Jawab Zian Li sedih sambil mengingat hal yang membahagiakan bersama Qira.
“Apa kalian tak pernah melihat Teman Qira yang tampan itu? Leon dan Wolf jika tidak salah?” Tanya Guang Lii.
“Aku juga tidak melihat mereka!” Jawab mereka serentak.
“Chao, Chio?” Mata Guang Lii membulat saat mengingat mereka.
“Jendral Luo. Cepat cari Shu Jin. Chao dan Chio sekarang juga!” Perintah Xian Lii.
“Baik yang mulia putra mahkota.” Jawab Jendral Luo. Ia bangkit dari simpuhannya melangkah untuk keluar. Tapi saat ia membuka pintu. Shu Jin, Chao dan Chio sudah berada disana.
Semua kaisar dan kakak Qira berdiri melihat mereka. Kaisar Alex bahkan turun untuk mendekati Shu Jin. “Apa kalian tau dimana Qira?” Tanayanya khawatir.
Shu Jin dan lainnya menunduduk berhormat kepada kaisar Alex. Ia datang karena melihat kabar Qira hilang, ia ingin menyampaikan surat Qira, lalu menjawab. “Ampun yang mulia. Kami hanya tau jika putri pergi kehutan kematian karena ada yang harus ia lakukan.” Jawab Shu Jin jujur.
“Kau tidak membohongikukan?” Tanya kaisar Alex.
“Shu Jin. Apa Qira dirumah kalian disana?” Tanya kaisar Wey.
“Hamba tidak tau yang mulia. Tapi putri menitipkan pesan untuk yang mulia dan lainnya.” Jawab Shu Jin dan memberikan gulungan yang dibawa Chao.
__ADS_1