Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Ramalan Untuk Qira


__ADS_3

Like Dulu lah. komentar. Beri Vote baru baca.....


.


.


.


“Kau mau mencobanya sekarang yang mulia?” Tanyya nenek peramal itu kepada Qira. Sedangkan Qira hanya mengangguk. Ia penasaran. Seperti apa yang akan ia hadapi dibola pembual itu. Ya, dia mengangap jika masa depna itu tak akan bisa diprediksi. Ya, karena. Masa depan itu tergantung apa yang kita lakukan sekarang.


Tangannya terulur menyentu bola itu, tapi sebeumnya kakak Kim memegang pundaknya hati-hati lalu membuat satu rasa. Yaitu ‘Nayaman dan aman.’ Senyum Qira terbit. Ia kembali menggenggam bola itu dan memejamkan matanya, ia juga memfokuskan pikirannya.


“Bangun..” Bisik itu membuat telinga Qira geli.


Ia membuka matanya secara berlahan, sama seperti kakak Kim tadi, silau. Itu yang bertama ia lihat. Qira mengernyit sembari menutup matanya dengan telapak tangannya sendiri. Saat suah dirasa cukup. Ia membuka matanya secara berlahan.


Pertama yang ia lihat adalah dirinya yang menunggang kuda bersama Wolf dan Leon diatas air.


Di atas air?


Kening Qira mengernyit. Ia melangkahkan kakinya kedepan dan melihat secara dekat. Tapi tak ia sangka kuda dari mereka mengarah pada Qira secara berutal.


“Arh..” Teriak Qira karena ia tak bisa berjalan dan menghindar dari kuda-kuda itu. Tangannya menylang didepan Wajahnya sembari memejamkan mata.


Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa nyilu dan lainnya membuat Qira mengernyit. Ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Sudah tak ada lagi kdua. Tak ada lagi Leon dan Wolf. Tak ada lagi air tempat merreka berkuda.


Ia kembali melihat sekeliling. Ternyata tempat ini sedah berubah dari sebelumnya. Matanya teralih kepada sosok didepannya. Senyumnya terbit saat ia tahu siapa itu.


Zuzu yang tersenyum lembut dan hangat. Ia bermain kepada Qira disebua taman kerajaan Barat. Ahh, senyum mereka sangat lebar menyita perhatian siapapun melihatnya.


“Bunda. Cari Zuzu. Cari Zuzu..” Ucap Zuzzu kecil yang sudah bisa berbicara. Ia berlari kecil menuju pohon.


“Dimana pun kau bersembunyi. Pasti ibu bisa mencarimu Zuzu..” Ucap Qira semangat sembari memejamkan matanya.


“Ibu Hitung ya.. 1,,, 2,,, 3.,,,......10. Ibu datang...” Ucap Qira lantang, membuat sii Zuzu mengigit kukunya.


“Ayoo Zuzu. Ibu tau kau disana. Kaluarlah.. hap..” Qira meronggo semak yang tak ada Zuzunya. “Tidak ada ya.. hmm, pasti ibu bisa mencarimu.” Ucapnya.


Senyum semirk Qira keluar ketika melihat baju Zuzu yang terlihat i balik pohon. “Ibu tau lo kamu dimana.” Ucapnya menakut-nakuti. Ia berjinjit menuju pohon besar persembunyian itu.

__ADS_1


Qira yang sudah sampai dibelakang pohon itu tersenyum remeh dan melompat kedepan Zuzu. “Dapat.. Akhh...”


Suara burung menggema bersahutan dengan teriakan Qira yang melengking. Burung-burung itu pergi dari pohon itu.


Qira yang sedari tadipun melangkah mundur dan terjatuh terkejut apa yang ia libat.


Zuzu yang polos dan lugu menjadi sangat menyeramkan. Wajahnya penuh dengan darah. Sedangkan senyumnya penuh dengan kejahatan. Ahh, jangan lupakan jika matanya keluar dan mengentung dipipinya, itu membuat Qira terkejut.


Bukan karena ia takit, tapi karena kaget jika Zuzu sangat menyeramkan. “Ibu..” Ucapnya menyeramkan. Ia mendekat dan ingin memeluk Qira.


“Siapa kamu?” Tanya Qira cemas sembari mundur.


“Aku Zuzu ibu..” Ucapnya polos sebari mendekat.


“Bukan. Kau bukan Zuzu. Kau setan. Kau iblis..” Teriak Qira menatap sosok itu.


“Hihihi. Aku memang iblis ibu. Tapi aku anakmu..” Ia terkikik tertawa sendiri.


Buluh kuduk Qira meremang. “Jangan mendekat kau iblis. Akan ku bunuh kau.” Ucap Qira gentar.


Zuzu memberi ekspresi sendu sambil menangis lirih. Kembali tertawa layaknya orang gila. Ia melompat dan menerkam Qira. “Aku ingin peluk ibu..” Ucapnya keras.


“Tidak mau.” Ucap Qira sembari menutup matanya. Tak biisa merasakan apapun membuat ia takut membuka matanya, takut jika sosok menyerankan itu tepat didepannya. Ahh, ia sangat takut saat ini.


Sosok yang ia tonton adalah Qira. Dirinya sendiri sekarang berada ditengah-tengan meja bundar. Membuat Qira asli mendongak menatap sekitarnya. Yang tadi tempat ini adalah pohon yang asri dan tempat yang segar berubah menjadi tempat yang meneyramkan. Seperti tempat persembahan dan juga tempat tumbal.


Tubuh Qira disana terbujur kaku, seluruh tubuh diikat degan tali berwarnah merah terang, dengan dikepun oleh banyak orang. Dan seluruh orang disana adalah sosok dimana sosok yang Qira kenal sangat kental.


“Tolong..” Teriak Qira sembari memberontak. Tapi Sayangnya hanya dibalas dengan seringaian jahat dari mereka.


“Lepaskan dia...!” Teriak Qira yang sedari tadi diam dam menonton. Ia snagat geram. Apa maksud dari semua ini.


Semua mata tertuju pada Qira yang berteriak. mata mereka memerah dan menyalah.


Plas..


argh..


Pedang dari mana itu Qira tak tau. Tapi lehernya terputus dari tubuhnya. Sakit menjalar dari lehernya membuat ia pasrah dan memejamkan matanya.

__ADS_1


“Bangun...!” Teriak seseorang ditelinganya. Membuat Qira membuka mata dengan terkejut.


Nafas Qira tersenggal-senggal. Matanya melirik kanan dan kiri secara kasar. Ahh, tangannya ia tempelkan dileher. Ternyata masih menyatu. Lalu tadi itu apa? Bagaimana bisa ia menyambung lagi?.


Mata Qira kembali meneliti tempat ini lagi-lagi ia sudah ditempat lain. Tempat dimana kakak-kakaknya, Leon dan Wolf sudah terkapar tak bernyawa yang sedang memeluk dirinya.


“Leon...!” Pangil Qira sembari mendekati jasat Leon yang memeluk Qira. Ia mengoyangkan tubuh Leon kuat.


Air mata Qira menggelinang. “ Wolf.. Leon, bangun..” Ia menarik baju Wolf dan Leon yang berdekatan itu. Tak mendapat sahutan dari mereka membuat ia berpindah dan mendekat kepada Xian Lii dan Lian Lii.


“Hey bangun...! mengapa kalian mati. bangun..!” Teriak Qira frustasi. Tak ada jawaban membuat ia memanggil Guang Lli, Juang Lli secara bergantian. Membuat ia frustasi.


Matanya melirik sekitar. Ini dimana? Siapa pelakunya? Mengapa Dirinya mati? mengapa semuanya mati? ahh...


“Qira...” Teriak seseorang membuat Qira sadar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


“Kau tak apa Qiqi?” Tanya kakak Kim khawatir menatap Qira. Ia mengusap pipi Qira yang basah karena air mata.


Qira masih menyetabilkan nafasnya. Masih ada rasa sesak didadanya, takut dan juga khawatir. Ia bahkan masih terbayang bagaimana kepalanya ditebas, seramnya Zuzu yang berwajah iblis. Dan juga kematian orang orang yang ia sayangi.


“Minum dulu ini..” Kakak Kim memberikan segelas air putih kepada Qira.


Tanpa pikir panjang Qira meminum air itu hingga tandas. Barulah ada rasa sedikit legah didadanya.


“Mengapa kau menangis?” Tanya kakak Kim khawati.


Qira menengok wajah kakak Kim yang keningnya terlipas tiga. Ia mengelus kebing itu sepaya tidak terlipat lagi. “Kakak Jelek kalo keningnya berkerut.” Ucap Qira mengalihkan pembicaraan.


“Cek.. ia serius. Apa kau melihat hal yang buruk dimasa depanmu?” Tanyanya sembari memegang tangan Qira dikeningnya lembut.


Qira tersenyum tipis. “Ini hanya permainan. Jadi bukan apa-apa.” Jawabnya.


“Tapi—“


“Bisakah kau tak menanyakannya? Tadikan sudah saya bilang, ini tak boleh diceritakan kepada orang lain jika tak ingin terjadi sesuatu.” Sahut Nenek peramal memotong pembicaraan Kakak Kim.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2