Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Ramalan kakak Kim


__ADS_3

Apakah kau mau diramal?” Tanya nenek itu menatap Qira...


Qira menatap nenek itu sekilas lalu membuka mulutnya untuk menjawab Tidak.


“Iya. Kami mau diramal.” Ucap kakak Kim sebelum kata tidak dari Qira meluncur dari mulutnya. “Benarkan Qiqi?” Tanya kakak Kim menatap Qira dengan senyum manisnya.


Qira menatap manik mata kakak Kim yang memancarkan keinginan yang begitu dalam, ah, ia tak mau membuat kakak Kim terluka karena Penolakan darinya dan karena itu Qira terpaksa menganguk dengan senyum setulus mungkin.


Seketikapulah senyum kakak Kim tambah melebar menandakan ia sangat bahagia.


“Siapa yang mau diramal duluan?” Tanya nenek itu. Ah sebut saja nenek peramala.


“Kakak Kim saja yang duluan.” Ucap Qira cepat. Ia malas mendahuui orang yang memang menginginkan hal ini.


Nenek itu tersenyum misteri. “Baik yang mulia.” Ucapnya sopan.


Yang mulia?


Mata Qira membelalak tapi cepat-cepat ia menetralkan ekspresinya. Ia menaikan satu alisnya menatap lekat nenek itu. Mengerti maksud dari tatapan Qira. Nenek itu tersenyum lalu berucap. “Ahh. Maafkan hamba yang mulia. Hamba harus memanggil yang mulia apa? Yang mulia putri kerajaan Langit? Awan? Atau yang mulia permaisuri?”


Mata Qira mengerjab-ngerjab. Dari mana nenek peramal itu tau? Apa yang harus ia jawab.


“Tentu hamba tau yang mulia. Hamba seorang peramal.” Sahut nenek itu


Seakan bisa mengetahui apa yang Qira pikirkan.


Kakak Kim menatap mereka tak mengerti. “Maksudnya apa ya Qira? Permausiri? Putri? Ah,, kalian menggunakan kode peramal ya?” Ucapnya.


Qira tersenyum simpul. “Lakukan saja tugas nenek.” Ucap Qira tegas. Namun masih terdengar sopan dalam alunannya.


Nenek peramal itu tersenyum. Matanya kembali menatap kakak Kim yang didepannya “Genggam bola ini lalu tutup matamu. Lihat apa yang kau lihat nanti.” Ucap nenek itu sambil memberikan bola kristal itu.


Kakak Kim pun menyambutnya dan mulai melakukan arahan yang nenek itu katakan. Ia mulai menutup matanya.


“Fokuskan fikiranmu. Jangan sampai terpecah bela.” Lanjut nenek peramal itu.


Bola kristal yang awalnya hanya berwarna putih bening kini memancarkan sinar yang menyilaikan, membuat Qira memejamkan matanya.

__ADS_1


Sedangkan kakak Kim menutup matanya smebari kosentrasi.


“Buka matamu..” Bisikan itu tepat ditelinga kakak Kim membuat ia membuka kelopak matanya.


Sontak mata kakak Kim terbuka, tapi kembali tertutup ketika silau menusuk pupil matanya, dirasa sinar itu meredup, ia kembali membuka matanya hati-hati. Matanya membulat tak percaya. Ini bukan kedai itu. Ia kembali menatap sekelilingnya. Ini ada disebuah lapangan lebar yang berisih Rumput hijau nan indah.


“Dimana ini?” Gumamnya heran. Ia ingat jika ia baru saja ingin diramal. Apa yang ia lihat sekarang? Apa ini halusinasi? Ahh. Ia memilih berjalan menyelusuri tempat ini.


Sudah beebrapa menit ia berjalan, tapi ia tak menemukan hujung dari lapangan ini membuat ia terduduk lemas. Ia mengambil nafas dalam dan mulai memijit kakinya karena lelah. Dirasakannya angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya membuat ia mengantuk.


Ahh, disini itu berkeadaan siang, hanya saja tak ada rasa panas yang menyengat kulitnya membuat ia membaringkan tubuhnya dilapangan itu.


Sesaat setelahnya ia merasakan kecupan hangat mendrat didahinya, lalu pindah kemata kanan dan kirinya. Membuat tidurnya terganggu. Ia mencoba membuka matanya.


Matanya terpaku menatap perempuan yang tersenyum manis didepannya. Ah,, sangat manis. Ia berdiri lalu berlari.


“Tunggu..” Panggil kakak Kim. Ia berdiri dari duduknya dan pergi berlari mengejar perempuan yang mencium dahinya.


Lari, lari dan terus berlari, hingga ia menangkap satu sosok perempuan yang ia kejar tadi. Tapi saat ini ia tak sedang sendri.


Melainkan berdua.


Ah.. perempuan itu sedang duduk diayunan dibawah pohon besar disana. Tali ayunan itu dihiyasi oleh banyaknya bunga akar membuat ia seperti dewi penjaga surgawi. Wajahnya penuh senyuman.


“Ayo lebih kencang lagi.. kau begitu payah..” Ejeknya dengan orang yang bersamanya.


“Kau mengejekku ya.. hahah ayoo pegang yang erat.” Jawab temannya sembari mengayunkan ayunan itu semakin deras.


Menciptakan tawa bahagia perempuan itu melambung tinggi diudarah. Ahh, tawa itu menyejukkan hati bagi siapapun yang mendengarkannya.


“Ahhh. Ayoo lagii.. lagii..” Ucapnya semakin bahagia.


“Arhhh..” Gadis itu terjatuh dari ayunannya dan melambung tinggih keudarah.


Suasana bahagia itu menjadi mencekam. Mata kakak Kim membulat, ia menatap langit yang awalnya cerah menjadi mendung dan gelap. Matanya kembali pada dua sosok yang akan membuat siapun iri melihatnya.


Tapi sekarang tak ada lagi adegan romantis, tak ada lagi adegan penuh bahagia, yang ada hanya sosok gadis yang menangis dipelukan seorang pria, sedangkan pria yang sedari tadi yang bersikap manis itu tertancap piasu dari balik punggungnya.

__ADS_1


“Jangan tinggalkan aku hiks hiks. Katanya kau tak akan meninggalkanku hiks hiks...” Suara tangisan itu pecah. Membuat hati siapapun menjadi teriris dan terhenyat. Tangannya memukul dada pria itu penuh dengan kerapuhan.


Hati kakak Kim menjadi terisis. Ia bahkan menangis melihat adegan itu. Ahh, itu sangat memilukan, ketika dua orang saling mencintai tapi dipisahkan oleh maut. Sungguh, tak ada perpisahan yang lebih memilukan dari pada maut.


“Lapaskan aku... hiks hiks...” Perempuan itu memberontak dikala tangannya ditarik paksa sosok kabut asap.


Dunia seakan berputa dimana kakak Kim sekarang menjadi bingung. Awalnya ia berada dilapangan, dan sekarang lapangan itu penuh darah. Mayat dimana-mana. Sedangkan disebela sana ada pertemuran yang sangat hebat. Semua orang tak ada yang melihatnya kah?


Ini adalah perang terbesar yang pernah kakak Kim lihat, ada banyak mayat yang tergeletak. Rumput hijau sudah menjadi merah kehitaman. Ahh, ini seperti kejadian mimpi indah menjadi mimpi buruk. Tapi matanya teralih lagi pada sosok perempuan yang ia lihat tadi.


Perempuan itu memeluk seseorang begitu erat ditengah lapangan itu. Matanya memancarkan penuh emosi beserta kehampahaan hidup. Setelahnya ada tiga sosok meneyeretnya pergi dari sana. Ia baru sadar, jika yang dipeluk perempuan itu adalah dirinya. Ya, dirinya yang sudah berumburan darah.


Apa maksudnya ? siapa perempuan itu? Lalu mengapa ia mati dalam keadaan yang mengenaskan. Sungguh ia tak mengerti.


“Bangun... kakak Kim..” Bisikan itu membuat kakak Kim membuka matanya dengan nafas yang memburu.


Matanya melirik sekitar secara tergesa-gesa. Ia kembali menarik nafas dalam-dalam. Ahh, ternyata ia masih didalam kedai. Lalu tadi itu apa? Bagaimana bisa ia disana? Semua bertengger manis dipikirannya.


“kakak Kim?” Satu tepukan kecil mendarat dipipinya, membuat ia menoleh untuk menatap sang pelaku.


“Ah. Maaf, “ Ucapnya kaget. Ia lupa jika ada Qira disebelahnya.


Qira mengambil sapu tangannya dan mengelap dahi kakak Kim yang sudah ditaburi keringat sebejar biji jagung. “Kakak kenapa? Mengapa seperti ini? apa yang kakak lihat? Apakah menyeramkan?” Tanya Qira lembut.


“Sangat menyeramkan.” Jawab kakak Kim.


Tangan Qira berhenti bergerak sembari menatap kakak Kim, matanya menatap nenek peramal yang sedari tadi hanya diam dan menatap interaksi mereka secara diam.


Nenek itu seakan tau apa yang Qira pikirkan membuat ia berbicara. “Itu tak boleh diceritakan pada orang lain. Jika kau bicara pada orang lain, maka itu akan berlangsung dengan cepat pada diri prediksi. Tapi jika kau memilih tak membicarakan pada orang lain. Kau masih memiliki kesempatan untuk merubah masa depanmu.”


Qira mengerutkan keningnya, ia kembali menatap mata kakak Kim untuk mencari tau apa yang terjadi. Sedangkan kakak Kim hanya diam seakan kalut apa yang sedang ia rasakan. “Kakak? Apa kau baik baik saja?” Tanya Qira khawatir. Ahh, dia tau.. apa yang kakak Kim lihat itu pasti sangat mengerikan.


“Aku baik-baik saja.” Ucap kakak Kim lembut. Oa tak mau memberi beban dn kecemaan pada Qira.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2