Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
menyinggung orang yang tak dikenal


__ADS_3

“Coba mereka menunggu saja tadi jika aku tau kedai ini sangat besar” Gerutu Qira.


Saat sudah sampai dilantai 2. Disana bahkan tertata dari pada lantai bawah. Ia mengerutu masam akan kebodohannya. Jika ia makan sendiri. Wolf dan Leon akan menunggunya. Ia harus mencari mereka.


Ia berjalan cilingak-cilinguk melihat setiap sudut ruangan. Matanya membesar saat melihat pria yang memakai baju Biru sedang duduk dengan 1pria yang berbaju coklat. Ia sudah kehabisan tenaga dan haus. Ia berlari cepat menemui meja tersebut.


“Akhirnya aku menemui kalian juga...” Ucap Qira sampai didepan meja. Tanpa melihat orang itu, Qira menatap gelas perak yang berisi minuman berwarna merah. Matanya berbinar. Tanpa pikir panjang ia meminum minuman itu dengan rakus.


Glughh... glughh...” Tanpa aba-aba Qira menyemburkan air yang berada dimulutnya kedepan pria berbaju biru. Tenggorokannya seperti terbakar, itu minuman membakar tenggorokannya. Belum lagi rasa pahitnya membuat Qira ingin muntah.


Dan terjadi. Qira memuntahkan air yang sudah ia telan diwajah pria itu...


“Qira....” Teriak salah seorang dari balik punggung Qira...


Tampa pikir panjang Qira mengambil teko berisi air.” Air..” Gumamnya serak. Ia menuangkan air dalam teko itu langsung kedalam mulitnya.


Pria yang dimuntahkan Qira mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah marah. Untunglah wajahnya tertutup topi, jadi tidak terlalu mengai wajahnya. Tapi tetap saja kena.


“Qira. Apa yang kau lakukan disini...!” Ucap Leon dari belakang.


“Kami menunggumu dari tadi didekat kuda. “ Sahut Wolf.


Saat merasa sudah legah tenggorokannya.ia menatap Wol dan Leon. “Minuman apa ini?. kalian mau membunuhku ya...!” Teriaknya.


“Minuman apa?” Tanya Wolf bingung.


Wolf menatap Pria yang dimuntahi Qira. “Maafkan teman saya tuan. Ia tak perna minum arak, jadi seperti ini. sekali lagi maafkan teman kami.” Ucap Wolf sopan.


Bragghhhhh... Meja makan itu digebrak keras oleh pria yang Qira muntahi. Wajahnya merah bercampur muntah Qira. Qira memnutup mulutnya kaget. Ia tak tau jika pria itu bukan Wolf dan Leon.


“Beraninya kau. Kalian tau sia----“ Ucap pria berbaju coklat tercekat oleh pria berbaju biru.

__ADS_1


“Kalian mau matiii...!” Teriaknya menggema. Seluru orang yang berada disana menatap Qira terkejut. Tanpa Aba-aba ia mencekik Leher Qira erat.


Qira yang mendapat serangan mendadak menjadi terkejut. Gerakan pria itu sangat cepat dan tak dapat dibaca. Cekikan itu sangat kuat, sehingga Qira tak bisa bernafas. Ia bingung mengapa Wolf dan Leon tak membantunya. Entah apa yang dilakukan pria itu membuat seluru orang didalam ruangan menjadi patung.


Tentu saja Qira meronta. Ia menatap mata hitam pria itu. Ia menepuk-nepuk tangan kekar. Oksigennya sudah habis, tubuhnya sudah sangat lemah. Ia mengarahkan telapak tangannya kedada pria itu, ia menggunakan ilmu angin.


Untunglah pria itu melepaskan cekikannya dan mundur 3langkah. Qira replek Menunduk dan menghirup oksigen rakus. Ada tanda cekikan berwarna biru dilehernya menandakan jika itu bukan cekikan main-main. Ia menatap pria itu, topi pria itu berguling kebelakang kareana hempasan angin Qira.


Mata pria itu membulat menatap Qira. Dengan Cepat Qira membuat Leon dan Wolf sadar. Seketika pula mereka sadar dari pematungan itu. Mata mereka menatap Qira bingung. “Kau tidak apa Qiqi?.” Tanya Leon secara bersamaan dengan Wolf.


Mata mereka membulat saat melihat bekas tanda cekikan membiru dileher Qira. Sontak membuat mereka menatap sang dalang dengan penuh amarah. “Apa yang kau lakukan dengan Qira...!” Teriak Wolf.


Teman pria biru itu menatap Wolf tak kalah tajam. “ Tidak usah berteriak...! Kau mau matii...!” Teriaknya bahkan lebih besar dari Wolf.


Wolf melangkah cepat untuk menyerang mereka. Tapi tangannya dicekal oleh Qira. Dan Leonpun Qira tahan saat ingin menyerang mereka. “Jangan. Mereka bukan lawan yang bagus. “Ucapnya.


“Tapi ia sudah melukaimu...!” Ucap Leon marah.


Qira menarak paksa Leon dan Wolf. Sejujurnya bukan karena ia takut. Tapi sekarang bukan saatnya untuk mencari masalah dengan orang yang sama sekali kita tidak tau bagaimana ilmunya. Bisa-bisa mereka yang menyerang tapi mereka pula yang dipukul mundur.


“Berhentii....!” Teriak pria berbaju coklat. Dengan cepat ia menyerang Leon dan Wolf. Sontak membuat Wolf dan Leon menghindar. Mereka bertarung dalam kadai itu. Qira menatap mereka dengan tatapan dingin. Ia yakin jika Leon dan Wolf bisa mengalahkan ia. Sebab mereka bukanlah pengecut.


Mata Qira sekarang menatap pria berbaju biru, dan mata mereka bertemu. Pria itu memiliki rambut hitam yang panjang nan halus yang dikucir tinggi, wajahnya Putih bersi, rahangnya kokoh, wajahnya bisa bisa dikatakan luar biasa tampan, mengalahkan kakak Kim, Leon dan Wolf. Wajahnya penuh wibawah nan dingin bagaikan bisa membeku siapapun yang ada didekatnya.


Jika dibandingkan dengan Putra mahkota Lenyai. Maka mereka hanya berbeda aura. Pria didepan Qira memiliki aura yang menyeramkan. Sangat menyeramkan bagaikan dewa kematian. Dia hanya diam menatap tremannya yang menghajar teman Qira.


Mata Qira beralih menatap Leon dan Wolf yang sedang bertarung. Sesaat setelahnya ia menatap pria berbaju biru. Matanya membulat saat menatap pria itu tepat berada didepannya dan memukul dadanya keras.


l Sontak Qira termundur beberapa langkah dan mengeluarkan setegus darah. Mata Qira menatap Pria itu marah. “Dasar pengecut kau...!” Teriaknya menggema.


Wolf dan Leon menatap Qira terkejut. “Qiraa...” Ucap mereka khawatir. Saat mereka ingin membantu Qira. Mereka ditahan oleh lawannya.

__ADS_1


Qira dengan cepat menyerang pria berbaju biru itu. Mata Qira penuh dengan kilatan marah. Tapi pria itu lebih memberi aurahl membunuh yang kental saat Qira mengatakannya pecundang. Hupp... Tangan Qira hanya mengenai udara. Berkali-kali Qira menyerang namun tak mengenainya.


Qira semakin marah. Saat pria itu mulai menyerang Qira lagi membuat Qira ada kesempatan untuk membalikkan serangan. Pukulan talak mengenai uluhati pria itu membuatnya mundur.


Qira menatap Wolf dan Leon yang masih bertarung. Bisa ia pastikan jika lawan mereka bukan orang sembarangan. ‘mungkin ia sudah menyinggung mereka’


Dengan cepat Qira menghempaskan angin besar kearah lawan Wolf dan Leon. Itu sudah cukup membuat sang empuh mundur dan membentur tembok.” Cepat. Kita harus pergi dari sini..” Ucap Qira cepat.


Nyatanya tak semudah itu Qira pergi. Pria berbaju coklat dengan cepat menyerang Qira. Slap... tapi belum sempat ia menyerang belati Qira yang ia selip dibalik lengatnya sudah tertancap diperutnya. Untunglah ia menggunakan ilmu peringan tubuh, Jadi tubuhnya tak terlalu nampak. “Sial...” Umpat Qira. Karena serangnnya hanya mengenai perut.


Pria berbaju biru membelalakkan mata dan menyerang Qira kembali. Qira mengarahkan ilmu anginnya menuju pria itu. Tapi belum sempat mengemai pria itu, angin itu berhenti seketika. Tak menghabiskan waktu Qira meenendang teko air dibawah kakinya menuju pria itu. Sontak membuat pria itu berhenti dan menghindar.


“Cepat....!” Teriak Qira menarik Wolf dan Leon yang kembali mematung.


Qira lari dengan ilmu peringan tubuhnya. Ia bahkan melompat dari jendela untuk turun dengan cepat. Pria itu menatap Qira terkejut, cepat-cepat ia melihat dari jendela. Matanya penuh kilatan dingin, ia ngin mengejar Qira. Tapi temannya sedang sekarat.. Matanya menyipit menatap Qira membawa kudanya. “Siapa dia?. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.” Gumamnya.


Ia memilih menuju temannya. “Apa kau baik-baik saja Ren?” Tanyanya.


Ren mengerang kesakitan dan memegang perutnya yang berlumbur darah. “Tidak..” Ucapnya sakit.


Pria iitu melihat dibalik punggung temannya ada jepit bunga Lili yang baru Qira beli tadi. Ia mengambilnya. “Apa dia seorang perempuan?” Gumamnya. Ia mengira jika Qira seorang pria. Karena Qira memakai baju laki-laki. Ia hanya mengira jika Qira pria cantik.


Ia mengambil jepit itu dan menyimpannya dibaju. Dengan hitungan detik ia sudah sampai dikediamannya. “Panggil tabib. Cepat...!” Titahnya kepada salah satu pelayan.


Seketika pula seluruh orang didalam kedai sadar. Mata mereka.membulat tak percaya melihat kedai itu sudah hancur berantakan. Mereka tak tau apa yang terjadi.


...


Beda dengan Qira yang membawa kudanya dengan cepat. Mereka berhenti ditempat yang sudah cukup jauh dan sepih. “Apa kalian baik-baik saja?” Tanya Qira.


Leon dan Wolf mengambil nafas kasar. Jujur mereka sangat lelah . “Tidak. Tapi siapa mereka, mereka sangat kuat...!” Ucap Leon.

__ADS_1


“Kau benar. Bahkan kita berdua tak bisa melumpuhkannya.” Sahut Wolf.


__ADS_2