
Para prajurit menunduk hormat. “Ampun yang mulia putra mahkota. Kami menemukan burung elang i ni mengintip dikediaman selir Xia.” Jawabnya ragu.
Tak lama kemudian kaisar Wey datang dari belakang mereka. “Burung penyusup? Dimana burung itu?” Tanyanya mendengar ucapan prajurit.
Prajurit itu masih menunduk namun mendekat. Ia memberikan burung elang yang cukup besar. “Am ampun yang mu mulia. Ini burungnya.”
Kaisar Wey menatap burung elang itu. Tapi matanya menuju kearah surat dikakinya. Begitu juga Kenzi. Ia memilih melangkah dan berdiri disisi kaisar Wey.
“Lihat. Ada surat ayah.” Ucap Kenzi sedikit heran.
“Benar.” Ucap kaisar Wey. Ia menyuruh Kenzi memegang burung itu dan ia mengambil surat dikakinya.
“Ayo buka ayah.”Ucap Kenzi tak sabar.
Kaisar Wey membuka gulungan kertas itu. Wajah yang awalnya menatap serius sekarang berubah menjadi sinar bahagia. bahkan wajahnya mengembang senyum yang begitu lebar.
Tentu saja semua itu tak luput dari tatapan Kenzi. Ia mengangkatkan satu alisnya. “Ada apa ayah?” Tanyanya heran.
Kaisar Wey menatap Kenzi semangat. “Ayo kita kekamar selir Xia. Dan panggil ibumu. Ada surat dari Qira.” Ucapnya semangat.
Kenzi menatap Kaisar Wey sedikit tak percaya. “Ayah sedang tidak membohongiku kan? Aku tau jika ibu Xia sedang sakit. Tapi dibohongi akan menjadikan sakit itu lebih dalam ayah.” Jelasnya.
Kaisar Wey menunjukan surat itu yang bertuliskan. ‘DARI PUTRI ZHU QIRA HAN.’
Sontak saja Kenzi merebut surat itu., tapi ditahan cepat oleh kaisar Wey. “Hey... jangan serakah. Panggil ibumu dulu, kita harus berkumpul terlebih dahulu.” Ucapnya sambil mendorong wajah Kenzi menjauh.
Kenzi berdecap sebal. Baru saja ia bahagia, tapi tak mengurungi niatnya memangggil ibunya. Ia bahkan berlari untuk cepat-cepat sampai. Sedangkan kaisar Wey tersenyum sepanjang jalan sambil membawa surat dari Qira.
Ia kembli memasuki kediaman selir Xia dengan senyum yang belum memudar. Tak lama setelahnya, Kenzi membawah ibunya kedalam kediaman. Ibu Kenzi? Bahkan ia belum menggunakan hiasan rambut layaknyya permaisuri. Karena Kenzi menderet paksa dirinya menuju kediaman selir Xia tanpa tau tujuan dan maksudnya.
__ADS_1
“Ayo ayah..” Ucapnya semangat.
“Ada apa ini Kenzi?” Tanya ibunya berdecap sebal.
“Ada surat dari Qira bunda.” Jawab Kenzi semangat.
Wajah ibunya menlebar. Wajah yang sebal berubah semangat. Ia bahkan meninggalkan Kenzi yang masih didepan pintu dan mendekat kepada kaisar Wey. Kenzi mendengus kesal menatap ibunya yang sedari tadi mengomel tak jelas sekarang berubah bak peri malam yang begitu bahagia.
Begitu juga selir Xia. Ia bahkan merasa dirinya langsung sembuh saat mendengar Qira mengiri surat.
Sedangkan selir ketiga dan pangeran kedua sedang pergi berkunjung kekediam neneknya. Karena itu ia tak ada disini.
Kaisar Wey mengangguk lalu membuka surat dari Qira.
*dari PUTRI ZHU QIRA HAN.
PUTRI KECIL KALIAN.
Kaisar Wey mengernyit. Burung? Matanya membulat saat mengingat jika burung itu masih didepan. Ia bergegas pergi kedepan dan memerintahkan prajurit memberi makan burung itu lalu kembali kepada yang lain.
“Ada apa ayah?” Tanya Kenzi heran melihat tingkah ayahnya.
Kaisar Wey tersenyum. “Qira menyuruh kita memberi makan burungnya.” Jawabnya lalu kembali membuka surat.
*Halooo Ayah... apa kabar? Kau pasti merindukanku kan? Mengkhawatirkanku kan? Aku taku itu semua. Bahkan aku tau jika bulan belakangan ini isi otakmu hanya ada gadis kecilmu ini... aku juga sangat merindukanmu disini, kau jangan khawatir, aku juga sangat menyayangimu. Ayah, aku ingin meminta maaf kepada kalian, aku pergi karena ingin mencari kebahaan. Jangan lupa makan dan istirahat. Mungkin aku akan datang mendadak untuk melihat kondisimu nanti, jika saja tubuhmu kurus sedikit saja. Akan aku pastikan ayah akan menyesal.
Kau tau ayah? Didarahku tak ada darahmu yang mengalir, tapi didetak jantungku ada namamu yang selalu disebutnya. Meskipun kecilku tak besamamu, tapi matiku tak akan melepaskan rasa sayangku padamu. Aku mencintaiku melebihi diriku sendiri ayah.*
Isi surat itu dibaca lantang oleh kaisar Wey. Tak ia sadari jika air matanya menetes. Air mata bahagia berca,ppur Rindu.” Ayah juga sangat menyayangimu gadis kecilku.” Gumamnya serak.
__ADS_1
*Teruntuk ibu_ibuku tercinta.
. Kalian tau? Jika sedari aku dilahirkan aku tak dapat merasakan kehangatan pelukan seseorang? Kalian pasti sudah mendengarnya bukan? Tapi apakah kalian sekarang sudah merasa jijik kepadaku seperti orang lain? Apakah kasih sayang kalian sudah memudar dan bertukar rasa iba kepada ku?*
Bait ini membuat tangis permaisuri dan selir kaisar Wey pecah. Mereka menggeleng seakan Qira bisa melihatnya. “Kau masih tetap putri kami. Putri kecil kami.” Gumam permaisuri.
Sedangkan selir Xia menggigit tanganya sendiri merasakan dadanya sesak membacanya. Ditambah cerita Qira melayang difikirannya.”Bahkan sekarang kami lebih mencintaimu. Sinta kami selalu bertambah untukmu.” Gumamnya.
*aku harap kasih sayang kalian tak pudar dan pelukan ibu-ibuku tak mengendur dan masih tetap erat. Maafkan aku tak pernah bercerita tentang kepedihan dan lukaku. Karena ketika aku bersama kelian, luka ini mengendur dan menghilang lenyap seakan dimakan waktu. Ya, waktu bersama kalian membuat aku lupa jika hidupku itu kelam.
Aku tak ingin mendengar kalian sakit, karena sakitnya kalian adalah sakitnya aku. Jangan fikirkan aku disini. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik, hanya saja Rinduku kepada kalian mencekikku. Aku berjanji akan kembali. Jadi berjanjilah untuk menjadi sehat dan kuat. Aku tak ingin salah satu dari ibuku sakit dan meninggalkan ku dengan kerinduan. Aku merindukan dan menyayangi kalian.*
Permaisuri dan selir kaisar Wey menangis sambil memeluk kaisar Zauhan. Sedangkan Kenzi mencoba mengelus pundak selir Xia yang naik turun.
*Buat sang putra mahkota sombong.
Kau tau? Kau payah saat bertanding. Aku sudah mengajarimu selama ini, tapi kau tetap kalah.*
“Aku menang dalam lombah tangkis pedang dan berburu. Kau saja meninggalkan ku saat pertandingan. Kau kemana ha? Salam surat saja kau menghinaku. Apa kau tak me—“
“Kenzi. Itu hanya surat.” Potong kaisar Wey menatap putranya heran. Dalam surat saja putranya masih tak mau kalah dari Qira.
“Memang benar surat. Tapi suratnya untukku sangat mengesalkan.” Ucap Kenzi bedecap.
Kaisar Wey menggulungkan suratnya tapi ditahan oleh Kenzi. “Mengapa ayah menggulungnya? Bukankah suratnya belum selesai?” Tanya Kenzi tak tau malu.
Kaisar Wey mengelus dada sabar.” Bukannya kau bilang ini mengesalkan?"
“Tapi bukan berarti aku tak mau mendengarkannya ayah. “ Jawabnya merengek.
__ADS_1
Kaisar Wey hanya menggeleng melihat putranya yang labil jika besangkutan dengan Qira. Ia kembali membuka surat itu dan membacanya.
*Tapi aku yakin kau sekarang sangat kuat. Biarku tebak jika kau memenangkan lomba berburu dan tangkis pedang bukan?*