Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Bersama kakak Kim


__ADS_3

“Lancang kau...” Teriak bangswan itu lalu maju Menyerang Qira.


Qira melepaskan kakak Kim dan mulai mau melawan pria yang berbaju bangsawan itu. Seperti yang ia katakan. Tanpa menyentuh. Ia hanya mengelak. Dengan menggunakan Roll saat pria itu menyerang . lau kembali berdiri, tepat dibelakang pria itu. Pria itu membalikan tubunya lalu langsung memberi serangan pada Qira. Dengan cepat Qira menggunakan pola bintang. Didunia jurus bela diri Qira itu menggunakan rumus bintang, jurus itu menggunakan posisi bintang. Gunanya itu adalah posisi kaki seorang pembela diri.


Seperti sekarang. Saat penyerang menyerang kekanan. Maka Qira perlu menggerakkan kaki kanannya mengarah kekiri dengan tubuh mengikuti gerak kaki.


Ya, jurus ini sangat cantik, karena dengan gerak sedikit saja sudah cukup untuk menghindar.


Qira memberikan ilmu anginnya tepat didada pria itu hinga ia terhempas jauh dari sana. Tapi jika itu dilihat dari jauh, seperti pukulan yang mematikan. Padahal disentu saja tidak. “Aku peringatkan. Jangan sentuh kaak Kim.” Peringatan Qira.


Ia melangkah meninggalkan tatapan kagum orang-rang dan mendekati kakak Kim. Tapi sebelumnya ia menyeringai ketika seseorang berusaha mengarahkan pedang dari belakangnya.


Dengan menghindar kekanan dan berputar.


Krak..


Argh..


Geraka itu seperti angin. Bahkan kecepatan Qira tak dapat mereka lihat. Qira mematahkan kepala oarng yang ternyata salah-satu dari yang Qira serang tadi. Menimbulkan teriakan baik dari penonton maupun penikmat kepala yang dipatahkan.


“Pergi kalian semua.” Ucap Qira dingin.


Sedangkan pria itu sudah tak sadarkan diri.


Sontak seluru orang disana menatap Qira takut dan bobor dengan terbirit-birit. Termasuk dari para pengganggu kakak Kim.


“Kakak tidak apa-apa?” Tanya Qira saat didepan kakak Kim.


Kakak Kim memberikan senyum terbaiknya. “Aku tidak apa-apa. Maaf.” Gumamnya.


Qira mengangkat sau alisnya. “Maaf?” Beonya.


“Maaf karena kau selalu repot untukku.” Ucapnya sedih.


Qira terkekeh sembari menarik tangan kakak Kim pergi dari sana. Ia membawa kakak Kim duduk bersilah dibawah pohon. Sedangkan kakak Kim hanya mengikuti Qira kemana ia membawahnya. Tepatnya pohon itu tak jauh. Mungkin karena cuaca yang cukup panas membuat Qira mengajak kakak Kim berteduh,


“Kakak sedang apa disini?” Tanya Qira malas menjawab kata Maaf dari kaka Kim.

__ADS_1


“Aku.. Aku mencarimu.” Jawab kakak Kim.


“Mencariku?” Tanya Qira.


Kakak Kim mengngguk. “Aku merindukanmu. Aku mau ikut kemarin, kau melarangku.” Ucapnya.


Qira? Bolehkah Qira merinah malu? Cek, entah kemana sifat dingin nan kejam Qira. Ia memalingkan wjahnya dari hadapan kakak Kim. Ia tak tahan untuk tidak tersenyum salah tingkah. Ia bisa membaca fikiran kakak Kim, semua yang dikatakan kakak Kim itu jujur, sangat jujur. membuat ia bisa merasakan jatungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Qira mengalihkan pembicaraan supaya ia tak nampak malu. “Ehm.. lalu mengapa kakak diserang tadi?” Tanyanya.


Kakak im pun mengangkat bahu. “Aku tak tau. Katanya wajahku membuat mereka risih. Aku menggoda siapapun disana membuat para gadis tak mau melirik mereka.” Ucapnya.


Qira tekehkeh. “Jadi karena itu mereka memberi luka diwajah tampan kakak Ini? hm?” Tanya Qira.


Kakak Kim terkekeh. “Ini bukan karena mereka serang tadi. Ini itu karena aku kemarin mengikut pertandingan dikerajaan, dan aku menang. Karena itu aku bisa pergi kesini.” Jelasny.


Qira menatap akak Kim. “Jadi. Tapi kau bukan kalah?” Tanyanya cengo.


Kakak Kim terkekeh. “Tidak tau..”


Kakak Kim terkekeh dan mengacak rambut Qira pelan. “ Tapi terimakasih Qira.” Ucapnya.


Qura memberi anggukan meskipun malu. Ia mengambil air dipinggangnya. Ia juga mengambil sapu tangan dari kantungnya. Ia membasahkan sapu tangan itu dan membersikan wjaha kakak Kim. “Wajah kakak kotor.” Gumamnya.


Kakak Kim tersenyum samar akan perhatian Qira. Ia menahan tangan Qirra yang berada diwajahnya. “Teriamakasih. Karenamu aku bisa menikmati udara lagi.” Gumamnya.


Qira terpaku akan mata hijau kakak Kim yang menggoda dipandang. Kakak Kim itu memiliki paras yang sangat sudah untuk ditolak.


Saat ini kakak Kim menggunakan baju putih dengan aksosoris kening permata serigala.


Wajah tirus dengan rambut hitam yang lurus. Separuh diikat dan separuh dibiarkan digerai. Ia bagaika mahluk surgawi yang dirunkan oleh dewa. Wajar jika kaum adam memberikan rasa iri terhadap dirinya. “ Terimakasih juga karena kau masih ingin berjuang.” Gumam Qira.


Kakak Kim juga mengambil sapu tangan Qira. Ia juga membasuhinya lagi dengan air. Ia mengambil tangan mungil Qira dan mengelakan telapak-tangannya. “Tadi kau menyentu kepala salah satu dari mereka. Padahal kau sudah berjanji mengalahkan merka tanpa menyentuh.” Gumamnya sembari membersikan telapak tangan Qira lembut.


Hangat... hati Qira sangat hangat, kekesalan dirinya pada kaisar Zauhan lenyap karena kehadiran Kakak Kim. Ia menikmati sentuhan kakak kim ditangannya dengan damai. Senyum tipisnya terbit. “Terimakasih.” Gumam Qira.


“Dimana Temanmu dan adikku?” Tanya kakak Kim.

__ADS_1


“Mereka... Entahlah.” Gumam Qira. Ia juga tak tau mereka dimana. Karena kekesalan membuat ia ingin pergi dari istana tanpa memikirkan siapapun.


“Kau tak bersama mereka?” Tanya kakak Kim heran. Qira hanya mengangkat bahu acuh.


“Kua mau menemaniku mengelilingi pasar?” Tanya kakak Kim ragu. Ia tak mau membahas orang lain. Ia yakin sang adiknya pasti bisa menjaga diri. “Maksudku, aku baru saja sampai disini dua jam yang lau, tapi aku sudah dikeroyok masal. Jika aku bersama mu, mungkin mereka tak akan menyerangku lagi.” Jelasnya.


Qira terkekeh. “Makanya, jangan terlalu tampan. Kan semua orang menatap kakak Iri.”


“Jadi kau mengakuhiku tampan?” Tanya kakak Kim lembut.


Qira mengangguk malu. Ia keceplosan. Kakak Kim Terkekeh melihat Qira mengangguk sambil menunduk. Cih, Qira bisa menjadi kucing manja saat bersama kakak Kim. Kakak Kim kembali mengacap ramnut Qira lembut. “Kau manis sekali Qira.” Gumamnya.


“Aku tau.” Jawab Qira sembari berdiri.


Kakak Kim menggelengkan kepala mendengar rasa percaya diri dari Qira. Tapi ia tak kalah terkejut saat tanganya ditarik Qira.


“Ayo. Katanya mau lihat pasar.” Gumam Qira.


“Oh. Iya..” Kakak Kim pun bangkit dari duduknya. Ia mengikuti jalan Qira yang menuju Black.


“Hay Black. Kenalkan, ini kakak Kim..” Qira menepuk leher Black penuh sayang.


Sepertinya kuda Qira sama sombongnya dengan Qira. Jangankan mau menjawab. Menatap kakak Kim pun ia tak sudi.


Qira menatap kakak Kim dengan mengangkat bahu. “Ayo kak..” Ucap Qira. “Kakak bawah kuda?” Tanya Qira lagi.


“Bawah. Disana kudaku.” Jawabnya.


Qira mengangguk. “Tapi sepertinya lebih baik kita jalan kaki saja. Kudanya kita titipkan ditukang kuda terdekat. “ Usul Qira.


Kakak Kimpun mengangguk “Baiklah.” Putusnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2