
.
.
.
.
Ya, saat ini kaisar Zauhan masih memeluk Qira dipinggangnya sembari menatap wajah Qira penuh kekaguman.
Sedangkan Qira menatap keindahan dari balik punggung kaisar Zauhan. Matanya penuh binar bahagia saat ini. Sungguh ini sangat indah.
Didepan sana adalah pemandangan danau yang disinari rembulan yang cupuk terang. Membuat danau itu memancarkan sinar biru yang indah, ditambah dengan langit yang dihiasi penuh dengan bintang. Jangan lupakan dika dibawah pohon yang Qira pijaki ini adalah taman bunga Lili yang bermekaran. Disebelah kanan tak jauh dari danau itu ada suara gemercikan air membuat Qira menoleh, dan semakin membuat dirinya terkagum-kagum. disana ada air terjun yang dikelilingi pohom ceri yang berbunga lebat.
“Wahhh. Kau bisa sulap.” Gumam Qira kagum.
“Sulap?” Beo kaisar Zauhan. Ia mengernyit tak.mengerti.
"Iya. Ini sulap. Sangat indah." Ucap Qira jujur.
Kaisar Zauhan tersenyum tipis. "Apa kau menyukai tempat ini?" Tanyanya.
Tempat ini sudah dirancang sendiri oleh kaisar Zauhan untuk Qira. Ia tau Qira menyukai bunga LIli dan juga hutan. Ia tau Qira menyukai kebebasan. Ahh, andai ia bukan seorang raja. Ia hanya akan membuat tunah sederhana di pinggir sini lalu membuat kelurga bahagia bersama Qira. bukankah itu menyenangkan?
Kalian menanyakan dari mana ia tau banyak tentang Qira? tentu saja dengan mudah ia dapatkan. tolong iangatkan lagi. Ia adalah kaisar Zauhan...!
Qira menatap kaisar Zauhan polos sembari mengangguk. Wajah Qira diterpa angin malam membuat helayan rambut yang terlepas dari ikatannya melayang.
Dug..
Bolehkah seorang kaisar Lebay? Yang mengakuhi jika debaran jantungnya bertambah? Atau suatu hal yang tak bisa ia jabarkan, betapa bahagianya ia melihat mata Qira berbinar dan begitu polos menatapnya. Ia terhipnotis. Ahh, disini yang menggunakan sulap itu kaisar Zauhan atau Qira sebenarnya?
“Helloo.” Qira menadakan sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mata kaisar Zauhan yang menatapnya penuh arti. Kaisar Zauhan memejamkan Matanya sesaat lalu tersenyum. Ia memegang bahu Qira sembari memindahkan tubuhnya dibelakang Qira. Ia memeluk Qira dari belakang begitu erat.
Qira mendadak sesak nafas, ah, bukan karena ia sakit paru-paru. Tapi spertinya organ tubuhnya sedikit bermasalah. “Jangan seperti ini. lepaskan aku.” Ucap Qira sembari memberontak.
Jika menuruti kemauan Qira. Itu bukan kaisar Zauhan namanya. Ia menggunakan ilmu pelumpuh tubuh, membuat Qira tak bisa memberontak. Ia tersenyum tipis saat mendengar Qira mengtumpatnya dengan kata ‘Sial’ . “ Sebentar saja. Aku sangat merindukan pelukan seseorang.” Gumamnya.
Mendadak Qira melembut. Ia tau jika didiri kaisar Zauhan penuh dengan rahasia, penuh dengan kesedihan sekaligus misteri. “Apa kau kurang kasih sayang?” Ejeknya.
Kaisar Zauhan mengangguk sembari membenamkan kepalanya dibahu Qira. Ia mencium sekilas tanda dibahu Qira. Ahh. Ini tak baik untuk kesehatan jantung. Tolong siapkan tabib untuk kedua insan ini...
Dengan gerak lembut ia mendudukkan dirinya dan Qira dan bersandar dipohon. Sedangkan Qira, ia masih memeluk Qira lembut sembari membenamkan kepalanya didadanya. Ah, rasanya ia sangat merindukan bau lavender ini. menenangkan. “ Aku sejak kecil tak pernah dipeluk.” Gumamnya serak.
__ADS_1
“Ibumu? apa obumu tak pernah memelukmu?” Beo Qira pelan.
Kaisar Zauhan diam sembari menatap langit. Sedangkan Qira Menikmati lingkungan sembari mau mendengarkan penjelasan kaisar Zauhan. “Ibuku? Entahlah, sulit untuk ku jelaskan. Tapi. Yang aku tau, kau menggantikan titik hitam diingatanku menjadi jingga. Ya. Kau lihat bintang itu.” Ia menunjukan bintang paling redup diantara bintang lainnya. Bintang yang paling diujung membuat ia terpencil.
Qira menatap bintang yang ditunjukan kaisar Zauhan. “Bintang yang paling besarkah?” Tanyanya. Ahh, ia tau saat ini kaisar Zauhan sedang berhati mendung. Ia tak mau kaisar Zauhan bersedih. Bukan karena ia peduli. Tapi bukankah Qira memang gadis baik?
“Bukan. Itu yang paling kecil.” Ujarnya sembari berdecap. Ia kembali menunjukan bintang yang ia maksudkan.
Qira mengerutkan keningnya. Yang kecil? Bukankah biasanya orang selalu mencari yang paling besar dan bersinar?. “Lalu?” Beonya.
Kaisar Zauhan tersenyum tipis. “Itu adalah dirimu. Kecil, yang paling beda dari yang lain. Tapi kau harus tau satu hal.” Ia menjedanya sebentar. “Kau beda bukan karena kau berbeda. Hanya saja kau terlalu istimewa untuk didekati banyak orang. Kau harus memiliki tempat yang paling luas dan paling indah dari pada yang lain.” Gumamnya.
Kaisar Zauhan memejamkan matanya sembari menenangkan dirnya. “Seperti itulah ibuku katakan padaku. Aku terlalu berharga untuk dicampirkan dengan cahaya lain, membuat diriku semakin kesepian Qira. “ Gumamnya lagi.
“Tadi kau bilang itu aku. Lalu kau bilang lagi itu dirimu. Kau atau aku sii sebenarnya bintang itu?” Sewot Qira.
“Itu umpama Qira bodoh. itu kau yang istimewa, sedangkan diriku yang kesepian.” Kaisar Zauhan yang berkagung semakin berdecap sebal. Ahh, setidaknya ia tak jadi bersedih bukan? "Tapi kau sudah membuat warnah sedikit dihatiku."
Qira membentuk mulutnya bulat. “Lalu. Dengan kau memelukku seperti ini apa hubungannya?” Tanya Qira. Ia mengalihkan pembicaraan saja dari pada berurusan dengan perasaan.
Andai kaisar Zauhan tau tentang penderitaan Qira yang disudutkan oleh keluarganya dulu. Ahh. bahkan melihat wajah ibunya saja ia tak pernah
“Itu karena sesuatu yang tak akan kau mengerti saat ini. tapi biarkan aku bisa merasakan pelukan malam ini. aku merindukan kehangatan.” Gumam kaisar Zauhan.
“Kau benar. Aku menyedihkan.” Ungkap kaisar Zauhan.
Qira mengatup bibirnya tak enak hati. Apakah ucapannya kasar mengapa rasanya ia sedikit tak enak hati mendengar pengakuan kaisar Zauhan, jika dirinya sedikit sakit.
Qira terdiam sesaat. Ia bisa merasakan jantung kaisar Zauhan berdetak lebih cepat. Ia juga merasakan sesuatu yang aneh pada diri kaisar Zauhan. Seperti rindu, sakit sekaligus kekecewaan. Apakah masa lalunya begitu kelam? “Kau boleh memeluku setiap kau bersedih.” Gumam Qira tanpa ia sadari.
Wajh kaisar Zauhan penuh binar sembari menegakkan kepalanya. “Benarkah?”
Qira mengangguk pelan.
Cup..
Kaisar Zauhan mencium pipi kiri Qira membuat sang empu membelalakkan matnya.
Dug..
Jantungnya seperti tersengat ikan leleh.
Ahhh, jantungnya sakit... sakit, apa ia serangan jantung?
__ADS_1
Aku butuh tabib tolong...
“Terimakasih.” Gumam kaisar Zauhan tersenyum.
Berhasil..’ Batin kaisar Zauhan.
Kaisar Zauhan menuntun kepala Qira kepahanya.. Ia membaringkan tubuh Qira lembut. Sedangkan sang empu hanya diam aaja. Bukan katena ia pasrah. hany aaja keadaannya membuatbia memilih diam. Toh memebrontak juga tak bisa kan? Untuk apa memberontak dan membuang energi. Ditambah tubuhnya tak bisa digerakkan?
Ia menatap wajah Qitra yang hanya datar. Ia mengelus kepala itu lembut. tak lama setelahnya kedatangan Ren membuat dirinya mendongak.
Ah pengganggu....!
“Salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia permaisuri. Hamba membawa makanan yang mulia inginkan.” Ungkapnya sopan.
“hm..” Gumam kaisar Zauhan sembari mengibaskan tangannya. Saat itulah Ren pergi melesat seperti angin.
.
.
.
.
Like. Komentar dan vote oke...
.
.
.
**alhamdulillah udah up.
Maaf ya baru Update. Soalnya author sibuk bantuin bonyok untuk nyiapin keperluan har raya idul Fitri.
ini ya. Author juga mau ngucapin Minal aidin Wallfaixin. Mohon maaf lahir dan batin.
Maaf kalo selama ini author ada bikin salah. baik kata maupun Isi novel kakak. atau kakak pernah bikin kalian sakit hati.
Kakak hanya manusia bias. Tak lupurlt dari dosa.
See you tomorrow again oke.....
__ADS_1
Selamat hati raya idul fitri semua. Semoga kita diberi penghapus dosa oleh sang kuasa aamiin**...