Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Pestival


__ADS_3

Qira terdiam sesaat Ia juga merasakan jika mereka sangat kuat. “Kita cari kedai lain saja dan mencari penginapan didekat sini. Dikemudian hari kita harus lebih berhati-hati.”


Wolf mengagguk menyetujui ucapan Qira. “Kau benar. Kita tidak bisa meremehkan orang lain.”


“Iya. Ayoo kita pergi. Aku sudah sangat lapar.” Sahut Leon. Memang benar. Mereka belum makan dari malam Tadi dan paginya mereka langsung melanjutkan perjalanan.


“Kau benar Leon. Ayo kita cari makan dulu.” Jawab Qira.


Qira menarik tali kekang kudanya untuk mencari kedai yang diikuti Wolf dan Leon tentunya.


Saat ini mereka lebih hati-hati. saat mereka mencari penginapan terdekat untuk mereka tempati malam ini. Tapi nyatanya mereka sama sekali tak menemukan penginapan.


“Permisi paman. Apakah ada kamar kosong?” Tanya Qira dengan salah satu pemilik penginapan.


“Maaf nona. Tapi penginapan ini sudah penuh, karena banyaknya pengunjung untuk menikmati festival malam ini.” Jelasnya.


Kening Qira mengerutkan keningnya. “Festival?” Beo Qira.


Pemilik penginapan itu menatap Qira dan Wolf. “Iya. Apa nona dan tuan tidak berkunjung karena pestival?” Tanyanya balik.


“Tidak. Kami hanya ingin mencari penginapan saja paman.” Jawab Leon.


“Benar.” Sahut Wolf.


Pemilik penginapan itu menatap mereka dan menghela nafas. “Sepertinya sedikit sulit mencari penginapan kosong tuan. “


Qira mengangkat bahu acuh. Toh mereka bisa tidur dimanapun. Dia bahkan hidup seperti tarzan hutan. “Ya sudah. Terimakasih paman atas informasinya.” Ucap Qira.


Wolf dan Leon pun berpamit untuk pergi. Qira menatap langit yang sudah gelap. Sudah banyak penginapan yang mereka mencari, tapi sama sekali tak mendapatkannya. Qira menghela nafas.


“Bagaimana ini Qira?” Tanya Leon.


“Entah. Aku juga tak tau Leon.” Jawab Qira pasrah.


Wolf menatap Qira miris. Ia mengambil nafas kasar. Hari sudah gelap tapi mereka belum juga mendapatkan tempat peristirahatan. Andai ada satu saja, ia tak masalah. Yang terpenting sekarang Qira. “Apa kau tak mau melihat festival Qiqi?” Tanya Wolf untuk mengalihkan pembicaraan.


Wajah Qira langsung cerah. “Boleh. Ayoo kita lihat.” Ucapnya. Padahal ia sama sekali tak tau festival apa yang akan ia kunjungi.

__ADS_1


Wajah Wolf langsung semangat menatap Qira. “Leon. Kita harus lebih berhati-hati.” Kau benar Wolf.


Qira kembali menaiki Black. Ia menarik tali kekangnya. Tapi ia berhenti setelanya. Ia menatap Wolf dan Leon.


“Ada apa Qiqi?” Tanya Leon.


“Aku tak tau jalannya. Kalian saja yang duluan.” Ucap Qira sambil tercengir kuda.


Wolf menatap Qira gemes. “Aku juga tak tau. Wolf, apa kau tau?” Tanya Leon.


“Aku juga tak tau.” Wolf menggarukkan kepalanya. “Tapi kita ikuti saja orang-orang. Aku yakin banyak yang akan pergi. Lagi pula dengar dimana tempat berisik.” Lanjutnya lagi.


Qira menatap mereka pasrah. “Yasudah. Ayoo..” Qira menarik tali kekang kuda cepat. Ia mu;lai mendengar dan melihat orang-orang sekitar.


---


“Bagaimana keadaan Fen apa diabaik-baik saja tabib?” Tanyanya.


Tabib tua itu menatap pria itu. Ia baru saja mengobati Ren. Yaa, mereka pria yang menyerang Qira. “Keadaannya sudah cukup membaik. Tapi lukanya cukup dalam, hampir saja mengenai jantungnya. Untunglah hanya mengenai perut nya.” Jelasnya.


“Jika begitu kau boleh pergi...” Ucapnya.


Ren yang awalnya menutup matanya menjadi sadar. Ia menatap pria itu dan ingin memberi hormat. “Hamba sudah baik-baik saja yang mulia.” Ucapnya.


“Tak perlu. Berdirilah.” Ucap pria itu.


Ren pun kembali berbaring lemah. Ia menatap pria yang ia hormati tersebut. “Apa yang mulia tau siapa yang kita serang tadi?” Tanyanya.


Wajah pria itu datar. Ia menatap Ren dengan mengangkat bahu. “Aku juga tidak tau. Tapi mereka cukup kuat.” Jawabnya.


Ren pun mengangguk tanda setujuh. “Benar. Tapi gadis berambut biru itu sangat hebat.” Ucapnya.


Pri itu mengerutkan keningnya. “Apa kau yakin dia seorang gadis Ren?” Tanyanya sama sekali tak percaya.


Renpun mengangguk. “Saya yakin. Meskipun ia sangat kuat, tapi ia tak bisa membohongiku jika ia seorang perempuan. Lagi pula tubuhnya sangat kecil jika menjadi seorang pria.”


Pria itu menatap Ren mencari cela atau kebohongan. Tapi itu semua jujur. ia kembali teringat jika ia menemukan jepit rambut. Ia mencari dibalik baju dimana ia menyimpannya. “Aku menemukan ini.” Ucapnya sambil mengulurkan jepit itu.

__ADS_1


Renpun menatap jepit itu. “Ini miliknya?”


“Mungkin.” Jawabnya. “Tapi kita tidak harus memikirkan hal ini. kau kembalilah beristirahat. Aku akan kembali kekediamanku.” Lanjutnya.


Renpun mengiyakan dan menunduk hormat.


Pria itu berjalan meninggalkan kediaman Ren. Baju kebesarannya menyet menyapu jalanan. Semua orang yang melihatnya menunduk hormat. Tak ada satupun orang yang berani menatapnya lebih dari 2detik.


Pikiran pria itu melayang mengingat Perempuan yang mencari gara-gara padanya. Ia tak akan segan-segan membunuh siapapun yang menyinggungnya. Tapi ia sama sekali tak menyangka jika yang ia ingin bunuh itu seorang gadis kecil, dan yang lebih membuatnya kaget, gadis itu mampu mengalahkan Ren dengan mudah dan mengelak serangannya.


Tangannya masih menggenggam jepit rambut gadis itu erat. Saat ia sudah sampai didalam kediamannya, ia menatap jepit itu. “Siapa kau sebenarnya.” Gumamnya. Ia menggenggamnya erat bagaikan benda pusaka lalu menyimpannya didalam kotak berukir rumit.


---


Qira mengikuti orang-orang yang menggunakan kereta kuda, senyumnya mengembang saat ia tahu jika usahanya tak sia-sia. Mereka sampai difestival tersebut. Mulut Qira menganga kecil. Ia menatap kagum akan pestival tersebut. Ia baru kali ini datang dipestival zaman kuno ini.


Disana ada danau yang diberi lilin yang diletakkan pada bunga teratai. Banyak sekali bagaikan bintang yang bertaburan diatas langit.


Belum lagi seiap sudut ada obor sebagai penerang membuat suasana sangat indah, tempat itu juga dikelilingi dengan lampu kain. Ya, lampu ini terbuat dari api minyak yang dibungkus dengan kain, disisi-sisinya diletakkan besi atau kayu sebagai penyangga. Sehingga menimbulkan kesan seperti bulan yang berhamburan.


“Qira. Heyy...” Ucap Wolf menyentuh pundak Qira. Karena dari tadi ia memanggilnya tapi tak mendapat sahutan sama sekali.


Qira mulai tersadar dari kekagumannya. Ia menatap Wolf dan Leon yang ada disampingnya. “Ada apa?”


“Dari tadi kami memanggilmu. Tapi kau tak menyahut sama sekali.” Sahut Leon.


“Benar.. apa kau sudah lelah?” Tanya Wolf.


Qira menggeleng. Ia menunjukkan suasana yang ia kagumi. “Lihatlah. Ini sangat indah...” Ucapmnya sambil tersenyum.


Wolf dan Leonpun menatap kedepan. Karena sedari tadi ia fokus mengawasi Qira. Mereka sampai lupa akan sekitarnya. “Wah. indah...” Ucap mereka kagum.


Qira pun melompat turun dari kudanya. “Ayo kita titipkan kuda kita lalu melihat sekeliling.” Ucap Qira.


“Benar. Kita tidak bisa membawa kuda saat ramai seperti ini.” Ucap Leon.. Wolf pun mengangguk.


“Yasudah. Ayoo...” Ucap Qira semangat.

__ADS_1


Mereka melangkah mencari tempat menitip kuda. Lalu bergegas berjalan mengelilingi pestival. Sesekali Qira selalu melontarkan kalimat kagum akan tempat ini. Leon dan Leonpun juga begitu. Qira menarik tangan Wolf dan Leon. “Ayoo. Aku mau naik perahu...”Ucapnya semangat.


__ADS_2