Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Anak siapa?


__ADS_3

kaisarZauhan menaiki satu alisnya sembari menilai-nilai dada Qira. “Bukan karena dadamu tak berisi?” Tanyanya.


Qira ingin sekali mencekik kaisar Zauhan. Ia memang tak memiliki dada besar. Tapi bukan berarti ia mau dihina. Ia juga tak memiliki cita-cita memiliki dada besar. “ Dasar kaisar bodoh.” Gumam Qira.


“Apa kau memiliki air susu putri Tea?” Tanya Leon menatap putri Tea.


Sangat bedah dengan respon Qira. Jika wajah Qira biasa saja dan datar. Maka putri Tea memerah malu. Siapa yang mau ditanya pertanyaan sevulgar itu? Hey dia perempuan lo...! “Ti tidak.” Ucapnya maulu. Ia menundukan kepalanya malu. Sungguh wajahnya saat ini memanas dan memerah.


Qira memutar otaknya untuk berkerja. Matanya melirik kiri dan kanan, ia butuh makanan untuk bayi ini. ia melangkah pergi secepat kilat. “Jaga dia. Biar aku mencari susu.” Ucap Qira tanpa melihat dan mendengar respon mereka.


Mereka kalah cepat jika ingin mengejar Qira. Qira sudah melesat menggunakan ilmu peringan tubuh. Ia membelah hujan dengan luhai, tanpa mau mengeluh karena kedinginan. Yang difikirkan ia saat ini hanya ’Mendapatkan susu.’ Hanya itu.. mata Qira berhenti disemakm-semak yang terdapat harimau dan seorang anaknya. Sudah dipastikan jika ia memiliki air susu. Dengan cepat Qira meminta tanpa mau bertarung. Ia tak mau membuang waktu sia-sia.


Tak berselang lama Qira membawa tabung dari bambu berisi susu. Ia datang dengan baju basah kutup. Wajah Leon dan Wolf sangat menunjukan kecemasan saat ini. sedangkan kaisar Zauhan hanya berbolak-balik sedari tadi. Sepertinya ia dilanda keresahan. “Kau mendapatkannya Qiqi?” Tanya Wolf.


“Dia sudah sangat lemah.” Sahut Leon.


Qira melangkah lebar melewati Leon dan Wolf. Ia mendekati anak laki-laki yang menangis tanpa suara itu. Suaranya sudah habis karena menangis sedari tadi. Wajahnya sangat pucat saat ini. “Haloo. Kakak membawa susu untukmu.” Sapa Qira lembut.


“Mam bu. Mam hiks hiks.” Suaranya terisak. Suara itu sudah terputus putus.


Qira membuka tutupnya yang terbuat dari dauh yang iikat dengan akar rumbut, ia membantu anak itu meminum susu. “Pelan-pelan. “ Gumamnya sembari menahan tengkuk anak itu.


Gleg...gleg...


Anak itu meminum susu pemberian Qira tampa jedah, menandakan bahwa ia sangat-sangat lapar. Hingga padah tetesan terakhir, barulah anak kecil itu menjauhkan bambu berisi susu itu. Ada yang bertanya bagaimana ia bernafas? Maka jawabannya disela-sela minum, ia bahkan tersedak saat teetesan terakhir.


“Akok.... ahok...” Anak kecil itu memejamkan matanya merasakan peri ditenggorokan.


“Hey pelan-pelan kataku...” Ucap Qira lembut sembari memijat tengkuk anak kecil itu. Qira melirik isi tabung itu, ternyata memang sudah tandas diminumnya. Qira hanya menggelengkan kepala melihatnya.


Anak kecil itu memberikan senyum lebarnya, ahkkk, ternyata ia memiliki lesung ppi yang sangat dalam dibalik pipi tembemnya. “Maaci...” Ucapnya cadel.


Qira terkekeh menatapnya. “Hn....” Gumamnya sembari mengangguk.


Sedari tadi Wolf dan lainnya hanya menyaksikan ketulusan dan kelembutan Qira. Saat Qira sudah memberikan susu, barulah ia bertanya. “Dari mana kau mendapatkan susu itu Qiqi?” Tanya Wolf.


Qira menatap Wolf. “Dari salah satu induk harimau dihutan.” Jawabnya jujur.


“Harimau?” Teriak putri Tea kaget.


“Bisakah kau diam. jangan berteriak bodoh.” Kesal Leon, karena yang paling dekat disana adalah Leon, jika putri Tea berteriak. maka telinganya yang kena imbasnya.


“Ma maaf. Aku kaget.” Gumam putri Tea.


“Jadi anak siapa ini?” Tanya kaisar Zauhan yang tak kalah kepo.


Baju Qira yang basa membuat air menetes dari tubuhnya. Ia mengepak-ngepak bajunya dibantu Wolf yang mengelap rambut Qira.


“Aku tak tau, aku menemuinya dibawah pohon seperti kalian liat tadi.”


“Bu bu...” Anak kecil itu melentangkan tangannya menatap Qira seakan meminta gendongan.


“Bu bu?” Beo Qira heran.


“Bu bu.. hiks hiks... ndong bu, ndong..” Anak kecil itu kembali menangis terisak.


Qira menatap anak kecil itu heran. Bajunya basa. Bagaimana bisa ia menggendongnya. Bisa-bisa anak itu kembali basa. “Putri Tea. Bisakah kau menggendongnya?” pinta Qira kepada putri Tea.

__ADS_1


“Tentu.” Jawab putri Tea cepat, ia melangkah menekati anak itu dan melentangkan tangannya untuk merangkulnya. “Haloo. Sini digendong dengan kakak cantik.” Ucapnya lembut.


“Dak... mau bu. Mau bu.. hiks hiks...” Anak itu menggelengkan kepalanya sembari menahan tubuhnya untuk tidak digendong oleh putri Tea.


“Hey, dengan ku saja.... Arhh....” tangannya digigit oleh anak itu secara ganas. “Tolong lepas. Argh sakit...” Teriaknya karena anak kecil tu tak mau melepaskannya.


Qira menatap anak kecil itu terkejut, mengapa tiba-tiba menjadi predator ganas seperti itu? Apa karena ia baru meminum susu harimau? Sehingga membuat dirinya juga suka menggigit dan ganas? “Haloo boy... Lepaskan.” Bujuk Qra sembari memejang tangannya.


“Ndong bu...” Ia menatap wajah Qira penuh harap, mata berkaca-kaca dengan wajah memelasnya membuat Qira tak tega.


“Ayoo sini..” Ucap Qira sembar merangkul tubuh mungil itu kedalam gendongannya. Seangkan putri Tea mengibas-ngibaskan tangannya sakit.


“Anak nakal. Tanganku berdarah.” Ucapnya kesal sembari membersikan tangannya.


“Bu aca? Bu ca?” Anak kecil itu mengelap wajah Qira yang basah karena air yang dari rambut menetes.


“He?” Beo Qira tak mengerti.


“Sepertinya dia memanggilmu ibu Qiqi.” Sahut Leon yang sedari tadi hanya menyimak dan menafsirkan.


“Aku? Ibu?” Beo Qira.


Leon mengangguk tanda mengiyakan. “Sedari tadi ia memanggil bu... bu... sepertinya Ibu...” Jawab Leon.


“Entahlah Leon. Bisakah kau mengegendongnya? Sungguh tubuhnya sangat berat.” Ucap Qira. Sebenarnya ia kuat, tapi karena ia lapar dan baru saja hujan-hujan membuat tenaganya terkuras.


“Kyu.... Bu... hiks hiks bu...” Ank itu mengeratkan tangannya dileher Qira saat Leon mau mengambil alih tubuhnya.


“Ayo bersama ku saja tampan....” Bujuk Leon sembari menarik tubuhnya menjauh dari Qira.


“Ndk uuu. Ndk uu.. hiks hiks, bubu... yong bu yong.” Gumam anak kecil itu kembali menangis.


Qira menghembuskan nafas kasarnya. Ia sangat capek. Sungguh, ia butuh istirahat. Matanay melirik satu orang lagi yang belum mencoba. Tapi ia malas untuk memintanya, terpaksa ia kembali memeluk anak itu dan duduk dikursi.


Kaisar Zauhan menatap wajah Qira iba. Nampak sekali bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Ia mendekat kepada Qira. “ Biar aku menggendongnya.” Ajunya.


“Dia tak mau dengan kita..” Sahut putri Tea kepada kakaknya.


“Biarku coba.” Gumamnya.


"Biarkan saja ia dengan paman ini" Ucap Qira menatap kaisar Zauhan.


paman.


Suami oy suami...


Rasanya kaisar ingin berteriak kencng ditelinga Qira untuk meminimalisir ke kurang ajar terhadap suami. Andai orang lain, sudah ia tebas kepalanya.


Keoala anak itu mendongak menatap kaisar Zauhan. Entah kerasukan apa wajahnya tersenyum bahagia. “Ya... ya... kyakk..” Teriaknya histeris sembari melepaskan gendongannya dari Qira. Ia melompat dan menerima uluran tangan kaisar Zauhan.


Kaisar Zauhan tergolak kaget. Ia kira anak itu tak mau menerimanya. Tapi apa kaanya tadi? Ya ya?.


Qira bernafas legah akan hal itu. Sedangkan yang lain melongo melihat kaisar Zauhan yang bisa menjinakkan anak harimau, ya anak harimau, dia kan minumm susu harimau.


“Bersikan lah tubuhmu. Nanti kau sakit.” Gumam kaisarZauhan menatap Qira yang masih basah.


“Ya ya. Bu cit?” Tanya anak itu menatap kaisar Zauhan.

__ADS_1


“Bagaimana jadinya anak ini nantinya?” Tanya putri Tea.


“Ntahlah. Kita cari saja ibunya dikerajaan ini.” Sahut Leon.


“Tapi sepertinya orang tua anak kecil ini memang sengaja membuang anaknya. Mana mungkin anak kecil bisa datang sendiri dihutan.” Sahut Wolf tentang pendapatnya. Ia masih menatap anak itu heran.


“Sepertinya kau benar.” Sahut kaisar Zauhan mengut-mangut.


“Lalu bagaimana?” Tanya Leon.


“Jika dia tak punya orang tua. Biar aku saja yang merawatnya. Lagipula nanti kita kan akan pergi, kan menyenangkan jika kalian harus mengganti celana dalam anak kecil saat tengah malam..” Qira terkekeh akan ucapannya sendiri.


“Kau benar... Diakan memanggilmu ibu, sepertinya ia mengira kau ibunya. Tapi siapaayahnya?” Beo Leon semangat.


“Aku...” Ucap Wolf dan kaisar Zauhan serentak. Setelahnya merekeka saling menatap tajam.


“Aku..” Ucap Wolf dan kaisar Zauhan semakin tegas dan semakin menatap tajam.


“Biar aku saja.” Ucap Leon santai.


“Tidak...” Bentak kaisar Zauhan dan Wolf semakin kompak.


Putri Tea melongo mentap mereka yang sangat kompak. Sedangkan Qira memijit pelipisnya. Apa-apaan ini?


“Biarkan aku dan Leon menjadi ayahnya. Kau tak perlu ikut campur atas kehidupan Qiqi kami.” Sahut Wolf cepat menatap kaisar Zauhan.


“Tidak. Aku suaminya saat ini.” Tak mau kalah aku tu.


“Kau menikahi Qira saat ia tak sadar. Jadi kau bukan suami aslinya. Alias gadungan.” Sahut Leon mendukung Wolf. Jika mengangkut


kebahagiaan Qira. Emereka sangat kompak.


“Tapi ia tak mau bersama kalian.” Sahut kaisar Zauhan sombong.


Hujan sudah mulai berhenti, malam sudah menyapa mereka, untunglah disana ada obor. Sepertinya ini memang tempat persembunyian mereka. Qira mendekati obor tersebut.


Tap... ia menjentikan api didepan obor itu, dan obor itu menyala. Ada senyum tipis diwajah Qira saat cahayanya menerpa wajah Qira. Cahaya kekuningan itu sudah menyebar di sisi-sisi gubuki itu.


“Kalian jadi ayah saja semua. Lagian juga kaliankan pria semua.” Ucap Qira santai. Dari pada ribut hal yang tak berguna?


“Tidak mau.” Sahut kaisar Zauhan dan lainnya serentak.


Qira mendekati anak itu. Ia berdiri tepat didepan kaisar Zauhan, tanpa mau menatap kaisar Zauhan, Qira menatap lejat wajah anteng anak itu seperti kecapean. Tanganya mengenggam erat baju kaisar Zauhan. “Haloo.” Ucap Qira menyapa.


Kepala anak itu terangkat menatap Qira. “pa bu?” Tanyanya seperti paham.


Qira terkekeh akan kepintaran anak itu. “Kau mau ayah yang mana?” Tanya Qira to the point.


Anak itu melepaskan tangannya satu, tangan kanannya, ia menunjukkan dada bidang kaisar Zauhan dan mengetuk-ngetuknya. “Ini ya ku.” Gumamnya.


“Ha? Ini ayahmu?” Beo Qira tekejut. Dan anak kecil itu mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


.like. komen dan Vote. jalan de novelnya.


__ADS_2