Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Gendong


__ADS_3

“Tentu.” Kaisar Zauhan tersenyukm tipis. Saat merasakan dagingnya masak. Kaisar Zauhan meletakkannya Diatas daun yang sudah ia siapkan.” Makanlah.” Ia meletakkannya dihadapan Qira.


Senyum Qira semakin lebar.ia berteuk tangan bagaikan anak kecil.” Terimakasi.” Ucapnya. Ia memeluk lututnya sembari mencuil daging ayam bakar. Ayam hutan ini sedikit lebih keras dari ayam lainnya. Jika tak bisa memasaknya, maka kita akan merakan makan permen karet tanpa rasa. Hanya membuat sakit gigi. Tapi ini? nikmat, sangat enak.


Qira mengecap jari telunjuk dan jempolnya dengan mata yang membola.” Enak..” Ia bertepuk tangan. Rasanya sedikit empuk meskipun tak terlalu empuk.


Kaisar Zauhan tentu saja senang. Ia masih menyetabilkan wajahnya. Tak mungkinkan ia tersentum gila. Setenga mati ia tak menunjukan dirinya melompat bahagia.” Tentu.” Jawabnya singkat. Ia menggigit pipi dalamya erat.


Qira mengangguk sebari memakan ayam bakarnya lagi. Ia makan didepan api unggun yang untuk membakar ayam tadi. Membuat suasana mereka bagaikan sepasang kekasih yang sedang makan diperkemahan. Mata Qira menatap kaisar auhan yang masih membakar satu daging. Tau itu kelinci.” Apakah itu kelinci?” Tanya Qira mengerjab.


Kaisar Zauhan mengangguk.”Tapi belum masak. Sebentar lagi.” Jawabnya.


Qira tersenyum.ia mencubit daging ayam didepannya lalu menyodorkannya dibibir kaisar Zauhan.” Cobalah.”


“Untuk kau saja. Aku tidak lapar.” Jawab kaisar Zauhan mengelak.


“Aku tak suka penolakan.” Tekan Qira.


Kaisar Zauhan menghela nafas. Ia memakan ayam yang Qira beri. Ia melahap jari-jari Qira sekaligus dan menggigitnya sedikit gemes.


Bugh,,


“Makan ayamnya. Bukan taganku.” Ucap Qira gemas.


Sedangkan kaisar Zauhan mengengir sembari memakan ayamnya. Tangan kirinya mengelus kepalanya yang sering sekali Qira tabok.


Rasanya ia bukan kaisar jika berhubungan dengan Qira. begitulah seterusnya. Mereka makan makanan dengan hangat melupakan masalah yang tadi. Melupakan jika mereka baru saja ribut. Saling menyuapi satu sama lain.


Saat setelah makan Qira menguap. Sudut matanya berair. Ia menggaruk tengkuknya gatal. “Aku mau tidur dulu. Terimakasih makanannya malam ini.” Ucap Qira lembut.


Ia memilih meringsut lalu tidur dibawah pohon, takut jatuh lagi.

__ADS_1


“Kita pulang saja. Dari pada tidur dihutan.” Ucap kaisar Zauhan kasihan melihat Qira yang tidur dengan menyandarkan kepadla dipohon.


“Lebih baik aku tidur disini dari pada mengganggu orang disana. Lagipula ini sudah larit.” Ia masih memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama ia sudah tertidur.


Kaisar Zauhan berdecap sebal. Bagaimana jika Qira diterjang hewan buas? Bagaimana jika Qira digigit ular?


Namun faktanya hewan-hewan itu tau mana makanan yang beracun mana makanan yang sehat. Mereka tau jika darah Qira beracun. Karena apa? Karena Tuhan sudah menyiapkan keistimewaan untuk mereka. Baik penciuman, pengliatan dan lainnya. Karena itulah, jika Qira tertidur dibawah pohon, jangankan hewan buas. Semut ataupun nyamuk saja tak berani menggigit dan memangsa Qira.


Kaisar Zauhan meringsut lalu mendekati Qira. ia narik tubuh Qira lau menempatkan dirinya dibelakang Qira. ia meletakkan Qira disela-sela kakinya dan meletakkan kepala Qira didada bidangnya. Sebenarnya ia mau melakukannya sedari tadi. Tapi ia yakin jika Qira pasti akan menolaknya. Ia mendekap tubuh mungil Qira untuk memberi kehangatan.” Aku tak tau apakah aku hanya menyukaimu? Obsesi ataupun cinta. Namun bagiku saat ini kau adalah bagian dari hidupku. baikan jika aku obsesi atau hanya menyukaimu. Tapi jika aku satukan atara suka dan obsesi maka aku yakin jika rasa itu akan menjadi cinta.” Ia mengecup pelipis Qira sekilas.


“Aku mencintaimu saat ini dan selamanya.” Ia membungkus tubuh Qira dengan lengan kekarnya memberikan kehangatan untuk Qira. Qira mengeliat sesaat lalu menyelusuk lebig dalam didada bidang kaisar Zauhan sekaan mencari kehangatan Lebih dalam.


Kaisar Zauhan terkekeh. Ia memilih tidur dengan mendekat Qira menyalirkan rasa hangat yang nyaman. Dibawah pohon dengan api unggun yang masih menyala tak jauh dari mereka.


Namun sayangnya ada seseorang yang meihat itu dari kejahuan. Tanganya terkepal dengan rencana licik didalam benaknya.


..


Qira mengeliat sembari menyelusuk kepalanya dileher kaisar Zauhan nyaman. Biasa jika tidur ia suka lupa siapa yang ia peluk. Yang penting nyaman.


Kaisar Zauhan menahan nafas saat nafas teratur Qira menerpa lehernya. Mendadak lupa diri. Ia pun menaruh kepalanya dipuncuk kepala Qira dan menggesek-gesek pipinya disana. Ada rasa nyaman dihatinya saat ini.


“Ini sudah pagi sayang. Lihatlah, mataharinya sudah hampir keluar.” Ucap kaisar Zauhan lembut.


Qira membuka matanya yang sangat berat, lalu memejamkannya kembali.”Hmm.” Ia hanya mampu menggumam saja. Ahh, ia sangat capek. Padahal Qira sosok yang sangat waspada. Namun entah mengapa jika kepada kaisar Zauhan, kewaspadaannya itu hilang. Bagaikan ia sangat percaya kepada kaisar Zauhan yang akan melindunginya.


Kaisar Zauhan menjauhan tubuh Qira sedikit lalu menggigit hidung Qira gemes.” Bangun..” Ucapnya gemes menatap muka bantal Qira yang masih saja sangat cantik.


Qira membuka sedikit matanya menatap kaisar Zauhan. Beberapa detik kemudian barulah ia sadar lau bergegas menjauh. “Ma maaf.” Gumamnya.


Kaisar Zauhan terkekeh. Jadi tadi Qira tak merasakan kaisar Zauhan mengigit hidungnya? Bagaimana bisa? “Ayo kita pulang.” Ucap kaisar Zauhan datar.

__ADS_1


Qira menentang tangannya terbuka. “Gendong.” Ia mengedipkan matanya polos.


Kaisar Zauhan memicinbgkan matanya. Sejak kapan Qira menjadi manja?. “Apa kau tak bisa berjalan?”


Qira berdecap masih dengan tangan yang meminta sambutan.” Biasanya jika aku bersama Leon dan Wolf mereka akan menggendongku tanpa dimina.”


Kaisar Zauhan menggerang marah.


Leon lagi..


Wolf lagi..


Mengapa Qira suka sekali memuja teman-temannya itu?


“Aku bukan teman-temanmu. Maka berdiri dan berjalan sendiri saja sana.” Ucapnya dingin dan datar. Ia berdiri dari duduknya karena kesal lau meningalkan Qira.


Qira menjatuhkan tangan yang terulur tanpa disambut itu. Ia mengucek matanya dan membuang sisa-sisa tahi mata karena bangun tidur, lalu mengusap wajahnya dengan baju.


Ahh, inilah kebiasakan Qira. ia suka mengusap wajahnya dengan baju bawahnya. Ia kembali menyenderkan punggungnya dipohon da berniat melanjutkan tidurnya tanpa mau mengikuti kaisar Zauhan.


namun senyumnya terbit saat mendengar daun-daun kering ditanah berdelisik menandakan seseorang mendekat karena suara itu semakin lama semakin keras.


Kaisar Zauhan berdecap karena Qira itu keras kepala. Ia bukannya menurut bagaikan gadis lain yang jika ditingal lalu merengek dengan manja, memohon-mohon untuk diperhatikan. Ini? Qira bahkan tak memanggilnya dan memilih tidur lagi.


Dasar keras kepala...!


Kaisar Zauhan dengan datarnya menggendong Qira dipunggungnya membuat senyum Qira terbit. Hahah. Bukannya ia suka bermanja. Hanya saja memperbudak raja sombong dan juga dingin itu menyenangkan. Apalagi jika melihat tatapan ketidak percayaa orang-orang sekitar. Ahh, rasanya mereka melihat kiamat akan datang detik itu juga.


“Kenapa kau mengendongku? Katanya tak mau?” Kicau Qira mengoda yang ditangap angin lalu oleh kaisar Zauhan. Tidak penting pertanyaan itu.


Sebenarnya kaisar Zauhan bisa membawa Qira dengan hitungan detik saja sampai dirumah penginapan. Namun momen ini tak akan ia sia-siakan. Ia akan memamfaatkannya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2