
Fyuhhh..
Qira menopang dagunya diatas meja. Meja ini pendek, hanya sebatas dadanya saat ia duduk bersila. Sekali Lagi ia membuang nafas pelan untuk menghinalangkan rasa bosan dirongga dadanya. Datar wajahnya menatap pria yang sedari dua jam lalu diam sembari menulis dimeja kerjanya. Matanya melirik Zuzu yang tidur dipangkuannya sendiri.
Sebisa mungkin ia tak berinteraksi dengan anak ini, tapi anak-anak tau apa? Ia selalu saja menempeli.
Qira dan mengekorinya. Ia tak peduli Qira tak pernah mau menggendongnya. Ia selalu berjalan dibelakang Qira sembari berlari kecil, kadag Qira yang tak tega karenanya.
“*Sampai kapan kau mengurungku?” Tanya Qira mengutuk kaisar Zauhan.
“Aku harus pergi dari kerajaan ini. Aku juga tak menyukaimu..” Ketus Qira menatap kaisar Zauhan tak gentar.
“Aku tak pedili kau mencintaiku atau tidak. Tapi aku pastikan kau harus selalu berada disisiku.” Jawab kaisar Zauhan.
Qira meniup wajah kaisar Zauhan yang hanya berjarak beberapa centi saja diwajahnya. “Kau egois. Sebagai seorang pemimpin, kau harus bisa menghargai pendapat orang lain..” Qira berdelik sembari menahan dada bidang kaisar Zauhan yang semakin menyesaki tubuh mungilnya..
Kaisar Zauhan menduduki dirinya didepan Qira. Begitupun Qira, ia memilih duduk sembari menatap wajah kelam kaisar. Kaisar Zauhan memikirkan suatu hal, ia sadar jika Qira bukanlah. Gadis layaknya yang takut akan ancamannya. Otaknya berputar sembari mencari suatu hal supaya mendapatkan solusi. “Beri aku waktu dua mingu untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Jika dalam dua minggu kau tak mencintaiku juga, maka kau boleh pergi jauh dari hidupku.” Ia menatap Qira serius. Emosinya mulia memudar, batu dilawan batu tak akan ada habisnya. Ia memilih mrngalahbdan memberi waktu saja.
Qira menenggelamkan bibirnya sembari menekuk keningnya berfikir. Sepertinya dua minggu lagi tidaklah buruk. Ia yakin jika hatinya tak akan luluh pada kaisar Zauhan. Yaa, dia yakin. “Baiklah. Tapi dengan syarat kau tak boleh macam-macam.” Ancam Qira.
Kaisar tersenyum tipis. Kepercayaan dirinya melambung tinggih. Ia yakin bisa memonopolikan hati Qira. Wajah tampan, mata indah dan kekuasan yang tinggih membuat siappun bertekuk lutut dihadapannya, ahh, ia tak sabar untuk membuat Qira mencintainya. Ia pasti akan memanjakan Qira sepenuh hati. Tapi dengan catatan, Qira harus patuh dan menuruti semua kemauannya. Hanya saja. Qira ya tetap Qira, gadis sombong yang tak akan mau takhluk pada siapapun termasuk kaisar Zauhan.
__ADS_1
“Aku juga punya syarat. Kau harus bersamaku dua minggu kedepan. Menerima apapun yang kau perintah, menerima apapun yang aku beri. Kau harus selalu tersenyum manis saat didepanku. Ahh, tolog kau buat dua temanmu itu jauh darimu dua minggu mendatang.” Ia mengobas-ngibaskan tangannya seakan mengusir Wolf dan Leon didepannya.
“Bagaimana bisa seperti itu.” Qra juga mengibaskan tangannya beberapa kali.” Aku tak mau patuh padamu dan aku tak mau jauh dari sahabat-sahabatku.” Qira melipatkan keningnya sembari menatap dengan tatapan tak terima.
“Itu terserahmu. Aku hanya memberi pilihan. Jika kau tak mau menerima juga tidak apa-apa. Aku juga tak akan melepaskanmu begitu mudah.”
“Kau mengancamku ha?” Qira menaikan dagunya sombong.
Kaisar Zauhan tersenyum tipis. Tangannya terulur untuk mengelus pipi Qira.
Plak..
Qira menepis secara kasar. Bukannya marah. Kaisar Zauhan malah terkekeh geli. Ia baru ingat jika menghadapi perempuan jadi-jadian. “Aku memberi penawaran. Jika kau menganggap ancaman tak apa. Biar kau ingat kepada siapa kau harus takut. Kapan lagi aku berbaik hati.” Kaisar Zauhan mengangkat bahu polos sembari berkedip dua kali, memberi kesan. ‘Iyakan?’
Kaisar Zauhan menerima tangan Qira untuk membuat kesepakatan. “Dua minggu kau milikku.” Ucapnya pelan tapi masih didengarkan oleh Qira. Cihh, kaisar Zauhan yang terlalu percaya diri bisa menaklukan Qira atau Qira yang terlalu sombong untuk menolak pria yang sesempurnah kaisar Zauhan?
. .
“Salam yang mulia. Semoga hidup seribu tahun..” sosok Ren muncul dari balik punggung Qira. sedikit kaget tapi tak memberi kesan takut. Qira masih memejamkan matanya bosan. Apa gunanya juga Qira berada disini menatap kaisar Zauhan menatap pekerjaannya? Menyebalkan sekali bukan?
Kaisar Zauhan menatap Ren sembari menggulung surat yang ia baca. “Apa ada perkembangan?” Tanyanya datar.
__ADS_1
Ren masih berlutut. Ia sedikit mendongak untuk menatap manik kelam kaisar Zauhan.”Maaf yang mulia. Sepertinya kerajaan kita memiliki pengkhianat. Karena seluruh rakyat didesa Hujan sekarang sangat mengenaskan. Bahkan sekarang bisa dikatakan desa mati. semua bala bantuan kita bagaikan tak memiliki efek apapun disana. “
Qira mengangkatkan kepalnya. Apa maksudnya? Mengapa seperti itu? Itulah pikirannya saat ini.”Ada apa didesa sana? Mengapa disana mengenaskan?” Tanya Qira tak peduli mereka saling bertatap heran.
“Kerajaan barat ini memiliki kekuasaan dan kawasan terbesar dari pada kerajaan lain. Karenanya, ada salah satu desa disebela hujung timur kita mengalami masalah penyakit yang menular. Sebenarnya penyakit ini sudah ada sejak satu tahun yang lalu. Kerajaan kita sudah memberi banyak obat-batan dan tabib, hanya saja tak ada perkembangan yang akurat kita dapatkan. Tapi semua properti serta obat-batan yang kita kirim itu jumlahnya sangat banyak, bagaimana bisa semuanya tak membuat sedikit saja penyakit ini berkurang?” Kaisar Zauhan meletakkan gulungan itu dimeja. Ia mengelus dagunya seraya berfikir keras.
Qira ingat kejadian ini juga pernah diului oleh kerajaan Awan, saat kaisar Wey yang diserang musuh diperjalanan karena mau mengatasinya sendiri. Apakah penyakit ini sama saja? Apakah wabahnya juga berjenis sama? Jika sama berarti ini satu sumber bukan? Lalu apakah wabah ini sudah tak lagi membebani kerajaan awan? Setaunya sii sudah, tapi tak ada keterangan lebih lanjut. “Mengapa kau tak mengatasinya secara langsung saja?” Saran Qira kepada kaisar Zauhan.
“Benar yang mulia. Ada baiknya kita memberi kepedulian kepada mereka. Karena desa Hujan ini adalah desa yang asri dulunya. Disini kita mendapatkan banyak pajak dan bahan makanan. Tanahnya subur dan makmur. Hanya saja wabah ini merampas semuanya.” Sahut Ren membenarkan.
Desa Hujan itu cukup terpencil, tepatnya dibawah lereng gunung. Bisa dikatakan tananhnya sangat subur. Lempar saja kayu disana bisa hidup. Tapi semenjak wabah ini ada, tanahnya tandus dan gersang, tanaman-tanaman sudah tak mau tumbuh subur. Penyakit menyebar dimana-mana. Membuat para warga mati secara bergantian. Jika hari ini salah satu dari mereka menguburi saudarinya. Maka besok dirinyalah yang dikuburkan orang lain. Begitu seterusnya membuat semakin hari semakin darurat dan miris jika dipandang mata. Sudah tak ada lagi yang mau memasuki desa tersebut. Takut jika wabah itu menyebar luas ketempat lain. Dari kabar burung saja, penyakit ini sudah memasuki desa Cemara yang tak jauh dari sana.
“Bisa saja. Sebenarnya aku sudah ingin pergi sedari dulu kesana. Hanya saja banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan dan tak bisa ku tingakkan. Jika aku dan kau pergi, lalu siapa yang mengatasi masalah kerajaan.” Kaisar Zauhan memiringkan kepalanya dan menumuhkan siku tangan kanannya disisi meja.
Qira menegakkan punggungnya.” Kau memiliki seorang adik pria bukan? Mengapa tidak dia saja yang menggantikanmu disini sesaaat. Atau dia yang pergi kedesa itu. Keduanya juga mengandalkan dia. Setidaknya ia sedikit berguna untuk kerajaan ini.” Qira menaik turunkan alisnya dua kali.
Ren tersenyum tipis. Qira itu menggemaskan dimatanya, dingin namun lembut. bagaikan es krim yang nikmat.” Saran yang mulia bagus juga. Tapi pangeran Wex itu tak bisa dia ndalkan. Dia hanya sibuk dengan ******-jalangnya diluar sana.”
.
.
__ADS_1
.
.