Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Senyum


__ADS_3

Qira mengerutkan keningnya heran saat ini. pasalnya, sejak kaisar Zauhan bangun tidur tadi pagi. Ia bersiul-siul riang saat melangkah memasuki kamar mandi. Itu memang biasa bagi pria lain yang normal. Kaisar Zauhan kan tidak normal jika begitu....


Tapi ini kaisar Zauhan..! Rasanya seperti ingin meningalkan jejak kematian. Em,, maksudnya seperti seseorang yang memberikan tanda-tanda bahwa sebentar lagi ia akan meningal. Kaisar Zauhan nan dingin sekarang bisa normal? Bisa bersiul sembari berjalan berlagak sombong.


Qira menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotornya, bukan kotor. Tadi pikaran kurang ajar terhadap kaisar Zauhan.


Bukan sampai disana saja, sekarang kaisar Zauhan tersenyum sepanjang jalan, ahhh, kenapa senyum kaisar Zauhan membuat Qira bergidik ngerih sendiri. Kenapa pula kaisar Zauhan seperti ini. apakah dizaman kuno ada yang namanya kesurupan?


Apakah disini ada dukun untuk membantunya menyembuhkan kaisar Zauhan.


Ahh. Qira harus apa? Bagiaman cara menyadarkannya. Bukan hanya Qira saja yang heran. Ren bahkan menjatuhkan rahang berkali-kali sedari tadi. Berkedip-kedip bagaikan orang bodoh, bukan orang bodoh. tapi bagaikan anak kecil yang baru melihat Teknologi canggih dan membuat ia tercengang setengah mati.


Tak...


“Auu. Kenapa kau memukul kepalaku Qira?” Tanya kaisar Zauhan sembari mengelus bagian kepala belakangnya.


Qira memukul kepala kaisar Zauhan keras karena ingin menyadarkannya. Takut-takut jika ia gila. “Aku hanya ingin menyadarkanmu saja.” Jawab Qira sembari menatap wajah kaisar Zauhan yang masih saja tersenyum, padahal udah ditabok loh. Masa masih kesurupan.


Kaisar Zauhan mengerutkan keningnya. “ Maksudmu apa? Aku sadar kok.” Jawabnya smebari tersenyum malu-malu.


Ihh, Qira bergidik ngerih jika kaisar Datar nan dingin ini malu-malu. Sama sekali tak pantas tau. Ihhh, untung tampan. “ Kamu kenapa ? kamu sakit? Kenapa sedari tadi senyum-senyum?” Tanya Qira.


Kaisar Zauhan menghembuskan nafasnya. “Itu karena kamu.” Jawabnya.


“Aku?” Beo Qira heran.


Kaisar Zauhan tersenyum sembari mengangguk. Ia mendekati Qira, sontak Qira melangkah mundur, tapi sayangnya langkah kaisar Zauhan lebih lebar dari Qira. langkah Qira itu diibaratkan sepertiga dari kaisar Zauhan. “Terimakasih ciumannya malam tadi.” Ucapnya senyum-senyum gemes. Ia mengelus pipi kiri bekas ciuman Qira malam tadi.

__ADS_1


Ehh..


Qira mengaga. Ia pikir kaisar Zauhan sudah tidur malam tadi. Tapi kenapa rasanya ia malu saat ketahuan mencium kaisar Zauhan dipipi? Bukannya ia sudah sering mencium Wolf dan Leon pertanda sayang. Qira menggaruk pelipisnya mecari alasan. “Itu.. Itu karena aku mimpi mungkin.” Ia memberi senyum cengengesan bagaikan kuda poni.


Kaisar Zauhan mencebik dengan bibirnya. Ia tau jika Qira semalam sadar, ia tak mimpi. Bagaimana bisa seserang mimpi dan langsung mencium seseorang. Tapi saat ia ingin menjawab, suara Ren sudah mengganggu perdebatannya pagi ini.


“Salam yang mulia. Semoga hidup seribu tahun.” Ia menunduk dengan hormat.


Fyuhh.


Qira menghembuskan nafas legah, setidaknya ia tak harus menjawab pertanyaan kaisar Zauhan. Bagaimana bisa ia bersikap bodoh semalam, ia hanya tak ingin jika kaisar Zauhan bersedih. Ia pasti akan mencari tau apa masa lalu kaisar Zauhan. Bukan karena ia peduli ya, tapi karena ia ingin tau saja. Mungkin.


Kaisar Zauhan mengegenggam pergelangan tangan kiri dibelakangnya. Wajah yang tadi malu-malu dan menggoda kini menjadi dingin dan juga tegas. Dagunya ia angkat mengesankan kepemimpinan tinggi.” Hmm.” Gumamnya.


Seperti tau apa yang kaisar Zauhan katakan. Ren pun mengangkatkan kepalanya, ia menatap kaisar Zauhan.” Persiapan kita sudah siap yang mulia. Kita tingal barangkat saja.” Ucapnya menjelaskan.


“Baik yang mulia.” Ren pun merunduk memberi hormat terlebih dahulu, lalu pergi.


Qira hanya diam. bagaikan se ongok daging yang tak terlihat. “Kita pergi sekarang?” Ia tak merasa tersinggung atau sakit hati jika tak diberi hormat. Ia sama sekali tak meminta atau gila hormat. Selagi ia masih hidup dan bebas, itu sudah sangat cukup.


Kaisar Zauhan diam tanpa menjawab. Ia berjalan meninggakan Qira yang masih berada didalam rumah. Kenapa wajah kaisar Zauhan berubah? Ia bagaikan memendam amarah, ahh. Qira pusing jika kaisar Zauhan seperti ini. dikit-dikit dingin dan dikit-dikit manja dan cerewe. Tapi Qira hanya mengangkat bahu cuh, tak ada gunanya juga memikirkan sifat kaisar Zauhan bukan? Ia memilih berjalan mengikuti kaisar Zauhan dari belakang.


Saat sudah berada didepan rumah itu, Qira mengerutkan keningnya heran. Pasalnya didepan sana sudah ada tiga gerobak besar yang sudah ditutupi kain, dan ada dua gerobak yang berisi peti kayu yang berukir naga. Kapan semua itu ada? Kapan disiapkan? Ia bahkan tak tau akapan itu ada didepan rumah.


“Ini untuk apa?” Tanya Qira menyisip jalan kaisar Zauhan.


Kaisar Zauhan tersenyum tipis melihat Qira yang menyisip jalannya. Wajhnya datar namun terselip kehangatan dimatanya. “Ini umpeti yang kita bawah kedesa hujan.”

__ADS_1


Qira memundurkan kepalnya bingung. Mengerjab sebentar. “Perasaanku kita tak membawa apapun kemarin. Lalu dimana kita mengambil ini?” Tanya Qira heran.


Kaisar Zauhan mendekatkan diri diumpeti lalu membuka kain penutupnya, disana Qira baru tau jika isinya adalah karung yang berisi obat-battan, karena karung itu tak diikat dan menampilkan dedaunan obat. “ Ini sudah disiapkan oleh orang-orangg ku. “ Ucapnya. Ia kembali melirik kegrobak lain yang berisi pakaian, sebelanya lagi ia buka dan menampilkan bahan-bahan makanan, ada gandum, dan lainnya. Sedangkan dua peti itu berisi satu peti senjata dan satu lagi koin emas.


“Lalu ini untuk apa? Untuk desa Hujan?” Tanya Qira sembari mengikuti jalan kaisar.


Kaisar Zauhan mengangguk.” Tidak mungkin bukan jika kita datang tanpa alsan? Kita akan menyamar sebagai utusan kaisar Zauhan untuk mengantarkan umpeti ini. “ Ia membalikan tubuhnya menatap mataku, karena tingginya jauh diatasku membuat dia sedikit membungkuk. “Panggil Aku Zou sebagaimana kau tau. Dan aku akan memanggilmu Qiqi. Lalu panggil Ren dengan panggilan Sun. Kau mengerti?”


Qira mengangguk paham. “ Baiklah.” Ucap Qira.


“Kita berangat sekarang.” Ucap kaisar Zauhan tegas.


“Baik yang mulia.” Jawab orang-rang disana.


Qira pikir mereka akan datang dengan embel-embel pahlawan yang seperti ia inginkan. Datang dengan wajah angkuh lalu menolong semua orang hingga wabah itu hilang. Tak butuh orang ain dan hanya mereka bertiga bagaikan novel-novel lainnya. Ternyata salah besar. Disini ada 5 orang. Ada Taotao dan Yaoyao sebagai tabibnya. Ada Ren sebagai pelindung dan ada kaisar zauhan dan Qira pastinya. Jangan lupakan jika ada dua orang asing yang Qira tak tau namanya, mereka diutus membawakan umpeti menuju desa tersebut.


Qira menerima uluran tangan kaisar Zauhan yang hendak membantunya menaiki kuda, sebenarnya ia bisa, namun kaisar Zauhan itu jiidatkan dirinya sendiri. Yaitu keras kepala.. lalu disusul dirinya menaiki kuda dibeakang Qira.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2