
“Wolf... Leon.. dordordor...” Qira memukul pintu kediaman Leon dn Wolf keras. Ahh, ia hanya anggun dalam penampilan tidak dengan sikap.
Qira mondar mandir didepan pintu karena belum mendapatkan sahutan. Ia mengintip disela-sela apapun didepannya.” Haiss. Dimana mereka ini? ini sudah siang. Kenapa pula mereka belum bangun..” Gerutu Qira.” Tak tau apa aku merindukan kalian..” Decapnya kesal. ia menggaruk garuk kepalanya yang tadi sangat rapi sekarang sudah sedikit urak urakan. Bahkan mahkotanya sudah hampir miring.
Doodorrdir.” Wolf... Leon.. Aku pulang...” Teriak Qira kali ini lebih kencang membuat prajurit disana sedikit menutup mata karena tak berani menutup telinga.
Qira kesal sudah lama disana tak mendapati sahutan. Wolf dan Leon juga mengunci kediaman mereka membuat Qira berniat kembali kekediaman naga saja. Mungkin mereka belum bangun batin Qira.
Qira mencebik bibirnya lalu memutar bola malas, tapi matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali. Baju mereka basah dengan ditaburi wajah lelah, kerungat bercucuran dileher dan pedang yang berada dipinggang mereka. Dari mana mereka? Bantin Qira.
Qira tersenyum tipis lalu mendekati Wolf dan Leon, tapi matanya menangkap satu sosok gadis yang menggunakan hanfu hitam yang penampilannya juga acak-acakan seperti baru pulang berperang saja. “Wolf.. Leon...” Teriak Qira lalu melambaikan tanganya. Senyumnya melebar pada mereka.
Wajah lelah mereka berubah menjadi terkejut lalu berbahagia, mereka tersenyum lalu berlari mendekati Qira ingin sekali memeluk Qira tapi Qira buru-buru menghindar.
“Kenapa?” Tanya Wolf dan Leon kecewa. Tangan mereka masih mengambang diudara dengan mata yang hampir menangis melihat Qira menghindar.
Qira menghembus nafas kasar lalu melipatkan tangan didada. “Kalian bau belum mandi, belum lagi kalian mandi keringat. Aku tak mau mandi lagi..” Desisi Qira. Ia.mengapit hidingnya seakan bau Wolf dan leon aangat menyengat.
Wolf dan Leon mendesah, padahal mereka ingin sekali memeluk Qira saat ini. mereka berlatih sedari semalam, wajar saja murka bau dan mandi keringat. “Tapi jika sudah mandi boleh ya peluk?” Tanya Leon.
Qira tersenyum lalu menganguk. Ia mendekat lalu mencium pipi Wolf dan Leon.” Sebagai gantinya tak bisa peluk. Ayo mandi terlebih dahulu...” Ucap Qira polos.
Wolf dan Leon sangat mau menerkam Qira saat ini. akh, rasa kecewa mereka sekarang sudah hilang.” Baiklah. Kami mandi..” Wolfa dan Leonb berlari menuju kediman merka.
Wolf menarik baju Leon.” Aku duluan. Aku duluan..” Ucapnya menahan Leon.
“Apa-apaan sii. Aku duluan..” Wolf memberontak lalu menahan tangan Wolf yang mau melaju.
“Aku duluan. “
Terjadilah perang tarik menarik antara mereika membuat Qira terkekeh. Apalagi saat Wolf menarik baju Leon dan Leon menahan kaki Wolf supaa berhenti berjalan.
“Eghem...” Deheman itu membuat Qira menoleh dan mendapatkan gadis itu, gadis yang bersma Leon dan Wolf tadi. Wajah gadis itu masam menatap Qira.
Qira tau apa yang diotak cantik perempuan didepannya ini. ia iri melihat Leon dan Wolf yang menyayanginya, ia iri dan ia kesal. Ia tau jika gadis ini menykai temannya Leon. Qira tak keberatan, asalkan Leon bahagia, karena menurut Qira kebahagiaan mereka yang nomor satu.
“Apakah kau Qira? ehh. Qiqi.. ?” Tanyanya sedikit tersenyum kecut.
Qira menganguk,karena tinggi mereka sama tak mengharuskan ia mendongak, ia melangkah meninggalkan gadis itu menuju kediaman Leon. Ia menatap pelayan yang melewati mereka membuat ia memangil.
“Bibi..” Qira melambaikan tangannya pada pelayan itu.
Pelayan yang dipanggilpun mendekat lalu membungkuk.” Salam hormat yang mulia.ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya. Ada juga dua pelayan yang sedang membawa kenci berisi air dibelakangnya ikut membungkuk.
“Bawakan makanan dikediaman sini. Aku dan lainya mau sarapan, bawah sedikit banyak ya..” Ucap Qira.
__ADS_1
“Baik yang mulia. Jika begitu kami permisi..” Ucapnya lalu menunduk kembali dan pergi.
Qira memangilnya bibi karena ia lebih tua membuat pelayan itu saling lirik lalu tersenyum. Iya senyum bahagia, bahagia ketika ia dihargai dan dihormati oleh majikannya.
Gadis yang tidak Qira ketahui namanya itupun melongo melihat Qira dengan mudahnya memerinta para maid, apa tadi? Yang mulia? Apa jabatannya? Ahkk, gadis itu bingung sekaligus marah karena Qira tak mengajaknya berkenalan, padahalkan ia sudah sesombong mungkin supaya gadis didepanya ini mengajaknya kenalan duluan.
Qira membuka pintu lalu melirik gadis yang masih mengikutinya. “Kau temannya Leon dan Wolf?” Tanyanya.
“Yaps...” Dengan bangganya gadis itu mengakuh. Qira mau tertawa terbahak-bahak, nyatanya gadis ini sangat polos hanya saja sedang jatuh cinta.
Taulah ya gimana jatuh cinta.
“Apakah kau mash mau disana? Kau bau belum mandi, bagaimana bisa Leon menyukaimu jika kau saja bau,.” Desisi Qira lalu meninggalkan gadis itu.” masuklah, mandi sana biar nggak bau,.” Ucapnya sambil berjalan.
Gadis yang dipanggil Via itu memerah malu, ia membuka ketiaknya kanan dan kiri,” Emang bau..” Desesnya mengernyir saat merasakan aroima vanilanya sudah berbaur dengan bau keringat dan juga bau ketiak.
Ia cepat-cepat masuk lalu mengantri untuk mandi dikediaman Wolf dan Leon. sebenarnya Wolf dan Leon sama sekali tak menyuru ia ikut, tapi ia keras kepala dan memaksa untuk ikut, jadilah ia harus ikut. Saat didalam sana ia melihat Wolf dan Leon keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah dihganti.
Cepat sekali. Apakah mereka tidak mandi? Apa ini? Apakah mereka mandi bersama? Demi apa? Demi Qira? memikirkan hal itu membuat nafas Via naik turun menuju ubun-ubun. Saat ia mau masuk kamar mandi ia harus menyaksikan adegan dahulu.
“Qiqi kita sudah wangi...” Leon berhamburan memeluk Qira dan diikuti oleh Wolf. jadilah tubuh Qira tenggelam dari tubuh Wolf dan memeluk Qira dikanan dan Leon dikiri, tubuh kekar mereka mengepung tubuh Qira sangat erat karena melepas Rindu.
“Aku juga rindu kalian..” Ucap Qira membalas pelukan mereka. “Tap tapi aku tak bisa nafas..” Qira menjulirkan lidahnya karena sesak.
Wolf dan Leon tak peduli, ia tau Qira berbohong membuat mereka kembali memeluk Qira.”Kau baik-baik saja disanakan?” Tanya mereka pada Qira.
Melihat keakraban mereka membuat Via mencibir, Wolf dan Leon tak perah memberlakukan dia seperti itu. Ia menghentakkan kakinya lalu memasuki kamar handi.
Dor...
Qira terlonjak kaget, begitu juga dengan Wolf dan Leon, sebab Via menutup pintu dengan kasar”Cek... rusak pintu nanti..” Decap Wolf mengelus dadanjya.
“Siapa dia? Kenapa dia sedikit mirif dengan mu Wolf?” Tanya Qira pada Wolf.
Wolf mengangkat bahu acu.” Dia bernama Via. Entahlah kenapa ia mirip denganku. Awalnya aku juga mengira jika ia Shofia, tapi ia bukan Shofia adikku..” Jelasnya.
“Dia menyukai teman kita Wolf..” Goda Qira pada Leon yang memutar bola malas.
Wolf terkekeh.” Aku tau itu. Ia bahkan pernah mengungkapkannya pada Leon.;..” Jelas Wolf menatap Leon yang menatapnya tajam.
Qira terkekeh. “Kau terlalu tampan Leon membuat orang-orang bertekuk lutut...”
“Tapi sayangnya aku lebih tampan darimu Leon. Jadi jangan bangga hati.” Ucap Wolf meremehkan Leon.
“Lalu, kenapa masih jomblo?”
__ADS_1
Skakmat....
Qira terbahak-bahak melihat Wolf dian tak dapat menjawab. Jomblo? Dizaman ini ada yang tau kah?
(Moohon maaf. Cuma ada dizaman kuno diputri Zhu Qira Han yaa guys..)
...
Dilain sisi kaisar Zauhan masih dengan tidur lelapnya. Ia sangat lelah menahan diri sedari semalam, belum lagi mereka habis melakukan perjalanan yang sangat melelahkan. Ia sangat ingin mengutuk Qira saat ini.
Toktoktotk...
Suara ketukan dipintu membuat tidur kaisar Zauhan terganggu. Tapi ia tak peduli dan memilih kembali tidur.
Tototok...
Suara itu semakin terdengar membuat ia akan berjanji untuk membunuh siapa yang berani menggangu tidurnya. Ia meraba disampingnya yang sudah kosong membuat ia mendesah. Enaknya Qira, sudah membuat Qira kelelahan dan sekarang ia bersenang-senang dengan teman-temannya. Kaisar Zauhan mengutuk Qira supaya bisa mencintainya. Ehh???
Kaisar Zauhan berjalan menuju pintunya lalu membukanya, disana ada pangeran Wex yang gelagakan lalu menunduk.” Salam yang mulia, semoga hidup seribu tahun lagi..” Ia tak mengangkat kepala.
“Kenapa?” Tanya kaisar Zauhan dingin. Jika saja tak ada yang penting, sudah ia kupas kulit pageran Wex ini diddepan matanya.
Pangeran Wex menegakkan kepalanya untuk melihat kaisar Zauhan. pelayan yang melihat kaisar Zauhan sekali kilas sekarang semakin menunduk untuk menghindarkan tertawa. Bahkan ada yang tertawa kelepasan membuat kaisar Zauhan mendadak semakin dingin.
Pangeran Wex mendadak tertawa terpingkal-pingkal melupakan kaisar Zauhan yang memasang wajah tajam. Saat pangeran Wex sudah tak tertawa kembali tertawa saat melihat wajah kaisar Zauhan. hingga beberapa kali membuat kaisar Zauhan ingin membunuh sanga adik.
“Ada apa? Mau ku potong lidahmu hmm?” Tanya kaisar Zauhan.
Setegah mati pangeran Wex menahan tawanya yang masih bergejolak. Sedangkan para pelayan dan prajurit sudah memerah karena menahan senyum. Kaisar yang dingin berdandan?
“Fhuggff... Gin fguhh hahaha..” Ia kembali tak bisa menahan gejolak didadanya untuk tertawa. Kaisar Zauhan yang notabenenya sang kakak yang dingin dan kejam memakain riasan wajah dan lipstik?
Kaisar Zauhan memanas. Saat udara sudah menjadi lebih mencekam membuat mereka diam karena sesak nafas. Udara disana seakan disedok oleh kaisar Zauhan.
Pangeran Wex memberikan lingkara diwajah.” Mu muka kakak kenapa?” tanyanya pelan.
Kaisar Zauhan mengernyit. Ia meraba wajahnya dan bibirnya, ada rasa lembab-lembab diarea bibirnya membuat ia menatap tanganya untuk memastikan apa itu. Wajahnya memerah melihatnya. Noda merah merona itu melekat ditelunjuknya.
“QIRA.....!!!!!!” Teriak kaisar Zauhan kencang. Ia tau jika ini pasti ulah Qira. siapa lagi yang berani mengerjainya seperti ini selain orang yang ia cintainya.
Qira yang sedang tertawa sekarang berhenti saat terdengar suara yang meneriakinya.” O’O Sepertinya aku ketahuan..” Ucap Qira terkekeh. Ahhkk, andai saja ia aada dimana kaisar Zauhan terkejut melihat wajahnya. Pasti seru, tapi ia tak mau ambil resko, sebab taruhannya adalah nyawa. Bukan kaleng-kaleng memang.
“Ada apa Qiqi?” Tanya Leon.
“Sepertinya kita harus bersembunyi...” Ucap Qira nyengir kuda. Takut kaisar Zauhan sangat mengamuk..
__ADS_1
Kaisar Zauhan mengerang marah pada Qira. apa-apaan ini. wajahnya penuh dengan warna yang tak pernah ia bayangkan memakainya. Kenapa pula Qira ini? jika ia ketemu dengan Qira, ia pastikan akan memberi hukuman. Harga dirinya jatuh ditamah, didepan mata pangeran Wex.
Kaisar Zauhan menghapus lipstiknya yang merah, sangat susah karena itu Qira buat dari lipstik. Ia tak tau sampai-sampai tak bersih. Ia juga menggusuk bagian wajahnya yang lain dengan kasar tapi sayangnya tak begitu bersih. Yaa... namanya juga pakai Lipstik dikulit, mana bisa cepat luntur. Jadilah wajah kaisar Zauhan masih ada bekas-bekas merah. Disini enggak ada sabun hanya ada pewangi, jadi tolong jangan salahkan author ya kausar Zauhannya enggak bersih mandinya. Lagian kalian ingatkan jika kaiaar Zauhan tak suka disentuh.