Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Sisi lain


__ADS_3

Kaisar Zauhan tersenyum tipis saat merasakan Qira sedikit sadar. “Apakah kau yakin jika mereka hidup dirumah baru dan mencari kerja diluar sana mereka aman? Aku bisa menebak jika mereka itu tawanan para penjual budak yang kabur. Apakah para penculik itu akan diam jika mereka tau para tawanan mereka masih hidup itu hanya diam saja? Bagaimana jika mereka kembali menculik dan menjadikan mereka budak untuk dijual kembali?” Tanya kaisar Zauhan lagi.


Lagi-lagi Qira bungkam. Mereka anak kecil yang tak mengenal bela diri, bagaimana bisa mereka melawan. Jika mereka bisa melawan mereka tak akan disekap bukan.


Kaisar Zauhan menghela nafas sembari menangkup wajah Qira dengan tangan kekarnya. Ia menatap mata coklat Qira dengan lekat. “Karena itu aku menyuruh mereka menjadi pelayan dan hidup diistana saja. Jika mereka diistana setidaknya mereka menjadi pelayan atau pembersi kuda, mereka bisa mendapatkan pekerjaan, mereka tidak mengalami kelaparan dan juga mereka aman disana. Para pencuik itu tak akan berani menawan mereka lagi dan hidup mereka dibawah pengawasan ku sebagai raja yang melindungi rakyatnya. Aku merasa sesak saat tau jika rakyatku menderita seperti tadi. Aku mau menjaga mereka dan melindungi mereka. Hanya itu saja.” Ucapnya lagi.


Qira mengedipkan matanya beberapa kali mencerna ucapan kaisar Zauhan. Apakah ia sudah salah sangkah. Tapi mengapa kaisar Zauhan begitu tulus. Ucapan kaisar Zauhan itu memberikan goresan dihatinya yang tela mengklaim kaisar Zauhan itu kejam. Jantung Qira sedikit diremas karena sudah salah sangkah pada kaisar Zauhan yang memang berniat baik.


Kaisar Zauhan memeluk Qira dan membenamkan wajahnya dicengkuk leher Qira. beberapa detik saja setelahnya ia melepaskan pelukan itu saat merasakan Qira tak membalasnya.” Menjadi raja itu tidak muda. Jika aku menjadi ramah dan sangat baik, maka aku menjadi raja yang tak akan disegani oleh kerajaan lain dan kerajaanku yang menjadi ancamannya. Tapi jika aku raja yang kejam dan juga arogan, maka rakyatku yang akan menjadi korbannya. Aku harus menempatkan hal itu sesuai dengan posisinya Qira. kejamku untuk rakyatku, kebiksanaanku untuk rakyatku dan kebaikanku untuk rakyatku. Dan Hidupku untuk rakyatku.” Ia mengengam tangan Qira tulus.


Ahh, Qira baper dengan ucapan kaisar Zauhan. Kaisar Zauhan itu berbeda dari apa yang ia pikirkan. Ia tersenyum tipis” Maafkan aku. Maaf karena sudah berburuk sangkah padamu.” Ucap Qira tulus.


Kaisar Zauhan menatap Qira paham. Ia kembali memeluk Qira lembut, lalu mencium rambut disamping telinga Qira. “Dan yang terakhir, adalah. Hidupku untukmu, aku berjanji akan membahagiakanmu dan melindungimu dnegan nayawaku.” Bisiknya.


Qira tertegun. Apakah itu kelanjutan dari penjelasan tadi. Ahh, kaisar Zauhan membuat jantungnya mendobrak pintu keluar. Ia menenangkan jantungnya supaya tak dirasakan kaisar Zauhan. Ia mendorong kaisar Zauhan. “Jangan peluk aku.” Ucapnya panik, ia takut kaisar Zauhan tau dan merasakan jantungnya. Wajahnya merah saat ini.


Kaisar Zauhan terkekeh. “Jantungmu kenapa? Apakah sedang loncat-loncat? Aku mendengarnya loo.” Ucap kaisar Zauhan menggoda Qira.


Wajah Qira semakin memerah. Bisa-bisanya kaisar Zauhan ini menggodanya. Ia meninju perut kaisar Zauhan, tapi ditangkap kaisar Zauhan.

__ADS_1


Cup..


Ia mencium kepalan tangan itu mesra. “Jangan kasar-kasar.” Ia tersenyum menggoda.


Qira menggelap.” Sudah. Kita pergi saja.” Ucap Qira kehabisan kata-kata.ia melompat lalu meningalkan kaisar Zauhan tersenyum bahagian.


“Apakah kau masih marah padaku?” Tanya kaisar Zauhan dan Qira tak mau menjawab. Ia memilih menaiki Black dan menyetabilkan keggupannya.


Sedangkan kaisar Zauhan semakin gencar menggoda Qira sembari menaiki kuda.


...


Kaisar Zauhan sedikit menatap Qira kebawah, karena tinggi mereka yang cukup jauh. “ Sebentar lagi. Kita menjemput tabib terlebih dahulu lalu pergi kesana.” Jawab kaisar Zauhan singkat.


Qira menatap sekeliling. Mereka baru saja melewati hutan, ia tak terlalu kagum akan hutan, sebab sudah biasa baginya. Hutan cantik, hutan seram ataupun hutan gelap ia sudah melewatinya. Hanya saja ia sedikit kaget saat merasakan jika derah ini memiliki kabut hitam yang transparan tak terlihat namun bisa dirasakan oleh nya. Mereka baru saja memasuki desa . “Ini desa apa?” Tanya Qira. matanya meneliti sekitarnya dengan teliti.


Kaisar Zauhan sudah melambatkan kudanya, ia menghentikan kuda itu didepan sebuah rumah yang sederhana, tepatnya rumah itu dipagar dengan bambu, jika rumah biasanya dihiasi dengan banyak bunga. Maka rumah ini banyak ditanami dengan tanaman liar. Hanya saja Qira tau jika tanaman itu adalah tanaman obat. Ia sering melihat tanaman ini serumah tabib Chen saat ia masih durumah tabib itu dahulu. “Ini desa Cemara. Dan itu rumah Tabib Yaoyao. Ayoo turun.” Ia mengulurkan tangannya supaya disambut oleh Qira.


Dari pada ia terjungkang dan terjatuh lagi karena tak menerima uluran tangan kaisar Zauhan. Ia terpaksa menerimanya, ya kaisar Zauhankan pemaksa. “Aku bukan gadis lemah. Jangan bersikap aku lemah.” Ucapnya sinis. Bukannya ia tak suka dimanja, tapi jika bersangkutan dengan kaisar Zauhan ia sedikit tak suka dianggap lemah seperti perempuan lainnya.

__ADS_1


Saat kaisar Zauhan ingin menjawab. “ Salam yang mulia, semoga panjang umur seribu tahun.” Suara itu dari balik punggung kaisar Zauhan.


Kaisar Zauhan membalikan tubuhnya dan menatap asal suara. Begitu juga dengan Qira. “Dimana tabib Yaoyao?” Tanya kaisar Zauhan dingin. Ahh, kaisar Zauhan memang sangat dingin kepada orang lain, hanya dengan Qira saja ia berbah. Bagaikan memiliki penyakit sifat ganda.


Pemuda itu memakai baju putih tulang, dengan kepala yang tertunduk, wajahnya lumayan tampan dan memiliki umur yang tergolong sangat mudah, paling berumur 21tahun. Kepalnya langsung menunduk karena ia sudah mendengar dari ayahnya jika kaisar Zauhan tak menyukai seseorang menatapnya lebih dari dua detik. Dengan menetralisir ketakutan dan kecemasan. Ia berusaha menjawab setenang mungkin.” Sebelumnya perkenalkan nama hamba Taotao yang mulia. Hamba anak dari tabib Yaoyao. Dan menjawab peretanyaan yang mulia, ayah hamba sedang menyiapkan obat untuk kepergian kita yang mulia.”


Suara itu terlun dengan tenang dan ramah, ya seperti biasa. Karena memang tabib itu bersikap baik dan ramah, hanya saja atmosfer disekitar sana menadak suram. Hari yang sudah beranjak menjadi sore itupun menjadi dingin menggil yang menusuk tulang. “Kalian baru menyiapnya sekarang? Lalu apa pekerjaan kalian semalam ha..?” Bentak kaisar Zauhan marah. Mereka sudah sampai tapi tabib rendahan itu malah bertingkah selayaknya ia tak menghargai kaisar Zauhan. Apakah ia tak tersanjung kaisar Zauhan mengajaknya? Itulah maksud dari kaisar Zauhan.


Pemuda yang bernama Taotao itu mendadak lupa bernafas. Dengan kaki yang berubah menjadi jelly, kakinya lunglai dan berlutut didepan kaisar Zauhan memohon ampunan. “Mo mohon ampun yang mulia. Ayah hamba semalaman tak tidur karena menyiapkan ini. Sedari malam ia menyiapkan obat ini yang mulia. Kesatria Ren menyampaikan amanah dan perintah ini tadi malam membuat kami sedikit kurang waktu yang mulia. Tolong jangan hukum ayah hamba.” Jawabnya gemetar. suaranya saja hampir tak terdengar dan bergetar menunjukan jika ia sangat ketakutan.


“Cih. Alasan kalian tak berguna.” Ucap kaisar Zauhan.


Qira menatap pemuda itu kasihan. Ia tak menyangkah. Berarti seperti inikah kaisar zauhan? Baru saja ia baik dan manis, dan sekarang ia dingin dan ganas. Ahh, Qira sampai menggelengkan kepalanya, tapi untunglah paru baya yang sudah berambut putih itu keluar dari rumah sembari berlari menghampiri kaisar Zauhan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2