
Ada puluhan orang berbaju hitam memasuki gubuk itu. Mata Qira semakin memberikan tatapan tajam. Ia memilih melompat keluar dari jendela disampingnya. Ia ttidak bisa bertarung diruangan yang sangat kecil dan rapu seperti ini. “Pengecut kalian semua..” Bentak Qira saat keluar.
Ia baru sadar jika gubuk itu dikepung puluhan orang berbaju hitam, lebih tepatnya hampir ratusan.
“Mau kemana nona manis?” Tanya pria asing itu. Ia juga melompat dari jendela menyusul Qira.
“Waktuku sangat berharga. Jadi jelaskan apa mau kalian.” Tawar Qira.
“Mudah. Kau bunuh kaisar Zauhn..” Jawab perdana mentri Hiyuang baru sampai.
Qira tersenyum tipis. Seluru pedang sudah mengarah kepadanya. Tapi sungguh hatinya tak pernah gentar akan kematian.
...
Sedangkan di pasar saat ini. Wolf dan Leon mendapatkan siksaan karena tingkah kekanakan putri Tea. Sungguh putri Tea adalah putri yang sangat merepotkan saat ini.
“Sudah kah bermainnya putri?” Tanya Leon gemes.
Putri Tea saat ini masih berjalan-jalan dipasar tanpa tunjuan. “Belum..” Jawbnya polos dengan mata yang menatap kesana kemari. “Kita kesana..” Lanjutnya sembari menunjukan pohon besar diujung pasar.
Wold dan Leon dengan malas berjalan mengikuti putri Tea yang menyebalkan.
“Kalian tau. Ini adalah pohon aku dan kakek berteduh saat kami bermain diluar istana. “ Ucapnya polos.
“Bukankah kau bilang jika baru kali ini kau pergi kepasar?” Tanya Leon heran.
Putri Tea mengangguk sembari menatap pohon besar itu. “ Dulu aku hanya duduk disini tanpa boleh memijakkan kaki dipasar. Katanya nanti aku dibunuh.” Ucapnya berbisik.
‘Dibunuh? Mengapa? Apa karena ia seorang putri?’ Kening Wolf dan Leon memikirkan alasan-alasan putri Tea. Sungguh, apakah hidup dirinya penuh ancaman?
Tak lama mereka berpikir ada dua anak panah yang hampir melesat mengenai dada dan kepala putri Tea. Untunglah Wolf dengan cepat merangkul dan berputar. Ia memeluk erat pingang putri Tea dan mengangkatnya menjauh.
Putri Tea terkejut akan aksi Wolf. Mata bulatnya semakin membesar tatkalah penah yang mengarah tepat diwajahnya memacuh deras,
Lagi-lagi Wolf mengelak dan memeluk putri Tea lebih erat.
Leon menatap Wolf terkejut. Ia mulai waspada akan sekitar. Tak begitu lama ada dua anak panah lagi yang melayang diarah mereka. “ Keluar kalian..” Bentak Leon..
Mata Leon menyipit mencari titik sumber dari anak panah. Saat tau, ia pergi meninggalkan Wolf dan putri Tea. “Jaga dia. Biar aku yang membunuh mereka..” Ucap Leon sebelum pergi.
“Hiks hiks...” Suara isakan tangis yang berasal dari dada bidang Wolf membuat Wolf sadar. Ia mecoba melepaskan puutri Tea.
“Jangan lepaskan aku. Aku takut. Hiks hiks...” Ucap putri Tea sembari mencengkram bajnu Wolf erat. Ia bahkan menangis dengan terisak.
“Mereka sudah pergi. “ Jawab Wolf dingin. Ia mencoba melepaskan putri Tea dari dirinya.
Putri Tea lagi-lagi menggeleng. “Hiks hiks. Aku takut.” Gumamnya lemah,
Wolf berdecih sebal.”Menyusahkan..” Gumam Wolf.
__ADS_1
Ia memopong putri Tea..” Ayo kita kembali keistana..” Ucapnya sembari menggendong putri Tea layaknya karung beras.
“Kyakkk. Gendong aku dengan lembut. aku bukan karung beras..” Teriak putri Tea.
Wolf kembali menurunkan putri Tea dan mencoba melepaskannya. “Lepas. Kau bisa jalan sendiri...” Ucap Wolf datar.
“Tidak mau. Aku tidak mau., aku mau bersembunyi dari pembunuh.” Putri Tea memejamkan atanya takut sembari mencengkram erat baju Wolf.
“Lalu kau membuatku menjadi tamengmu?” Tanya Wolf.
“Iya. Karena kau hebat.” Jawab putri Tea polos.
Wolf sungguh frustasi saat ini. ia harus menolong Leon, ditambah perasaan Menyangkut Qira membuat hatinya entah mengapa seperti ada sesuatu dengannya. Jujur ia sangat gelisa saaat ini. tapi ia harus apa.
“Cih.. kau sangat menyebalkan.” Gumam Wolf. “Ayo kita kembali ketempat kuda..” Putusnya.
Putri Tea mengangguk memberikan gesekan pelan didada bidang Wolf. Wolf tanpa membalas pelukan putri Tea. “Lepas. Bagaimana aku bisa berjalan?” Tanyanya karena putri Tea menempel bagaikan lintah.
“Tidak mau. Kita jalan seperti ini saja.” Sahut putri Tea.
Wolf menahan nafas untuk tidak marah. Ingin sekali rasanya ia mendorong putri Tea, tapi lagi-lagi ia harus ingat janjinya terhadap Qira untuk tidak menyakiti putri Tea. Ia hanya membiarkan putri Tea memeluknya erat dengan amarah yang hampir meluap bagaikan gunung api yang siap kapan saja mengeluarkan lava panasnya.
...
Leon mengejar dua orang yang yang tadi ingin membunuh mereka. Entah membunuh Leon, Wolf ataupun putri Tea. Dengan cepat ia mengejar mereka berlari tanpa memikirkan apa yang akan ia hadapi didepan matanya.
Mulai dari pasar, sampai hampir memasuki hutan saat ini. barulah Leon bisa menggapai tangan dari salah satu pembunuh itu. Dengan cepat pula Leon menarik paksa dan menerjang dengan sebuah pukulan.
Tanpa basa basi Leon langsung mengeluarkan pisau yang disisip dari balik bajunya dengan langkah pasti pulai menerjang mereka. Pisau yang Leon. gunakan dengan lihai menahan meskipun tak seimbang dengan pedang. Tapi ia cukup tau teknik pisau ini karena pernah belaja kepada kakek Liu saat ia mengajar Qira dahulu.
Slap...
Pisau Leon sudah meyayat di sisi kanan perut salah satu dari mereka.
Tak mengambil waktu banyak lagi Leon menyayat salah satunya lagi dibagian jantungnya. Ia tak lupa menendang jauh dan membuat salah satu dari mereka terbentur pohon.
“Kurang ajar kau..!” Teriak salah satu yang terkenah sayat bagian perut kanan. Matanya merah memberikan curahan emosinya. Dengan langkah besar ia mulai menyerang Leon dengan cepat.
Leon membelikan tubuhnya kesamping kanan dengan tangan kanan menahan pedang pembunuh itu, sayangnya pedang itu bergeser dan melukai tangan Leon. Dengan cepat Leon menarik tangannya dan menendang pembunuh itu. Wajah datar Leon memberi aura yang sangat gelap saat ini. ia dengan sigap menghunuskan pisau itu keserambi kiri pembunuh itu.
Cap..
Arg,,
Erangan sakit itu menggemeah dihutan itu. Dengan langkah besar Leon medekati pembunuh itu dengan menginjak perutnya secra berutal. “Siapa yang menyuruhmu?” Tanya Leon dingin.”
Darah segar membanjiri baju hitam miliknya. Dengan erangan meringis kesakitan tiada tara ia hanya bungkam tanpa mau menjawab. Darah segar dari perut dan serambinya mencucur deras saat Leon menginjak secara berutal diperutnya.
“Siapa yang menyuruhmu. Katakan...! jika tidak akan kupatahkan lehermu..” Bentak Leon lagi.
__ADS_1
Pria itu tetap bungkam dengan menggigit bibir bawahnya. Entah karena setia terhadap tuannya atau karena ia tak bisa berbicara karena sakit yang melanda tubuhnya. Ia hanya dia tanpa menjawab.
Leon menginjak secara berutal perut pembunuh itu. Ia bahkan mengoyak kekanan dan kekiri. Ia membungkuk dan.
Krak..
Arhg...
Ia memutar kepala pembunuh itu kekanan secara kasar menyebabkan patah tulang. Setelahnya ia bangkit. “Tak ada gunaknya kau hidup bukan?” Tanya Leon dingin
Ia melanhkah pergi dan mencari tau sendiri dari siapa pembunuh ini. “Apa Qira juga diserang?” Gumamnya. Ia sangat takut jika pembunuh itu menargetkan mereka. Bisa jadi itu adalah mata-mata asli dari kerajaan barat bukan? Sungguh mereka sudah sangat terlalu jauh masuk kearena bermain orang-orang sini.
“Bagaimana Ren? Apa kau tau dimana dia mengirim burung itu?” Tanya seorang pria yang duduk ditahtanya. Matanya menyiratkan kekejaman yang sangat kental.
“Ampun yang mulia. Permaisuri Ming Zu mengirim dua burung didua tempat yang berbeda. Hamba hanya mampu mengikuti salah satunya tapi tak mampu mengikuti satu burung lainnya.” Jawab pria yang bernama Ren itu sambil berlutut.
Pria yang duduk diatas tahta itu adalah kaisar Zauhan. Matanya memberi isyarat tanda tanya. Dua tempat? Apa ini mata-mata gabungan? Apa hanya sebagai memanipulasi? “ Dimana burung yang kau temui itu berlabu?” Tanyanya.
“Hamba melihat jika burung itu memasuki istana kerajaan Awan yang mulia.” Jawab Ren dengan tegas.
“Kerajaan Awan?” Gumam kaisar Zauhan heran. Setau dirinya, ia tak pernah ada masalah dikerajaan itu. Apa kerajaan itu sekarang mau menyerangnya? Siapa yang tak mengenal kaisar Wey yang sombong dan kejam? Tak murah senyum dan dingin pada siapapun. Baik itu itu raja kerajaan lain sekalipun. Ia tau rumor itu, dan rumor itu sangat benar...!
“Benar yang mulia.”
“Apa hubungannya Qira dengan kerajaan Awan? Apa dia putrinya? Mata-matanya?” Tanya kaisar Zauhan menyelidiki.
“Ampun yang mulia. Setahu hamba, kaisar Zauhan tak memiliki seorang putri. Dan saat hamba melihat disana, kaisar Zauhan dan putra mahkota kerajaan Barat sangat bahagia. hamba tidak tau yang mulia.” Jawabnya tanpa ragu.
Kaisar Zauhan semakin tertarik. Ia bahkan berdiri dari tahtanya dan meletakkan tangannya kepunggung. “Bahagia? bagaimana bisa?” Gumamnya.
“Hamba tidak tau yang mulia.” Jawab Ren.
“Cari tau secepatnya...” Perintah kaisar Zauhan. Sesaat setelahnya ada beberapa perajurit masuk tanpa meminta izin.
“Am ampun yang mulia... “ Ucap perajurit itu gugup saat ia menenerobos masuk dan mengabaikan perajurit penjaga diluar melarangnya.”Ma maafkan hamba. Hamba ingin menyampaikan pesan penting. Ini sangat gawat yang mulia.” Lanjutnya lagi terbata-bata. Pelipisnya penuh dengan keringat dingin.
“Ada apa sehingga kau lupa sopan santun mu?” Tanya kaisar Zauhan dingin. Matanya menatap prajurit it lekat. Tangannya terangkat untuk menyuruh Ren bangkit dari duduknya.
“Per permai suri Ming zu diserang ratusan pembunuh yang mulia.” Ucapnya terbata bata.
Dugh..
Jantung kaisar Zauhan seperti ada desiran aneh, tangannya terkepal “Dimana keberadaannya sekarang?” Tanya kaisar Zauhan tegas hampir berteriak.
“Di di hutan dekat desa Dojeng yang mulia.” Jawab perajurit itu cepat.
Mata kaisar Zauhan menyipit. Ia dengan langkah besar pergi meninggalkan aula kerajaan cepat.semua orang yang menatap kaisar Zauhan memilih untuk tidak bernafas, aurah yang sangat mematikan itu mampu membuat syaraf otak orang-orang sekitar untuk tidak berfungsi secara baik. Bahkan mereka lupa untuk tenang..
.
__ADS_1
.
.