
“Harga dari kakek bukan?. Bukan dariku, ini untuk kakek dan cucu kakek.” Ucap Qira lembut.
Air mata kakek itu tak terbendung, ia menangis memegang koin itu. Ia bersujud didepan Qira. "Terimakasih nona. Terimakasih. Kau sungguh mulia. Semoga kau diberkati dewa.” Ucapnya penu haru.
“Kakek tak perlu seperti ini. aku tulus kek. Ayoo berdiri.” Qira membantu kakek itu berdiri.
“Sekali lagi terimakasih nona. Saya akan segera kembali untuk mengobati cucuku.” Ucapnya. Sekali lagi ia membungkuk dan tergesah-gesah pergi meninggalkan Qira.
Leon dan Wolf yang sudah lama bersama Qira masih belum bisa tidak kagum melihat hal yang dilakukan Qira. Sungguh, hati Qira sangat mulia batin mereka.
Qira melepaskan Napasnya. Ia tersenyum senang. Baginya kebahagiaan yang terbesar adalah berguna untuk orang lain. Koin yang ia miliki tak memiliki arti apa-apa baginya. Tapi koin yang ia berikan kepada orang lain, walaupun itu berjumlah sedikit. Tapi koin itulah yang membuatnya bahagia.
“Ayoo kita makan. Aku sudah membeli makanan untuk kita.” Ucap Qira sambil memberi kantong berisi makanan.
“Black. Apa kau ingin makan apel ini?” Tanya Qira kepada kudanya.
Kudanya sebenarnya tidak ingin. Apel itu sama sekali tak menarik dimatanya. Tapi kebaikan Qira mengubah apel itu menjadi emas dimatanya. Ia meringik menandakan ia mau.
Qira mulai mengambil apel itu. Ia mengeluarkan pisau dari bilik bajunya. Ia membuang sisi yang busuk lalu mencucinya dengan air yang ada disebela pinggangnya.
“Jadi ini sudah bersih. Ayo black, aku juga akan memakannya. Biar kau tak merasakannya sendiri.” Ucap Qira semangat.
Ia mendekat kepada Black. Ia menyuapi Black dengan apel itu. Satu apel ia gigit dengan ringan, seakanakan itu apel mahal. Black yang diperlakukan seperti itu menjadi hangat. Ia diperlakukan layaknya teman, bukan peliharaan. Dan itu membuatnya tambah yakin untuk mengabdi kepada Qira.
“Qira. Ayoo makan.” Sahut Leon memelas.
“Kau tunggulah disisni. Aku akan makan sebentar.” Qira memberi apel terakhir dan mengelus kepala Black lembut. Lalu ia bergegas mendekat kepada Leon dan Wolf untuk menghabiskan makanannya.
“Lalu kita akan pergi kemana?. Sebentar lagi akan malam.” Tanya Leon. Hari memang sudah menunjukan bahwa malam akan segera bertandang.
“Kita harus mencari penginapan. Karena didepan akan ada hutan, tidak memungkinkan kita untuk disana nanti.” Jawab Wolf.
“Hmm. Kau benar Wolf.” Jawab Qira.
“Jika begitu. Mari kita mencari penginapan sebelum malam.” Sahut Leon.
Qira dan Wolf menganggukan kepala. Mereka bangkit dari duduk. Mereka bergegas menaiki kuda masing-masing untuk mencari penginapan terdekat.
“Sepertinya disana ada rumah penginapan.” Sahut Leon, ia mengarahkan telunjuknya disatu rumah.
“Kau benar. Lihat itu, ada bacaan penginapan didepan sana. Ayo kita kesana.” Jawab Wolf. Qira hanya menganggukan kepala.
Qira dan lainnya menuruni kuda. Mereka mengetok satu Rumah disana. Ada pria paru baya yang keluar. “ Ada yang bisa bantu tuan?” Tanyanya sopan.
__ADS_1
“Begini paman. Kami membaca jika disini ada penginapan. Apa itu benar paman?” Tanya Wolf sopan.
Paman itu menatap Qira dan lainnya, ia tersenyum lembut. “Benar. Disini ada penginapan, saya pemiliknya.”
“Jika benar begitu,kami sedang beruntung paman.” Ucap Leon sambil tersenyum.
Paman itu pun membalas senyum Leon. “tapi disini hanya ada 2kamar kosong.”
Wolf menatap Qira dan Leon bergantian. “Tdak Apa-apa paman. Nanti biar saya sendiri dan teman-teman saya satu kamar.” Jawab Qira cepat.
“Aku tidak mau satu kamar dengannya! Aku ingin satu kamar denganmu saja.” Jawab Wolf cepat.
“Hey. Kau kira aku mau satu kamar denganmu.” Jawab Leon ketus.
Qira mengelus dadanya menatap mereka. “ tidur berdua atau tidur dengan kuda masing masing diluar kamar. Kalian tinggal pilih.” Ucap Qira kesal.
Wolf dan Leon menatap Qira tak percaya. “ Aku tidak mau dua-duanya Qiqi. Ayolah.” Bujuk Wolf menarik lengan baju Qira.
“Pilih. Atau aku akan me---“
“Baiklah....” Jawab Wolf dan Leon serentak. Wajah mereka sama sama kesal.
Qira tak bisa menahan tawanya. “Kan enak jika kompak. Jadi paman berapa sewanya?” Tanya Qira.
Qira memberikan uangnya. Setelahnya mereka dibawa dipenginapan tersebut. Qira yang hanya sendiri dikamar membuat ia leluasa. “Sudah berapa hari aku belum mandi. Aku harus mandi” Gumam Qira. Tubuhnya sangat lengket. Saat dikapal ia tidak mandi karena air yang terbatas. Ia tak ingin mandi air laut, menurutnya bukan bersi tapi malah bikin tambah lengket. Dan hari ini ia sama sekali tak menemukan sungai. jika dihitung-hitung ia tidak mani selama 5hari.
Qira melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi. Ia tak suka berlama-lama untuk mandi. Ia Membasuh tubuhnya dengan bersi. Ia juga menggunakan pewangi yang ia racik sendiri untuk rambutnya(semacam sampo) karena diera ini sama sekali tidak ada. Jika mau wewangian mereka harus menggunakan kelopak bunga lah. Kulit kayu dan semacamnya.
Karena Qira sudah lama tidak mandi. Ia cukup lama menghabiskan waktu untuk membersikan tubuhnya. Saat selesai. Ia mulai bergegas mengganti baju dan mulai tidur. Sedangkan kamar sebelahnya. Tak henti-henti berdebat.
Saat semua terlelap dalam mimpi. Ada beberapa kelompok yang menggunakan baju serba hitam memasuki kamar Qira. Salah satu dari mereka mendekat keranjang Qira, sedangkan yang lainnya menggeleda barang-barang, seseorang yang didekat Qira melirik buntalan yang menjadi bantal untuk Qira tidur. ia mengambil pedangnya. Tanpa aba-aba.
Clap....
Suara pedang itu tertancap dikasur Qira. Qira yang sedari tadi merasakan aura yang jahat membuatnya bersiaga. Ternyata dugaannya benar.” Siapa kau?” Suara Qira menggema.
“Serahkan semua hartamu..!” Jawabnya. Dari suara itu mengatakan bahwa ia adalah seorang pria.
“Jika aku tak mau?” Jawab Qira ketus.
Semua kawanannya yang berada diruangan Qira mengepung Qira. Mereka menodong pedang. “Kau mau mati!. Tapi jika kau mati, itu sangat rugi. Karena kecantikanmu hanya sia-sia.” Sahutnya menggoda.
“Cih” Qira meludahi wajah pria itu. Wajahnya dipenuhi amarah.
__ADS_1
“Lancang kau. Bunuh dia!” teriaknya.
Semua orang yang jumlahnya 5orang menghunuskan pedang kepada Qira. Tapi dengan cepat Qira melompat tinggih dan bergelayut dipondasi kayu itu. Tangan kanannya memegang barangnya. Ia meletakkan barang itu disalah satu kayu yang bisa ia kaitkan, sedangkan tangan kiri untuk penahan tubuhnya.
Mereka menatap Qira terkejut. Sedang satu ayunan tangan kanan Qira mereka terhempas mundur kebelakang. Saat itu juga Qira turun. Ia memegang pedang yang terjatuh dari salah satu mereka. “Maju.” Ucapnya sombong.
Mereka Menatap Qira terkejut sekaligus takut. Tapi mereka masih memberanikan diri menyerang. Pedang salah satu dari mereka mengarah keleher Qira. Qira hanya menggunakan kayang rata sehingga pedang itu hanya mengenai angin. Tak butuh waktu Qira mengayunkan pedangnya.
Clap..
Dua kepala menggelinding. Dengan bergerak dengan cepat Qira menendang salah satu dari mereka hingga terkena dinding. Ia terbatuk darah. Tidak cukup dari itu. Qira melompat tinggi dan mulai membabat habis sisa dari mereka. Hingga satu orang yang terbatuk darah yang tersisa.
Qira mendekat kepadanya. Ia membuka kain hitam yang menutupi wajahnya dengan kasar. Bisa Qira lihat jika ia adalah pria. “Siapa kalian?” Tanya Qira tegas.
Pria itu hanya membunyikan pluit dari bambu yang memekakkan telinga. Qira membulatkan matanya. Itu adalah pemanggil kawanannya, berarti bukan hanya mereka disini.
Tab..
Tabb..
Suara dari genteng terbentur hebat membuat Qira mengalih pandangannya. Dengan cepat Qira membuka pintu dan keluar. Saat ia keluar, ia melihat banya pria berpakaian hitam. Bahkan jumlahnya lebih dari 30orang.
Qira terkejut akan hal itu. Ia tambah terkejut ketika kawanannya bertambah banyak. “Siapa kalian?” Tanya Qira.
Salah satu darii mereka maju. Sepertinya dia adalah ketua perampok itu. “Apa itu penting cantik?” Tanyanya.
Sebenarnya banyak dari warga yang menatap Qira dari sela-sela rumah. Tapi mereka sama sekali tak berani untuk keluar,mereka gemetar ketakutan.
“Tidak juga...” Jawab Qira santai. Ia melipatkan tangannya didada. “Bisakah kalian Pergi dari sini?”
“Kurang ajar kau. Dimana teman kami?” Tanya dari salah satu mereka. Seluru dari mereka memegang pedang tajam.
“Teman kalian sudah kubunuh. Karena mereka mau merampokku” Jawab Qira acuh.
“Kau mau mati!” teriaknya.
“Jika kalian bisa membuatku mati. Maka lakukanlah.” Jawab Qira sinis.
“Bunuh dia!” Teriak pria yang berbicara dengan Qira tadi.
Qira menatap mereka tajam. Ia menghentakkan kakinya. Keluar api dari dalam tanah. Dengan mengayunkan tangannya. Api itu menjalar cepat menerpa mereka. Semua mereka bertreriak histeris. tubuh mereka terbakar habis. Hanya tersisa satu pria lagi. “Semudah itu..” ucap Qira. Ia meniup debu mayat yang ada ditangannya.
Pria itu menggeram marah sekaligus gemetar takut. Ia maju dengan menodong pedang. Qira hanya diam ditempat. Pedang pria itu sama sekali tak menyentu Qira. Qira menggerakkan pedang ditangannya ketangan pria itu.
__ADS_1