Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Ruangan Misteri


__ADS_3

“Uweekk. Uwek...” Qirana yang baru saja bangun itu tak dapat menahan gejolak aneh didalam perutnya, ia sangat mual dan juga seperti dililit perutnya. Ia memuntahkan isi perutnya diatas kasur saja, karena kakinya belum bisa diajak kompromi. Ia mengelus perutnya sakit. Isi muntahan itu adalah makanan yang ia makan malam tadi, tepatnya buah-buahan yng dibawah oleh Leo dan Lingga dan darah.


Berselamg emudian ada sosok Ibunya yang memasuki kamar, disusul oleh ayahnya dan kakanya, adiknya? mungkin belum bangun saat ini. “Astaga.. kamu tidak apa-apa sayang?” Ibunya panik, sebab muntahan Qira banyak darah bercampur buah-buahan. Seprainya sekarang banyak muntahannya dan itu mampu membuat mereka panik.


“Dek. Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dika khawatir, ia mendekatkan adiknya yang sudah melemas. Dibawah bibirnya bahkan sudah berceceran darah.


“Kita kerumah sakit sekarang..” Ujar ayahnya panik, sebab Qiraa tak menjawab sebagaimana beberapa hari. keluarganya telah mengangap jika Qirana bisu semenjak kecelakaan itu, tak apa, yang terpenting Qirana kembali hidup dan selamat saja sudah membuat merea bersyukur. "Dika keluarkan mobil...."


Dengan langkah seribu Dika mencari kunci mobilnya. mendadak kunci mobil itu tak tau dimana tempatnya. “Dih dimana sii kuncinya..” Gumamnya panik, ia menggigit kukuny4 panik.


“Dika kemana mobilnya cepat...!” Ujar ayahnya berteriak. membuat Dika membongkar semua isi lemari kamarnya. Tak ketemu juga membuat ia mengusap kepalanya frustasi. Lalu dengan cepat ia menyibak kasurnya dan selimutnya. Seprainya berhamburan...


Tring..


Kunci mobilnya terjatuh membuat ia bersyukur.


Dengan cepat ia bergegas kebagasi dan disana ia baru ingat, kenapa harus membawa mobilnya? bukankah ayahnya juga ada mobil? Ingin ia memaki kebodohannya sendiri. Namun tak sempat, ayahnya sudah kembali berteriak. dengan gerakan cepat ia memasuki mobil, ia sedikit memundurkan mobilnya lalu membelokkanya kekiri, baru kekanan supaya lurus dibagian belakang, jadi ia hanya mundur dengan sedikit hati hati, takut menabrak motornya Qirana.


Tubuh Qirana lemas, ia tak mampu menyangga tubuhnya, ia tak tau apa yang terjadi, seingatnya ia tak memiliki alergi atau apapun, hanya saja mungkin efek dari jantungnya yang sakit, apa jantungnya yang sakit ini bersangkutan dengan jantungnya yang hancur disana? Kenapa kedua kesamaan?


“Ayah gendong ya..” Ujar ayahnya khawatir. Ia meletakkan tangan kananya dileher Qirana lalu meletakantangan kirinya dikakinya supaya memudahkan gendongannya. Ia bahkan tak jijik melihat muntahan darah dari Qirana.


“Kenapa ayah baru sekarang gendong kakak?” Tanya Qirana dengan sendu dan lemah. Ia memandang ayahnya dengan braut tanya. Panggilan untuk dirinya memang kakak sebab Qirana bukan anak bungsu.


Ayahnya dan ibunya mematung. Mereka menatap Qirana dengan tatapan tak percaya. “Kamu bisa bicara Qi?” Tanya ayahnya sedih. Ia fikir anaknya bisu dan tak lagi mampu bicara, tapi nyatanya anaknya masih bicara.


“Qiqi bertanya, kenapa baru sekarang ayah gendong Qiqi? Padahal Qiqi udah berumur tujuh belas tahun, apa Qiqi harus mati dulu supaya ayah sayang sama Qiqi kayak gini?” Tanyanya lemah. Sesak didadanya menjadi karena sesak dihatinya lagi.


Ayahnya mematung. Ada ribuan anak panah menyusup dihatinya, ia bagaikan dipukull secara membabi buta. Memang benar Qirana itu tak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka. Dan itu mampu membuat kedua orang tuanya meringis sedih.


“Maafin ayah nak.. maaf..” Ujar ayahnya memeluk Qrana penuh penyesalan. “Maaf, karena ayah dulu benci sama kamu, karena setiap ayah melihatmu, ayah teringat kesedihan nak.” Ujarnya pelan.


“Kesedihan apa ya?” Tanyanya pelan. Ia tak mengerti akan kebencian orang tuanya, apa kah karena ia tak sepandai kakak dan adiknya? Atau apa? Tapi ia butuh akan hal itu.


“Kita kerumah sakit dulu ya. Nanti ayah kasih tau..” Ujar ayahnya mengelus kepala Qirana sayang.


Qirana menggeleng. “Qirana tak bisa lagi menungguh ayah, supaya Qira tak lagi bersedih jika Qira akan pergi dari kalian. Qira tidak mau pergi membawah beban kebencian. Benci kalian membuat hati Qira sakit, sakitnya itu melebihi sakitnya fisik Qiqi.” Ujar Qirana pelan. Matanya sudah berair saat ini, entah kenapa ia merasa jika ia sudah tak lama lagi, apakah ia akan pergi kedimensi lain lagi atau kematian sebenarnya?


Ayahnya memeluk Qirana dengan genangan air mata, sedangkan ibunya ikut memeluknya. namun terganggu saat suara klakson Dika membuat mereka terbuyar. Namun ta dihiraukan oleh mereka, entah kenapa merea saat ini snagat butuh pelukan Qirana anak yang tersisihkan.

__ADS_1


tintin...tiiiiiin.... Dika kesal.


“Uhuk Uhuk...” Qirana kembali memuntahkan darah, tapi kali ini tak ada lagi sisa makanan, yang ada yaitu darah segar, sangat segar namun bercampur gumpalan humpalan darah hitam, muntahan itu memenuhi baju ayah dan ibunya.


“Uewe... uwekk..” Qira kembali memuntahkan darah begitu banyak berali kali. Ia merasakan jantungnya sakit dan dadanya sesak. Ia tak mampu lagi menahan sakitnya perutnya dililit oleh tima panas rasanya.


Ayah dan ihunya panik dan menangis histeris, tak ada rasa jijik yang ada hanya takut, mereka bodoh, kenapa harus bicara didalam seperti ini. “Yaampun sayang... kamu harus kuat ya.. kita akan kerumah sakit..” Ujar ayahnya, ia memeluk Qirana menuju mobil Dika, ibunya mengikuti dari belakang.


“Ibu ambil Kaih dulu ya. Nanti dia nangis ngak liat kita.” Ujar ibunya panik, sepanik apapun ia, ia harus ingat anak bukan?


Ibunya bergegas mengambil adiknya yang tertidur dikamar, dengan cepat pula ayahnya memasukkan tubuh Qirana didalam mobil, ia memasuki mobil lalu memangku kepala Qirana dipahanya sayang, ia mengusap rambut basah karena darah Qirana. Pipinya darah semua, sampai tenggorokannya mengalir darah, mata Qirana terpejam nampak ia menahan gejolak sakit yang berlebihan.


“Sabar ya sayang.. kamu harus kuat, ayah sayang banget sama kamu... Cup..” Ia mencium punggung tangan putrinya. Untuk pertama kalinya ia menciumnya, air matanya jatuh ditangan Qirana, bibirnya bergetar saat ini, sungguh ia menyesali semuanya. Ia ingat sebagaimana perilauknya pada putrinya ini, tapu Qirana bahkan menyelamatkan hidupnya.


Puk.. Pukk.. Puk... Dika membalikkan tubuhnya lalu menepuk pipi Qirana supaya tetap sadar. “De bangun, jangan tidur ya,, kamu harus tetep sadar oke..” Ujarnya panik, ia sangat panik saat ini saat melihat mata Qirana merema-merama melemah.


Ayahnya pun ikut mengusap wajah Qira supaya bangun dari tidurnya, Qirana sudah tak bersuara sebab jantungnya sudah tak mampu berbuat apa-apa. Yang ada hanya rasa sakit berlebihan.


“Ibu cepat.... Jangan lama-lama... Qirana hampir mati karenamu..”! Teriak ayahnya keras mampu membangunkan tetanganya, ia tak peduli, yang ia pedulikan adalah anaknya saat ini.


Datanglah ibunya mengendong Kasih dengan lembut, ia berlari tanpa menutup pintu, karena ada pembantu dan scurity saat ini. “Ini Kasih lama bangunnya..” Ujarnya padahal Kasih dudah berumur 7tahun lebih tapi mereka masih mengangap Kasih sii balita mungil.


“Tenang ya.. kakaknya Cuma sakit..” Ujar Ibunya pelan. Mobil itu melaju kencang saat ini. menyisahkan Kasih menatap kakaknya sayang, sang adiknya ini memang tak terlalu dekat dengan Qirana, karena Qirana itu tak suka anak kecil. Namun jika keadaan kakaknya seperti ini mampu membuat ia luluh, apa lagi ia ingat kakanya pernah membantunya saat penculikan itu. Apa jadinya jika kakaknya tak membantunya waktu itu?


“Bangun ya sayang jangan tidur....” Ayahnya selalu meneuk pipi Qirana tapi Qirana tak kuat, ia bahkan tak mampu lagi bernafas saat ini. jantungnya sangat lemah saat ini, ia harus tertidur sebentar supaya ia bisa bangun kembali bukan?


“Dika cepat...!” Teriak ayahnya ketakutan saat kepala Qirana berbelok lemah kekanan pertanda Qirana tak lagi bangun.


“Qirana maafkan ayah nak.. maafkan ayah..” Ujarnya pelan. “ Ayah sangat menyayangimu nak, maafkan ayah ya nak, karena sakitnya ayah membuat kamu seperti ini nak, karena kesedihan ayah kamu tak mendapatkan kasih sayang..” Ujarnya pelan.


Kesalahan apa? Kesedihan apa ayah? Ingin sekali Qirana menjawab jika Qirana sadar, ia tak tau masalahnya apa? Apa ia bukan anak kandung tidak mungkin, sebab Qirana tau ia anak kandung ayahnya dan ibunya, ia sangat tau akan hal itu, karena dulu ia pernah memberikan darahnya saat ayahnya kecelakaan. Ibunya berbeda darah saat itu, sedangkan Kakaknya bergolongan sama dengan ibunya, kok bisa? Bisa dong.


Sebab ayah Qirana itu bergolongan O, sedangkan ibunya B. Jika didalam biologi, maka anak mereka isa menjasi. O, B, atau AB. Karena sifat dari darah O itu umum sedangkan AB susah atau langkah yang artinya tak semua golongan darah bisa sama dan sangat menolak darah yang tak sama. Bahkan akan menimbuk]lkan penyakit baru jika tak cocok. Makanya golongan darah AB itu sangat langkah dan susah mencari pendonornya.


“Sister,. Sster... tolong bantu anak saya sus..” Teriak ayah Qirana memasuki rumah sakit, ia mengendong Qirana yang sudah terasa dingin ditanganya. Beberapa suster datang karena terkejur, mereka mengira jika mereka adalah korban kecelakaan, sebab Qirana menggunakan baju tidur Pink hello kitty sangat berbeda dengan darahnya, sedangkan ayahnya yang masih menggunakan baju tidur berwarna biru itu juga sangat nampak berdarah., hari ini masih pagi tadi saja mereka masih tidur dia dikejutkan oleh muntahan Qirana


Kamar Qirana memang diberi penyadap suara. Jika Qirana terjadi sesuatu maka mereka akan mudah tau, itu memang dikhususkan oleh ayahnya dan ibunya, mereka tak mau kehilangan Qirana. Lagi


“Bapak ibu tunggu diluar saja ya..” Ujar suster itu lalu masuk meninggalkan ayah dan ibunya yang khawatir, mereka meremas kepalanya masing masing. kantuk hilang, sakit kepala menjadi, mata mereka memerah karena menangis, beberapa kali suster mengajak ayahnya Qirana memeriksa keadaan tapi dengan lantangnya ia menjawab ia tak apa-apa, mereka masih mengangap mereka korban kecelakaan saat ini.

__ADS_1


....


Disisi lain kakak Kim dan kakek Suke memasuki trowongan bawah tanah itu hati-hati. ditangan kakek Suke ada api bagaikan api unggun, namun langsung dari tangan untuk menerangkan jalan, sebab jalan disana sangat gelap bahkan memang tak ada penerangan apapun, sepi sunyi, banyak lumut yang menjalar kedinding-dinding disana. Lembab.


Kadang kaddang ada air pula yang menetes dari atas, yaa... disana juga sangat bergema suaranya, satu tetes air jatuh saja mampu memekakkan telinga., namun kakak Kim dan kakek Suke membelalakkan mata saat kakak Kim seperti menginjak tanah gembur, disana seperti tombol otomatis yang berbunyi. Klak... dan setelahnya...


cap.. cap.. cap..


banyak anak panah disana mengarah pada mereka, itu adalah perangkap yang diinjak, dan itu cukup membut mereka terejut. “ Hati-hati, disini banyak jebakan, kau harus lihat, jangan menginjak tanah yang memiliki garis. "Ujr kakek Suke pada kakak Kim. karena ia mampu mengenal itu, ditanah yang retak itu ada tinjaka yang membuat penghubung busur dan ana panah dari arah berlawanan.


Untunglah kakak Kim mengelak kekanan sedangkan kakek Suke kekiri membuat anak panah itu melaju tanpa mengenai mereka, mereka mengelus dada bersyukur karena takut ketahuan,


Ini adalah cara aman bagi kerajaan Barat supaya tak ada penysup yang masuk lewat trowongan bawah tanah, karena memang sangat berbahaya. Namun dari arah lain nampak ada bayangan orang yang membawa obor berkari tergesa gesa. “Kakek kita ketahuan..” Ujar kakak Kim pelan pada kakek Suke,


Kakek Suke pun membekap mulut kakak Kim lalu menyempil disalah satu batu besar. Ia berjongkok, namun mereka sangat terkejut saat diwaha sana ada lobang besar bagaikan tempat untuk lewatnya binatang. “siapa disana..!” Suara itu bergema membuat suasana dilorilong itu menyeramkan, aura kaki juga bergemuru beriringan dengan mereka yang melihat kiri dan kanan.


Jangan lupakan jika lorong ini memang sangat keras suaranya. Suara air jatuh saja terdengar bagaimana suara anak panah meleset? Itu mampu membuat penjaga depan mendengarnya, apa lagi kaum Blue rose itu memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, suara yang tajam dan menyeramkan., wajar saja mereka mendengarnya. Dan yang jadi pertayaanya, apakah mereka mendengar pertanyaan kakak Kim pada kakek Siuke tadi?


Suara semakin mendekat membuat kakak Kim dan kakek Suke gelagapan, mereka pasti ketahuan sebentar lagi. "Kita masuk sini saja..” Ujar kakek Suke mendorong kakak Kim.


“Kau gila kek? Mana mungkin, ini kemana jalannya?” Tanyanya terkejut, jalan itu hanya ditutup batu sebenarnya, namun mampu dilihat jika dari dekat, muat untuk tubuh namun harus dipaksakan.


“Cepat atau perjuangan kita akan sia-sia..” Tegas kakek Suke namun pelan.


Kakak Kim bisa apa? Ia hanya mengangguk patuh lalu memasuki cela itu, ia cukup sulit karena ia harus stay didekat batu tapi harus menjulur karena sempit dan tak muat jika harus memasuki seluruh tubuh, ia mengempisan perutnya supaya tak tersangkut, gundutkah? buncitkah?.. bukan.,. bukannya perut kakak Kim buncit, hanya saja jika sudah panik manusia menjadi bodoh, seebagaimana kakak Kim sekarang. Padahal tidak ada efeknya juga.


Karena kakak Kim snagat lama membuat kakek Suke menegrang marah, membat ia meyenyakkan kaki kakak Kim.” Kau menyuruh ku ketahuan dan mati ha.” Gumamnya mengerutu, sedangkan kakak Kim disana berteriak kesakitan, sebab pipinya mencium tanah saat ini, bukan main ketegaan kakek Suke pada ketampanannya,


Sesudah kakak Kim keluar, barulah ia masuk juga kelorong itu membuat ia cepat cepat supaya tak ketahuan. “Hey,, apa itu orang?” Mereka merasa melihat siluet putih seseorang namun tak tau itu siapa. Apa itu hantu? Namun untungnya kakek Suke sudah keluar cepat dan mengatupo kembali batu itu supaya tak ketahuan.


Nafas merea memburu satu sam alin, terkejut dan takut. Namun mereka kembali terkejut dikalah melihat didalam sana. Mata mereka membelalak akan melihatannya, bukan hanya kakak Kim saja namun kakek Suke bahkan tersungkur ditanah akan hal itu. Mata mereka melotot dengan jantung yang terpacuh...


.


..


.


**Rauangan apa hayo?

__ADS_1


Like komen and vote ya**....


__ADS_2