Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Teh


__ADS_3

“Menyebalkan. Merepotkan. Dan mengganggu. Ada baiknya aku bunuh saja.” Jawab kaisar Zauhan menggerutu.


“Mengapa tidak dari tadi. Cepat” Ucap Qira menentang. Ia kembali menarik lengan kaisar Zauhan menuju Wolf dan Leon. Sedangkan kaisar Zauhan menurut saja dalam tatapan tajam.


Qira memeluk Leon dan Wolf erat. Sungguh hati Qira bagaikan terlepas dari hampitan batu besar ketika tau jika Wolf dan Leon baik-baik saja. Begitu juga Wolf dan Leon, mereka bagaikan bertemu dermaga ditengah gurun. “ Apa kalian baik-baik saja,” Tanya Qira ditengah-tengah berpelukan.


“Kau bisa lihat sendiri bukan, kami kurang tidur karena memikirkanmu,” Jawab Wolf.


“Benar., kami sangat merindukanmu. Apa dia melakukan hal yamg jahat?” Tannya Leon.


Qira menatap Wolf dan Leon. Ia menarik tangan Wolf dan Leon untuk menjauh sedikit. Kaisar Zauhan menatap intens seluruh gerak Qira. “ Aku tidak apa-apa. Apa kalian mau menurutiku?” Tannya Qira.


“Apa?” Tannya Wolf serius.


“Bisa kah kalian pergi dari sini?” Tanya Qira berbisik.


“Apa maksudmu?” Tanya Wolf.


“Aku sudah terlanjur tercebur dineraka, kalian masih bisa keluar, aku tak ingin kalian terkena imbas dari kebodohanku.” Jawab Qira sedih. ia tak mau gara-gara dirinya, Wolf dan Leon menanggungnya.


“Apa maksudmu. Kami tak akan pergi meninggalkanmu. Kami akan selalu menjagamu dengan nyawa kami.” Jawab Leon.


Wolf mengangguk. “Benar. Kami akan bersama kau meskopun nyawa kami taruhannya.” Sahut Wolf bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Qira menatap teman-temannya dengan raut wajah bersalah. “Tapi---“


Wolf memeluk Qira lembut. “Jangan pikirkan nyawa kami. Karena kami tetap akan baik-baik saja. “ ucapnya.


Leon yang melihat itupun juga memeluk Qira sayang. “Kami akan selalu mendukungmu. Meskipun saat ini kau sangat bodoh.” Sahutnya dengan sedikit gerutu.


“Aku terhura... hiks hiks.” Ditambah dengan menangis dibuat-buat.


“Terharu bodoh.” Sahut Wolf.


“Hey... siapa yang mengajarimu menyebutkun bodoh..” Teriak Qirra cempreng.


Kaisar Zauhan menatap Qira berpelukan dengan temannya menjadi tambah tajam, ia tak suka gadis keras kepala dan sombong itu terlihat sangat manis didepan teman-temannya. Sedangkan didepannya menjadi singa betina. Ia pergi menjauhi Qira. Sontak saja Qira memegang bahunya yang sakit. Ia berbalik melihat kepergian kaisr Zauhan. “Hey... tunggu..” Teriaknya cempreng. Ia menatap Wolf dan Leon sekilas. “Aku pergi dulu. Kalian berhati-hatilah.” Ucapnya sambil berlari meninggalkan mereka.


Leon mengangkat bahu. Untunglah kaisar Zauhan tak menyandra atau menghukum mereka. Mereka mendapatkan satu ruangan untuk kesatria Qira yang dianggap Ming Zu putri kedua perdana mentri wouncu.


Dimana kaisar Zauhan menatap. Seluruh orang menunduk hormat. Sama sekali tak ada yang beranih menatap wajahnya barng 2detik. Begitu juga dengan Qira, mereka tertunduk hormat, meskipun mencuri-curi pandang. Sontak saja Qira tak nyaman, ia memang seorang tuan putri. Tapi baru kali ini ia dihormati begitu besar.


Qira mensejajarkan kaisar Zauhan. “Hey. Kita mau kemana?” Tannya Qira tanpa mau mempedulikan orang-orang disekitar.


Kaisar Zauhan tak menjawab, bahkan melirik Qira saja tidak. Qira mengerutu dan mencaci maki kaisar Zauhan didalam hatinya. Ia menghentak-hentakkan kakinya sampai pada suatu kediaman. Satu alis Qira terangkat. Ia melipatkan tangannya didada. ‘Ini seperti ruang kerjanya Ayah Wey. Hanya beda sedikit bentuk dan luas. Apa ini ruang kerja’ Batin Qira menerka-nerka. Ia menggelengkan kepalanya unruk mengusir pikirannya, ia melangkah memasuki ruangan itu.


Ia melihat kaisar Zauhan duduk disatu kursi kebesaran dan tumpukan berkas. Qira mengambil posisi didekat rak buku sambil berfikir bagaimana cara terlepas dari kaisar Zauhan. ‘ Tidak mungkinkan ia seperti ini terus?.

__ADS_1


Kaisar Zauhan selalu melirik Qira. Ia membawah Qira kesini karena ingin melihat apa yang akan Qira lakukan, ini memang ruangan kerjanya. Jika Qira mata-mata sudah pasti ia mencari tau hal yang penting bukan? Tapi bukannya mendapat jawaban. Ia malah melihat Qira tertidur diatas sofanya. Bukan tidur, hanya memejamkan matanya sambil berfikir.


'tidak.mungkin ia diam saja bukan. jika ia memang mata-mata. Apa lagi ini ruang kerjaku' Batin kaisar Zauhan ia memang menjebak Qira supaya menampakkan bahwa ia adalah Mata-mata seperti yang ia duga. tapi bukannya Qira celinguk-Celinguk seperti maling dan Mata-mata ia malah tidur di sofa


“Ehm...” Deheman kaisar Zauhan. Ia cukup sombong memanggil Qira. Tapi ia sama sekali tak dapat tanggapan dari Qira membuatnya mengeram marah. “Ehemm...” Ia berdehem lebih keras, bahkan lebih keras membuat tenggorokannya gatal dan serak.membuatnya terbatuk-batuk


Ia berdeham lagi. Bukan dapat respon . lagi dan lagi Ia bahkan terbatuk-batuk setelahnya. ia mengerang marah


Qira sama sekali tak peduli. Jika Qira peduli atau perhatian. Mohon maaf bukan Zhu Qira Han namanya. Tapi matanya langsung terbuka dan tersenyum setelah berfikir cukup lama dengan gangguan deheman manusia yang jauh lebih angkuh darinya. Ia langsung melompat dan mendekat kepada kaisar Zauhan.


Tentu saja kaisar Zauhan merasa panggilannya dijawab meskipun ia terbatuk-batuk. Cepat-cepat ia mendatar dan menajamkan wajahnya. Ia menatap Qira yang tersenyum senang mengahadap kepadanya.


“Hey, bisa kah kita membuat nego siasi?” Tannya Qira. Ia berdiri disamping kaisar Zauhan dan menautkan jari-jarinya.


Kaisar Zauhan melirik acuh. Ia masih sok sibuk dengan berkas didepannya. “ Katakan.” Ucapnya. ‘Akhirnya kau mengalah’ Batinnya. Ia mengira jika Qira ingin memberi tau apa tujuannya kesini da mengakuhi jika ia mata-mata.


Qira mengelilingi kaisar Zauhan. “ Kita buat pertandingan, jika aku menang, kau harus melepaskanku. Tapi jika kau menang, aku akan tetap disini selama satu tahu,” Qira mengangkat telunjuknya menunjukan angkah satu.


Kaisar Zauhan mengangkat satu alisnya. Ia meletakkan dokumen yang ia peralatkan untuk bersikap acuh. Ia menatap Qira acuh. “ Siapa kau berani mengajakku negosiasi. Kau tak punya hak. “ Jawabnya.


Qira mendesah. Ia baru sadar, sekarang dia sanderahan. Bukan Putri Zhu Qira Han. Tapi ia tak kehabisan akal. “Aku punya hak. Ini menyangkut nyawaku. Aku tak ingin terperangkap dengan kaisar maut sepertimu.” Jawabnya jujur.


Kaisar menatap Qira tambah tajam. Mereka bahkan belum mengenal satu sama lain. Bukannya menjawab, ia malah berucap. “Seduhkan aku teh.” Ia berdiri dari duduknya dan duduk di dekat danau samping ruang kerja. Disana memang sudah disediakan tempat duduk meminum teh .

__ADS_1


Qira mengembahkan hidungnya. Ia berjalan mngikuto kaisar Zauhan. “ Jawab dulu negoku.” Uccap Qira. Ia memilih duduk didepan kaisar Zauhan.


__ADS_2