
.
.
. Ayo tekan 👍 sebelum membaca....
.
.
Setelah makan mereka memilih untuk mencari makanan lain, baju dan lainnya. Ya itu menyenangkan.
“Aku mau beli baju. Aku tak punya baju diistana.” Ucap Qira sedikit getir.
“Disana saja.” Jawb Wolf sambil menarik tangan Qira.
Qira mengangguk, ia tak sadar jika tangan putri Tea sudah tidak ada dilengannya. “Biar kami bantu mencarinya. Kau cari yang kau suka ya...” Ucap Leon. Lalu pergi yang diikuti oleh Wolf.
“Kau mau beli yang baju putri Tea?” Tanya Qira. Ia berjalan menuju baju jadi, tepatnya baju pria.
Putri Tea mengangguk. “Aku mau beli. Ayoo.” Ucapnya. Ia berjalan sambil memilih bahan baju. Ia memilih bahan karena tak suka jika baju yang ia gunakan sama dengan orang lain. Jangan lupakan ia seorang putri.
Tak lama kemudian Leon dan Wolf datang membawa baju ditangan masing masing, yang putri Tea kira itu baju untuk mereka.
“Ini baju uuntukmu Qira...” Ucap Leon semangat. Ia memberikan dua baju, satu berwarnah merah gelap, dan satu berwarnah putih puring berjenis hanfu, hanya saja baju ini sangat ringan. “Ini baju jika kau berada Di istana, kau pasti merasa risi jika bajumu berat.” Lanjutnya sambil menunjukan bajunya.
“Dan ini baju untukmu.” Ucap Wolf. Ia memberikan baju berwarnah hitam satu dan baju berwarnah coklat satu. Baju itu sederhana namun sangat lembut. bisa dipastikan jika baju itu terbuat dari sutra terbaik. “Ini memang tak indah, namun ini bahan yang terbaik yang ada dikerajaan ini.” Lanjutnya.
Qira tersenyum. Ya selama ini pasti mereka yang membelikan Qira baju, Qira itu tak bisa memilih baju, jika ia memilih baju, ia butuh waktu yang cukup lama, menurutnya semua baju itu bagus.
“Ini untuk mu dan ini untumu. Ini untukku.” Ucap Qira sambil memberikan baju berwarnah hitam, dengan ikat pingang hitam. Itu adalah baju sama. Tentu saja Leon dan Wolf tersenyum lembut dan menerimanya.
“Ayo..” Ucap mereka sambil membawa baju Qira dan baju yang sudah Qira pilih untuk mereka.
Semua itu lagi-lagi tak luput dimata putri Tea. Ia hanya menunduk malu., rasanya perjalanan ini sangat menyedihkan baginya. Ia bagaikan benalu dan tak dianggap oleh Leon dan Wolf. Mengapa mereka sangat dingin kepada dirinya
Tapi ia tak menyerah. Ia memberikan baju berbulu kepada Wolf dan Leon. “Ini untuk kalian.” Ucapnya.
__ADS_1
Leon dan Wolf menatap baju itu. Baju untuk Leon adalah baju musim dingin yang dibuat dari bulu domba halus yang berwarnah putih. Sedangkan untuk Wolf berwarna hitam, namun disisi kerahnya ada bulu-bulu dari beruang yang sangan tebal. Awalnya mereka mau menolak, tapi mata Qira sudah membesar membuat mereka mau tak mau menerimanya.
“Hn..” Gumam mereka sambil mengambil baju itu.
“Ini untuk kakak dan aku. Kita sama..” Ucapnya ceria. Ia memberikan hanfu biru laut kepada Qira. Tepatnya baju bahan.
Qira tersneyum manis. “Terimakasih..” Gumam Qira.
Putri Tea tersenyum lebar dan mengandeng tangan Qira erat. Sedangkan Leon dan Wolf memilih membayar baju mereka beli. Termasuk baju yang dipilih oleh putri Tea., sebenarnya putri Tea menolak, tapi bukan Leon dan Wolf jika bisa dibantah oleh gadis polos itu.
“Sudah?” Tanya Qira sat melihat teman-temannya sudah keluar. Mereka pun mengangguk.
“Mereka akan mengirimnya nanti dikerajaan.” Sahut Leon.
Qira menatap Leon dan Wollf tersenyum. “Aku harus pergi. Kalian disini jaga putri Tea baik-baik.” Ucapnya Qira.
“Kau mau kemana? Kiita pergi sama-sama saja.” Ucap Wolf.
Qira menggeleng. “Tidak bisa. Aku harus pergi sebentar, kalian ingat. Jangan membuat putri Tea menangis dan beri dia hal yang terbaik. Jika tidak habis kalian ditanganku.” Ucap Qira kekeh. Ia bahakn me ninggalkan Wolf dan Leon yang masih meminta penjelasan.
“Kau mau kemana hey?” Teriak Wolf.
“Dimana Kakak ipar?” Tanya putri Tea. Ia tadi pergi sebentar untuk membelikan mainan rambut.
Wolf dan Leon menatap putri Tea malas. “Dia pergi. Ayoo kita pulang.” Ucap Leon.
“Tidak mau. Aku mua main.” Elak putri Tea.
“Jangan menyebalkan. Kami mau pulang.” Sahut Leon lagi.
“Tidak mau. Jika kalian mau pergi ya pergi saja. Aku bisa pergi sendiri.” Kekeh putri Tea.
Wolf dan Leon berdecap sebal. Putri Tea meninggalkan mereka.
Putri Tea meninggalkan Wolf dan Leon yang kesal. Ia sangat mau keluar istana selama ini, lalu sekarang ia punya kesempatan, dan ia memilih untuk menyia-nyiakannya? Itu tidak mungkin. Bahkan ia menitihkan air mata karena dibentak Leon.
Wolf dan Leon menyusul langkah putri Tea. Ia menarik pundak putri Tea kencang.
__ADS_1
“Jangan memba—“ Ucapan Wolf tercekat saat melihat air mata dipipi putri Tea. Ia berdecap sebal, ia ingat jika Qira berpesan untuk tidak membuat putri Tea menangis. Tangannya terulur dan mengusapkan air mata dipipi putri Tea lemnbut. “Jangan menangis.” Ucapnya datar.
Tapi tentu saja itu membuat putri Tea berhenti menangis. Saat ini ia bisa melihat wajah Wolf secara dekat. Bahkan Wolf mengusap air matanya dengan sangat lembut. Ia bahkan berhenti bernafas karena takut jika jika nafasnya menerpa wajah Wolf.
Sedangkan Wolf mengusap pipi itu merasa candu, Karena pipi bulat ini sangat lembut.
“Sudah. Ayoo kita pergi.” Sahut Leon yang baru sampai.
Wolf dan mengangguk. Sedangkan Leon yang merasakan jika putri Tea adalah tanggung jawab mereka. Ia memegang tangannya lembut. “Pegang kami. Nanti kau hilang Qira memarahi kami.” Ucapnya datar.
Sedangkan putri Tea menatap Leon. ‘Apa setakut itu mereka dengan kemaran Qira’ Batinya. Tapi tak membuat ia mengurungkan rasa bahagianya. Ia tersenyum polos dan mengangguki. Ia menggenggam tangan Wolf juga. Rasanya ia menjadi Qira yang digandeng oleh mereka. “Ayoo..” Ucapnya semangat.
Wolf terkejut. Ingin rasanya ia menepis. Tapi mata Leon membesar tak membiarkan Wolf marah. Mereka berjalan mengikuti langkah putri Tea yang kadang berjalan cepat. Kadang melompat dan kadang kegirangan. Persis seperti anak kecil.
“Aku mau beli itu..” Ucapnya menunjukan tanghulu. Ia menarim tangan Leon dan Wolf kesana.
“Aku mau itu..” Ucapnya lagi menunjukan tanghulu.
Penjual itu menatap putri Tea. “ Mau beli berapa nona?” Tanyanya sopan.
“20buah.” Ucapnya semangat.
Penjual itu tersenyum dan membungkus 20tanghulu. “Ini nona.”
“Berapa?”
“10koin perak saja.”
“ini”
“Terimakasih.” Ucap putri Tea semangat. Karena yang membayar itu bukan dirinya. Tapi Leon.
Leon hanya mengangguk dan menjauh dari sana. “Apakah ini enak?” Tanya putri Tea polos.
“Kau tak perna makan tanghulu?” Tanya Leon.
Putri Tea menggeleng. “Aku selalu ingin. Tapi tak pernah diperbolehkan. Katanya makan itu harus dari pelayan dapur istana karena takut ada racunnya.” Ucapnya berbisik.
__ADS_1
Leon terkekeh. Rasanya putri Tea sangat menggemaskan. “Ini enak. Ayo makan.”
“Kalian mau?” Tanya putri Tea sembari memberi satu tusuk tanghulu.