
“Apa tujuanmu menemui Dewa kematianmu manis?” Ia masih berbisik ditelinga Qira. Dewa kematian yabg disebut olehnya itu adalah dirinya sendiri. Aah, jahat bukan.
Qira tak bisa melawan, karena ia masih butuh waktu. “Aku hanya menemui seseorang yang sudah menyebarkan wabah. Dan kau adalah orangnya.” Ia mengepalkan tangannya saat bibir itu mencium leher Qira, amarah Qira memuncak, bagaimana bisa ia dicium diarea sensitif itu. Ia mengarahkan siku tangan kanannya kedada bidang pria bertopeng itu dan dengan sigap pula ditahan oleh pria itu menangkapnya. Sepertinya pria itu sangat tau pergerakan Qira...
“Lalu dari mana kau tau jika aku yang menyebarkan wabah itu hmm?” Ia menahan tangan Qira kebelakang membuat ira harus menahan tangannya.
Sebenarnya Qira merasakan sakit ditangan dan tubuhnya. Bukankah ia kuat dan kebal? Tapi ia masih bisa merasakan sakit itu. “Beri aku penawarnya maka kau akan lepas dari kematianmu.” Dengan keadaan yang mengenaskan saja ia masih sombong, bahkan ia mengancam, seharusnya ia malu untuk mengancam bukan?
Pria itu terkekeh geli. Bagaimana bisa ia mengancam sedangkan nyawanya sendiri yang jadi ancaman.” Dengan apa kau bisa membunhku manis?”
Kepala Qira dengan cepat mengarahkan kewajah pria bertopeng yang berada dibekakangnya. Ahh, sial. Ia lupa jika pria itu menggunakan topeng, membuat dia sakit sendiri. Cengkaramnnya sedikit melonggar karena setengah wajah pria itu sakit tertabrak topeng peraknya membuat Qira mengarahkan tangan kirinya menyiku dada bidag pria itu. Dan akhirnya ia terlepas.
“Wahh. Kau memang pintar dan kuat ternyata.” Ia bertepuk tangan saat melihat manik mata Qira yang berkelabu dengan amarah yang membara.
“Beri aku penawarnya. Apakah kau tak punya hati membuat orang-orang mati dengan cara yang mengenaskan hmm?” Ia mengangkat satu alisnya.
Pria itu mengangguk. “Lalu apa hubungannya denganmu masalah wabah itu? apakah kau terkenah juga hm?”
“Karena aku manusia yang hidup membutuhkan orang lain. Dengan melihat kesakitan yang mereka rasakan padahal mereka sama sekali tak melakukan suatu kesalahan apapun. Apakah kau dewa yang bisa membuat mati ditangamu.” Bentak Qira.
“Lalu apa yang ku dapat jika aku memberi obat penawar itu padamu hm?” Ia mendekat kepada Qira dengan raut bertanya.
Diamm.
__ADS_1
Qira harus jawab apa?
“Mengapa kau diam? apakah kau tak memiliki apapun yang bisa membuatku tertarik hmm?” Tanyanya.”Tapi sepertinya kematianmu bagus juga untuk balasannya.”
Qira melentangkan tangannya lebar.” Maka lakukanlah jika itu harga nyawa mereka. Aku tak maslah jika harus mati demi hidupnya ratusan nyawa. Aku tak pernah takut mati karena hidup memang bertujuan mati bukan? Aku bahkan pernah mati satu kali, bukankah mati kedua kalinya tak masalah?” Tak ada raut wajah gentar ataupun kebohongan. Suara itu tersirat ketegasan yang kental membuat pria bertopeg semakin kagum.
“Bagimana jika kau menjadi miliku saja. Aku akan memberi penawar wabah itu dan menghilangkan wabahnya. Tapi kau harus berada disisiku dan patuh padaku.” Penawaran itu keluar secara sepontan.
Qira terkekeh” Kau bisa mengambil nyawaku, tapi tidak dengan kebebasanku.”
“Tapi aku hanya ingin itu. Yaitu kau menjadi milikku.” Tangapnya cepat.
Qira tak habis pikir, mengapa semua orang mau merenggut kebebasannya. Kaisar Zauhan, Xaiolenyei, dan pria bertopeng ini. cekkk, Qira bahkan tak habis pikir, apa yang mereka harapkan dari dirinya. Ia sudah tak memakai pemoles wajah, baju tak bagus, namun masih saja menarik perhatian orang lain. “Aku bisa mendapatkan penawar itu tanpa bantuanmu.” Camkan jika Qira tak akan patuh pada siapapun.
Apa ini?
Mengapa Qira luluh dengan mata itu?
Mengapa ia lulu dengan kalimat yang keluar dari bibir pria itu. Qira mencari kebohongan dimata itu, namun sama sekali tak ada kebohongan. Apa yang dilewatkan pria ini membuat hidupnya kosong dan hampa? Ahh, hati Qira lulu. Bukankah pria ini jahat? Mengapa Qira bisa dengan mudahnya lulu.
“Kau tak aneh.” Ucap Qira. ia mendekat sembari menepuk lengan kokoh itu untuk menguatkan.” Hidup memang harus diisi dengan kekurangan untuk mengetahui siapa yang tulus berada disampingmu. Kau harus tau, lebih baik hidup kesepian didunia ini dari pada hidup penuh dengan keramaian namun keramaian dan kebahagiaan yang kau dapatkan itu hanya kemunafikan dan kepalsuan.” Qira terkekeh sebentar setelahnya diam dengan tatapan penuh dengan tulus.” Kau bukan berbeda, namun kau istimewa.” Ucapnya.
“Kau bohong..! Kau hanya tak ingin aku membunuhmu bukan? “ Bentaknya.
__ADS_1
Qira mengangkat bahu acuh.” Jika kau berbeda, itu tandanya kau istimewa, karena apa? Karena Dewa memberimu kelebihan dari yang lain. Kau hanya perlu kata syukur untuk membuatmu bahagia. kau tidak aneh, kau hanya unik.” Qira tersenyum kecil.
Tanpa diduga pria bertopeng itu memeuk Qira erat. Ahh, mengapa orang- ini mudah sekali memeluk Qira. tapi entah mengapa Qira merasakan bahu pria bertopeng itu bergetar, dengan sedikit terdengar nafas yang tercekat bagaikan tangisan yang tertahankan. Tangan Qira beum membalas, namun saat ia merasakan bahu itu semakin bergetar membuat tangannya reflek untuk mengelus punggung kokoh itu.
Apakah pria jahat ini menangis? Misteri apa lagi ini? bagaimana bisa lelaki jahat ini menagis? Apakah hidupnya sangat rapuh?. namun tanpa Qira sadari jika dirinya sudah tak lagi dalam ruangan itu. Namun saat ini ia sedang berdiri diatas batu besar dengan pemandangan yang sangat menabjubkan. Didepannya ada hamparan bunga mangoli yang bermekaran dengan kupu-kupu biru. yang anehnya tempat ini menjadi malam. apakah ini ilusi? Tapi terasa begitu nyata.
Pria itu melepaskan pelukannya menatap manik mata Qira begitu dalam. “Kau orang pertama yang mengatakan jika aku tak berbeda. Kau orag yang pertama mengatakan aku istimewa. Terimakasih, karenamu aku bisa merasakan jika aku dipandang didunia ini” Air matanya jatuh tanpa Qira duga.
Qira pikir ia akan bertarung habis-habiskan karena Qira mengupinng pembicaraannya. Ini apa? Apakah ia sedang dijebak? Atau ia sedang dibodohi. Namun sepertinya pria itu tau apa yang Qira pikirkan.
“Aku sedang tidak membohongimu.” Ia menarik tangan Qira lalu mendudukan diri dibatu tempat ia berpijak, begitupun dengan Qira.
Pria itu menatap Qira lurus. “Bolehkah aku tidur disini.” Ia menunjuk pangkuan Qira.
Qira mengerit, ingin rasanya ia mengelak, namun mata itu menyiratkan permohonan yang mendalam membuat ia mengangguk tanpa disadari.
Pria iru tersenyum kecil dibalik topengnya. Ia merebahkan kepalanya dipaha Qira dengan lembut, matanya menatap bintang yang ada dilangit hitam.”Begini ya rasanya tidur dipangkuan seseorang, andai saja ibuku mau memangkuku seperti ini.” Gumamnya yang masih didengarkan Qira.
Qira tak berkutik, hanya mendengarkan saja.
“Apakah aku boleh minta dielus?” Ia menatap mata Qira penuh harap.
Qira mengangkat tangannya dan mengeus kepala pria itu dengan lembut membuat mata tenang pria tertutup matanya menimati, ada buliran air jatuh dipangkuan Qira. ah ternyata pria itu sedang menangis. Ada apa ini? mengapa pria itu menangis sedari tadi. Apakah ia penjahat lemah.
__ADS_1
“Aku sedari kecil selalu bermimpi ada yang mengelus kepalaku dengan sayang seperti ini, tapi tak ada satupun yang mau mengelus kepalaku sayang. Bahkan ibu dan ayahku mengasingkanku.” Gumamnya.