
Penyakit wabah telah usai membuat Qira dan lainnya akan pergi kembali besok pagi. Kaisar Zauhan dan lainnya akan kembali keistana dengan rasa cangung.
Yaa, Qira yang canggung karena kejadian malam itu dan Qira yang malu. sangat malu membuat suasana sedikit tak menarik untuk diceritakan.
Qira meniup poninya yang sedikit berantakan. Ia melirik kekanan dan kekiri, tak ada siapapun. Sekarang ia berada disungai dekat desa. Ia mengigit bibir bawahnya untuk menghilangkan pikirannya yang melayang akan kejadian malam itu. Ahh, Qira bahkan memukul kepalanya beberapa kali.
Ia menggigit kecil kukunya.” Ahhkkk..” Ia mengusap kepalanya fristasi.” Bagaimana jika aku hamil..” Gumamnya meneglus perut datarnya.
Ia mengambil batu kecil lalu melemparkanya disungai.
Plung....
Beberapa kali memantul dipermukaan karena Qira mengarahkanya meneyrong. Ia gugup dn takut. Ia belum mau mengandung diumur yang masih muda seperti ini.,” Kenapa harus seperti ini? aku bahkan belum menemukan kaum Blerose. Apakah itu benar ada? Atau hanya dongeng semata?” Ia mengutuk kebodohanya berkali kali.
“Ah... Aku merindukan kalian Leon.. Wolf...” Gumam Qira mengerang. Ia kacau. Ia bahkan tak bisa memilih pria lain saat ini.
Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya membuat dirinya hampir melompat keair karena terkejut. “Pukkk... “
Qira melotok. Ia memukul keras perut sang empu.” Sialan kau..! Bisakah kau tak mengangetkanku. Aku bisa mati berdiri gara-gara kau..!” Bentak Qira sembari mengelus dadanya supaya menghilangkan kadar keterkejutannya. Ia juga menghela nafas untuk menetralkan degup jantungnya.
Seseorang itu terkekeh sembari mengelus perutnya yang berdenyut. Bukan main-main tenaga Qira saat menepuk perut kekarnya. Ia bahkan tak bisa membedakan itu pukulan perempuan atau pria. “ Kau ini.. Bisakah kau sedikit lembut. sedikit saja. Hanya sedikit..” Ia mengukur dengan ujung kukunya dan mengarahkan pada wajah Qira.
Qira mendengus sebal.” Tidak... Aku ya aku. jika tak bisa lembut, jadi jika tak suka, kau bisa pergi. Karena aku sama sekali tak peduli. Ennnnnyaah kau dari hadapanku..!” Decap Qira sebal. Ia bahkan memukul kepala pria itu dengan gemes. Ia butuh pelampiasan saat ini.
“Awww. Kau kenapa sii Qira? aku salah apa? Kenapa kau memukul ku begitu keras?” Ia menulat tangan Qira dengan keras karena merasa Qira yang aneh.
“Zoulan.... sedang apa kau disini?” Tanya Qir mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau pria didepannya ini tau permasalannya.
Yaa, pria itu adalah Zoulan sang bermata merah sebela. Ia menatap Qira penuh tanda tanya. Ia tau jika Qira mengalihkan pembicaraan, ia tak suka. Sunguh. “Aku sedang mengawasimu sedari tadi. Nampaknya kau ada masalah membuatku mendatangimu.”
“Kau suka menguntitku?” Qira memicingkan matanya.
Zoulan mengangkat bahu acuh.” Hanya merasakan rindu saja...”
Qira mencebik..” Baru beberapa hari tak bertemu membuatmu rindu? jangan mengada-ngada...”
“Aku tak berbohong. Lagipula siapa yang bisa melawan hati?”
Qira diam. ia tak tau harus menjawab apa. Semua dikatakan Zoulan benar, siapa yang bisa melawan hati? Fyuuhh. Bahkan sang pemilik hatipun tak akan mampu membuat hati seseorang untuk tenang. Tak ada yang mampu mengintrol hati bukan? Kecuali sang pencipta
“Kau akan pergi Qira?” Ia menatap mata Qira lekat sekan menyalurkan rasa kesepiannya yang mendalam.
Qira merasakan sedikit iba pada pria didepannya ini. pria yang sedari kecil ditingal oleh orang tuanya, lalu tak memiliki seseorang teman. “Kau mau ikut?” Tanya Qira hati-hati.
Zoulan mengangkat bahu acuh. Ia menenggelamkan bibirnya lalu menatap kedepan. “Jika aku tau dengan wabah ini hilang kau akan pergi. Aku pasti tak akan memberinya Qira...”
__ADS_1
Qira menghela nafas.” Aku tak meningalkanmu, hanya meninggalkan tempat ini saja. Kau bisa ikut denganku.” tawar Qira.
Lagi-lagi Zoulan mendengus nafas serak. Matanya sedikit menyiratkan kepedihan membuat Qira tak tega.” Aku tidak bisa Qira. apakah kau tak bisa hidup bersamaku saja? Tanyanya penuh harap. Padahal ia sudah tau jawabnnya.
Qira diam. ia harus jawab apa? “Apakah kau tak bisa ikut kekota bersamaku? Aku ta bisa Zoulan..” Cicit Qira keluh.
Zoulan tersenyum tipis. Ia memeluk Qira dengan erat membuat Qira terkejut.”Aku kan selalu berada didekatmu. Aku akan selau berada didekatmu. “Gumamnya beberapa kali membuat Qira tak mengerti.
Qira membalas pelukan ituuu. Ia tersenyum tipis. Ia tak tau harus bertindak seperti apa.” Kau mau ikut denganku?” Tanya Qira membuat Zoulan menggeleng disela-sela pelukan.
Qira melepaskan pelukannya. “Tidak. Aku cukup berada disisimu. Aku akan melindungimu bagaimanapun caranya..”
Qira tersenyum lembut.” Sebenarnya kau orang yang sangat baik Zou. Kenapa kau bisa berubah menjadi jahat seperti ini?” Tanya ira sera dalam hati.
“Bagaimana jika kita pergi sekarang saja kepestival makanannya ?” Tanya Qira. ia ingat jika ia akan pergi kesana.” Tapi kau yang harus membayar makananku. Kau mengerti?” Tanya Qira menaik turunkann alisnya.
Zoulan terkekeh.” Baiklah. Aku untukmu hari ini..” Ucapnya lalu bangkit.
Qira pun bangkit dari duduknya. Ia mengikuti Zoulan dengan senang. Saat ini masih sangat sore. Tapi tak apa, karena Qira akan menghabiskan waktunya disini dengan dengan Zoulan. Ia akan membuat sejarah untuk mereka berdua.
Sesekali Zoulan tertawa dengan Qira. Qira yang meminta memberi Tanghulu. Kembang gula dan juga banyak makanan lainnya membuat Zoulan cukup kagum akan porsi makan Qira.
Tapi tak lama kemudian Zoulan mengajak Qira masuk kedalam sebuah Kedai. Disana ia memesan tempat yang paling spesial. Yaa bahasa gaulnya VVIP. Sebenarnya bukan VVIP, Karena kedai ini memang miliknya, jadi tempat ini menang khusus untuk dirinya berehat ataupun makan.
Srekkk.
Ia membuka tirainya dan matanya melebar saat melihat pemandangan didepannya. sangat indah dan menawan.
Desa yang penuh dengan obor. Yaa, dizaman kuno ini tak ada yang namanya listrik membuat mereka menggunakan lampu kiuno dan lampion.
“Aku harus bicara padamu Qira...” UcapZoulan membuat Qira menoleh kebelakang,
“Ada apa Zou?” Tanyanya sedikit bingung.
Zoulan melirik kursi didepannya.” Bisakah kita bicara dengan duduk saja?” Qira terekeh. Ia mengangguk.” Ada apa Zou?” Tanya Qira heran.
Zoulan termenung sesaat. “ Kau gadis baik membuat aku tak tega untuk mengikuti permainan licik sii tua bangka itu. Qiraa.... Aku akan melindungimu sebagaimana aku mampu, aku yakinkan hal itu tak akan terjadi..” Batin Zoulan. Ingin berteriak mengatakan hal itu, tapi mulutnya terkatup rapat bagaikan tertutup lem.
Zoulan mendekati Qira membuat Qira kaget., Zoulan memeluk Qira saat Qira mau memberontak Zoulan berucap.” Mungkin disuatu saat nanti kau tak akan memelukku seperti ini, maka izinkan aku memelukmu saat ini Qira...” Ia menghirup aroma tubuh Qira erat membuat Qira meremang. Ia merasakan tubuhnya terasa geli. “Au sangat mencintaimu.” Ia mencium pipi Qira membuat Qira diam saja.
Qira menandakan jika ini adalah salam perpisahan mereka. Yaa, ia membalas pelukan itu dan mengelus pundak Zoulan yang rapuh.”Aku akan selalu berada dihatimu. Jangan mengatakan ha seperti itu...”
Malam itu adalah malam dimana Zoulan dan Qira menghabiskan waktu hingga tengah malam. Qira bahkan tak sadar jika sudah membuat kaisr Zauhan cemas. Kaisar Zauhan bagaikan orang gila mencari kesana kemari.
Ahhh, andai kaisar Zauhan tau jika Qira bersenang-senang dengan pria lain. Mungkin bisa jadi tempat itu akan hancur dalam wkatu semalam.
__ADS_1
.....
“Ayoo Latihan lagi Leon... Jangan malas...”
Disisi lain, sosok Leon dan Wolf yang dimalam hari harus berlatih ilmu bela diri dan pedang. Yaa, semenjak kehilangan Qira dan Qira menceritakan tentang ramalan itu membuat Wolf dan Leon belajar ilmu bela diri untuk menjadi lebih kuat. Mereka takut jika ramalan itu pertanda buruk.
Sebenarnyaa bukannya mereka mempercayai hal itu dengan muda, hanya saja mereka takut jika memang hal itu terjadi, setidaknya mereka memiliki kesempatan dan juga menjadi tameng terdepan untuk Qira.
Sudah satu minggu ini Leon tak bersemangat. Ia sangat lemas dan mengkhawatirkan Qira. apalagi saat malam kemarin, ia bahkan tak bisa tidur memikirkan Qira.
Leon mengukir-ukir abstrak ditanah dengan sebilah ranting dengan wajah lesu.” Apakah Qira sudah makan disana Wolf?” Tanyanya.
Wolf berdecap. Bohong jika dia tak merindukan Qira dan tak mengkhawatirkan Qira. sama dengan Leon, ia sangat mengkhawatirkan dan merindukan Qira, karena selama ini mereka yang selalu bersama membuatnya merasa jika Qira itu bagian dari hidupnya.
Kalian bisa merasakannya bukan, jika kalian selalu bersama barang yang kalian sayangi. Saat makan, mandi dan juga semua aktivitas yang dilakukan selalu bersama, dan tiba-tiba barang itu hilang. Hampa rasanya. Tak ada penyemangat hidup. Rasanya oksigen yang keluar masuk dalam rongga dadanya tak berfungsi. Naah, begitulah yang dirasakan Wolf dan Leon.
“Berhenti seperti itu leon.. Qira akan kembali sebentar lagi..” Wolf menatap Leon dingin.
Wolf lebih bisa mengendalikan ekspresinya. Yaa, meskipun ia khawatir pada Qira. wajahnya masih dingin dan datar. Mungkin karena dia yang sudah terlatih menjadi dingin dan berwibawah. Hanya saja, ia bisa menjadi kekanakkanakan jika berada disisi Qira. ia bagaikan anak kucing yang memohon sentuhan dan elusan yang majikan.
“Apakah Qira baik baik saja disana Wolf?” Tanya Leon tak menggubris perkataan Wolf.
Wolf memijit pelipisnya.” Berhenti seperti ini Leon. Ayyoo kita latihan, sebentar lagi guru akan segera sampai..” Ucapnya.
“Apakah Qira sudah tidur Wolf? Biasanya kita masih berada dihutan atau dijalanan jika jam segini.. “ Ia terkekeh pelan.” Kau ingat? Kita bahkan hampir tidur diperahu akibat Qira. yaa, saat kita baru memasuki kerajaan ini...” Lanjutnya.
Wolf mengeleng. Leon bagaikan orang stres berat. “Leon.. berhenti seperti ini. kita harus menjadi kuat untuk melindungi Qira. kau ingin Qira baik-baik saja bukan... Jangan seperti orang gila...!”
“Aku hanya merindukannya Wolf. Apakah Qiira juga merindukan kita?” Leon yang sedari tadi menatap kedepan sekarang menatap Wolf yang menjulang tinggi didepannya.
Olf berdecak pinggang. Hilang kesabarannya,” Pertanyaan bodoh macam apa itu? Pltak...
“Awww. Sakit Wolff... Aku aan mengadukanmu pada Qira nanti...” Leon mengelus kepalanya yang dijitak oleh Wolf.
Plak..
Plak..
Plukk...
“Hey...
“Plak.”
“Wolf cukup... Apa-apaan kau ini. kepalaku sakit... Ketampananku nanti bisa hilang jika kau berbuat seperti ini...” Leon yang mendadapatkan tepukan dari Wolf secara gemes itu mengaduh dan menolak.
__ADS_1