
“Wolf cukup... Apa-apaan kau ini. kepalaku sakit... Ketampananku nanti bisa hilang jika kau berbuat seperti ini...” Leon yang mnjadapatkan tepukan dari Wolf secara gemes itu mengaduh dan menolak.
Wolf masih dengan tangan yang siap dilayangkan lagi dengan gigi bawah dimajukan karena gemes.” Tanya lagi pertanyaan bodohmu ituu.. Biarku tabokkan semua tubuhmu sekalian...” Ia gemes seperti mau menabok lagi tapi tak jadi.
Leon berdecap sebal. Ia bangkit lalu mendekati Wolf. Ia memasukan kepala Wolf diketeknya gemes.” Hmm.. Mamam tu ketekku.. Malam tu..” Ia mengimpit kepala Wolf secara kasar dihimpitan ketiaknya.
Wolf yang tak tau tadi sekarang memberontak..” Leon.... Kau mau membunuhku. Lepaskan aku..” Ia menepuk asl Leon.
Periut Wolf mual... Ahhhaaa... Mereka belum mandi sedari sore. Leon terkekeh tapi perbuatannya terhenti ketika mendengar suara lembut yang mendatangi mereka.
“Ehemmm. Selamat malam..” Sang empu memautkan jari-jarinya dibelakang punggung. Jangan lupakan senyum manis yang terukir. Ia menggunakan hanfu mewah dengan hiasan kepala yang tak sedikit. Matanya melirik Leon dan Wolf secara bergantian.
“Kalian sedang apa?” Tanyanya karena tak mendapatkan balasan.
“Hanya bercanda..” Jawab Leon datar.
Leon melepaskan Wolf dengan dengusan.” Aku mau mandi terlebih dahulu. Kau latihanlah terlebih dahulu. sampaikan salamku pada guru....” Ucap Leon lalu pergi.
Dan sekarang hanya ada manik mata sendu sang gadis saat melihat sang pujaan hatinya berlalu pergi. Yaa, dia menyukai Leon dengan hatinya, tapi sayangnya Leon selalu bersikap acuh tak acuh. Leon sering mengabaikanya membuat dirinya terpuruk.
"Dimana guru? "Tanya Wolf melirik kanan dan kiri mencari sosok paru baya sebagai gurunya itu.
"Belum sampai. Mungkin sebentar lagi."Jawabnya lesu. Ia masih menatap punggung Leon yang sudah menjauh dari pandanganya.
Kalian ingat gadis yang membantu Leon mendapatkan beruang putih saat itu?
“Jangan hiraukan dia... Dia sedang merindukan Qira...” Ucap Wolf kasihan.
Sebenarnya pertama Wolf melihat gadis didepannya ini, ia cukup terkejut. Karena parasnya yang hampir mirip pada adiknya dulu. Yaa, shofia yang diculik. Awalnya ia menyangkah jika didepannya ini memang adiknya.
Karena apa? Karena usianya yang sama, kulitnya yang snamanya yang juga hampir sama. Hanya berbeda Shofia dan Via. Yaa, hanya itu... Belum lagi sifat manjanya. Tapi sayangnya Via tak bisa berubah menjadi serigala seperti Wolf. Jika dia memang adiknya Wolf, dia pasti bisa berubah menjadi serigala.
Ditambah Via tak memiliki tanda kelahiran untuk kaum keluarga kekaisaran. Yaa, setiap keturunanan kekaisaran ada tandanya. Biasanya ada dibagian punggung. Tapi Via tak memilikinya membuat dia tau jika didepannya ini bukan adiknya. Tanda itu berupa tato serigala putih yang mengaung diatas gunung, menandakan derajatnya yang tinggih.
Hanya saja, karena wataknya dan juga semua yang sama pada Vida dan Shofi adiknya membuat dirinya mengangap jika Via adalah adiknya. Setidaknya ia bisa merasakan kehadiran adiknya. Hanya itu..
“Sebenarnya seperti apa sii Qira itu? Sampai-sampai setiap hari kalian membicarakannya... Aku jadi penasaran..” Gumam Via kesal..
Selalu selalu dan selalu saja Qirra... Qira.. dan Qiqi... ahh, sampai-sampai Via bosan mendengar nama itu selalu mendengung ditelinganya. Apakah dia sangat cantik? Apakah kehebatannya lebih besar dari pada dirinya? Dia hebat. Bisa memiliki ilmu tenaga dalam, bisa berpedang dan juga bela diri. Apa lagi coba.
“Dia berbeda. Tak bisa dijabarkan kata-kata. Karenanya Leon tak bisa hidup tanpa Qira... Begitu juga denganku..” Jawab Wolf lembut.
“Tapi... Gadis yang kalian ucapkan itu belum tentu memikirkan kalian. contohnya saja seperti saat ini, ia bahkan pergi dan kalian mati-matian belajar ilmu bela diri demi dia..” Ketus Via kesl. Sudah satu hula mendekati Leon, sama sekali tak ada balasannya.
Dia tak tau saja bagaimana Qira melindungi Wolf dan Leon. belum lagi Qira yang mengorbakan nyawanya demi kebahagiaan Wolf. Aahhhhh.
Wolf mengerang marah.” Kau tak tau saja. Jadi jangan banyak bicara... Untungnya kau bicara didepanku, jika kau bicara didepan Leon. Aku sudah pastikan jika kau tak akan mendapatkan cintanya Via...” Desis Wolf kepada Via.
“Kau belum melihat fisiknya Via... Jangan menilai seseorang karena hatimu yang iri dan dengki. Jangan mengucapkan apapun saat kau sedang marah, jangan menilai saat kau belum tau apa yang kau nilai. Hidup ini tak selalu kau dapatkan Via. Jangan melewati batas. Nanti kau akan mati. jika bukan Leon yang membunuhmu, maka aku yang membunuhmu nanti...” Desis Wolf lagi. Ia melirik Via tajam. Ia tak suka Qira dijelek-jelekkan. Apa salah Qira coba?
__ADS_1
“Jangan salahkan takdir jika kau mati ditangan pria yang kau cintai..” Lalu Wolf pergi menemui guru yang hanya diam diatas meja bambu yang dibuat sedemi kian rupa.
Via menggigit bibir bawahnya takut. Ia merasa bersalah sudah membuat Wolf marah, karena selama ini Wolf tak pernah memarahinya seperti itu. Apakah ucapanya keterlaluan? Ahh,, Via mengutuk dirinya bodoh...
“Selamat malam guru..” Wolf membungkuk pada pria didepannya ini.
Pria paru baya yang aslinya bermata biru itu merubah matanya menjadi coklat kehitaman. Dengan rambut panjang yang separuhnya sudah berwarnah putih itu mengangguk dengan pedang ditanganya. Ia melirik Wolf dengan raut tanda tanaya. “Dimana Leon?”
“Leon sedang mandi guru...” Wolf sudah mendirikan lagu punggungnya.
Guru itu menghembuskan nafasnya.” Apakah dia malas mandi lagi karena merindukan Qira?” Ya dia tau jika Wolf merindukan Qira membuat dirinya juga ikut prihatin.
Wolf tersenyum.” Benar hehe..” Ia tercengir..” Cucumu memang sudah meracuni kami semua Guru...” Ia menggaruk kepalanya yang terasa mau digaruk.
Yaa... Wolf tau jika gurunya ini memiliki mata biru. Dia tau jika gurunya ini adalah kakek dari Qira. karenanya ia belajar pada kakek Qira ini. karena apa? Karena ajakan kakeknya snediri.
On Flashback...
Leon yang tidur dibawah pohon, menghirup udara segar yang sangat membuat oatanya fres... Sedangkan Wolf yang belajar berpedang. Ia bahkan sudah dua jam lamanya berlatih membuat bajunya basah karena keringat. Tapi tak masalah, itu bukan halangan untuknya. Itu bagian dari kerja kerasanya.
“Berhentilah Wolf.. Kau mengusik ketenanganku saja...” Decap Leon sebal karena mendenar dentingan pedang Wolf.
Wolf diam tak menggubris. Ia masih berpedang dan belajar membuat Leon menegakkan tubuhnya dan menatap Wolf penuh tanda tanya.” Kau ini kenapa? Tak bisanya kau berlatih pedang seperti ini...” Decap Leon tak mengerti. Biasanya Wolf hanya menghabiskan waktu dua jam saja untuk berlatih. Itupun hanya dimalam hari membuat dirinya radah aneh. Ini siang bolong loo...!
kepala saja bisa pecah karen aterik matahari ini.
Wolf menghentikan gerak tanganya, dengan nafas yang memburu ia menatap Leon serius. Ia mendekat lalu mengambil botol yang terbuat dari bambu itu. Ia meneguk air secara tak sabaran. “Aku hanya berlatih saja. Aku berlatih untuk Qira..” Jawabnya.
Wolf diam sebentar. Ia melirik Leon serius.” Aku takut ramalan Qira memang benar-benar terjadi..” Jawabnya.
Leon menggeleng lalu menidurkan lagi tubuhnya.” Jangan mendahului takdir Wolf. Masa depan tak ada yang tau. Bahkan jika kau merencanakan suatu hal saat ini, belum tentu kau bisa menjalankanya dikemudian hari...” Ucap Leon singkat.
“Jika kita bisa mendahului takdir mengapa tidak Leon? Kau harus tau, jika yang diucapkan Qira itu bukan main-main... Aku takut hal itu terjadi dan kita tak ada gunanya untuk Qira..” Wolf mendadak menjadi tak terkendali.
Leon membuka satu matanya menatap Wolf. “Aku tak mempercayai ramalan konyol itu..” Ucapnya singkat.
“Leon... Jika kau tak percaya, maka persiapkan saja diri kedepannya, jika tak terjadi kita bersyukur, tapi jika sudah terjadi, maka kita memiliki bekal ilmu bela diri kedepannya. “Wolf menatap Leon serous.” Jika kita tak bisa menyelamatkan Qira. setidaknya kita mati dalam keadaan terormat. Masa kita mati hanya dalam hitungan detik. Malu dong..” Ia mengerucutkan bibirnya.
Leon membuka matanya lalu menatap Wolf tersenyum.” Lalu kau hanya mau memperpanjang nyawamu saat perang terjadi?” Tanyanya meremeh.
“Tentu saja. Setidaknya jangan nampak tak berguna..” Wolf mengangguk yakin membuat Leon terkekeh.
Namun pembicaraan mereka terhenti ketika suara dibelakang mereka mengagetkan ereka.
“Kau benar anak muda. Jika takdir belum bertindak, maka usahamu harus mendahuluinya...” Suara itu terdengar berat. Ia memandang Wolf dan Leon secara bergantian.
Leon dan Wolf menatap asal suara.” Kau...?”
“Yaa... Kau tau siapa aku...” Ucapnya memotong.
__ADS_1
“Sejak kapan kau disini?” Tanya Wolf sewot.
Pria paru baya itu menghela nafas.” Cucuku dalam bahaya. Dia termakan jebakan... Masalah ramalan, itu memang akan terjadi jika kita membiarkan itu terjadi..” Ucapnya pelan.
Cucu?
Wolf dan Leon mengerutkan keningnya.” Siapa cucumu? Untuk apa kau menceritakan cucumu pada kami. sudah sana, pergi...!” Ia mengibas-ngibaskan tangan tak sopan.
Kakek itu menatap Wolf dingin.”Andai saja cucuku besar ditanganku. Aku tak akan membiarkannya berteman dengan kalian...”
“Apasiii kek... Bicaralah dengan baik dan benar... kami bukan peramal yang tau teka-teki. Kami ini polos dan lugu... Tak muda paham akan ucapan tak jelas darimu..” Cetus Leon kesal mendenhar cerita kakak didepanya muter-muter.
“Dasar anak muda kurang ajar..” Geritu kakek itu..
“Itu namanya kau lemot... bukan polos. Kau terlalu bodoh untuk mengartikan sesuatu...” Celetuk Wolf membuat Leon mencebik.
“Qira adalah cucuku.” Kalimat itu cukup membat Wolf dan Leon terkejut. Mau menjawab namun terpotong oleh kakek.” Aku baru tau jika dia cucuku. Jika aku tau, aku tak mungkin membahayakan cucuku sendiri dalam misi ini...”
“Maksudmu? Jangan bercanda. misi apa? Tanya Wolf serius.
“Qira itu cucuku. Anak dari ZhZhi putriku. Dia dulu kabur saat tau kejahataanku.Aku mencarinya kemana-mana, tapi tak menemukan apapun membuat aku berasumsi bahwa dia sudah meningal. Tapi nyatanya ia sudah memiliki seorang putri yang cantik..” Ia tersenyum tipis. Senyum bercampur kerinduan.
“Aku ikut membantu cucuku bangkit dari kematiannya demi memuluskan rencana kotor dia. Aku juga yang menghantarkan Zuzu untuk menjadi mata-mata diistana. Tapi saat malam itu aku mendengar ucapan tuanku mengatakan jika Qira anak dari permaisuri Zhizhi membuatku terkejut. Aku mencari tau apapun tentang Qira. dan mendapatkan fakta bahwa dia cucuku. Putri dari putriku...”
“Aku yang menjadi peramal saat itu. Aku yang mengatakan hal itu, semua yang aku beri itu adalah gambaran dari masa depan Qira jika ia masih dalam kehidupannya yang acuh tak acuh. Ia terlalu acuh sampai-sampai tak menyadari jika hidupnya selama ini hanya pion untuk kaum kami mencapai puncak. Padahal Qira tak ta apa apa.”
Qira tak paham akan kode dari kakeknya membuat Qira dim saja. Padahal kakaknya memberikan tau itu demi keselamatan Qira dan membuat Qira paham akan kehidupannya.
“Apa maskdumu?” Tanya Wolf dan Leon serempak. Mereka berdiri untuk mendengarkan cerita lebih lanjut. Wajah yang awalnya bercanda sekarang menjadi serius...
Pria paru baya itu menatap sekeliling tapi tak menemukan siapapun membuat dirinya mulai bercerita..” Sebenarnya gadis yang berada ditubuh Qira itu bukanlah seorang gadis asli. Dia hanya jiwa yang dipanggil oleh kami. kaum roseble untuk membuat Qira sebagai boneka. Dengan kepintaranya yang ia bawah dari dunia moderen, wajah yang cantik dan mata yang berwarnah biru akan mampu menjatuhkan negara.
"Jangan gila...! Mana bisa seperti itu..! Kau pikir nyawa itu mainan?!" Bentak Wolf tk percaya.
"Diam dan dengarkan dulu..! " Ucap sang kakek membuat Wolf bungkam.
“Tapi sayangnya kami salah. Karena Qira tak menyukai hal berbauh wanita membuat dirinya acuh terhadap penampilan. Ia tak suka memoleskan wajahnya membuat ia tak terlihat begitu cantik. Ia yang tak suka menggeraikan rambut dan ia yang tak suka menggunakan hanfu membuat dirinya seperti laki-laki. Awalnya kami kira jika usaha kami terhadap Qira akan gagal dan membuat kami diam saja.”
“Lalu setelahnya aku mengusulkan untuk membuat Qra menjadi kuat. Dan aku diutus untuk mengajarkan Qira ilmu bela diri..”
“Qira belajar dengan kakak Lue bukan denganmu..!” Ketus Leon.
Pria didepanya itu memejamkan matanya, dan beberapa detiknya ia berubah menjadi wujud kakek Lue.. wajah sama, keriput yang sama dan juga tubuh yang sama.
"Jadi begini wujud kakek lue." Batin Wolf yang belum pernah ketemu kakek Lue...
Tentu saja Wolf dan Leon terkejut membuat mereka mundur beberapa langkah dengan mata yang melebar dan tubuh telah siap kuda-kuda, “Ap appp maksuddmu? Jangan bercanda..!” Ucap Leon gugup.
Sosok itu menampilkan raut penyesalan yang mendalam.”Aku mendidik Qira menjadi watak yang menawan. Watak yang awalnya ceria dan baik hati menjadi dingin namun berhati mulia. Aku menanamkan sifat-sifat yang akan membuat siapapun kagum padanya. Belum lagi aku mengajarkannya ilmu api dan angin yang tak ada siapapun yang memilikinya.”
__ADS_1
“Semua itu sudah direncanakan semua. Mulai dari Qira yang bertemu dengan kaisar Long Wey dari kerajaan Awan. Kau pikir siapa yang menaburkan wabah dikerajaan awan, saat kaisar Wey yang hampir dibunuh. Itu kami yang sudah merencanakanya....”