Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
hujan


__ADS_3

Pangeran Wex terkejut saat mendengar ucapan Qira. ‘berarti dia berhenti karena nungguin aja.’. “ Ikuti saya.” Ucapnya santai.


Qira hanya mengangguk sambil mengangkat tinggi hanfunya. Kalian bisa bayangkan kan gimana rasanya pakek gaun panjang dihutan?. Ia hanya diam mengikuti pangerat Wex.


Pangeran Wex menggunakan ilmu angin, tapi hujam membuatnya berhenti. Ia berhenti disebua kedai disalah satu desa.


“Kenapa kita berhenti disini?” Tanya Qira datar.


“Sekarang sedang hujan, kita harus berteduh sebentar. Jika tidak, kau akan sakit.” Jawab pangeran Wex.


Seluruh mata menatap Qira tanda tanya. Mungkin karena baju dan dandanannya. Qira berdecap sebal. Ia melihat sekitar, utungnya ia ingat jika ia pernah melewati jalanan ini. “ Aku pergi duluan.” Ucapnya Sambil pergi menerobos hujan. Dia lebih baik hujan-hujanan dari pada ditatap banyak orang.


“Hey.... Tunggu..” Teriak pangeran Wex saat Qira sudah melesat jauh. Ia berdecap sebal saat kehilangan Qira.


“Siapa sebenarnya dia.” Gumamnya heran. Ia memilih kembali keisatana saja dari pada makan sendiri.


Qira sampai diistana kerajaan barat dengan baju yang basah kuyup. Ia memilih masuk kedalam kediaman kaisar Zauhan. Ia sampai hari sudah gelap. Saat ia masuk, ia bisa melihat kaisar Zauhan yang hanya menggunakan handuk, rambut panjangnya basah terhurai begitu saja, bulir-bulir air bagaikan mebun dipagi hari menaburi wajahnya.


Bodong jika Qira tak mengagumi ketampanan kaisar Zauhan, tapi wajahnya terlalu kaku untuk menunjukan jika dirinya terpesona. Ia melangkahkan kaki untuk masuk, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara berat kaisar Zauhan.


“Berhenti..!” Ucapnya dingin.


“Hn...?” Gumamnya bertanya, ia mengangkat satu alisnya.


“Mengapa kau disini?” Tanya kaisar Zauhan.


Qira berdecap sebal. “ Karena aku bangun disini, ku kira ini kediamanku.”


“Ini bukan kediamanmu.” Ucapnya dingin.


“Lalu aku tinggal dimana?”


“Terserah.”

__ADS_1


Qira menatap kaisar Zaihan tajam lalu pergi meninggalkannya. Ia memilih pergi dengan baju basah. Ia menaiki pohon yang tak jauh dari kediaman kaisar Zauhan. “Mau ganti baju nggak ada baju. Mau tidur nggak ada kasur. Apa guna aku disini.” Gumam Qira sebal.


Qira memilih menyenderkan punggungnya didahan yang menurutnya cukup kokoh. Ia melipatkan tangannya didada. Ia memejamkan matanya disela-sela menggigil karena kedinginan. Kalian bisa bayangkan bukan basah karena hujan ditambah dinginnya malas habis hujan.


Beda dengan kaisar Zauhan saat ini. ia merasakan ada yang aneh dihatinya. Ada setitik rasa bersalah. Mengapa? Bukannya ia tak kenal ampun? Bukannya ia orang yang kejam? Tapi mengapa karena mengusir gadis kecil yang basa kuyup dimalam hari mebuatnya tak bisa tidur dan merasa bersalah.”Fhuu...” Ia menghenbuskan nafsnya. Ia memilih keluar kediaman mencari angin segar.


Kakinya melangkah ringan menuju taman disamping kediamannya. Ia berfikir, dimanakah Qira tidur? apa ia pergi dengan sahabatnya? Ia juga masih memikirkan bagaimana Qira tertawa bahagia bersama Leon dan Wolf. Bagaimana Qira dicium sayang oleh mereka. Yang lebih paranya Qira mencium pipi mereka juga. Apa semurah itu ia menjadi seorang gadis?. Tapi matanya tertuju menatap langit yang tak ada bintang.


Matanya turun dan mendapatkkan kain merah yang berada di atas pohon. Keningnya mengernyit heran. Kakinya mendekat untuk melihat benda apa itu. Tapi saat sudah dekat, betapa terkejutnya ia mendapati Qira yang tertidur disana dengan menggigil.


Matanya menatap Qira iba. Bagaimana bisa seorang gadis tidur Di pohon? Apa ia tak takut jatuh? Tapi apakah ia tidak mengganti baju? Kaisar Zauhan lupa jika Qira tak memiliki baju. Entah angin apa yang merasukinya/. (Ea ea..)


Ia memanjat pohon itu dengan melompat, ia menggendong Qira untuk turun dari pohon.


Bibir Qira bergetar saat ini. kecantikannya saat ini tertutupi dengan wajah pucatnya.


“Peluk aku Guang Lii... Juang Lii..” Guammnya. Mungkin Qira merasakan dingin bagaikan ia tercebur dikolan dahulu.


Ia melangkah memasuki kediamannya.


“Ambilkan hanfu terbaik sekarang.” Perintahnya pada kasim yang menjaga diluar kediamannya.


Ia meletakkan Qira dikasur. Tangannya terulur menaruh punggungnya dikening Qira. Panas, itu yang ia rasakan. “Apa kau bisa demam?” Tannyanya.


Entah mengapa ia terkekeh saat tau jika Qira bisa demam. Tapi matanya menatap bibir Qira. Jempolnya teruliur menyentunya, ia menguspanya pelan. “Rasanya aku tak rela melihat kau mencium mereka.” Gumamnya.


Entah inisiatif dari mana, ia mencium puncuk kepala yang Leon cium tadi, ia juga mencium pelipis yang dicium Wolf. Dan ia juga mencium mata kanan dan kiri Qira. Matanya beralih menatap bibir pucat Qira.


Cup..


Ia mengecup pelan bibir Qira. “Itu untuk menghapus ciumanmu kepada siapapun yang kau cium.” Ucapnya. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya. Ia bahkan tak sadar melakukan hal itu. Rasanya jantungnya berdegub kencang. Tapi matanya beralih menatap kebelakang yang mendapatkan pelayan wanita yang membawa hanfu.


“A ampun yang mulia. Ham am-“ Suara pelayan itu bergetar. Ya, dia menyaksikan kaisar Zauhan yang mencium Qira. Keringatnya muncul. Ia masuk dengan permisi tapi tak mendapat sambutan. Tapi ia mendapatkan suguhan yang membuat seluruh dunia terkejut.

__ADS_1


“Ganti bajunya.” Ucap kaisar Zauhan dingin. Ia memilih duduk dikursi sembari menatap Qira yang diganti bajunya. Matanya tajam menatap beberapa pelayan yang datang ingin membantu pelayan tadi mengganti baju.


“Kalian mau apa?” Tannya kaisar Zauhan.


“Am ampun Yang muliia. Ham hamba i ingin membantu yang mulia permaisuri mengganti baju.” Jawabnya takut.


“Biarkan satu saja. Kalian panggilkan tabib saja.”


“Ba abik yang mulia.”


Mereka bergegas pergi meninggalkan kaisar Zauhan yang masih menatap Qira tajam. Seluruh apa yang dilakukan pelayan itu tak luput dari pandangan kaisar Zauhan. Pelayan yang ditatap hanya bergetar smabil menjalankan tugasnya. Saat tekah selesai ia membungkuk. “ Su Sudah yang mulia.”


“Keluar.” Ucap kaisar Zauhan dingin. Dengan cepat pelayan tadi keluar, menyisakan kaisar Zauahan. Setelahnya datang tabib yang telah dipanggil pelayan.


“Salam kepada yang mulia. Semoga hidup seribu tahun.” Sapanya hurmat.


“Lakukan tugasmu.” Tanpa mau basa basi.


Tabib itupun langsung memeriksa Qira. Tapi terkejut saat suara kaisar Zauhan menggema kembali. “ Periksa tanpa membuka bajunya.” Ucaonya dingin.


Sontak saja tabib itu terkejut. Ia baru saja meletakkan punggung tangannya dileher Qira, ia hanya ingin mengecek suhu tubuh Qira. “Ba baik yang mulia.” Jawabnya gugup.


Sesaat setelah tabib itu memeriksa keadaan Qira. Ia menghadap kepada kaisar Zauhan yang menatapnya dengan raut tanda tanya. “Am ampun yang mulia. Yang mulia permaisuri Ming Zu hanya demam tinggi karena udara. Jadi yang mulia tidak usah terlalu khawatir.” Tabib itu terdiam sejenak “Nanti akan saya bawakan obatnya kesini yang mulia. Saya akan segera membuatnya.” Lanjutnya.


Kaisar menatap tabib itu dingin. “ Siapa yang khawatir. Kau boleh keluar.” Jawabnya.


Tabib itu hanya mengernyit bingung. Kaisar Zauhan tak khawatir? Lalu mengapa sedari tadi ia menatap tabib itu seperti serigala lapar. Ya, ketika tabib itu memeriksa keadaan Qira. Semua gerak dan gerik tabib itu tak luput dari pandangannya.


“Saya undur diri yang mulia.” Ucap tabib itu dengan membungkuk lalu pergi. Tapi tertahan ketika kaisar Zauhan kembali bersuara.


“Antarkan segera obat itu dan jangan lupa sup jahe.” Ucapnya dingin.


‘Tidak khawatir kah? Lalu untuk apa itu semua.’’ Ingin rasanya tabib itgu menjawab. Tapi sayangnya ia masih sayang keluarganya. Ia berbalik. “Baik yang mulia. Akan saya laksanakan.”

__ADS_1


__ADS_2