
“Am ampun yang mulia. Maafkan hamba yang tak bisa menyambut yang mulia.” Ia Berlutut sama seperti pemuda itu.
“Apakah obatnya telah selesai? bagaimana perlengkapannya?” Tanya kaisar Zauhan tegas. Ia menyembunyikan kedua tangannya dipunggung. Saat ini kaisar Zauhan menggunakan baju pria yang berwarnah navy dengan bahan sutra kualitas sedang, dengan kepala yang ditutup topi lebar berwarnah hitam.
“Sudah yang mulia. Hanya saja persiapannya belum—“
“Apa persiapannya belum selesai?” Potong kaisar Zauhan dengan aurah mengintimidasi.
Qira menghela nafas sembari menatap Ren yang diam saja. “Sudahlah Zou. Lebih baik kita bantu mereka mempersiapkan semua perlengkapan dan kita bisa pergi kesana, lagi pula sebentar lagi akan malam. Dengan kau marah sperti ini kau tak akan menyelesaikan perkaranya.” Qira sudah mengganti panggilan kaisar Zauhan seperti yang sudah diarahkan dijalan tadi. Yaa, supaya penyamaran mereka tak terungkap.
“Benar yang mulia. Perjalanan kita yang mendadak ini membuat tabib Yaoyao kerepotan. Ia hanya menghabiskan satu malam untuk mengambil dan menyiapkan obat. Dia juga manusia biasa.” Sahut Ren. Ia juga tak enak hati karena ia mendatangi tabib Yao-yao kemarin malam, sudah pasti semalam tabib Yaoyao itu pergi kehutan untuk mencari obat, apalagi ia juga harus menumbuk dan membersikan bahan-bahan yang ada. Belum lagi peralatan seperti gerobak pembawa obat dan sebagainya.
Kaisar Zauhan sedikit mengangguk. “Ren. Bantu mereka,” Ucapnya. Ia cukup mengerti sukurnya.
“Apa aku bisa membantu?” Tanya Qira pada tabib Yaoyao. Ia rindu tabib Chan rupanya.
Tabib Yaoyao menatap Qira heran. Siapa gadis ini? seperti itulah pemikiranya. “An anda siapa?” Tanyanya.
“Dia istriku. Jangan ganggu dia dan jangan menatapi dia.” Uca kaisar Zauhan sembri merangkul pingang Qira erat.
Taotao berkedip menatap ayahnya, ia baru sadar jika kaisar Zauhan itu menyinggungnya. Ia baru saja menatap Qira saat ayahnya Yaoyao menanyakan Qira. “Ba-baik yang mulia.” Jwaab Yaoyao sembari meneguk silva kasar.
“Hamba membantu mereka dahulu ya yang mulia.” Ren pergi membuntuti Tabib Yaoyao dan anaknya. Padahal Qira sangat mau ikut.
“Silakan masuk terlebih dahulu yang mulia. Sebentar lagi akan gelap.” Uap Taotao sopan.
__ADS_1
Kaisar Zauhan mengngguk sembari merangkul Qira untuk memasuki rumah. Sedangkan yang lain mengikuti kaisar Zauhan dari belakang.
Qira memilin jempol kaisar Zauhan yang berada dipinggangnya. Bisa-bisanya kaisar ini memeluknya didepan orang. “Bisakah kau melepaskan ikatanmu ini.” Ucap Qira.
Kaisar Zauhan mengangkatkan satu alis sembari mengusir yang lain untuk pergi. Ia mengibaskan tangannya. “Maksudmu ikatan apa?” Ren dan lain nya pun paham, mereka pergi sebelumnya membungkuk hormat.
Qira menunjukan pundaknya yang terukir gambar pemikat dirinya dan kaisar Zauhan. “Aku tak akan kabur darimu. Aku tak mau terkekang dengan 50langkah. Ini sangat konyol, ditambah kita kita akan melewatkan bahaya didepan. Bagaiana jika kau lari untuk mengejar penjahat atau aku harus melawan orang lain. Kita tidak bisa seperti ini. kembalikan kebebasanku.”
“Aku yang akan melindungimu dan aku tak akan meninggalkanmu.” Jawab kaisar Zauhan membantah.
“Apakah kau Dewa yang tau masa-masa sulit didepan? Aku akan tambah membencimu jika kau tak memberiku kebahagiaanku. Kebahagiaanku hanya kebebasan” Qira berucap dengan sungguh-sungguh.
“Tapi kau akan pergi dariku.”
Qira menggeleng.” Aku bukan pengecut yang lari dari janjiku. Dua minggu bukan?” Ucapnya santai.
Qira tersenyum senang lalu memeluk kaisar Zauhan dari belakang yang sudah mau pergi itu.” Terimakasih.” Ucapnya lau melepaskan pelukan itu. Ia bagaikan menemukan harta karun yang sangat besar. Ia memilih pergi kedapur untuk membantu Ren dan lainnya.
Kaisar Zauhan mematung ditempatnya. Ini pertama kali Qira memeluknya duluan. Ahh, ia meletakkan tangannya didada karena merasakan jantungnya yang berdetak berkali-kali lipat lebih cepat. “Mengapa setiap Qira menyentuku tasanya disini bergetar hebat dan tak karuan.” Gumamnya. Ia tak bisa mengelak jika dirinya bahagia dan sangat bahagia. “Apakah ia mulia menerimaku?” Gumamnya smebari tersenyum tipis.
...
Qira berjalan kedapur dengan bahagia. ia menatap Ren dan lainnya yang sedang bersiap-siap. Ada tabib Yaoyao dan anaknya Taotao yang sedang memasukkan obat-bat itu kedalam keranjang, ada Ren yang membantu menumbuk sedikit obat-batan, sepertinya sudah selesai. Ia mendekat sembari menatap tabib Yaoyao. Jika dipikirkan nama mereka itu lucu ya. Kenapa enggak tayo saja? Ahh, ia merindukan televisi saat ini.
“Ehmm.” Qira berdehem sebentar.” Apkah ada yang bisa aku bantu?” Tanya Qira tegas dan datar. Tapi terkesan ramah.
__ADS_1
Tabib Yaoyao mendongakdan menatap Qira terkejut.” Ti tidak yang mulia. Ham hamba ehm, kami sudh selesai. Yang mulia bisa duduk dan istirahat saja bersama yang mulia kaisar.” Ucapnya gugup sembari menunduk takit.
Qita mendekat tanpa mau mendengarkan jawaban dari tabib Yaoyao. Ia memilih menatap obat-batan yang diatas meja. Ia mencium dan mengamati tumbuhan apakah ini?. “Tak usah seformal itu padaku. Bersikaplah selayaknya padaku.” Jawab Qira datar.
“Formal?” Beo Taotao.
Qira mendengus kecil. Kata Formal belum ada dizaman ini” Maksudku Hormat. Panggil saja aku Qira.” Ucapna setenang mungkn.
“Tapi nanti yang mulia kaisar menghukum kami.” Jawab tabb Yaoyao.
Qira diam sembari menatap Yaoyao dan Taotao yang menunduks embari menghentikan aktivitasnya. “Tidak akan. Lanjutkan pekerjaan kalian dan tegakkan kepala kalian.”
Tabib Yaoyao masih menunduk begitu pula dengan Taotao.tapi segera mendongak saat Qira kembali berbicara. “Jika kalian masih menunduk dan tak mau menatapku saat bicara. Maka mata kalian akan aku congkel supaya tak bisa menatapku sekalian. Kalian itu lebih tua dariku, jadi seharusnya aku yang menghormati kalian.” Ucapnya sedikit kesal.
Glegh.. menatap Qira kaisar Zauhan akan membunuh, tak menatap Qira mata mereka akan dicongkel. Apakah dunia sekejam ini menemukan manusia yang sama-sama sadis ini.”Ba baik yang mulia.” Taotao mencari aman saat ini.
Qira mengangguk sembari meletakkan dedaunan yang ia ketahui namanya daun perak. Ini adalah daun yang berfungsi untuk menghilangkan kebusukan kulit karena melepuh. Penyakit apakah yang menyerang desa Hujan? Pertanyaan Qira. apakah sama dengan virus corona? “Mengapa desa kalian tak terkenah wabah juga? Padahalkan bertetanggan desanya?” Tanya Qira.
“Karena desa kami dan desa Hujan itu sudah 40tahun bermasalah. Desa Hujan tak boleh masuk didesa kami begitu juga desa Cemara. Karena itu kami memiliki pagar pembatas yang sangat tinggi dipinggir hutan pemisah antara desa kami dan desa Hujan.” Jawab Taotao. Sedangkan Yaoyao sudah menyiapkan obat-obatan. Tao memilih untuk menemani Qira saja.
Qira menaiki satu alis. “Apa masalah kalian?” Tanya Qira.
.
.
__ADS_1
.