
Duduk di bagian paling depan tak dapat mendengar apapun saat itu.
Qira melangkahkan kakinya mendekat Hinx. Hinx mulai bersiaga dengan senjatanya. Ia berfikir jika Qira sudah terprovokasih olehnya. Ia yakin bisa mengalahkan Qira. “Aku tak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu. Ayo kita mulai. ” Ucap Qira santai.
Pedang yang Qira gunakan adalah pedang yang sama untuk melawan Jendral Zink. Ia mulai melangkah mendekat Hinx dan menyerangnya.
Cling..
Serangan Qira ditepis oleh sabit Hinx. Ada senyum sinis diwajah Qira. Ia sangat membenci orang-orang licik. Ia tahu jika putra mahkota adalah orang yang sangat Licik karena itu ia tak suka untuk bermain- main.
Cling..
Cling...
Semua orang tegang menatap pertandingan itu. Ayahnya Qira hanya merapalkan doa untuk putrinya. Sedangkan putra mahkota Xian dan kakak-kakak Qira yang lain mati-matian untuk tidak membantu Qira. Padahal Qira melawan Hinx dengan santai dan biasa saja. Ia bahkan merasakan hal itu bukan beban yang besar. Tapi tetap saja Qira melawan orang yang licik.
Qira mulai melayangkan pedangnya kearah pangeran Hinx santai. Tapi saat serangan berikutnya Hinx membuat tipuan, tapi dengan mudah Qira lewatkan. Saat serangan bertubi-tubi Hinx memberi tipuan yang Qira sama sekali tak dapat mengetahuinya.
“Kaisar Alex.” ucapnya seperti kaget menatap orang dibelakang Qira. Qira yang saat itu fokus menjadi teralihkan pandangannya kebelakang.
Slap...
Pisau Hinx menggoreskan leher kanan Qira. Itu bukan goresan. Melainkan sayatan. Bahkan sayatan itu sangat dalam.
Semua orang menatap hal itu terkejut, bahkan kaisar Alex dan kakak-kakak Qira berteriak menyebut nama Qira. Jika tidak dihalang kasim mereka sudah menerobos masuk. Pertandingan memiliki praturan. Jadi, meskipun Qira adalah putri. Ia tetap harus mengikuti praturan. Bukannya kematian adalah kosekuensi yang sudah tertera!.
Qira memegang lehernya yang bercucuran darah. Bahkan baju bagian atasnya sudah dialiri darah yang sangat banyak. Ia menatap putra mahkota Hinx sinis “Pengecut....” Ucap Qira. Ia mulai memegang pedangnya erat. “ Bahkan melawan perempuan yang katanya mahluk lemah saja kau menggunakan cara yang menjijikan...” Ucap Qira tajam.
Sebenarnya ia sama sekali tak merasakan sakit. Tapi hatinya sangat membenci hal yang menjijikan seperti ini, ia sangat membenci ORANG-ORANG LICIK!. Ingat itu!.
Putra mahkota merasa puas hal yang ia lakukan. Tapi ia mulai memanas saat mendengar ucapan Qira. Belum sempat ia mengangkat senjatahnya.
Slap..
Slap...
Slap...
Slap...
__ADS_1
Suara sayatan itu terdengar beraturan. Bahkan tak dapat dilihat oleh orang-orang. Putra mahkota Hinx bahkan tak dapat melihat gerakan Qira yang sangat cepat. Pedang Qira melukis cantik dipunggung, kaki, dan kedua tangannya putra mahkota. “Itu hadia untuk tanganmu yang menjijikkan.” Ucap Qira. Putra mahkota terpranjat kaget saat pedang Qira sudah menggoreskan lehernya. Suara orang yang memekik melihat itu menggemah. Bahkan kaisar Feng bangkit dari kursinya untuk mendekati anaknya yang menggenaskan diatas lapangan.
“Dan ini atas goresan luka dileherku.” Ucap Qira tajam. Luka dileher Hinx hanya sebatas luka. Tak mengenai alat Vital, hanya tersisa sedikit jarak dari urat nadinya. Hanya sikit!.
Putra mahkota Hink sudah tak bisa bersuara. Hatinya penuh dengan umpatan untuk Qira. Ia sama sekali tak menyangkah akan hal ini.
Cling...
Dengan aurah membunuh yang bertebaran Qira mlepaskan pedang yang ia pegang. Semua orang menatap Qira takut, bahkan ada yang bergetar.
‘*Apa dia benar-benar putri Qira?’
‘Dia bahkan lebih mengerihkan dari dewi kematian’
‘Oh mengagumkan’
‘Bahkan dia sangat kuat*’
Semua bisik-bisik tersebar. Tapi suara itu terhenti saat kasim mengumumkan jika Qira adalah pemenang pertarungan ini. Qira melangkahkan kakinya meninggalkan putra mahkota Hinx yang sudah tak sadarkan diri. Kaisar Feng mendekat ketempat Hinx terkapar. Ia bahkan menatap kaisar Alex dengan tajam.
kaki Qira terhenti saat ia dikelilingi oleh kakak-kakaknya, bahkan kaisar Alex dan kaisar Wey juga mendekat. Jangan lupakan Kenzi dan Leon.
“Cepat kita obati.” Ucap kaisar Alex. Qira hanya diam menatap mereka semua yang mengkhawatirkannya. Bajunya sudah basah dengan darah. Tubuhnya sudah merasa lemah. Ia memang tak merasakan sakit. Tapi siapa yang tidak akan lemah jika darahnya terkuras habis.
“Tinggalkan aku dengan Leon.” Ucap Qira dan pergi bersama Leon. Ia meninggalkan orang-orang yang mengkhawatirkannya. Ia tak ingin mereka akan terluka karena terpengaruh darahnya. Cek, darahnya memang menyusahkan, dan ia baru menyadari itu.
Meskipun mereka telah dilarang oleh Qira. Tapi mereka masih mengikuti Qira dari belakang untuk masuki kekediaman Qira. Mereka hanya menunggu diluar karena Qira melarang mereka masuk.
Wajah Qira sudah sangat pucat. “Leon siapkan obat-obat ini. Aku akan membersikan lukaku.” Ucap Qira. Leon yang sudah sangat tahu akan hal darah Qira mengerti dan melakukan perintahnya. Ia mulai menumbuk obat yang ia ambil dari dapur pribadi kediaman Qira. Sedangkan Qira mulai membersikan tubuhnya. Darah sama sekali tak terhenti-henti keluar dari lehernya. Wajahnya semakin pucat. Saat ia sudah keluar dari kamar mandinya dapat melihat jika Leon sudah menunggu dipinggir ranjang.
Leon yang dari tadi khawatir terhadap Qira langsung mendongak menatap hentakan kaki yang keluar dari kamar mandi. Tanpa diperintah kakinya sudah mendekat. Dapat ia lihat leher Qira sudah dibaluti kain putih yang sudah ternodai darah. “Qira wajahmu sangat pucat. Cepat sini aku obati.” Ucapnya khawatir.
Qira hanya menganggukan kepala dan melangka menuju kasurnya. Lukanya dirawat sangat baik oleeh Leon. Darah yang keluar sudah tidak mengalir lagi. Yang tersisah hanya bau obat yang menyengat dan kain putih baru yang melingkar dilehernya. “Bukankah kau bilang jika kau tak merasakan sakit Qiqi?. Bukankah lukamu akan sembu sendiri. Lalu ini mengapa?, mengapa wajahmu begitu pucat?” Tanya Leon bertubi tubi.
“Meskipun begitu. Darahku masih tetap keluar dengan banyak Leon. Apa lagi diarea leherku. Lagian juga ini tidak sakit. Aku hanya sedikit lemah.” Jawab Qira.
“Baiklah. Kau harus istirahat.” Ucap Leon. Ia mengangkat kaki Qira untuk melentangkan dirinya diatas ranjang. Ia juga mengelus wajah Qira lembut. “Tidurlah. Bukannya besok kita harus pergi.” Ucap Leon. Ia mencium puncuk kepala Qira lembut dan ikut berbaring disamping Qira untuk menemani Qira tidur.
Sedangkan yang diluar pintu..
__ADS_1
“Aduh bagaimana ini ayah?. Apa yang dilakukan Leon terhadap Qira?” Ucap Xian Lii khawatir.
“Bersabarlah. Kita hanya menunggu sampai mereka keluar.” ucap Kaisar Alex.
“Bagaimana jika Qira terluka sangat parah dan men-“ Tak sempat dilanjutkan oleh Lian Lii tapi sudah dipukul oleh Xian Lii.
“Diamlah. Kau tak boleh berkata seperti itu. Qira baik-baik saja.” ucapnya tegas.
Leon yang awalnya tertidur merasa terganggu atas kebisingan yang tercipta diluar sana. Ia takut Qira terganggu, tapi ternyata Qira sudah tidur dengan nyeknya. Ia menurunkan kakinya dan melangkah menuju pintu.
“Bisakah kalian diam. Qiqi sedang beristirahat.” Ucap Leon sedikit membentak.
Mereka yang awalnya sibuk dengan argumen menatap Leon dengan penuh harap. “Bagaimana dengan Qiqi gadis kecilku?” Tanya kaisar Wey.
“Dia anakku.” ucap kaisar Alex ketus.
“Diam. Bisakah kalian berhenti bertengkar!” Teriak Leon. Seketika mereka semua langsung bungkam.
“Qiqi sudah baik-baik saja. Hanya saja ia harus cukup beristirahat. Jadi kalian bisa tenang.” ucap Leon
“Apa kau berkata jujur?” Tanya Guang Lii.
“Apa kami boleh menemui Qira?” Tanya Lian Lii.
“Apa kami boleh menemaninya?” Tanya Jian Lii.
“Bagaimana dengan lukanya?. Bukankah lukanya sangat parah?” Tanya kaisar Alex.
“apakah Qira membutuhkan tabib atau sesuatu?” tanya kaisar Wey.
“Lalu kapan ia bisa smbuh?” Tanya Kenzi
Leon: (-_-).
“Bisakah kalian diam?.” Ucapnya datar.
Semua menutup rapat mulut mereka. Mereka tahu jika mereka terlalu berisik.
“Kalian boleh menemui Qira besok pagi. Dan tinggalkan kediaman ini.” Lanjut Leon datar.
__ADS_1