
Qira menatap kaisar Zauhan aneh. Jika ia mau menyisir dan mengikat rambut. Lalu mengapa memangku Zuzu. Kenapa tidak memberi Zuzu kepadanya. “Biar aku yang menggendong Zuzu. Kau lakukan sendiri.” Ucap Qira datar.
Ia melangkah mendekat dan mau mengambil alih Zuzu dari kaisar Zauhan. “Ayo Zuzu. Sini gendong denganku saja.” Ucapnya.
Kaisar Zauhan tak mungkin membiarkan semua rencananya gagal. Ia mencubit sedik pantat Zuzu, supaya anak itu menangis.
Nyit...
“Kyakk. Tit.. tit... hiks hiks..” Zuzu mengalungkan tangannya dileher kaisar Zauhan semakin erat. Tanpa menatap Qira yang menadakan tangannya. Bibir kaisar Zauhan berkeut menahan tawa atas kelakuannya yang abstrut.
Dasar kaisar Jahat.... wkwk..
Jahan bukan?
“Dia tidak mau denganmu. Ikat saja rambutku. Biar aku menggendongnya.” Bujuk kaisar Zauhan dengan sok wajah datarnya, padahal hatinya bersorak sorak bahagia.
Qira mengaruk pelipisnya. Ia tak suka hal ini, andai ia tau kelakuan kaisar Zauhan, sudah ia tebas mungkin kepala kaisar Zauhan. Ia hanya mengagguk” Baiklah.” Ucapnya pasrah.
Qira mengambil sisir dan mulai menyisir rambuut kaisar Zauhan.
“Aadoh adoh... pelan-pelan oy. Bisa botak kepala ku. Tidak lucu jika ada kaisar botak.” Teriak kaisar Zauhan menahan kepalanya yang sakit.
Qira menyisir rambut kaisar Zauhan dengan santainya, tapi bibirnya berkedut saat kaisar Zauhan mengucapkan botak.
Bisa bayangkan nggak sii seorang raja botak?
Botak...!
“Rambutmu sungguh kusut.” Ucap Qira.
“Pelan pelan..” Gumam kaisar Zauhan sembari menahan kepalanya supaya tidak mengikuti gerak tangan Qira. Sudut matanya bahkan berair merasakan sakit diubun-ubun.
Cek.. ini namanya senjata makan tuan..
“Kau mau memakai mahkota yang mana?” Tanya Qira menatap wajah kaisar Zauhan yang sudah memerah.
“Terserah kau saja. Yang mana menurutmu bagus.” Jawab kaisar Zauhan malas. Moodnya hancur saat ini.
Qira menatap mahkota didepannya. Ia meletakkan telunjuknya didagu sembari berfikir. Ada mahkota yang besar, ada yang kecil. Ada yang berbentuk gelang yang berbentuk naga. Ada banyak lainnya, tapi pilihannya jatuh pada mahkota yang terbuat dari giok hitam yang berbentuk naga.
Menurutnya itu sangat bagus untuk seorang pria. Ia memakainya diikatan rambut kaisar Zauhan. “Sudah..” Ucap Qira sembari tersenyum.
__ADS_1
Kaisar Zauhan tersenyum tipis. “Sekarang giliranku. Biar aku mengucir rambutmu. Kau belum menyisir rambutmu.” Ucapnya lembut. ia beranjak dari kursi dan menyerakkan Zuzu kepada Qira.
Qira yang disodorkan Zuzu terkejut. Bukankah tadi anak ini tidak mau dengannya. “Tidak. Biar aku sendiri saja.” Ucapnya sembari menerima Zuzu.
“Kau sedang menggendongnya. Biar aku saja.” Kaisar Zauhan menepuk-nepuk pundak Qira pelan. Lalu membawah Qira duduk didepan meja rias.
Kaisar Zauhan tersenyum licik.
Balas dendam aku datang....!
Qira hanya mengernyit heran akan ulah kaisar Zauhan yang abstrut. Ia hanya menghela nafas sembari mengendong Zuzu yang mulai tidur kembali. Sepertinya anak itu lelah.
Kaisar Zauhan melancarkan aksinya. Dengan menyisir rambut Qira kasar supaya Qira menjerit seperti yang ia lakukan.
Tapi ia mengernyit karena tidak ada teriakan kesakitan. Ia menatap pantulan wajah Qira yang berada dicermin untuk melihat wajah Qira. Yang ada bukannya kesakitan, malah ada senyum kecil sembari mengelus lembut wajah Zuzu.
Lagi-agi ia menyisir secara kasar. Sama sekali tak mendapatkan respon yang ia inginkan membuat ia menggerang marah. Kepala apa ini? apakah Qira manusia ? mengapa ia tak merasakan sakit?
Kaisar Zauhan hanya menggelengkan kepala menyerah dan mengucir rambut Qira rapi dan mulai menikmati kegiatannya.
Wajahnya yang kesal berganti senyum kecil, rambut Qira menebarkan bau lavender pekat. Sangat wangi dan segar. “Kau menggunakan wewangian bunga Lavender?” Tanyanya.
“Hmmm..” Ucap Qira malas.
Qira mengangguk “ Teriamakasih.” Ucapnya.
Dugh
Bolehkah sang kaisar Lebay? Rasanya ia tertimpuk durian runtuh saat ini.ia sangat bangga menadapatkan ucapan terimakasih itu. “Sini aku gendomg lagi Zuzu.” Ia mengambil alih lagi Zuzu dari gendongan Qira.
Qira menggeleng kesal. Maunya apa coba sedari tadi bolak balik. Apa maunya coba...!
“Apa yang kau lakukan. Kau ini gila ya.” Ucap Qira marah.
Kaisar Zauhan hanya memasang wajah datar dann keluar. Ia memesan makanan untuk mereka sarapan kepada pelayan didepan lalu melangkah masuk.
“Kita sarapan dulu.” Ucapnya. “Hey kecil. Bangun .” Ia menepuk pipi Zuzu pelan.
“Mam...” Ucap Zuzuu sembari menggeliat.
“Iya makan. Ayo bangun.” Uxap akisar Zauhan lembut. “Tapi tetaplah dipangkuan ku, biar kita disuapai oleh Qira.” Lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Sesaat setelahnya Qira dan lainnya mendengarkan ketokan dari luar pintu,
membuat mereka mengernyir. “Tunggu..” Ucap kaisar Zauhan lalu bangkit.
Ia menyuruh pelayan itu masuk dan menaruh makanan diatas meja. Lalu menyuruhnya pergi. Tanpa mau melepaskan Zuzu dari gendongannya. Padahal Zuzu sebenarnya sudah bisa berjalan. Hanya saja kaisar Zauhan mengambil kesempatan dalam hal ini.
“Hmss..” Kaisar Zauhan berdehem keras sambil melirik Qira.” Ayo kita sarapan.” Lanjutnya.
Qira hanya mengangguk meskipun menahan senyum melihat tingkah bodoh kaisar Zauhan. Menurutnya itu bodoh. ia memilih duduk didepannya, tanpa mempeduikan kaisar Zauhan menatapnya kaisar Zauhan sembari meketakkan makanan.
“Ehmmm...” Kaisar Zauhan kembali berdehem. “Zuzu mau makan apa?” Tanya kaisar Zauhan.
“Zuzu mau makan apa? Minum susu dulu apa mau makan?” Tanya Qira pada anak kecil itu tanpa peduli deheman manja kaisar Zauhan.
“Cucu... cuu..” Gumam Zuzu menggemaskan.
“Oh kamu mau minum susu. Sini ayah pegang susunya.” Ucap kaisar Zauhan sembari mengambil susu didalam gelas didepannya.
Qira menatap kaisar Zauhan aneh. Apa-apan ini, kaisar Zauhan merebut susu dari tangannya demi memberikan pada Zuzu lewat tangannya sendiri. Apa ini kaisar Zauhan?.
“Ehmm...” Lagi-lagi kaisar Zauhan berdehem menatap Qira. Ia sama sekali belum menaruh makanan dipiringnya. “Bisakah kau menyapiku makan? Tanganku harus menggendong sekaligus memegang gelas susu Zuzu.” Ucapnya sedikit malu namun dibuat tegas.
Qira menyernyit sembari menyuapkan makanan dimulutnya. “Kau bisa menyuruh Zuzu makan sendiri dan meletakkannya disampingmu.” Jawabnya. Apa-apaan minta disuap? Hello kaisar Tua nan manja...
“Tidak bisa. Nanti susunya tumpa bagaimana. Jangan banyak perotes, aku hanya minta bantuan saat ini.” Sedikit membentak karena tak mau dianggap mencari kesempatan.
“Sini biarkan aku saja menggendong Zuzu. Biar kau makan sendiri.” Ucap Qira.
Cepat-cepat pula kaisar Zauhan menyubot pantat Zuzu supaya menangis. Benar setelahnya Zuzu menangis.
“Rit.. tutut Tik. Hiks hiks ngga nggak yaa...” Iya memeluk kaisar Zauhan sembari mengelus pantatnya, menghiraukan Qira yang menadakan tangan. “Sakit... Pantatku sakit. Ada serangga hiks hiks)
“Lihat. Dia tidak mau dengan mu.” Ucap kaisar zauhan licik. Ia bahkan tersenyum menantang.
Cih... bisa merah semua tu pantat Zuzu. Ayo hujat kaisar Zauhan jahat..
..
.
.
__ADS_1
.