
Kaisar membenamkan hatinya yang sakit Karena Qira menyebutkan Wolf dan Leon.
Apakah mereka memang sahabat? Mengapa sifat mereka semakin lama semakin seperti kekasih. Rasanya kasih sayang yang mereka berikan kepada Qira dan ungkapan kasih sayang Qira terhadap mereka itu terlalu berlebihan. Apakah masih ada sahabat yang memuji satu sama lain?
“Apa kau sudah menemukan pria idamanmu? Jika disuruh memilih antara Wolf, Leon dan pria idamanmu. Lalu siapa yang kau pilih?” Tanya kaisar Zauhan menyelidiki.
“Kau ingat pria yang kau lihat malam tadi?” Tanya Qira kepada kaisar Zauhan. Kaisar Zauhan mengangguk sembari mengingat wajah pria yang membuat ia menahan cemburu setengah mati. “Itu pria idamanku. Tapi jika disuruh memilih antara Wolf, Leon dan pria idamanku. Maka aku pasti akan memilih Wolf dan Leon.” Jawab Qira pasti.
Kaisar Zauhan tercekik. Tolong lepaskan cekikan nya. Ahhh, dasar. Ucapan Qira mampu mencekik tanpa menyentuh. “ Mengapa seperti itu? Apakah kau begitu menyayangi sahabat-sahabatmu itu?” Tanyanya sedikit eninggih.
Qira berdiri dari duduknya. “Tentu, mereka hidupku. Mereka harta terbesar yang aku miliki. Bahkan jika kau menandingi dengan dunia ini dengan mereka. Maka aku lebih memilih meninggalkan dunia ini bersama mereka. Matipun aku tak masalah asalkan kami masih bersama.” Jawabnya tegas, sembari pergi.
Kaisar Zauhan tertegun ditempat. Apakah sebesar itu cinta dan sayangnya kepada dua temannya? Ahh, mengapa rasanya sangat sulit membuat Qira mencintai dirinya jauh lebih besar dari pada temannya.
Bagaimana jika nanti cintanya dibagi kepada sahabat-sahabatnya? Ahhhh, semua itu membuat kaisar Zauhan frustasi. Ia menghela nafas dalam. Apakah ia harus berjuang atau berhenti? Apalagi Qira sudah mencintai orang lain dan tentunya bukan dirinya.
“Hey. Ayo mandi. Aku tak bisa jauh darimu. Dasar pemikat laknat yang kau beri ini membunuhku.” Bentak Qira sembari membuyarkan lamunan kaisar Zauhan. Ia menarik paksa lengan kaisar Zauhan bangkit.
Saat Qira melangkah lebih dari 50langkah membuat tulang bahunya seperti tertancap pisau. Ahh, ia lupa kaisar Zauhan memberikan ikatan yang membuat ia tak bisa bebas.
...
Sedangkan ditempat lain Wolf dan Leon memandang kediaman naga. Sudah empat hari mereka tak bertemu Qira. Membuat mereka tak bisa tidur nyenyak. Ditambah Zuzu yang selalu menangis dan mengusik hidup mereka membuat mereka tak bisa mengawasi Qira.
“Bagaimana ini Wolf? Apakah Qira baik-baik saja? Mengapa ia tak menemui kita. Ia tak pernah seperti ini.” Ucap Leon frustasi. Ahhh, ia bahkan tak ingat jika Wolf tak kalah depresi memikirkan Qira.
Wolf menatap leon. Ia menepuk lengan Leon. “Ia pasti baik-baik saja. Kau tak usah khawatir.” Gummnya menenangkan. Padahal hatinya saja sedang galau dan tak karuan. Tapi ia harus saling menguatkan satu sama lain bukan?
“Bagaimana aku bisa tenang. Aku yakin, kaisar Zauhan menyembunyikan sesuatu tentang Qira.” Ucap Leon membentak.
“Aku tau. Tapi bagaimana lagi? Kita tunggu hingga nanti malam, jika tak juga bisa menemukan Qira. Aku akan meminta bantuan prajurit kerajaanku untuk menyerang kerajaan ini.” Jwaabnya.
“Kau mau mati? kaummu bisa mati mengenaskan jika melawan kaisar Zauhan.” Sahut Leon menatap Wolf.
“Bahkan nyawaku akanku taruhkan. Asalkan Qira baik baik saja. Tenanglah.” Jawab Wolf menenangkan.
Leon menatap jepit rambut yang dihiasi bulu beruang yang indah. Itu ia rancang semdi Untuk Qira. Jepit itu ada sepasanang. Satu kata buat jpit itu ‘Cantik.’
“Itu untuk Qira?” Tanya Wolf menatap jepot cantik itu.
Leon mengangguk. “Saat dihutan kita berburu itu. Aku menangkap seekor beruang besar yang memiliki bulu putih bersih. Aku juga membuat baju hangat untuk Qira.” Gumamnya.
Wolf mengerutkan keningnya. “Oh. Saat kau hampir diterjangnya itu? Kau belum cerita padaku, bagaimana bisa kau selamat?” Tanyanya antusias.
Yaa. Saat mereka berburu saat itu. Leon hampir diterjang Beruang putih yang besarnya hampir sebesar truk. Ahh, ditambah itu beruang langkah membuat kekuatannya sangat besar. Tapi Leon tetap nekat mengambil bulu beruang itu untuk Qira.
__ADS_1
Apalagi bulunya yang begitu lebat dan lembut membuat Leon sangat bersemangat membunuhnya sampai lupa akan keselamatannnya.
Flashback...
Wolf dan Leon merubah wujud asli mereka menuju hutan dipinggir hutan malam. Disana terkenal akan banyaknya hewan berbulu lebat. Membuat mereka seperti tertantang untuk mendapatkan satu hewan.
“Kita buat pertandingan. Siapa yang mendapatkan hewan yang paling besar. Itu pemenangnya.” Ucap Wolf antusias.
Leon tersenyum remeh. “Baiklah. Aku setuju.” Jawabnya lantang.
“Kita akan bertemu disini lagi dalam waktu dua jam. Jika kau masih tak mendapatkan hewan buruan tak apa. Tapi kau harus kembali dua jam lagi. Kau mengerti?” Tanya Wolf.
“Tentu.” Ucap Leon sembari meninggalkan Wolf dan berbelok kekiri sedanghakn Wolf menuju hutan yang diarah kanan untuk arah yang berlawanan dari Leon.
Leon membelah hutan itu dengan ganas. jangankan berburu hewan. Hewan saja kabur terbirit-birit saat ia melewati mereka. Tapi tak membuat Leon berhenti. Ia kembali memasuki hutan yang lebih dalam, lebih dalam dan sangat dalam.
Srek..
Srekk.
Leon menghentikan langkahnya saat mndengar suara semak-semak yang bergetar hebat dibalik pohon. “Siapa itu?” Tanyanya dengan mengaum.
Srekk..
Srekk..
Aumm.
Leon melompat dan memasuki semak-semak itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat beruang yang besarnya tiga kali lipat dari tubuh singanya. Beruang itu sangat putih dan bersih membuat ia jatuh cinta pada bulu-bulunya. Ahh, ia bahkan lupa jika hewan itu begitu besar.
Mata beruang itu membesar dan menatap Leon marah. Giginya penuh dengan darah. Leon baru sadar jika beruang itu bar saja memakan kijang yang ia buruh.
Haumm.. Leon mengaum sembari melawan Beruang itu. Tak Leon sangkah jika kekuatan beruang itu setara dengan badannya. Sangat besar membuat t8uhnya penuh dengan cakar. Bahkan ia belum bisa menjatuhkan lawan.
Lon akui jika dirinya tak bisa mengalahkan beruang itu dan Leon yang akan menjadi tumbal beruang itu.
Beruang itu mendekati Leon yang sudah terkapar degan tubuh penuh luka. Tapi ia berhenti saat tiga anak panah mengenai punggungnya.
Ccapp...
Capp..
Cap...
Beruang itu hampit menghampot tubuh Leon jika Leon tak segera menghindar. Mata Leon memandang arah anak panah yang melindunginya. Ia pikir itu adalah Qira. Ternyata salah.
__ADS_1
“Wah.. singa ini juga besar. Pasti kepalanya indah untuk ku jadikan pajangan dikamarku.” Ucap sii pemana antusias.
Mata Leon membesar. “Hey.. jangan . aku manusia..” Ucapnya mengaum, cepat-cepat pula ia merubah wujud menjadi manusia.
Anak panah itu jatuh darii tangan sang pemilik. “Wahh.. singa tampan.” Gumamnya takjub menatap Leon. Matanya bahkan tak berkedip saat ini.
Ia adalah seorang gadis tomboy. Bajunya sobek dibagian bawah, tepatnya ia hanya menggunakan celana sebatas paha, dengan hanfu panjang berwarnah hitam yang menutupi lekuk tubuhnya.membuat kakinya samar-sama bisa dilihat. Sedangkan rambutnya dihias banyak aksesoris. Sepertinya ia seorang putri bangsawan.
Leon mengelus dadanya. Ahh, ia bersyukur tak jadi dibunuh. Matanya berbinar menatap beruang didepannya. “Apa kau mau mengambil beruang ini nona?” Tanya Leon.
“Tidak jika kau mau.” Ucap gadis itu sembari tersentum malu. Ahh, speertinya ia menyukai Leon.
“Benarkah? Jika kau tak mau, aku saja yang mengambilnya.” Ucap Leon semangat. "Hmm. Terimakasih kaj sudah membantuku." Lanjut Leon malu. Sebenarnya ia mampu melawan, tapi karena ukuran tubuh yang berbeda membuat sedikit sulit.
“Tentu, tapi dengan satu syarat dan tak masalah.”
“Apa?” Tanya Leon.
“Kenalkan namaku. Via Arxilio. Kau bisa memanggilku Via. Siapa namamu siluman singa?” Ia mengulirkan tangannya untuk berkenalan.
Leon menatap gadis cantik didepannya. Ia pikir gadis ini berbeda seperti Qira. Ternyata sama saja dengan orang lain, tak bisa sedkit saja melihat pria tampan. Tapi ia tak bisa tak menerima salam itu. “Namaku Leon.”
“Eh...” Gadis itu berdehem malu. “Syaratnya. Aku mau kau menjadi temanku, aku akan berburu lagi untuk lima hari kedepan. Dan kau harus menemaniku.” Ucapnya lagi.
Leon mengaguk pipinya yang tak gatal. “Tapi aku akan mengajak temanku ya.” Putusnya,
Gadis itu tersenyum manis. “Tentu. Aku akan menunggumu disini. Ambillah beruang itu.”
Leon hanya mengangguk sembari mengambil beruang itu. Ahh, ia bahkan lupa jika tubuhnya terluka. “Terimakasih.” Jawab leon sembari mengambil beruang itu.
“Sama-sama siluman tampan..” Teriak gadis bernama Via itu sembari menatap Leon lekat. Ahh, bahkan senyumnya tak luntur.
.
.
.
.
.
Mendekati masa cinta ya Guys. kalo Konflik nanti pas semua udah ngebucin. Sekarng masih ngalir wkwk.
Like komen dan Vote y semua. Jangan berhenti buat nyemangatin author....
__ADS_1