Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Cup...


__ADS_3

Kaisar Zauhan tersenyum sinis. “Katakan, berapa kau dibayar oleh kerajaanmu. Biar aku bayar 2kali lipat, asalkan kau angkat bicara.”


Tak..


Qira menyentil kening kaisar zauhan. “Hey. Mau mati kau ha..!” Teriak kaisar Zauhan marah, ia menggusuk keningnya yang Qira centil.


“Sudahku katakan. Aku bukan mata-mata. Aku punya banyak uang, tak perlu kau tawarkan uang kepadaku. Apa kau tuli tak mendengarkan penjelasanku.” Jawab Qira kesal. Berapa kali ia harus jelaskan jika ia bukan mata-mata.


'Siapa kaisar disini sebenarnya.' Batin kaisar Zauhan


Kaisar Zauhan mendekati wajahnya. Ia menatap mata Qira mencari suatu kebohongan. “Mana ada pekelana punya banyak uang.” Sanggahnya.


Qira melemaskan bahunya. “Aku punya banyak bisnis. Untuk apa juga akau berkelana jika aku miskin tak punya uang. Lebih baik aku berkerja dan mencari koin untuk melanjutkan hidupku bukan? Berkelana itu butuh banyak uang bodoh.” Ucap Qira.


Kaisar menatap Qira, semua ya ng Qira ucap benar. “Kau bilang aku apa?” Tanyanya. Ia tak mau menunjukan jika ia memang bodoh.


Qira mendekatkan wajahnya. Hanya tersisa beberapa senti saja. “Bodoh..!” Ucapnya tegas.


Kaisar Zauhan tertegun akan keberanian Qira. Nafas Qira menerpa wajahnya. Ia menatap Qira terkejut. “Katakan apa tujuan mu lagi.” Ucapnya cepat-cepat. Ia bahkan lupa jika ia kesal dibilang bodoh..


“Aku hanya berkelana mencari kebahagiaan, melepaskan kesedihan. Aku berencana mencari identitas ibuku, membuat bisnis, mencari kebahagian bersama teman-temanku. Dan satu lagi yang paling aku nanti. Yaitu, menikah dengan kakak Kim.” Qira tersenyum bahagia menyebutkan hal yang terakhir.


Kaisar Zauhan menatap Qira tak terbaca. “Jika kau bukan mata mata, mengapa kau mengaku sebagai putri Ming Zu? Lalu siapa itu Kim?” Tanyanya,


“Aku tidak pernah mengakuh sebagai putri Ming Zu. Aku hanya diam saja saat itu. Dan kakak Kim adalah pria yang jauh lebih tampan darimu.” Ucap Qira tegas.


“Oh yaa...” Kaisar Zauhan mendekatkan wahahnya kewajah Qira. Bukan Qira jika tak berani menerima tantangan. “Aku masih tak percaya.” Ucapnya lagi tegas.


Qira melemaskan lagi dan lagi bahunya. “Terserah kau saja. Tapi bisakah kau tidak membuatku seperti ini. setidaknya jangan 20langkah. 100km saja ya.” Tawar Qira tanpa menyerah.


Kaisar Zauhan berdiri dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Qira. Sontak saja Qira juga berdiri dan mengikuti jalan kaisar Zauhan.

__ADS_1


“Baiklah 100meter saja ya.” Lagi-lagi Qira menawar sambil mensejajarkan langkah besar kaisar Zauhan. Kaisar Zauhan bahkan tidak melirik Qira. Wajah Qira memelas bak kucing yang minta dielus.


“Oh ayolah. 100 langkah saja.” Ucap Qira frustas.


Sepanjang jalan Qira merengek dan mengajukan penawaran. Tapi kaisar Zauhan sama sekali tak menerima atau menjawab. Hingga membuat Qira kesal. Ia menarik paksa tangan kaisar Zauhan, membuat sang empuh berbalik dan


Cup...


Kaisar Zauhan berbalik dan mencium pipi kanan Qira. Matanya membulat kaget. Tangannya merangkul tubuh mungil Qira dalam pelukannya.


Bugh..


Tanpa pikir panjang Qira menendang aset berharga kaisar Zauhan. Sontak kaisar Zauhan mundur dan


Memegang asetnya tanpa mengucap apapun. Hanya saja matanya merah menatap Qira. “Kau...! aku suruh kau berhenti. Bukan menciumku.” Bentak Qira. Ia memegang pipi kanan yang dicium kisar Zauhan.


“Kau...!” Teriak kaisar Zauhan.


“Ada apa ini kakak?” Tannyanya. Ia menatap tangan kaisar Zauhan yang masih melekat diatas aset yang ditendang Qira.


Ketika kaisar Zauhan sadar akan tatapan adiknya, cepat-cepat ia melepaskan tangannya dari sana. “Ehm..” Iya menstabilkan suaranya. “Tidak. Ada apa kau kesini?” Tannyanya tegas.


“Aku disuru memanggil kakak ipar dan kakak. Katanya kakak ipar sudah bangun dari pingsannya.” Ucapnya, ia menatap Qira yang masih menatap kaisar Zauhan marah. “Hallo kakak ipar. Ehm, maksudnya yang mulia permaisuri.” Lanjutnya sambil tersenyum hangat.


Mata Qira beralih menatap seseoarng yang menyapanya. ‘Apa?kakak ipar? Kapan aku menikahi kakaknya?’ Batin Qira. “Kau bicara dengan siapa?” Tanya Qira ketus.


Gadis kecil itu mendekat dengan Qira. Ia membungkuk sedikit. “Perkenalkan, namaku, moroung Tea, yang mulia bisa memanggilku putri Tea. Dan menjawab yang mulia, putri ini berbicara kepada yang mulia permiasuri ini.” Uccapmnya sopan.


Qira menjuliti matanya. “Hey. Apa yang mulia? Permaisuri? Kapan aku menikah dengan kakak sombongmu ini?” Tannya Qira cempreng.


Putri Tea menatap Qira heran. “Menjawab kakak ipar eh maksudnya yang mulia, 2hari yang lalu.” Jawabnya lagi.

__ADS_1


Qira menggarut kepalanya yang mendadak sangat gatal, bagaikan diserbu kutu kerbau. “Apa maksud kalian. aku tak pernah merasa jika aku sudah menikah. Aku tak mau menikah dengan malaikat maut. Aku mau menikah dengan kakak Kim.” Ucap Qira frustasi.


“Apa maksudmu ha? Apa aku seburuk itu dimatamu?” Tanya kaisar zuhan yang merasa terhina dibanding-bandingkan oleh Qira.


“Sudah. Kakak, ibu dan ayah mencari kalian. pergilah kekediaman mereka terlebih dahulu. Baru ribut kembali.” Sahut putri Tea memisahkan mereka.


“Tidak mau. Aku bukan kakak iparmu dan bukan menantu kerajaan ini, cih aku bahkan membenci kerajaan.” Jawab Qira cepat.


Sedangkan kaisar Zauhan menatap Qira lebih tajam. Ia melangkah menjauh meninggalkan Qira yang masih menggerutu.


“Hey... tunggu...!” Teriak Qira sambil memegang bahunya yang sakit. Sungguh hatinya ingin menangis darah, ‘Apakah ini yang dinamakan cobaan?’


Kaisar Zauhan sama sekali tak berhenti. Saat Qira sudah bisa mensejajarkan langkahnya, ia menyekah keringat yang membanjiri keningnya. “Bisakah kau pelan sedikit.” Ucapnya.


“Tadi kau bilang tak ingin ikut?” Ucap kaisar Zauhan sinis.


“Aku memang tak mau ikut. Tapi jika aku tak ikut, aku akan mati..!” Jawab Qira malas.


“Bukankah kau tak takut mati?” Tanya kaisar Zauhan makin sinis.


“Aku memang tak takut mati. tapi bukan berarti aku mau mati.” Sanggah Qira.


Kaisar Zauhan beralih menatap Qira yang tingginya hanya sebahu. “Bisakah kau berjalan dibelakangku. Aku ini raja.” Ucapnya.


Qira hanya memutar bola malas. Ia melambatkan jalannya dan memilih berjarak satu meter dari kaisar Zauhan. ‘Awas saja kau. Akanku balsa kau nanti.’ Gumam Qira sadis.


“Jangan memakiku.” Tiba-tiba kaisar Zauhan berbicara seakan tau jika Qira memberikan sumpah serapah baginya.


Qira mengatup bibirnya. Tapi tidak dengan hatinya. Jujur saja, ia merasa bagai anak ayam yang menuruti kemanapun induknya pergi. Qira melangkah dengan kesal.


Qira mengikuti jalan kaisar Zauhan. Matanya menatap kediaman didepannya. Ia hanya mengangkat bahu acuh.

__ADS_1


Mereka masuk kedalam kediaman tersebut. Dapat dilihat oleh Qira sepasang paru baya disana. Satu pria yang meskipiun sudah tua masih terlihat gaga, dan satu wanita yang sudah berusia tapi kecantikannya masih terjaga.


__ADS_2