
Deru angin yang berhembus mesra bersama daun, menciptakan melodi gersik yang tak ada habisnya, hanya saja keduanya tak akan bisa bersama, kau tau kenapa? Karena angin diciptakan untuk menggoyakan daun dan menghunusnya ketanah, sedangkan daun harus tetap bertahan dipendiriannya ketika ujian angin datang. Ia harus bertahan sampai tak snanggup lagi. Hu, padahal kalian nampak serasi dipelupuk mata....
Dibawah pohon ceri didepan kerajaan Barat ada dua sosok pahatan dewata. Satu pria yang mempunyai aurah yang mematikan untuk seorang perempuan dan satu sosok yang membuat para kaum hawa akan meleleh. Ya ketampanan yang luar biasa, membuat siapapun tak akan menolak untuk memandangi mereka lama-lama.
Wolf dan Leon Tidur dibawah pohon rimbun ini, menikmati angin spoi-spoi yang mampu menghanyutkan siapaun yang diterpanaya.
“Leon. Ayoo, kita mencari Qiqi. Kita berburu bersama, aku merindukan saat-saat bertanding berburu.” Jelas Wolf tanpa membuka matanya.
Leon yang sedari tadi menutup matanya kita membuka satu matanya menatap Wolf. “Kau benar. Tapi sepertinya kaisar Zauhan tak akan memperbolehkan kita bertemu dengannya, seperti sebelumnya.” Jelasnya. Ya, mereka selalu dilarang berjumpa dengan Qira jika Qira berada diistana naga. Bukan hanya satu atau dua kali mereka menerima penolakan, tapi berkali-kali.
Wolf membuka maranya dan bengkit drai tidurnya, ia menatap Wolf serius. “Aku tak tau. Tapi sepertinya kaisar Zauhan menyukai Qiqi kita.” Ucapnya yakin.
Leon membuka dua matanya dan membalas tatapan serius Wolf. Pikirannya menerawang jauh, saat bagaimana kaisar Zauhan memperlakukan dan menatap Qira. “Kau benar. Aku juga yakin jika ia menyukai Qira kita.” Kesimpulan Leon.
“Lalu. Apakah kau setuju jika kaisar Zauhan bersama Qira?” Tanya Wolf tanpa mengalihkan pandangannya.
Leon bengkit dari tidurnya dan mulai menumpu tubuhnya dengan tangan kiri dan kanannya. “ Aku tak tau. Tapi aku sedikit tak rela jika Qira harus pergi dari hidup ku. Aku tak mau dia pergi dan berubah.” Ia tersenyum kecut.
Wolf menghela nafas dalam dan kembali menatap kedepan. “Kau benar Leon. Akupun tak rela. Mungkin aku baru mengenali Qira dalam waktu beberapa bulan saja, tapi rasanya ia sudah menjadi bagian dari hidup ku. Bahkan ia sudah menjadi hidupku saat ini. “ Jelasnya.
“Mungkin aku dan kau egoin Wolf. Tapi bagaimana lagi.” Ucap Leon pahit.
“Tapi, bagaiman menurutmu kaisar Zauhan dengan Qira? Apakah mereka cocok?” Tanya Wolf menatap Leon yang berada disamping kanannya.
Leon tersenyum tipis. “Entahlah. Tapi menurutku, Qira itu membutuhkan sosok yang lembut dan penuh perhatian. Sedangkan kaisar Zauhan terlalu dingin dan datar. Jika caranya mendekati Qira seperti itu. Kemungkinan sangat kecil ia bisa mendapatkan hati Qiqi.”
Wolf terkekeh. “Kau benar Leon.” Ia menarik nafas dalam. “Kita berlombah berburu saja bagaimana?” Ia menaik turunkan alisnya.
Leon menatap Wolf menantang. “Siapa takut.”
Wolf terkekeh dembari bengkit dari duduknya. Diikuti juga Leon. “Ayoo...” Ucap Wolf yang diangguki Leon.
...
__ADS_1
Sisi lain. Sosok gadis berbaju pria, mata coklat nan tajam, rambut diikat tinggih berjalan dengan aurah yang mematikan. Rasanya ia ingin membunuh siapapun yang menatap dirinya aneh.
Ia menyusuri jalan perdesaan menggunakan kuda hitamnya, ya Dia putri Zhu Qira Han.
Rambutnya bergerak seirama dengan alunan kaki kuda. “Dasar kaisar Sialan. Beraninya dia meciumku.” Gumamnya sepanjang jalan. memaki kaisar Zauhan sepenjang perjalanan membuat matanya semakin tajam dan membuat orang-orang takut akan hal itu.
Sesaat setelahnya, Qira berhenti didekat kedai karena disana ada banyak orang seperti sedang menonton pertunjukan.
Qira penasaran apa yang ada disana sehingga membuat orang-orag mengelilingi tempat tersebut. Qira pun menuruni Black dan mendekat. Dengan wajah bingung, ia mengintip disela-sela tubuh besar orang-orang diddepannya, tapi karena ukuran tubuhnya kecil membuat itu dangat sulit. Ia menarik baju seorang wanita paru baya yang berada dibarisan ppaling belakang. “Permisi bibi. Saya mau nanya, ada apa ya diepan sana.” Tanya Qira sopan.
Wanita paru baya itu menatap Qira. “Eh... itu, ada orang yang berkelahi.” Uucapnya.
Qra mengernyit heran. “Jika begitu, mengapa kalian menonton saja?” Tanya Qira heran. Mengapa tidak dipisahkan? Membuat kedua bela pigak damai? Cih, dasar. Inilah sifat manusia, yang buruk menjadi tontonan.
Tak mendapat jawaban membuat Qira ingin pergi dari sana. Tapi berhenti ketika ada suara teriakan dari rang-orang yang berkelahi.
“Argh...”
Sontak Qira menghentikan kakinya. Ia kenal teriakan itu. Telinganya sensitif jika berhubungan dengan sosok yang ia kenal. Cepat-cepat ia berbalik dan menerobos paksa orang-rang. “Minggir. Air panas, air panas.” Teriaknya.
Ya. Disana ada satu sosok dewata yang tampannya luar biasa sedang bertarung dengan lima pria sekaligus, ada stau pria yang menggunakan baju bangsawan/
“Kakak Kim..” Teriak Qira kaget.
Ya, pria yang memiliki paras sempurna itu menoleh dan menatap Qira. Ia tak kalah terkejut, “Qira..” Gumamnya. Ingin rasanya ia memeluk Qira saat ini. tapi bukan waktu yang tepat.
“Hy gadis kecil yang manis. Jika kau tak mau wajah cantikmu rusak, leih baik kau pergi dari sini.” Ucap pria berbaju bangsawan itu sombong.
Wjaah Qira smekin gelap saat melihat wajah kakak Kim penuh memar dan luka. Matanya menatap pria-pria didepanya. “Sepertinya kalian harus membayar luka kakak Kimku.” Ucapnya dengan suara yang kental dengan aurah mematikan.
Mereka terkekeh renyah. “Apa kau sedag menantang kami?” Tanya salah-satu dari mereka.
Cih, Qira tak suka basa-basi. Ia bergerak mendekat kakak Kim yang sudah sangat lemah. Ia memopong tubuhnya untuk menjauh. Tapi sayangnya tindakan ia yang tak mau mencari ribut dihiraukan saja oleh kelompok itu.
__ADS_1
“Kau mau kemana? Urusan kami dan kakakmu belum slesai.” Ucap pria berbaju bangsawan.
“Jika begitu. Hadapi aku.” Tntang Qira.
“Kau?” Sontak mereka terkekeh setelahnya.
Qira mengambil satu pisau dari balik hanfunya dan.
Cap..
Arg..
Tepat menancap dan membungkam disalah satu mulit pria-pria itu. Darah bercucuran keluar dari mulutnya. Tangannya bergerak mengambil pisau itu lalu mencabutnya. Tapi sayangnya pisau itu tertancap dalam mengenai lidahnya. Argh,,,
Sontak itu membuat orang-orag menatap Qira horot. Termasuk pria-pria lainnya. “Pisauku bergerak sendiri. Katanya mulut kalian bau jika tertawa.” Ucap Qira mengejek.
“Qiqi. Biarkan aku mengahdapi mereka.” Ucap kakak Kim membujuk Qira.
Qira menahan kakak Kim. “Diamlah kak. Biar aku memberi satu pelajaran tanpa meneyntu.” Bisiknya.
“Sialan... serang wanita itu.” Ucap pria berbaju bangsawan.
Malas melawan dan bertarung. Ya, itulah Qira saat ini. ia hanya mengundang ilmu angin dan menghempaskan mereka yang baru saja maju.
“Wah... pok... pok... kalian bisa terbang.” Ucap Qra seperti polos. Padahal itu semua ulahnya.
Arg...
Sebagian dari mereka ada yang memuntahkan darah. Karena angin hempasan Qira sangat besar. Sedangkan para penonton sekaan terjkejut sungguh, mereka menganggap semua ini sirkus.
“Lancang kau...” Teriak bangswan itu lalu maju Menyerang Qira.
.
__ADS_1
.
.