
Sudah ribuan orang yang sedang meregang nyawa dipertempuran kali Ini, namun semangat tak ada yang menggoyah. Bahkan mereka sama-sama saling bringas membantai satu sama lain.
Mayat tanpa kepala sudah berceceran dimana mana, lautan darah sudah menjadi saksi bahwa tanah perperangan itu sangatlah basah, meskipun begitu, jumlah mereka masih sangat banyak. Sedangkan hari sudah hampir malam, apakah mereka melanjutkan perperangan dikalag hari sudah gelap?
Kaisar Zauhan sama sekali tak bergerak diatas kudanya, disekelilingnya dijaga oleh beberapa pengawal. Ia menatap kehancuran didepan matanya, berkali-kali pihak dari kerajaan lawan mau menyerangnya, namun selalu gagal, jangankan menyentuhnya. mendekatinya saja tidak bisa. Jangan salah, karena dia memang kuat.
Ia mendongak menatap langit. Langit sudah menghitam pertanda hari sebentar lagi akan hujan, ditambah akan malam. “Sayang... Kau jangan khawatir, karena aku tak akan membunuh keluargamu.. Jikapun mereka akan membunuhku, maka aku pasrah. Tungguh aku disana ya... Maafkan aku..” Ujarnya lirih, jantungnya berdengut ngilu saat ini. ia meremas tanganya sendiri supaya tak menangis. Tak ada yang bisa menghilangkan rasa cintanya pada Qira. gadis sombong itu sudah memenuhi rongga dadanya. Bahkan saat ini ia rela mati supaya bisa menemui Qira...
Setelahnya hujan segerah mengguyur merea membuat mereka berhenti seketika lalu mendongak. Kaisar Long Wey memejamkan matanya saat merasakan Hujan menerpa wajahnya. Ia bagaikan merasaan belaian tangan Qira menerpa wajahnya.. “ istirahatlah ayah...” Samar-samar ia mendengar uacapan lembut itu, suara itu dari gadis yang ia cintai saat ini.
Kaisar Long Wey membuka matanya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, ini bukan cinta salah artian, tapi cinta terhadap putri. “Berhenti...! kita istirahat...!” Teraiknya tanpa meminta persetujuan dari kerajaan lain. dan suara itu mampu membuat pedang semua orang melambang diudara. Apakah mereka salah dengar?
Dan ternyata tidak...
....
Lain dimensi.. wajah pucat itu sangat damai. Tak ada rona kehidupan disana, yang ada hanya rona kesedihan. Semua tubuhnya dipenuhi alat medis, isakaan tangisan sangat terdengar dari luar ruangan itu. Ibunya Qirana, -Amore- menangis dalam pelukan suaminya –Samuel- suaminya? Hanya diam dengan hati tak kalah berecamuk.
Sedangkan Dika memeluk erat sang Bungsu kesayangan. Kasih Samuel.. Kasih hanya bersandar didada bidangnya sang kakak. Matanya menatap sang ibu dan ayah yang sedari tadi. Kepalanya menyemul membuat Dika menatap adiknya sayu. “Kakak... Kak Qiqi kenapa?” Tanyanya Polos.” Apa kak Qiqi akan kembali sakit lagi seperti kemarin?” cicitnya takut. Umurnya masih kecil untuk memahami situasi semacam ini, salahkah?
Dika mengelus puncuk kepala Kasih sayang. Ia tersenyum tipis. “Doakan saja supaya kakak Qiqi bisa sembuh ya sayang..” Ujarnya lembut. memaksakan tersenyum meski hatinya sangat tak tenang saat ini.
Kasih hanya menganguk, tak mau bertanya lagi saat mendengar suara kakaknya bergetar karena menahan tangis, ia tau itu, sebab mata kakaknya berkaca-kaca dan hampir menyemburkan laharnya.
Namun mereka dikejutkan saat dokter yang sudah menanganinya sudah tiga jam didalam sana sekarang menatap mereka dengan raut wajah berantakan. Bahkan ia menghela nafas lelah saat ini. sontak saja keluarga Qirana bangkit dan mendekat. “Bagaimana kedaaan putri saya dok?” Tanya Samuel –ayahnya- Qiraba panik.
Dokter itu menatap Samuel menghela nafas. “Bisakan bapak tenenang terlebih dahulu..” Ujarnya lembut, ia takut melihat kekhawatiran itu.
Samuel berusaha mengontrol dirinya lalu mengangguk. “Jadi bagaimana anak saya dok?” Tanyanya pelan.
Sokter itu tersenyum tipis. “Jantu anak bapak sudah sangat lemah, bahkan dikatakan sudah tak berfungsi lagi. Hidupnya Qirana hanya bergantung dengan alat pak. “ Ujarnya bersedih.
Samuel menganga. Dadanya nyeri saat ini, Qirana baru satu bulan kembali sadar dan sekarang ia dihantam dengan kenyataan. Apa ia akan kehilangan anaknya lagi? Ia mengeleng mengusir apa yang ia fikirkan “Tak bisa melakukan oprasi Dok? apakah tak ada pendonoran jantung atau semacamnya supaya anak saya tetap hidup?” Tanyanya. Mendada ia jadi Blank..
Dokter itu menggeleng. “ Tidak bisa pak. Ini memang syistem dari jantung dan pangkal jantung itu rusak. Anak bapak seakan tak lagi memiliki sistem tubuh. Ia bagaikan manusia tanpa jiwa...!” Ujarnya.
Bugh.. “Jangan sembarangan kau bicara..! Anakku masih hidup dan mempunyai jiwa...!” Teriak Samuel marah. Ia sangat marah dikalah dokter itu mengatakan jika Qirana tak mempunyai jiwa. Apakah ia sudah mati tapi hanya ada jasatnya saja saat ini?
Dokter itu tak melawan. Ia bahkan mundur beberapa langkah dengan bibir yangberdarah. Sudah biasa baginya dokter menjadi sasaran empuk bagi keluarga yang tak terima takdir. “Ayah... Ayah yang sabar...” Ujar Amore pada suaminya.
__ADS_1
Dika yang melihat itupun mendekati dokter. Kasih masih dalam gendongannya.” Terimakasih ya dok. dokter boleh pergi... soalnya saya takut ayah saya bertindak lebih parah..” Ujar Dika sedikit cemas dan merasa bersalah.
Dokter itu hanya mengangguk ramah lalu pergi meningalkan keluarga itu. Namun setelahnya Samuel berlari memasuki ruangan Qirana. Tapi sebelumnya ia sudah mengambil baju khusus untuk pengunjung UGD, Id dan juga masker.. kepala diturup. Karena memang tempat ini harus bersih dan steril membuat siapapun harus bersih dan steril juga yang masuk..
...
“Waktunya pulang Qira...!” Suara itu mampu membuat mata indah berwarna biru itu terbuka.. wajahnya yang putih mengeryit menatap sekitarnya... Ia berada dimana? Namun ia mencoba untuk bangkit dari tempatnya, ia melirik sekitar dan ternyata ia sedang berada ditaman Lili.. ahh,, ia jadi teringat kaisar Zauhan dan kenangannya.
“Dimana ini?” Gumamnya pelan. Seingatknya terakhir kali ia berada dirumah saja lalu tak sadarkan diri.
“Hey..!” Qirana baru tersadar ketika ada tepukan dipundaknya lalu merangkulnya. Ia mengerjab polos dikalah melihat seseorang didepannya ini.
Sesseorang itu menatap Qira lembut lalu mengusap kepalanya pelan, tanda kasih sayang. “Kamu siapa?” Tanya Qira lembut.” Damana ini dimana?” Tanyanya melihat sekitar.
Ini seperti disyurga.. ada banyak Lili dan kupu-kupu, ada air terjun yang sangat cantik, air yang jerni mengalir dan juga menawan.
Baju seseorang didepanya ini sama denganya. Putih polos. “Waktunya kau Istorahat dan tidur.. kau sudah terlalu lelah untuk hidup..! saatny istirahat.” Ujar seseorang itu para Qira sedih. Ia tersenyum lembut dan itu mampu membuat Qira tertegun.
Qira mengernyit.” Pulang kemana? Zaman kuno? Atau dunia modern?” Tanyanya mengerjab lagi. Ia bingung sekarang, ia bagaikan orang gila yang linglung. Jika bertanya bagaimana ia menjalankan hidupmya? Ia setiap malam terisak sendiri sembari memukul dadanya sesak. Ada rasa rindu yang mendalam dan ada sesuatu yang belum terselesaikan.
Kepala seseorang itu mengeleng.” Bukan kedua duanya. Kau akan kembali kepada sang penciptamu.. Mari ikut aku..” Ujarnya memegang pergelangan tangan Qira. ia mengajak Qira berdiri.
Namun Qira menahan tanganya dan menatap seseorang itu penuh tanda tanya. “Kita mau kemana jika tidak kedunia kuno? Atau kemodern. Aku merindukan teman-temanku dizaman kuno.. apa aku salah?” Tanyanya mengerjab polos.
Qira menggeleng.” Aku mau kembali keduia kuno.. Bantu aku kembali dan bantu aku kesana..” Ujarnya merengek. Karena ia belum mau pergi kesuatu tempat yang ia belum siap. Ia tak siap untuk sendirian saat ini.
Seseorang itu mengeleng.” Itu tidak bisa. Kau sudah waktunya pulang..” Ujarnya tegas namun lembut.
Qira menatapnya dingin.” Siapa kau yang bisa mengatuurku?” Tanya Qira dingin.
“Aku Dewa kematiannmu..” Ujarnya dingin.
Dugh... Qira merasakan sesak ditubuhnya.
“Apa itu artinya aku sudah mati?” Tanyanya pelan. Ia mengerjab tak menyangkah. Sedangkan pria didepanya ini hanya menganguk sembari tersenyum lembut.
Qira menerawang kedepan. “Apakah ramalan itu memag nyata? Dimana keluargaku mati dan teman-temanku juga pergi?” Tanya Qira padanya.. Ia ingat ramalan kakak Kim menimpahnya. Ramalannya sudah terwujud dan hanya satu lagi yang belum terwujud, yaitu kehancuran seluruh orang. Dan ia tak akan mau membiarkan itu terjadi.
....
__ADS_1
Mata yang terutup itu kembali terbuka lemah. Samar smar ia mendengar suara isak tangis diruangannya, ternyata ini adalah rumah sakit dan ia sudah dipindahkan keruang Intensif VIP. Wjar saja. Sebab keluarganya orang mampu, ia hanya mampu tapi bukan orang terkaya didunia.. Ia mengambil nafas pelan saat jantungnya terasa sesak.
Samuel yang sedari tadi memegang tangan Qira menjadi terkejut dikalah tangan itu tertarik. Qira menariknya karena ingin memegang dadanya. “Qi qira sayang.. kau sudah bangun nak?” Tanyanya bahagia... begitu juga dengan istrinya yang sedari tadi menangis sekarang menjadi diam dan menatap Qira dengan tatapan tak percaya.
Qra tersenyum samar.. ia megelus tangan ayahnya lemah dengan jempolnya. Ia mencoba membuka oksigennya namun dtahan oleh ayanya. Ia mengeleng.
Namun Qira menahan tangan Samuel“Sesak yah.. Qira mau bicara.” Ujarnya lemah. Ia merasakan sesak diarea hidungnya. Ia membuka itu supaya bisa berbicara dengan jelas mesipun lemah. Tangan Samuel tetap menahannya namun Qira memelas membuat ia luluh.
Qira merasakan usapan dikepalnya dari ayahnya sedangkan Ibunya memeluknya lembut. ia memejamkan matanya merasakan kehamgatan ini. kehangatan yang dulu ia inginan. Kehangatak yang ia damba-dambakan. Tapi enapa harus sekarang saat dimana ia harus memilih dunia.. Dunia mana yang harus ia tenpati, dunia mana yang harus ia inginkan. Ia mau keluarganya namun mau juga dunia yang ia sukain. Apa ia bisa meminta kedua-duanya?
“Sayang. Ada yang sakit? Ada yang kamu inginkan? Bilang sama ibu, supaya ibu ambilkan.” Tatapannya sayu, matanya bengkak pertanda sedari tadi ia menangis.
Qira menatap ibunya sendu. “Jika aku meminta penjelasan kenapa ibu dan ayah membenciku bisakah kalian jelaskan? Supaya tak ada dendam dihatiku. ini lebih sakit dari sini bu..” Ujarnya menunjukan jantungnya lemah.
Ayahnya mendongak menatap langit langit kamar. Matanya nanar saat ini. sedangkan Ibunya mengatup matanya erat saat ini. pertanyaan itu mengujami hatinya. “Kami tidak membencimu sayang... Kami hanya...” Ucapannya terdengar lidah dan tercekat saat ini. air matanya menghalangi tengorokannya yang kering.
Qira menatap ayahnya nanar. Tak membenci? Lalu apa yang ia rasakan selama ini? “Lalu semua yang kalian lakukan selama ini itu apa ayah kenapa kalian membeda-bedaan ku yahh? Kenapa?” Tanyanya lirih.
Ayahnya Qira menangis memegang tangan anaknya. mungkin saatnya ia memberi tahu anaknya ini... Ia mengecup singkat punggung tangan Qira. “Karena kau memang ditakdirkan untuk pergi dari kami Qira... Kau memang tidak ditakdirkan didunia ini. jadi kami hanya ingin membiasakan tak menyayangimu, dan membisakanmu supaya kelak kau memasuki duniamu, maka kau tak akan memikirkan kami disini sayang. Kamu hanya melakukan yang terbaik untukmu. Kami Hiks hiks.. Kami sangat menyayangimu..” Ia menangkup wajahnya dengan tangan mungil Qira. ia menangkup matanya yang 1 terisak saat ini saat mengatakan akan hal itu.
Ibunya juga terisak saat ini membuat Qira diam tak tau apa-apa. Apa maksudnya? Apa artinya? Ia tak paham.” Maksud ayah apa? Apa aku bukan anak kandung ayah? Aku anak kandung ayah yah.. aku.. aku yang mendonorkan darah saat ayah kecelakaan itu. Aku anak ayah dan ibu.. bahkan wajahku sangat mirip dengan ayah kata teman temanku. Meksipun aku tak mirip dengan ibu.. aku tau, aku anak kalian.” Ujarnya tersekat. dadanya sakit saat ia ingin menangis terisak. Jantungnya lemah menjadi main lemah. Ia meringis pelan sata ini.ayah Qira mendadak khawatir saat Qira meringis kesakitan.
” Jangan nangis sayang. Nanti dadamu sakit.. kau memang ana ayah dan ibu, kau benar, jadi tolonglah, jangan menangis. Kau memang kesayangan kamu..” Ujarnya lembut kepada sang putri untuk menenangkan. Ia mengelus kepala Qira sayang saat ini untuk menenangkannya.
“Lalu maksud ayah apa yah? Apa aku pernah berbuat kesalahan? Pernah Uhukk.. Uhuk.. Per pernah mem mem mebu at ayah murka..” Ujarnya terpurus putus sembari memegang dada. sangat sakit, apa lagi saat ia terbatuk membuat dadanya sesak.
“Kau minum dulu ya.. atau panggil dokter? Nanti biar ayah jelaskan. Tapi kau harus pulih dulu ya...” Ujar ayahnya panik.” Jika kau seperti ini bagaimana bisa kau mendengar ucapan ayah?” Ia mengelus pipi anaknya sayang.
Qira memang haus. Namun ia tak punya banyak waktu. Ia harus menyelesaikan masalahnya. “Qiqi mau minum.. uhuk.. uhuk./ haus.” Ujarnya batuk kering. Membuat ia mengerang merasakan perih bagian dalam tubuh,
Dengan cepat sang Ibu mengambil air dinakas dan mengambil sedotan baru. Ia membantu Qira sedikit naik dan membantu Qira meminum minumannya. sedangkan ayahnya menahan kepala Qira... Saat ini Qira memejamkan maranya merasakan kehangatan dan kenyamanan yag ada. Ia senang saat ini., ketika ia sakit, maka orang tuanya khawatir tak seperti dulu, yang tak akan pernah bertanya. Bahkan jika ia sakit, ia harus membeli obat sendiri supaya sembuh.
“Sudah baikan?” Tanya ayahnya menuruni lagi kepala Qira lembut, Qira mengangguk pasti setelah minum.
“Jadi apa alasan ayah membenciku?” Tanya Qira lembut. bukan lembut, namun lirih.
.
.
__ADS_1
.
Obat mager apa?