
“Aku masih mengantuk Zau...” Qira menguap sekali dengan sangat lebar lalu kembali membaringkan tubuhnya membuat kaisar berdecap pelan.
Dengan entengnya ia menggendong Qira ala Bridal style. Qira tak keberatan. Ia bahkan memeluk kaisar Zauhan supaya tak terjatuh membuat kaisar Zauhan tersenyum tipis. Berarti Qira tak menolaknya bukan?
Ia memakaikan mantel bulu berwarnah merah yang dihiasi buluh-bulu putih disekitar topi dilehernya. Ia memasangnya lalu menutup kepala Qira dengan topi mantel membuat Qira sangat imut. Kaisar Zauhan gemes membuat ia mengigit dagu Qira.
Qira berdecap sebal. Ia mendorong wajah kaisar Zauhan lemah. Ia masih sangat mengantuk. Kaisar Zauhan terkekeh melihat tingkah lucu Qira. "Kau sangat menggemaakan Qira..." Gumamnya sembari mencium pipi kiri Qira sekilas.
Lalu ia meletakkan Qira duduk didepan lalu ia duduk dibelakang Qira. mereka menunggngi Blackk.
Ia memeluk perut Qira lalu menjalankan kudanya membuat Qira tak lagi mau tertidur.” Kita mau kemana sii?” Tanya Qira sembari merasakan hawa dingin. ia mengup beberapa kali. Sungguh tidurnya terganggu.
“Kau pasti suka...” Ucap kaisar Zauhan sembari mengecup pipi kiri Qira.
Qira menjauhkan wajah kaisar Zauhan.” Jika aku tak suka bagaimana?” Tanyanya.
“Maka kau bisa meminta apapun dariku. Aku pasti akan mengabulkannya.”
“Benarkah?” Qira bertanya penuh binar.
“Tapi jika kau suka maka kau juga harus melakukan suatu hal untukku.”
“Apa itu?” Tanya Qira kepo.
Kaisar Zauhan tersenyum.” Kau harus menciumku disana. Supaya tempat itu menjadi saksi untuk kebersaan kau dan aku. Bagaimana?” Tanya kaisar Zauhan.
“Siapa takut. Lagipula. Aku sudah melewati hutan manapun, mulai dari yang indah sampai yang seram. Aku yakin jika tempat ini tak terlalu sebaik yang kau tawarkan.”
__ADS_1
“Kita lihat nanti..”
Setelahnya hanya derap kaki kuda yang terdengar. Kaisar Zauhan yang pokus didepan sedangkan Qira masih menatap sekitar yang sanat sepi. Tapi ia bisa merasakan jika ada yang mengikutinya dan ia tau siapa itu.
Saat 20 menit mereka sampai dipuncak gunung. Awalnya mata Qira yang menguap sekarang mengaga. Tepat dipaling ujung sunung itu kuda berhenti.disana Qira bisa melihat jika mereka sedang berada diatas awan. “Sekarang masih sedikit pagi. Ayoo kita tunggu sebentar lagi.” Ucap kaisar Zauhan pelan. Ia turun dari kudanya lalu menyambut Qira.
“Memangnya apa yang beda jika sebentar lagi dengan yang sekarang?” Tanya Qira yang masih kagum akan hal ini.
“Lihat saja nanti..” Ucap kaisar Zauhan. Ia membersihkan batu lalu mengajak Qiira duduk untuk menunggu.
Tak berselang lama cahaya disana mulai terang membuat Qira terasa diatas awan. Disudut timur ia bisa melihat cahaya kuning keemesan yang berkilai membuat awan disana sedikit menyingkir.. qira mengaga dengan penuh kagum, disini bisa melihat desa dan hutan sekaligus. Ia bahkan hidup seperti dikerajaan langit..” Ini sangat indahhh..” Gumam Qira tak sadar. Ia berdori dengan menentang kedua tangannya menikmati mata hari yang meneranginya.
Kaisr Zauhan tersenyum, tak sia-sia ia bertanya pada Ren. Ia mendekat lalu memeluk perut Qira. qira yang menyadari itu langsung membuka matanya lalu menoleh. Ia melihat wajah kaisar Zauhan dibahunya. Ia mau marah namun ia tak bisa, karena apa? Karena ia bisa melihat wajah nyaman kaisar Zauhan. Ia bahkan memejamkan matanya.
“Kau suka Qira?” Tanya kaisar Zauhan.
Kaisar Zauhan menarik tubuh Qira untuk menghadapnya.” Katena ini duniaku.” Ia memberi jeda.” Lalu apakah kau mkasih ingat jannimu?”
“Janji? Apa? Kapan?” Tanya Qira mengerutkan keningnya.
Kaisar Zauhan memajukan wajahnya dan berbisik.” Cium....” Ia memhetuk bibirjya dengan telunjuk
Dug....
Jantung Qira jatuh dengan tak elitnya. Kaisar Zauhan bahkan bisa mendengar detak itu. “Dimana kau harus menciummu?” Tanya Qira angkuh. Ia tak mau kelihatan salting tapi mukanya sudah memerah. Ia bahkan tak sadar jika kaisar Zauhan sudah mengetuk bibirnya. Qira mengerutu, mengapa ia selalu meremehkan kaisar Zauhan dan berakhir seperti ini. Selalu...
Kaisar Zauhan terkekeh. Ia menunjukan bibirnya.” Disini.” Ia menarik turunkan alisnya.
__ADS_1
Tolong panggil tabib. Qira mau berobat saja saat ini. terkutuklah kau kaisar Zauhan...! yang membuat Qira jantungan. Qira menghela nafas, tak mau banyak kata ia mencium bibir kaisar Zauhan sekilas.
Tapi tak semuda itu. Kaisar Zauhan lebih dulu menahan tengkuk Qira. iia sedikit merunduk lalu mengangkat tubuh Qira. ia memeluk tubuh Qira yang sudah tak memijakkan kakinya ditanah. Qira memberontak dengan menendang-nendang udarah.
Seperti yang sudah kaisar Zauhan bilang jika ia akan membut tempat ini sebagai saksi akan kebersamaan mereka. mereka masih dengn posisi sama dengan matahari yang semakin lama semakin menyinari mereka membuat tempat yang awalnya sedikit gelap sekarang sudah terang.
kaisar Zauhan melepas pangutannya. Matanya menatap mata Qira yang berkabut dengan rasa gugup dan juga amarah. Gugup karena kedekatan mereka dan marah karena dia tak bisa menolak dan memberontak.
Kaisar zauhan metakkan Qira didepannya lalu meletakan kepalanya dicengkuk lehernya. Mereka menatap awan yang menutupi pemandangan membuat mereka serasa hidup diatas awan. "Kau tau mengapa aku membawamu kemari?" Tanyanya berbusik.
Qira msngerutkan keningnya. Ia hanya diam Saja. "Karena aku menyukai matahari terbit. Matahari terbit itu menggambarkan harapan, bangun, semangat dan bangkit dari zona nyaman kita. Aku melambangkan matahari terbit disini sebagai kamu. Kamu yang akan menerbitkan cintamu untukku, kamu yang akan bangun untukku dan kamu yang akan memberi cahaya bagiku " Ucapnya berbisik.
Qira tersenyum "Dasar kaisar Alay." Katusnya yang bertolak belakang dengan jantungnya.
"Alay? apa lagi itu? Banyak sekali nama panggilan untukku." Cebik kaisar Zauhan. kemarin edan, trus endas dan sekarang alay.
Sesayang itulah Qira padanya? Banyak sekali nama panggilannya.
Qira terkekeh. " Alay itu anak layangan alias anak yang banyak gaya kayak kamu tu. gaya sok romantis, nyatanya nanti juga punya selir. Sekarang aja ngatain cinta sama aku. Nanti pas ketemu cewek cantik baru pergi. Cihhh Kalian kira kami mainan yang kapan kalian mau main diambil dan kapan kalian bosan lalu dibuang." Cetus Qira. Ia tak sadar baru saja mengungkapkan isi hatinya.
Kaisar Zauhan menatap Qira lekat. "Aku nggak akan pernah punya perempuan lain dalam hidupku. Aku bukan lelaki yang suka banyak perempuan. Lagi pula jika aku seperti itu, sejak lama aku menikah dan akan membuat haremku sendiri diistana. Bukankah itu mudah bagiku? untuk apa menunggunmu harus menjadi istriku dulu baru mencari selir?"
lah benar pulak... Jika kaisar Zauhan gila wanita sudah pasti ia sudah dikelilingi wanita. Apa kurangnya? Tampan, sangat bahkan. Seorang kiasar dan juga bijaksana....
"Jadi Qiqi. apakah kau sudah mencintaiku?"
Sial... Qira tak bisa menjawab.
__ADS_1