Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Bersama kakak Kim 2


__ADS_3

Qira mnegngguk lalu mengiringi Black menuju kuda kakak Kim. Setelahnya mereka menitipkan kuda mereka kepada tukang kuda terdekat.


Qira memilih menitipkan kuda karena dipasar itu sangat ramai, masa iya mereka melewati orang-orang dengan menunggung kuda, bisa-bisa bahan jualan mereka diinjakoleh kuda mereka.


“Kakak mau beli apa?” Tanya Qira menatap kakak Kim.


Kakak Kim menggusuk lehernya tak enak. Faktanya mereka jadi tatapan lapar para kaum hawa. Sepertinya Qira dianggap pria tampan disini. Tapi ada juga yang sadar jika Qira itu Perempuan. sehingga membuat orang-orang menatap mereka dengan tatapan pemujaan.


“Kakak...” Panggil Qira lagi karena tak mendapatkan sahutan dari kakak Kim.


Kakak Kim terkejut sekaligus menatap Qira. “Ma maaf. Aku kurang fikus. Ada apa Qiqi?” Tanyanya.


Qira menatap kakak Kim datar. “Kau mau beli apa?”


“Kita makan saja ayoo..” Jawab kakak Kim cepat. Ia sudah sangat risih melihat orang-orang yang ada yang ngeces, ada yang mimisan, bahkan ada yang pingsan saat menatapnya. Ia menaruk tangan Qira menuju kedai terdekat.


Qira mengernyit heran. Ia tau jika mereka menjadi pusat perhatian, tapi itu sudah biasa baginya. Kakak Kim bukannya berlebihan, hanya saja ia baru pertama kali keluar dari istana semenjak ia sakit baru kali ini. dan ia sudah sangat lama tidak berinteraksi dengan manusia. Mungkin karena itu ia sangat risi dan tidak nyaman.


Kakak Kim masih menggenggam erat tangan Qira saat memasuki kedai. Ia membawah Qira duduk dipaling pojok kedai supaya tidak ditatap orang lain. “Ayo duduk.” Ucap kakak Kim sembari menarik kursi Qira lembut.


“Teriamakasih kak.” Ucap Qira lembut. ya Qira bisa berlaku lembut jika berurusan dengan kakak Kim.


Kakak Kim pun mengangguk lalu duduk dihadapan Qira. Sesaat setelahnya ada pelayan perempuan yang menghapiri mereka. “Permisi tuan, nona.Kalian mau pesan apa?” Tanyanya sopan sembari melirik kakak Kim malu-malu.


Kakak Kim kembali risi. “Ehm,,, Qira, kau mau pesan apa?” Tanya kakak Kim menatap Qira.


“Aku rusa bakar dan rebus telur dua. Minumhya susu panas,” Jawab Qira santai.


“Rusa bakar dua porsi dan susu juga 2 dan telur rebus 2 .” Pesan kakak Kim cepat.


“Baiklah. Saya permisi dulu ya tuan, nona.” Ucap pelayan itu lembut sembari berlalu.


“Apa kabar kalian?” Tnaya kakak Kim.


Qira tersenyum lembut. “Baik. Kau bagaimana pertandingan yang kau ceritakan tadi?” Tanya Qira balik.


Kakak Kim terkekeh. “Kau tau? Aku memenangkan tarung bebas dan tangkis pedang, aku latihan hanya dua minggu setekah kau pergi dari istana. “ Jelasnya bangga.


Qira tak bisa tak kagum. 2minggu itu waktu yang singkat. Sangat bahakn, ditambah tubuhnya yang sudah lama tidak digerakkan pastilah sangat kaku. “Lalu. Apa hadia untuk ku?” Tanya Qira.


Kakak Kim kembali tertawa. “Aku akan mentraktirmu hari ini sepuasnya. “ Jelasnya. “Lalu apa kau tak mau bertanya mengapa aku bisa menang?” Ia menaik-turunkan alisnya.


“Apa memangnya?” Tanya Qira.


Kakak Kim diam sesaat sembari menatap wajah Qira. “Kaena aku merindukan mu. Karena itu menjadi semangatku saat latihan dan bertarung.” Jawabnya tulus.


Qira? Ia membuang wajah kearah lain. Dug... jantungnya dipacuh lebih cepat dari biasanya. Ah, rasanya jantungnya ingin meloncat dari dadanya. Wajahnya ada Senyum malu yang dihiasi rona merah. “Kakak Kim bisa saja.” Gumamnya malu.

__ADS_1


“Mengapa kau melihat kesana. Aku serius.” Ucap kakak Kim sembari memegang dagu Qira supaya menatapnya. Ah


“Iya. Aku juga merindukan kakak.” Jawab Qira setenang mungkin.


“Permisi Tuan. Nona. Ini pesanannya.” Salah satu pelayan menganggu acara romantis antara Qira dan kakak Kim. Tapi Qira bernafas legah, karena berdekatan dengan kakak Kim membuat jantungnya menjadi tak tau diri.


“Terimakasih..” Ucap Qira dan kakak Kim serentak.


Kakak Kim menatap Qira, begitu juga Qira. Setelahnya mereka tertawa, entah tertawa apa, tapi kekompakan mereka bagaikan lelucon yang menyenangkan.


“Ayo makan..” Ucap kakak Kim. Qira mengangguk lalu mengambil makanannya.


Qira makan tak jorok ya meskipun ia perempuan setengah jadi. Ia makan masih dengan etitut yang benar, apa lagi jika didepan kakak Kim. Urat malunya menjadi kembali tersambung.


Kakak Kim menatap Qira makan dengan senyuman manis, entah, Tapi memandangi Qira membuat ia teringat akan adiknya yang hilang. Ia juga snagat berterimakasih kepada Dewa. “Kau makan banyak juga ya. Tapi mengapa tubuhmu masih kecil dan kurus?” Tanyanya.


Qira menatap kakak Kim sembari mengunya makanannya. Ketika makanan itu sudah tertelan barulah ia menjawab. “Entahlah. Mungkin karena tubuh ini sedari kecil diracuni menyebabkan pertumbuhan ku menjadi kecil. Ditambah dulu pinggangku pernah patah.”


“Diracuni? Patah?” Beo kakak Kim kaget.


Qira mengangguk. “Sudahlah, jangan dibahas lagi.”


“Apa itu ulah keluargamu?” Tanya kakak Kim takut. Qira hanya mengangkat bahu acuh. Malas membahas keluarga. Rasa laparnya hilang seketika, sungguh ia tak menyukai masa lalunya.


Setelahnya tak ada pembicaraan lagi, Kakak Kim yang sibuk dengan pemikirannya tentang masa lalu Qira. Sedangkan Qira sudah kehilangan selera makan dan bicara. Sampai pada mereka selesai makan, mereka memilih pergi dan berbelanja.


Kakak Kim menggengam tangan Qira erat saat diperjalanan. Satu karena nyaman, dan yang kedua karena ia suka.


“Apa kau lelah Qiqi?” Tanya kakak Kim perhatian.


Qira menganggukkan kepalanya. “Biasanya Leon dan Wolf akan bergantian mengondongku jika berjalan jauh.” Ujarnya jujur.


Kakak Kim tanpa berucap langsung menjongkokkan diri didepan Qira. “Ayo naik.” Ucapnya.


“Bu bukan maksudku bukan minta gendong kak.” Jelas Qira.


“Tidak apa. Ayoo..” Ia menepuk punggungnya menyuruh Qira naik.


Qira tersenyum lebar dan menaiki punggung kakak Kim. Ia mengalungkan lengannya dileher kakak Kim erat, sedangkan kakinya mengapit pingang kakak Kim. Cih ia bagaikan anak kecil jika nyaman terhadap orang lain.


Tapi yang membuatnya miris adalah. Setiap orang yang menggendongnya adalah orang lain. Jujur, hatinya sangat berharap jika yang mengendongnya adalah kakak-kakaknya.


“Itu.. Kedai apa? Kok sepi ya?” Tanya Qira heran saat melihat satu kedai yang sangat sepi.


“Entah lah. Kau mau kesana?” Tanya kakak Kim.


“Boleh. Aku juga penasaran.” Jawab Qira.

__ADS_1


Kakak Kim melangkah kan kakinya kekedai yang tak terlalu besar itu. Ya, kedai ini sangat sepi. Mungkin dengan aurah gelap disini membuat orang-orang tak mau datang kemari.


“Permisi...” Ucap kaka Kim sopan didepan pintu.


Tak lama setelahnya ada wanita paru baya keluar dengan tongkat bengkoknya. Membuat Qira mengernyit. “Silakan masuk. Terimakasih sudah berkunjung kemari..” Ujarnya bergetar layaknya nenek-nenek.


Kakak Kimpun mengangguk dan memasuki rumah itu masih dalam metode menggendong bayi besar.


“Silakan duduk.” Ucap nenek itu sembari menatap Qira dalam.


“Terimakasih.” Ucap kakak Kim sembari menurun kan Qira pelan-pelan.


“Ini temat apa nek? Kedai makanan kah?” Tanya Qira sambil duduk disamping kakak Kim.


“Ini bukan kedai. Tapi nenek menyediakan tempat meramal untuk orang-orag..” Jawab nenek itu sambil duduk didepan Qira.


Qira menganga. Wajar saja sepi dan gelap, ternyata ini bukan kedai, melaikan tempat meramal. Ahh. Rasanya ia meneysal memasuki tempat ini


“Wah? benarkah nek. Aku mau diramal..” Ujar kakak Kim. Ya, dia sangat antusias, berbeda dengan Qira.


Sebenarnya Qira tak mempercayai tempat ramalan karena dulu juga selir Mei memfitnah Qira menggunakan ramalan. Ah, ia tak menyukai hal ramalan.


Nenek itu masih menatap Qira lekat seakan-akan ia memberikan kesan memasuki jiwa Qira untuk menembus suatu hal yang dalam. Apa itu hanya perasaan Qira. Tapi Qira malas untuk melayani tatapan itu.


“Ah.. iya.. kau hanya perlu memegang batu putih ini.” Jawab nenek itu. Ia mengambil kristal sebesar bola pimpong dari balik bajunya. Kristal itu berwarnah putih. “Kau letakkan disini.” Lanjtnya smberi memberi perunjuk.


“Apakah kau mau diramal?” Tanya nenek itu menatap Qira...


.


.


.


.


.


**Allhamdulliah sudah up juga.. hufss...


Maaf ya, otak Author rada mampet mikir. Mana lagi sibuk, kalian tau ngnak. Masa sekarang masih nggak libur kulia. Ditambah bantuin ibu masak kue lebaran lagi. Jadi susah mikir hadeww. Jadi curhat kan wkwk...


Ahhh..... Like, Komen dan Vote ya.. Nanti author beri yang lebih bagus kalo udah dapet Idenya.


Mana pendukung Qira dan kakak Kim?


Dan

__ADS_1


Mana pendukung Qira dan kaisar Zauhan?


Mana ya jodoh Qira menurut kalian**..


__ADS_2