Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Cemburu


__ADS_3

.


.


.


.


Setelah adegan romantis yang batal antara Leon dan Qira, membuat Qira memilih duduk disamping Leon. Sedangkan kaisar Zauhan duduk disisi lain sambil melirik Qira yang bersandar dibahu Leon mesra. Hatinya saat ini berteriak sambil mengobrak abik, jantung, usus dan juga seluruh isi perutnya.


Masalah mayat yang berada didalam gubuk tadi sudah Leon buang keluar gubuk.


Kaisar Zauhan sudah tau akan mata Qira berwarna biru. Sejak pertama kali bertemu malah. Kaisar Zauhan bukan tandingan. Qira saja tak bisa membaca fikiran nya. jadi tak perlu kaget.


mau tau bagaimana ia tau? Ikuti saja sampai penjelasan nya nanti.


“Qira...” Suara itu berasan dari luar gubuk.


Sontak Qira menegakkan kepalanya menatap asal suara. “Wolf..” Gumamnya pelan. Ia sangat hafal suara sahabat-sahabatnya itu. Sungguh, buta sekalipun ia masih akan tetap kenal dan hafal.


“Qira....” Ucap Wolf masuk didalam gubuk itu. Tubuhnya basah kuyup bagaikan anak ayam yang baru menetas dari telur.


“Iya... Mana putri Tea?” Tanya Qira heran. Ia sudah mendengarkan cerita kejadian yang menimpah Wolf siang tadi.


“Hadir kakak.” Putri Tea muncul dari balik punggung Wolf. Senyumnya mengembang lebar. Sungguh sangat manis. Tapi tak disukai oleh Readers.


Cekcekcek....


Malangnya nasibmu putri Tea ....


“Apa kalian baik-baik saja?” Tanya Qira menatap Wolf.


“Iya. Kami awalnya sudah kembali. Tapi tak bisa masuk keistana. Kan kita pergi bersama, jadi putri Tea takut.” Jawab Wolf sembari megusap bajunya. “Jadi kami mencari kalian. apa kalian juga baik-baik saja? Aku melihat perdana Mentri Hiyuang mati didepan.” Lanjutnya.


“Sini... puk.. pukk...” Qira menepuk sisi kanannya. Tentu saja Wolf tak menolak. “Aku baik-baik saja. Kaliankan tau jika aku hebat.” Ucapnya sembari menghapus jejak air di wajah Wolf lembut.


“Hem.. Aku mempercayaimu Qiqi..” Jawab Wolf lembut. ia tersenyum lembut saat ini sembari menatap wajah Qira yang sedari tadi mengusap wajah dan rambutnya. Sama sekali tak ada raut takut basah atau kedinginan dimata Qira saat membersikan air diwajahnya. Sunggu Wolf sangat terharu.


Cup...


Ia mencium pipi Qira. “Hadiah karena sudah membersikan wajah ku.” Ucapnya manis.


“Ehem...” suara deheman keras itu dari sudut gubuk. Tepatnya dari Kaisar Zauhan. Matanya menatap Wolf penuh peringatan.


Qira malas untuk berdebat saat ini. ia memilih melepaskan jubah dari kaisar Zauhan ditubuhny. “Pakai ini. nanti kau kedinginan.” Ucapnya.


“Lalu kau?” Tanya Wolf.


“Kau basah Wolf. Aku tak ingin kau sakit.” Sahut Qira memaksa.


“Tak apa Wolf. Biar Qira memeluk kita saja biar sama-sama hangat.” Sahut Leon yang sedari tadi.


“Ehemm...”


Deheman kaisar Zauhan semakin keras, tidakkah sakit tenggorokannya? Sungguh heran Qira.


Puk...puk... “Tidurlah disini.” Ucap Leon sembari menepuk pahanya.


Qira tersenyum dong. Ia menculurkan kakinya dipangkuan Wolf dan meletakkan kepalanya dipaha Leon. Leon mengelus kepala Qira sayang, emmbuat Qira terasa hangat.


Sedangakn Wolf menaruh jubah itu diatas pangkuannya untuk kaki Qira, jangan sampai basa dan membuat Qira kedinginan. Ia juga mengelus kaki Qira sayang. Sementara itu Qira terlelap. Karena memang saat ini sudah mau gelap.

__ADS_1


Mata kaisar Zauhan menggelap. Sedari tadi ia berdehem. Itu peringatan woy, peringatan...!


Tapi diibaratkan angin lalu saja oleh tiga orang yang bermesraan. Disini siapa suami da siapa yang dicium? Sungguh hati kaisar Zauhan terbakar api cuka. Mau melempar Leon dan Wolf ia tak mau mendapatkan kemurkahan Qira. Rasanya ia mau memberikan Leon dan Wolf di naga peliharaannya. Sungguh, ia tak suka Qira seperti ini.


“Kakak..” putri Tea mengerjaban matanya sembari mendekati kaisar Zauhan. Matanya beralih lagi menatap Qira yang mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari dua orang sekaligus.


“Ada apa Te?” Tanya kaisar Zauhan dingin. Sama sekali tak ada kelembutan dari nada itu.


“Apa aku boleh bersandar dibahumu?” Tanya putri Tea penuh harap.


“Tidak.” Jawab kaisar Zauhan tegas.. matanya tetap menatap Qira tanpa berkedip. Tangannya mengepal erat.


“Kakak...” Rengek putri Tea. Ia juga mau dimanja, ia juga mau disayang. Tapi sayangnya angin dinginnya hujan tak merestui itu. Membuat ia hanya duduk diatat kursi sembari mencengkram bibir kursi erat. Ia baru kehujanan, sudah hamir satu jam ia berkuda dengan Wolf. Ia meminta berhenti sedari tadi. Tapi Wolf sama sekali tak mendengarkannya.


Otak Wolf dipenuhi oleh Qira saat itu. Ia takut Qira kenapa-napa, ia takut Leon menjadi sasaran pembunuhan. Semua itu membuat dirinya buta. Ia tak memikirkan putri Tea yang basah dan kedinginan. Selagi ia menjaga putri Tea saja sudah cukup baginya. Karena itu putri Tea kehujanan diatas kuda. Wolf juga membawa kuda dengan sangat tergesa-gesa.


Wolf berhenti disebuah gubuk ini karena melihat kuda Qira yang dibawah pohon. Matanya juga menatap banyaknya orang yang terkapar didepan gubuk ini membuatnya berhenti dan memeriksa. Ia bernafas legah saat tau jika Qira benar-benar ada didalam. Ia bahkan sampai lupa jika putri Tea berada dibelakangnya.


Qira sebenarnya tertidur pulas. Tapi telinganya mendengarkan suara tangisan anak kecil disela-sela hujan. Anak kecil? Bagaimana bisa dihutan?


Qira terbangun dari tidurnya tapi tak membuka matanya. Ia memfokuskan pendengarannya lagi untuk memastikan jika pendengarannya tak salah. Tapi ia masih mendengar tangisan anak kecil yang menjerit histeris dikeramaian hujan.


Sontak saja Qira bangun dari tidurnya. “Ada apa Qira?” Tanya Leon saat kepala Qira terangkat.


“Aku mendengarkan suara anak kecil menangis. Apa kalian mendengarkannnya?” Tanya Qira heran.


Leon mengerutkan keningnya. Ia diam untuk mendengar apa yang Qira jelasi tadi. Matanya melebar seakan terkejut. “ Benar Qira. Ada suara anak kecil.” Ucapnya histeris. “Tapi dari perutmu.” Lanjutnya sembari menunjuki perut Qira.


Qira mendengus sebal. Anak diperut Qira memang sudah mengonggong sedari tadi. Sungguh ia lapar, tapi bagaimana caranya ia makan saat ini coba?’ “Aku serius Leon.” Ucap Qira kesal.


“Aku mendengarnya Qiqi.” Sahut Wolf. Ia mendengarkan ucapan Qira sedari tadi.


“Benarkah?” Tanya Qira semangat.


Sumpah demi apa rasanya Qira mau menabok bokong Wolf dan Leon pakai sapu.


“Aku serius Wolf, Leon...” Ucapnya menatap sahabatnya yang tertawa terbahak-bahak.


“Kami juga serius Qira. Anak kitakan belum lahir.” Sahut Leon.


“Kita?” Tanya Qira melotot.


Leon mengangguk. “Kita.” Ucapnya sembari menunjukan Qira, dirinya dan juga Wolf.


Oh no...! menikahi dua pria sekaligus? Sahabatnya pulak... “platkkk..” Qira menjitak kepala Leon keras.


“Aws,, sakit Qiqi...” Ucap Leon meringis sambil mengusap kepalanya.


“Siapa suru kau mengada-ngada.” Ucap Qira ketus.


“Benar kata Leon. Aku mau menikai mu saja Qiqi. Biar kita seperti ini terus.” Sahat Wolf.


Platlk...


“Apa isi kepala kalian ha?” Tanya Qira saat sesudah menjitak kepala Wolf.


“Kami hanya bercanda...” Kekehan Leon.


Qira henya mendengus . Tapi lagi-lagi suara anak kecil menangis Memasuki gendang telinganya.


Kaisar Zauhan semakin mengepalkan tangannya. Apa-apaan istrinya harus dibagi? Menikah lagi?cih ia sungguh tak sudi dimadu.

__ADS_1


“Tunggu. Biar aku memastikan kedepan.” Ucap Qira sembari berdiri.


“Kau mau kemana?” Tanya Leon dan Wolf nyaris serentak.


Qira tak mau mendengarkan mereka dan muai keluar gubuk itu. Sontak saja Wolf dan Leon mengikuti jalan Qira. Qira kembali memfokuskan pendengarannya untuk mencari sumber suara. Kepalanya menoleh kekanan mendapatkan sumber suara.


“Ku mau kemana? Hujan.” Ucap kaisar Zauhan sembari menahan lengan Qira.


Qira menepis tangan kaisar Zauhan dan berlari membelah hujan saat ini. tubuhnya yang sudah kering kembali basa. Matanya melirik kesegala arah. Lehernya kekanan dan kekiri mencari asal suara. Suara anak kecil menangis itu.


Mata Qira beralih melihat anak kecil yang penuh lumpur dibawah pohon. Ia merangkak kesegala arah. Warna bajunya sudah tak dapat lagi diterawang. Umurnya sekitar 2tahun saat ini. sunggu pemandangan yang sangat memperihatinkan. Hati Qira sekan diremas siapa yang tega meninggalkan anaknya dihutan? Hujan lagi. Sungguh orang tua yang biadab.


Qira menekati anak itu yang menangis histeris. Wajahnya penuh dengan lumpur, bahkan diarea mulutnya penuh tanah. Matanya merah pertanda ia sudah menangis cukup lama. “Eh... cup,.. cup..cup... Sini sama kakak. Jangan nangis.” Ucap Qira sembari membungkuk.


Qira merangkul tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Sungguh tak ada rasa jijik di hatinya sat ini. hatinya sangat ibah, sungguh. Bahkan ia menangis. Tangisan anak itu menjadi surut. Ia mengalungkan lengannya dileher Qira erat.


“Siapa ini Qira?” Tanya Wolf. Ternyata ia mengikuti Qira.


“Anak siapa ini?” Tanya kaisar Zauhan heran.


Ahgkk. Ternyata mereka semua mengikuti Qira . kecuali putri Tea.


“Cepat kita kembali kegubuk.” Ucap Qira tanpa mau menjawab peertanyaan yang tak melihat tempat.


Ia berlari membawah anak itu dalam pelukannya. Erat. Sangat erat ia memeluknya, bahkan lumpur dari baju anak itu berbegi dengan baju Qira. Sedangkan kaisar Zauhan dan lainnya mengikuti Qira dari belakang.


“Ini. lepas bajunya. Pakai jubah yang kau berikan tadi saja Qiqi.” Ucap Wolf sembari memberi juba yang tebal itu.


Qira sudah sampai digubuk itu. Ia menerima jubah itu dan mulai membersikan tubuh anak itu. Ia mulai membuka baju anak itu dengan telaten menyisakan tubuh putih nan gembul itu didepannya.


“Ternyata anak laki-laki.” Ucap Leon menatap ***** (Sensor nggak ya hehe) anak itu.


Anak itu masih saja menangis sedari tadi. Entah apa maunya, apa karena dingin, hujan atau lapar, sunggu Qira tak tau. Yang Qira tau, ia mengambil air hujan dan membersikan seluruh tubuh anak itu, dan melilitkan jubah kebesaran itu ditubuh mungilnya. “Jangan menangis lagi, hey...” Ucap Qira lembut.


“Hiks hiks.. mam... mam..” Gumam anak itu sambil memangis.


“Mam?” Beo Qira. Sunggu Qira memang bisa bahasa binatang. Tapi ia tak bisa menerjemahkan bahasa bayi.


“Mam bu. Mam bu. Par hiks hiks par...” Gumam anak itu sembari sesegukan.


“Mam bu?” Beo Wolf tak kalah heran.


“Makan?” Tanya Qira sembari Menarukan jarinya kemulit bagai patokan ayam gitu lo.


Kecerdasan yang luar biasa dari anak itu. Ia mengangguk disela menangis. “Mam bu. Mam.” Ucapnya sesegukan.


“Makan apa? Kita tak punya makanan.” Bingung Qira.


Kaisar Zauhan yang sedari tadi menatap Qira yang merawat anak itu tersenyum tipis. Ia tak menyangkah gadis dingin itu sangat baik, tak mudah jijik bagaikan gadis lain. Sungguh Qira gadis yang sangat berbeda dari gadis lain.


“Bukankah anak kecil minum susu biasanya?” Tanya putri Tea.


“Dimanna kita mengambil susu?” Tanya Leon.


“Bukankah kalian para wanita menghasilkan susu?” Tanya kaisar Zauhan sembari menatap dada Qira.


Sontak saja Qira menyilangkan tangannya didada dan menatap kaisar Zauhan tajam.


“Kau pikir aku ibu menysuhi? Hey aku belum punya anak yang, punya air susu.” Bentak Qkira cempreng..


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2