
Tidak khawatir kah? Lalu untuk apa itu semua.’’ Ingin rasanya tabib itgu menjawab. Tapi sayangnya ia masih sayang keluarganya. Ia berbalik. “Baik yang mulia. Akan saya laksanakan.”
Kaisar Zauhan mendekati tubuh Qira. Ia duduk disamping kasur dan memandang wajah pucat Qira. Tangannya terulur lagi untuk memeriksa keadaan Qira. Panasnya sekarang tak lebih tinggi dari tadi. Ia memeriksa leher Qira. Qira menggeliat dan bergumam. “Dingin.”
Kaisar menatap Qira dengan raut rasa bersalah. Tapi ia selalu menepis rasa itu. “Siapa kau sebenarnya. Apa kau penyihir.” Gumamnya. Ia merasa jika dirinya ada yang berbeda. Mengapa ia bisa merasa bersalah? Mengapa ia merasa sakit saat melihat Qira dicium dan tertawa dengan orang lain. Dan yang terakhir mengapa ia ingin menghapus ciuman orang lain dari permukaan kulit Qira. Seakan akan tak suka akan semuanya. Tapi lamunannya terhenti ketika satu pelayan masuk membawa sup jahe.
“Ampun yang mulia. Ini sup jahe dan obatnya.” Ucapnya.
Kaisar Zauhan hanya mengibaskan tangannya isyarat berhenti disana saja. Ia berdiri dan mengambil sendiri nampan itu. Ya dia tak suka ada orang lain masuk dikamarnya. Kecuali tabib tak ada yang boleh, bahkan kedua orang tuanya tak boleh. Tapi sekarang ia membolehkan Qira. Bukan membolehkan, bahkan masuk saja, tapi juga tidur.
Pelayan tadi? Dia hanya beruntung karena membantu Qira ganti pakaian
Tanpa berucap kaisar Zauhan hanya mengibaskan tangannya untuk isyarat ‘pergi’ untungmya pelayan itu mengerti. Rasanya isa sangat tak suka melihat tatapan dan gerak tubuh seorang perempuan yang menatapmya memuja. Karena itu tak ada yang boleh menatapnya lebih dari beberapa detik, dan tak ada yang boleh menyentuhnya. Mungkin karena sesuatu.
Ia berhenti dipinggir kasur. Ia duduk dipinggirannya. Ia menepuk pipi Qira pelan. “ Bangun..” ucapnya dingin.
Qira hanya menggeliat dan berhumam dingin berkali-kali. Kaisar Zauhan sebenarnya iba, tapi bagaimana ia bisa sembuh jika Qira tak meminum obat. “Hey bangun..” Ia menepuk lagi pipi Qira.
Qira membuka matanya yang terasa panas. Kepalanya sangat sakit saat ini. matanya beralih menatap wajah kaisar Zauhan. “Makan.” Ucap pria didepannya.
Qira tak mau menolak. Karena ia memang belum makan sedari pagi. Ia memaksa duduk, tapi ia terkejut ketika kasiar Zauhan membantunya duduk. Tapi ekspresinya cepet-cepet ia rubah. Kaisar Zauhan memberikan bubur itu kehadapan Qira. “Makan.” Ucapnya dingin.
Qira menerimanya dengan gemetar. “Aku lapar. Aku tak ingin makan ini.” Ucapnya lemah.
Kaisar Zauhan memicingkan mata. Bukannya orang sakit tak berselera makan, lalu ini apa?. “Kau sakit, mengapa bisa kau bernafsu makan.”
Qira hanya memegang perutnya, ia bahkan tak sadar jika bajunya sudah diganti. “Aku belum makan sedari kau memberi ku makan tadi.” Ucapnya lemah.
Kaisar Zauhan menatap Qira sebentar lalu keluar. Ia memerintahkan pelayan membawa makanan untuk Qira. Tapi setelahnya ia kembali. “Mengapa aku disini? Bukannya kau mengusirku?” Tannya Qira heran.
Kaisar Zauhan menaikan alisnya. “ Aku hanya tak mau dicap sebagai suami yang tak baik.”
__ADS_1
Gleg... Qira merasakan jantungnya berdenyuk mendenfar ucapan ‘Istri’. “ Tapikan kau hanya suami sementara sebelum kita menemukan mata-mata. Setelahnya aku bukan siapa-siapa bagimu.”
Hati kaisar Zauhan tak suka mendengar ucapan Qira. Ia menatap Qira tajam. Tapi Qira hanya acuh dan memakan sup jahenya, ia saat ini sangat lapar. Sungguh.!
Qira menatap lagi tubuhnya. Seakan kesadarannya tidak setabil ia kembali merecok. “Siapa mengganti bajuku?”
“Aku.” Jawab kaisar Zauhan santai.
Qira menatap kaisar Zauhan tajam. Tapi ia sama sekali tak percaya kaisar Zauhan sudi membantunya melepas pakaian, tapi mengapa ia sampai tak sadar?. Tapi kepalanya terlalu sakit untuk berdebat saat ini. Ia hanya melanjutkan makannya.
“Kau tak marah?” Tanya kaisar Zauhan heran.
Qira menatap kaisar Zauhan. “Aku tau kau pasti berbohong. mana mungkin kau seperhatian itu. Lagian juga aku bukan istrimu. Paling kau menyruh pelayan.” Jawab Qira acuh.
Sesaat setelahnya ada seorang pelayan yang membawa makanan untuk Qira. Kaisar Zauhan kembali membuka pintu dan mengambl nampasn berisikan banyak lauk.
Wajah Qira tersenyum manis. Ia seakan lupa jika kepalanya sakit. “Terimakasih.” Ucap Qira senang saat makanan itu sudah berada didepannya.
‘Terimakasih’ Entah mengaap ucapan itu membuat kaisar Zauhan bahagia. ia bahkan tersenyum tipis, sangat tipis. “Hn..” Gumamnya tak jelas. Ia meletakkan lauk dipiring Qira. “Apa kau tak kenyang makan sup?” Tannyanya heran.
Kaisar Zauhan terkejut. Bagaimana bisa gadis didepannya ini tak tau namanya? Apa yang ia lakukan jika nama ia saja ia tak ketahui. Ia hanya diam tak menjawab.
Qira mendongak menatap kaisar Zauhan. Ia mengunya makannya cepat. “Kau tak mau memberi tahu namamu tak apa. “ Ucapnya acuh.
“Zauhan.”
“O.” Ira hanya membulatkan mulutnya. Setelahnya ia mengarahkan sendok didepan wajah kaisar Zauhan. “AAA.”
Kaisar Zauhan menatap Qira heran. Sejak kapan Qira menjadi lembut dan perhatian?.
“Buka mulutmu. Aku tak suka makan sendirian tapi ada orang lain disampingku.” Ucap Qira.
__ADS_1
Entah mengapa kaisar Zauhan memakan makanan yang Qira sodorkan. Ia mengunyanya berlahan. ‘yang sakit siapa yang disuap siapa? Seharusnya aku yang menyuapinya.’ Batinnya.
Ia mengambil alih makanan Qira tentu saja Qira kaget. “Aku saja yang menyuapimu.” Ucapnya.
Qira mengernyit heran. Tapi ia menerima malas berdebat. “Dulu saat aku demam. Kakakku yang menyuapiku.” Cerocos Qira.
Kaisar Zauhan menatap Qira. “Kau punya kakak? Apa mereka berdua kakakmu?” Tannyanya.
“Mereka berdua?” Beo Qira.
“Pria yang bersamamu.”
Qira meneguk makannya. “ Bukan. Mereka lebih dari kakakku. Mereka ibu sekaligus ayah bagiku.” Jawabnya polos.
Kaisar Zauhan menatap Qira heran. Ia sama sekali tak paham. “ Laluu?”
Qira hanya menghela nafas. Ia minum minuman disampingnya. “ Aku punya kakak. Tapi baru satu bulan saja bersama. Sedangkan dengan Leon dan Wolf lebih lama. “ Jawab Qira.
“Mengapa kau mau menceritan kepadaku?”
“Karena aku tak mau kau menyebutku mata-mata. Nanti kau akan tau siapa aku.” Jawab Qira. “Sudah. Aku mau tidur, kepalaku sakit.”
“Minum obatmu.”
Qira mengangguk. Tanpa banyak bicara ia meminum cairan yang sangat pahit itu, seakan bukan apa-apa baginya.
“Kau tak merasakan pahit?” Tanya kaisar Zauhan ngeri.
Qira menjatuhkan kepalanya dibntal. “Hidupku jauh lebih pahit dari ini. Bahkan ini tak ada apa-apa bagiku “ jawabnya santai. Ia memilih menarik selimut dan tidur mengabaikan kaisar Zauhan yang masih dengan raut wajah heran.
Kaisar Zauhan mencerna ucapan Qira. ‘Ada apa ini? apa dia memang bukan mata-mata. Mengapa semakin kesini aku merasa dia bukan mata-mata.” Gumamnya.
__ADS_1
‘Ada apa denganku? Mengapa rasanya aku sama sekali tak jijik kepada gadis ini. apa karena tatapannya yang tanpa pemujaan? Atau sifatnya yang acuh bagaikan seorang pria? Tapi mengapa sifatnya beruba saat ini’ Semua fikiran itu berkecamuk difikirannya. Ia memilih berbaring tidur disamping Qira.
Ia malas untuk tidur ditempat lain. Lagian juga bukannya Qira istrinya?