Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
pelukan


__ADS_3

Putra mahkota Xian ingin mendekat dan memeluk Qira juga.


“Gege, terimakasih sudah menyelamatkanku.” Ucap Putri Liang lemah untuk mencari perhatian putra mahkota. Ia merasa jika putra mahkota sama sekali tak mempedulikannya mesti ia menyelamatkannya bukan Qira.


Putra mahkota sama sekali tak menatap putri Liang. Ia menghampiri Qira yang berada dipelukan Guang Lii.


‘*K*urang ajar kau Qira, karena kau aku diacuhkan oleh seluru orang. Akan ku bunuh kau’ Batin putri Liang. Ia memandang Qira benci. Kakak kandungnya Pangeran Guang Lii dan Juang Lii memilih untuk memeluk dan mengasihi Qira dibanding dirinya, adik kandungnya. Putra mahkota memang menolongnya, tapi hanya sebatas menolong, kasih sayang dari sorot matanya tertuju pada Qira bukan padanya.


“Apa kau baik baik saja Qi’er?." Tanya putra mahkota pelan saat berada didekat Qira


Qira sama sekali tak melihat putra mahkota, ia menutup wajahnya didada bidang Guang Lii


“Kita harus membawa Qira kekedimannya.”Ucap Juang Lii. Guang Lii menganggukan kepala dan menggendong Qira menuju kediamannya “ Gege tolong bawah putri Liang kekediamannya.” Lanjutnya menatap putra mahkota sesaat lalu pergi diikuti Juang Lii


Putra mahkota menatap kepergian mereka dengan rasa penyesalan, dengan berat hati ia membawa putri Liang ke kediamannya.


“Putri!. Ada apa dengan putri?” Tanya Shu Jin menatap Qira yang sudah dibaringkan oleh Guang Lii dipemanduan. “ Tadi terjadi kecelakaan pada Qira, ia terjatuh kedalam kolam.”Ucap Guang Lii masih menatap Qira.


“ Tolong ganti pakaian Qira kami akan menungu diluar ” Ucap Guang Lii dan berjalan keluar. Saat Shu Jin sudah mengganti pakaian Qira mereka kembali masuk.


Guang Lii dan Juang Lii mengganti baju mereka yang basah lalu kembali lagi kekediaman Qira.


“Hormat kepada pangeran ke2 dan pangeran ke5.” Laki laki paru baya datang dengan membungkuk.


“Tabib. Cepat periksa Qira ” Teriak Juang Lii menatap tabib yang baru sampai itu.


“Baik pangeran, saya akan mengobati putri...” Ucapnya dan bergerak kesisi Qira. Saat ini Qira menggigil kedinginan, suhu tubuhnya panas, bibirnya sangat pucat. Tabib itu mulai memeriksa keadan Qira dengan telaten.


Sesaat setelanya “ Mohon maaf kepada pangeran. Keadan putri Qira saat ini kurang baik. Suhu tubuhnya sangat panas, apa lagi dia sudah terlalu banyak meminum air dan air masuk dari hidungnya.” Ucapnya


“Lalu bagaimana?” Tanya Juang Lii setengah membentak.


“Putri Qira cukup istirahat dan meminum obat dari saya, mungkin besok ia akan kembali sehat.” Jawabnya menunduk .


“Baiklah. Jika Qira besok tidak kembali pulih, maka kepalamu yang menjadi taruhannya.” Ucap Juang Lii mengancam. Tabib yang dianampun bergetar takut dan permisis untuk membuat obat.

__ADS_1


“Bibi. Tolong buatkan Sup Jahe Untuk Qira, supaya tubuhnya hangat.” Perinta Gang Lii


Guang Lii duduk disisi ranjang Qira, ia menatap Qira dengan lembut. Ia ingat bahwa ia sempat mencintai Qira saat bertemu saat ia membantu kakek tua dan Qira melindunginya dari pembunuh yang mengincarnya.


Saat ia tahu jjika gadis yang ia cari dan tunggu adalah Qira, adik tirinya, saat itulah ia kecewa. Ia sama sekali tak ingin mengubur cintanya. Ia sudah berjanji sebelumnya jika ia akan melindungi gadis yang melindunginya saat itu. Ia berfikir cinta tak perna salah untuk hadir.


“Dia akan baik baik saja gege, tenanglah.” Ucap Juang Lii menepuk nepuk punggung Guang Lii yang sat ini menggenggam tangan Qira. Ia duduk disisi lain ranjang tepatnya diujung kaki Qira.


“Dingin...” Gumam Qira. Matanya masih tertutup rapat, ia berkali kali bergumam kedinginan.


“Bagaimana ini Gege.” Tanya Juang Lii khawatir. Saat Guang Lii ingin menjawab. Shu Jin datang membawah sup jahe dan obat untuk Qira.


“Biar aku saja yang menyuapinya.” Ucap Guang Lii merebut nampan itu. Shu Jin hanya menjawab iya dan undur diri.


“Qira. Bangunlah, kau harus makan sup jahe ini supaya tubuhmu hangat.” ucap Guang Lii lembut.


Qira membuka matanya, ia terganggu saat Guang Lii berkali kali membngunkannya. Kepalanya sakit, dan hidungnya terasa sangat peri. Matanya merah berair akibat terlalu lama tenggelam.


Guang Lii membantu Qira untyk bersandar dengan menambah bantal dibelakang Qira,” aAa kau sudah merasa baik Qira?” Tanya Juang Lii. Pandangan Qira beralih menatap Juang Lii dan menganggukan kepala sebagai jawaban “Iya”


Sesaat setelah Qira makan dan minum obatnya ia mulai berbaring lagi. “Apa kau sudah hangat?” Tanya Juang Lii.


“Masih sangat dingin.” Jawab Qira dengan bibir yang bergetar.


“Bagaimana ini?” Tanya Juang Lii khawatir.


“Apa kami boleh memelukmu Qira?” Tanya Guang Lii dengan sedikit takut. Ia hanya ingin menghangatkan tubuh Qira, ia takut jika orang lain berfikir bahwa ia mesum.


“Apa yang kau inginkan gege?” Tanya Juang Lii dengan memicingkan matanya.


“Aku hanya ingin membuat Qira hangat. Hanya itu, tidak lebih ” Ucap Guang Lii dngan tegas. Juang Lii yang mendengar itu menjadi sedikit legah dan faham.


Qira yang melihat ketulusan dan perhatian mereka menjadi hangat. Ia menganggukan kepala sebagai tanda jawaban “Iya.”


Segera Guang Lii tidur disisi kanan Qira dan memeluknya erat. Juang Lii hanya mematung ditempat menatap kakaknya dan Qira, ia tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


“Kau tidur disisi sini.” Ucap Qira menepuk sisi kiri ranjang Qira yang menyisahkan ruang.


“Boleh?” Tanya Juang Lii takut. Qira menganggukan kepalanya.


Dengan segera Juang Lii tidur disisi kiri Qira dan memeluk Qira tak kalah posesif. “Apa sudah hangat?” Tanya Juang Lii dengan mengelus kepala Qira. “Sudah sedikit hangat.” Jawab Qira. Juang Lii semakin merapatkan tubuhnya memeluk Qira. Qira merasa sangat nyaman dipeluk oleh mereka, ia baru kali ini merasakan kengangatan keluarga, mungkin Qira asli sudah mati, tapi Hatinya masih tertinggal dan hati itu digunakan oleh Qira baru.


Ia dikelilingi oleh orang orang tulus dan sangat menyayanginya, tapi rasa dari kasih sayang orang yang satu darah itu bedah, hangat! Sangat hangat. Meskipun posisinya saat ini dihampit tubuh besar dari Guang Lii dan Juang Lii


Tak terasa Qira tertidur dengan nyaman disusul oleh Juang Lii yang tak kalah nyenyak. Guang Lii yang melihat wajah damai Qirapun tersenyum tipis, ia meletakkan kepalanya ditengkuk leher Qira untuk mencari kenyamanan. Tak butuh waktu lama ia menyusul kealam mimpi bersama Qira dan Juang Lii.


....


Dengan Langka lebar putra mahkota melangkahan kaki menuju kediaman Qira, ia ingin pergi dari tadi. Tapi selalu dicega oleh putri Liang, minta suaplah, temanilah, sampai waktu sudah menjadi gelap yang artinya sudah malam.


“Mau kemana kau XI’er?” Tanya seseorang. Ia adalah Kaisar Alex. Ia baru kembali setelah pertemuan dibalai kota dan melihat putra mahkota yang berjalan setengah berlari seperti sangat mengkhawatirkan sesuatu membuat ia penasaran dan mengikutinya.


Putra mahkota yang disapa ayahnya ia membalikan tubuhnya” Hormat kepada ayahhanda...” Ucapnya dan membungkukuk.


“Mengapa kau berlari seperti itu?, apakah terjadi sesuatu?” Tanya kaisar lagi.


“Xi’er ingin pergi kekediaman memei Qira.” Jawabnya dengan raut wajah cemas.


“Lalu mengapa kau sampai berlari?” Tanyanya lagi


Putra mahkota menudukkan kepalanya” Putri Qira siang tadi terjatuh didanau bersama Putri Liang dan Xi’Er ingin menjenguknya.” Jawabnya


“Apa?. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” Tanyanya sedikit membentak. Matanya membulat saat medengar hal itu.


“Xi’er tak tahu ayah, karena itu Xi’er ingin menjumpainya.” Jawab putra mahkota.


Tampa banyak bicara kaisar Alexon berjalan secepatnya menuju kediaman Qira, ia bahkan melewati putra mahkota yang berada didepannya. Dengan rasa bersalah yang masih bersarang dihatinya mana bisa ia melihat Qira terluka lagi. Bahkan Qira belum memaafkannya dan sekarang ia masih tetap gagal dan tak pantas menjadi Ayahnya.


“Hormat kepada yang mulia kaisar.” ucap Shu Jin sat melihat kaisar.


Kaisar sama sekali tak peduli, ia langsung membuka pintu Qira dan berlari menuju tempat tidur Qira. Matanya terhenti pada tiga sosok yang tertidur diatas tempat tidur Qira, matanya sendu menatap Qira, kakinya melangkah mendekat. Ingin mengelus sayang kepala Qira, tapi tak ia lakukan. Takut jika Qira akan terganggu olehnya. “Aya---“ Saat putra mahkota sampai, ia langsung menemui kaisar dan ingin bertanya. Tapi mulutnya ditutup satu telunjuk Kaisar.

__ADS_1


Putra mahkota mematung, tatapannya beralih kepada adiknya yang ditengah tengah Guang Lii dan Juang Lii yang memeluknya secara posesif “Seharusnya gege yang memelukmu dan melindungimu Qi’Er.” Gumamnya menyesal. Air matanya jatuh tampa diminta. Kaisar hanya menepuk nepuk pundak putra mahkota.


__ADS_2