
Sejujurnya saat Qira membahas tentang wabah didapur itu, ia hanya memancing orang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Dia pergi secara tiba-tiba itu karena mengikuti orang tersebut.
Masalah kepala pelayan itu? Ia tau jika dalang dipenyakit yang tak kunjung padam adalah dia, dia adalah musuh dalam seimut, karenanya ia menusuk dia saat itu.
Sudut bibir pria bertopeng itu tertarik, matanya melirik guci yang Qira masuki, ia tau jika ada yang bersembunyi disana., aah, jangan lupakan jika kepekaan orang yang memiliki ilmu tingkat tinggi itu sensitif.
Saat sudah merasakan sudah tak ada pergerakan dan juga percakapan membuat Qira ingin keluar, dialam guci ini sangat pengap. Sangat-sangat...
Ia memunculkan kepalanya diatas kguci sembari menghirup nafas rakus. “syukurlah, mereka sudah tidak ada.” Gumam Qira. ia memegang dadanya legah, dengan satu tangan kanan mengelus dahinya yang penuh keringat.
“Siapa yang sudah tidak ada nona manis?”
Dugh..
Tangan kanan Qira terhenti didahinya. Jantungnya nyari keluar karena terkejut, matanya melebar dengan rahang yang hampir jatuh. Suara itu?
Ia membalikan tubuhnya untuk melihat asal suara yang berada dibalik punggungnya. Benar suara itu..
Gleghh.
Qira menelan saliva kasar. Bohong jika dia tidak takut atau cemas saat ini, aurah yang dibawa pria itu sangat kuat.
Pria itu?
Pria bertopeng, bermata hitam dan merah. Apa yang harus Qira lakukan? Cepat-cepat Qira menyembunyikan ekspresi takut dan gugupnya. Ia memasang wajah datar dan sombongnya. Ia tak boleh menampakkan ia lemah.
Tidak boleh..!
Ia wanita kuat tanpa takut. Bahkan matipun ia tak takut.
__ADS_1
Seringaian pria bertopeng itu nampak dibibir tanpa topeng setengahnya. Ia bisa melihat wajah Qira yang pasi namun secepat kilat berubah dengn dagu yang terangkat dan manik mata yang menantang maniknya.
Ada rasa ketertarikan dirinya pada gadis didepannya. Gadis berani dan penantang. Ahh, selama ini jangankan perempuan, bahkan pria saja tak pernah ada yang menantang tatapannya.
Gads cantik dengan kesombongan yang tinggi, bibir tipis dengan dagu lancip. Wajah oval yang menarik, rambut digerai dengan hanfu putih bercampur biru. Tubuh mungil yang hanya sebatas dadanya saja.
“Wah wahhh. Apakah kau menguping pembicaraanku nona?” Ia tersenyum manis dibalik topengnya.
Qira harus jawa apa?. “Kau bodoh.” Qiara tersenyum sinis. Ia menatap manik itu lekat meskipun ia masih berada didalam guci itu, namun tidak membuat ia berjarak jauh dari pria itu. Mereka hanya berjarak dengan pembatas dinding guci. “Bertanya tentang apa yang kau bisa jawab hanya membuang waktumu saja.” Ia tersenyum sinis.
Pria bertopeng itu semakin menyeringai, ia semakin tertantang dengan gadis didepannya ini.” Aku tidak tau jawabnya. Karena itu aku bertanya. Hmmm, kau sudah masuk didalam kandang singa.”
Qira mengangguk dengan senyum.” Jangankan sarang singa. Singa saja sudah menjadi temanku.”
Benar bukan?
Jangankan singa.
Serigala saja temannya... andai pria itu tau.
Pria tu tertawa keras didepan Qira. “ Kau sangat berani rupanya menantangku.” Ia menyekah air mata disudut matanya.
Qira melompat dan dalam guci itu untuk pergi meningalkan pria gila itu. “Mau kemana nona? Kau bahkan beum bermain denganku.” Ia berdiri didepan Qira untuk menahan Qira.
“Tujuan ku bukan mau bermain denganmu. Menyingkirlah.” Ia akan pergi saat ini dan akan mencari penawarnya ditempat lain. Ahh, apa dia bunuh saja pria didepannya saat ini.
“Kau sudah datang disini, berarti kau menantangku. Kau tau, kau sudah bermain dengan kematianmu.” Ia bebisik ditelinga Qira.
Tepat sekali. Ia sekarang hanya berjarak udara dengan Qira. dengan kepala disisi telinga Qira dengan seringaian kejam. Qira? ia hanya diam dan menikmati hembusan nafas yang menerpa leher mulusnya, bahkan helaian rambutnya sedikit berterbangan dengan lembutnya.
__ADS_1
Slap..
“Wah.. wahh. Kau sudah memulai permainannya rupanya.” Ia tersenyum sinis sembari mengelak pisau yang baru saja hampir mengena jantungnya. Saat ini ia mengenggam tangan sang pemegang pisau itu dengan erat.
Pelakuna siapa lagi jika bukan Qira.? qira berdecap sebal sembari menatap sang pria yang memegang tangannya erat. “Ternyata kau hebat juga.” Gumam Qira.
Bugh..
Satu tendangan mengarah pada dada pria itu, namun dengan gesit pria itu mengelak dan menahan kaki kanan Qira keudara. Al hasil saat ini kaki kanan dan tangan kanannya ditahan oleh kdua tangan pria bertopeng itu dengan santainya keudara. “Gerakanmu terlalu lamban. karenanya muda bagiku untuk membaca gerakanmu.” Ia menyeringai menatap manik mata Qira.
Tak habis akal, qira memutar tangan kanannya yang dicengkam membuat cengkraman itu melongar da terepas. Ia mengarahkan pisau itu ditangan yang menahan kakinya, dengan cepat pria itu berputar setelah melepas cengkraman kaki Qira. entah mengapa ia tak mau menyakiti gadis didepannya.
Saat putara itu berhenti tepat dibelakang Qira. kedua tangannya menahan leher Qira dengan erat. Ia mengunci gerakan Qira. “Lehermu sangat kecil. Sengat mudah jika aku mematahkannya.”
Qira mengagkat dagunya. Bagaimana bisa gerakan pria bertopeng ini cepepat itu, ia bahkan tak bisa melihat pergerakan itu. Apa ia terlalu lengah karena kakinya yang tadi terhempas karena dilepas secara mendadak.
Ia bisa merasakan cengkraman itu adalah kunci mati, lehernya bisa patah dengan hitungan detik. Jarak mereka saat ini hanya dilapisi dengan baju, ahh, bahkan nafas pria bertopeng itu bisa menerpa telinga Qira. “Bunuh saja. Aku tak peduli.” Gumam Qira tegas.
Bukan tak peduli. Jika memang pria itu mau membunuhnya, mengapa harus pamit? Apakah kejahatan dan membunuh harus ada berpamitan?
Pria itu terkekeh. Ia semakin tertarik dengan Qira. ia mencium aroma dileher Qira. ahh, wangi lavender yang menenangkan. Sangat jarang seorang perempuan menyukai bau lavender. Lavender itu mempunyai arti kebebasan dan alam. Keindahan malam dan siang dipegunungan. Berebda dengan gadis lain yang levih suka wangi lili ataupun mawar, vanila ataupun susu. Tapi entah baginya wangi lavender ditubuh Qira bagaikan candu yang rasanya sangat sayang untuk dibiarkan. “Kau tak bisa pergi dari kandang singa manis.” Bisiknya lembut.
Qira menghindar saat benda lembab itu hampir menyentu leher mulusnya. Siall... ia masuk kedalam kandang singa mesum.
Singa ini sangat kuat. Ia meneyasl rupanya, harusnya ia tak menantang tadinya.” Aku datang tanpa izin, dan pergi tanpa ada yang bisa mencegehku. Termasuk kau..!” Qira tak punya pilihan lain. Ia harus mempertahankan sifat angkuhnya bukan?
Jika ia mdngrmis meminta ampunan dan bukan Qira namanya. Sendnarnya ia sedikit takut saat ini, karena ia bisa merasakan lawannya ini mdmiliki kekuatan jauh diatasnya.
Jika dikerajaannya dulu ia terkuat disini ia mendaoatkan orang orang ynag juh lebih kuat. Yaa. Diatas lngit masih ada langit.
__ADS_1