Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Kakek Suke


__ADS_3

Kakek itu menganguk.” Letakkan saja kekasihmu disana... dia bisa kau letakkan disana supaya masih tetap abadi,” Ucapnya pada kakak Kim.


Kakak Kim mengangguk penuh harap, ia bahkan tak berfikir jika kakek ini jahat atau baik, yang penting Qira sudah memilih tempat tinggal.


Kakak Kim meletakkan Qira diatas batu es yang datar, bisa meletakkan Qira disana secara nyaman, ia melakukannya secara lembur seakan Qira bisa pecah jika dikasarkan. “Kau disini yaa...” Ucapnya lembut lalu mengelus pipi Qira yang sangat dingin.


Cup.. Ia mencium kening Qira lalu berbalik.


Ia menekati pria tua bermata biru itu dengan raut tanda tanya, bagaiana bisa manusia hidup disini? Dia saja yang seriagala sangat merasakan kedinginan dan terasa ingin beku untunglah ia serigala bangsawan, jadi ia bisa hidup ditempat dingin seprti ini sekalipun.” Sedang apa Tuan disini?” Tanya kakak Kim sopan, ia tak tau harus mengatakan apa.


Goa ini seperti rumah saja, ada lorong-lorongnya dan juga ada pintunya. Sedangkan sang kakek duduk diatas batu yang pastinya sangat dingin, wajah sang kakek sangat putih dan bersih. Ia bagaikan petapah Es saja membuat kakak Kim sungkan. “Seharusnya aku yang bertanya anak muda. Sedang apa kau keisni?” Tanya sang kakek kembali bertanya.


Kakak Kim diam sejenak, ia mengintip balik pungungnya dimana jasat Qira ada. Melihat akan hal itu membuat sang kakek mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan kekasihmu? Bukankah dia sudah meninggal? Kenapa kau tak memakamkanya?” Tanyanya pasa sang kakak Kim.


Kakak Kim menggeleng.” Dia masih hidup..” Ujarnya tak mau mengatakan jika Qira sudah mati. mati ditangan kaisar Zauhan.


Kakek Tuan itu semakin paham akan kakak Kim membuat ia tersenyum tipis.” Kau sangat mencintainya ya?” Tanyanya pada kakak Kim.


Kakak Kim menganguk.” Sangat... “ Gumamnya tegas membuat kaket itu menggeleng tak bisa berkata apa-apa, sebab dimata kakak Kim sanat terpancar akan keyakinanya.


“Siapa namamu?” Tanya sang kakek itu lagi pada kakak Kim.


“Namaku Lider Kim tuan. Tuan bisa memangilku Kim sama.” Kakak Kim sedikit membungkuk, ia belum duduk sebab belum diberi perintah duduk. Ia sadar jika ia hanyalah tau yang menumpang.” lalu, siapakah nama Tuan?” Tanyanya sopan.


Kakek itu menglenanafas. “ Namaku Josuke. Kau bisa memanggilku kakek Suke...” Ujarnya pada Kakak Kim. Kakak Kim mengangguk tanda mengerti.


“Kakek sudah lama tingal disini?” Tanya kakak Kim melihat sekitar, sangat terawat.


“Kenapa dengan kekasihmu? Apa yang membuat ia seperti tu?” Bukannya menjawab. Ia malah bertanya baik tentang Qira. ia berdiri lalu mendekati tubuh Qira yang sudah kaku.


Kakak Kim yang melihat itupun siaga satu, takut jika kakek itu akan mengambil Qira darinya. bisah sajakan jika orang jahat pura-pura menjadi orang baik? Sang kakek yang merasakan siaganya kakak Kim sedikit terkekeh.” Aku hanya mau melihat kekasihmu. Bukan menculiknya, jangan khawatir..” Ia menepuk pundak kakak Kim, ia terkekeh lalu menatap wajah pucatnya Qira...


“Jiwa yang berbeda itu sudah pergi...” Gumam kakek itu melihat Qira. ia bergumam hanya dalam hati, nampak sekali wajah Qira yang pucat, tubuh putihnya semakin putih membuat ia sangat mengerihkan. Bagaimana bisa pemuda disampingnya ini masih bertahan dengan seorang mayat?


Kakak Kim diam lalu duduk disisi batu tempat Qira ditidurkan, uap dingin disana melayang-layang membuat suasana mereka bagaikan dinegri lain saja. tangannya terulur mengusap rambut Qira yang menutupi sedikit wajahnya.” Dia dibunuh saat kami bersama. “ Gumamnya sedih. Masih teringah jelas dipikirannya bagaimana Qira menolongnya dan mengorbanan nyawanya untuk keselamatannya. Qira pernah hampir mati hanya untuk mengobatinya, dan sekarang Qira sudah mati demi ia selamat.


“Siapa yang melaukan hal itu? Dan mengapa kau tak memakamkan saja kekasihmu ini? suatu saat tubuhnya akan membusuk jika kau seperti ini.” Jelas sang kakek. Ia bisa melhat jika kakak Kim sangat sedih saat mengelus pipi Qira sayang.


Kakak Kim menggeleng.” Qira hanya mati, tapi tidak dengan cinta kami. Aku tak mau ia pergi, aku mau ia kembali...” Ujar kakak Kim pada sang kakek.


Sang kakek pun mengangguk paham.” Tapi yang kau lakukan ini adalah suatu hal yang sia-sia. Biarkan dia pergi dan damai..” Ujarnya lembut lagi pada kakak Kim. Siapa yang tega melihat mayat tak dimakamkan seprti ini? hanya kakak Kim gilala yang mau seprti ini.


Kakak im mengeleng, ia mendekati tubuh Qira lalu membekapnya. “Jika kakek Suke tak suka kami disini, biarlah aku mencari tempat lain. tapi jangan pernah menyuruhku untuk melepaskan Qira, sebab aku tak ajan relaaaa..” Ujarnya sebari mencari posisi untuk menggelndong Qira. ia sudah bersiap-siap untuk membawah Qira pergi dari sana.


“Nak...” Kakek Suke memegeng tangan kakak Kim lembut. “Kau sangat mencintainya rupanya...” Gumamnya lagi membuat kakak Kim melihat kakek Suke itu diam. “Biaran saja kekasihmu disini, ini adalah tempat yang tak aksan membuat tubuh kekasihmu membusuk, sebab ini sudah aku buat sedemikian rupanya supaya suatu hal tetap awet dan akan tetap hidup.”

__ADS_1


“Maksud kakek. Kakek bisa membuat Qira hidup?” Tanya kakak Kim penuh harapan.


Kakek Suke mengeleng. “Aku bukan dewa yang mampu menghidupkan seseorang yang sudah mati.” Kakak Kim kembali meleltakkan Qira ditempatnya dan mulai menatap kakek itu secara diam.


Kakek Sua mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, dan itu adalah cincin hitam dan juga kalung hitam yang terbuat dari giok murni yang entah kakak dapat dari mana, “Pakaikan kalung ini pada kekasihmu dan kau pakai cincinnya.” Ujar kakek Suke.


“Untuk apa?” Tanya kakak Kim heran.


“Pakaikan saja dulu...” Ujar sang kakek menodorkan barang itu.


Ragu-ragu kakak Kim menerimanya, ia mendekati Qira dan memakaikan kalung itu, dengan harapan semoga bail-baik saja dan membuat ia takut-takut sedap.


“Aku juga pernah menjadi sepertimu. Karenanya aku menyepi disini..” Suara kakek itu membuat kakak Kim termenu lalu menatapanya. Kakek itu menghela nafas kasar membuat kepula asap dimulutnya. Hawa dingin sangat menusuk membuat siapa saja akan seperti itu. “Karena kaumku. Kaum bluerose membuatku kehilangan dia, kekasihku.” Ia bercerita dengan mata yang menerawang jauh.


“Lalu dimana dia sekarang?” Tanya kakak Kim pada sang kakek.


Sang kakek tersenyum miris. “ Dia sudah tiada. Aku sadar, dengan aku mempertahankan mayatnya, dengan aku membuat ia seprti itu membuat aku menyakiti diriku sendiri.” Ia mengangguk. “Ini, tempat dimana Bianca istriku, aku membuatnya sepuaya ia tidak membusuk.” Ia menunjukan arah mata ketempat yang Qira tempati sekarang. “ Kalung dan cincin yang Qira gunakan asalah kuncinya supaya alat ini berguna. Cobalah kau satukan cincin itu diatas kalung kekasihmu. Nanti akan ada reaksinya.” Ujarnya pelan.


Kakak Kim yang penasaran akan hal itu langsung saja mengaragkan cincinnya pada kalung yang dikenaik Qira saat ini. “Astaga...”! terkujut kakak Kim saat disekitar tubuh mereka ditutupi portal putih bagaikan ruang kamar. Kakek itu tersenyum tipis.” Ternyata masih berfungsi..” Gumamnya.


Pucatnya wajah Qira sekarang mereda membuat wajahnya seperti ia sedang tidur. kakak Kim yang melihat itu sangat bahagia membuat ia memeuk Qira.” Qira hidup kembali?” Tanyanya penuh harap.


Kakek itu menggeleng.” Itu hanya efek. Dia masih tetap mati. “ Ujarnya pada kakak Kim.” Lepaskan dia. Cukup aku yang merasakan berharap ditumpukan kaca. menyakitkan sekali.” Ujarnya lagi.


“Jangan bicara hal seperti itu. Aku bahagia selagi Qira bersamaku.” Tukas kakak Kim pada sang kakek.


“Tapi ternyata ia yang menjadi binasa dan mati. Saat itu aku yang menentang hal konyol itu, hal konyol untul menguasai bumi membuat aku masih hidup disini. Aku menemukan istriku mati membuat aku frustasi. Aku membawanya kesini supaya tubuhnya tidak membusuk,


Dengan membawanya kesini masih membuat tubuhnya membusuk dan juga memburuk membuat aku memutar otak dan berfikir, jadilah aku membuat ruang ini, ruang pendingin yang menghubungkan antara pertahanan tubuh dan juga dingin yang dibutuhkan. Aku membuat ikatan atara istriku dari kalung dan cincin itu. Tubuh istriku mulai seperti biasa, tak lagi membusuk ataupun pucat, ia bagaikan orang tertidur pulas.”


“tapi nyatanya dia tetap mati dan membuat aku hidup dengan anganku. Aku terlalu egois membuat ia tetap hidup sedangkan ia sudah tiada.” Ia menatap kakak Kim yang masih tak percaya dan bingung. “Lepaskan dia. Biarkan dia tenang dan bantulah orang diluar sana. mereka sedang membutuhkanmu. Kehancuran sudah didepan mata.”


...


Wajahnya sekarang menampakkan kesedihan mendalam. Sudah satu minggu ia tak keluar dari kediamannya membuat ia tak tau akan keadaan kerajaannya. Ia memilih membereskan semua perkejaanya melalui perantara saja. Istrinya mati ditanganya, pelayan setianya pergi meningalanya.


Kaisar Zauhan mengelus baju Qira yang tertinggal, ia menciumnya dengan air mata yang terjatuh.” Maafkan aku sayang.. Maaf..” Gumamnya pelan. Sudah satu minggu ini ia menangis, air matanya seaan tak pernah habis untuk menangisinya.


.


Ia mengelus tempat tidurnya pilu, dimana Qira tidur. ia memeluk guling yang Qira peluk ketika malam, jika ada yang mengatakan kaisar Zauhan tak merasa bersalah, maka salah besar, sebab ialah yang paling sakit saat ini.


“Yaya....” Gumam anak kecil masuk kedalam kediaman itu. Dia adalah Zuzu.


“Pergi...!” Teriak kaisar Zauhan pada Zuzu. Ia benci Zuzu. Andai saja bukan anak keci ini, pasti ia tak akan kehilangan Qiranya.

__ADS_1


“Yaya...” Zuzu mulai memberikan mata berkaca-kaca dan juga suara seraknya.


Suara dan mimik itu tak membuat kaisar Zauhan luluh ataupun meredam. Ia bahkan tambah marah.” Pelayan seret dia... Jangan samapai menampakan lagi wajahnya dihadapanku...!” Bentaknya membuat para pelayan dan penjaga menyeret Zuzu.


“Yaa... yaa...” Suara Zuzu teriak mengelma diruangan itu. Tapi kaisar Zauhan tetap diam dengan aurahnya.


Ia yang dulu kejam sekarang menjadi makin kejam, setiap malam tak berani tidur karena bayangan tawa Qira selalu menghiasi pikirannya, ia sadar, ia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya ditangan Qira.


“Ampun yang mulia. perdana mentri Wouncu mau menghadap kepada yang mulia.” Suara itu membuat tenungan kaisar Zauhan sekarang menatao pintu.


Kaisar Zauhan menganguk, ia tak suka kamarnya dimasuki orang lain membuat ia harus keluar. Dengan langkah tegas tanpa ekpresi ia berjalan, raut kesedihan terpampang dimatanya, tapi semua orang mengangapnya pria terkejam sepanjang masah.


Nagaimana bisa ia membunuh istrinya sendiri? Wnaita yang pernah mengagguminya sekarang mundur alun-alun, tak lagi memujahnya. Siapa yang berani berada disisinya jika taruhannya adalah mati?


“Ada apa Wouncu?” Tanya kaisar Zauhan pada perdana mentri Wouncu.


Perdana mentri Wouncu yang tadinya memungungi kaisar Zauhan searang berbalik dan menatap kaisar Zauhan. “Mohon ampun yang mulia, hamba mau menghantarkan surat dari kerajaan Langit dan kerajaan Awan.” Ujarnya pada sang kaisar yang sedang berkabung itu.


Kaisar Zauhan mengernyit.” Ada apa dengan dua kerajaan itu?” Tanyanya heran. Sudah beberapa puluh tahun mereka tak berkawan dan sekarang merka mengirimkan surat. ada apa?


Kasus kaisar Zauhan yang membunuh istrinya sudah didengar keseluruh masyarakat dan juga kerajaan lain. para rakyat mau menolak dan juga marah, tapi apalah daya jika mereka hanya lah rakyat biasa.


Mereka sekarang menjuluki Kaisar Iblis. Dan julukan itu terdengar oleh kaisar Zauhan. tapi kaisar Zauhan sama sekali atau mempermasalahkan, sebab ia memang kaisar Iblis, kaisar Setan dan juga kaisar jahat bukan? Bagaimana bisa ia membela dirinya jika itu kenyataan ada pada dirinya?


“Kedua kerajaan itu mengibarkan bendera perang kepada kerajaan kita, dan perperangan akan dilakukan secepatnya...!” Ujar perdana mentri Wouncu tegas.


Kaisar Zauhan terkejut mendengar itu, tapi masih berekreasi dingin. “Kita bicarakan diaulah. Kumpulkan seluruh pejabat sekarang.” Tegasnya lalu berbalik, ia harus mengambil jubah dan juga mahkotanya untuk memasuki aula istana.


Perdana mentri Wouncu yang melihat kaisar Zauhan seperti itu menyeringai. “Sepertinya perjalanan sampai sini mulus, aku yakin jika menang tanpa melawan akan berjalan kali ini. “Gumamnya kejih.


Kepergian Qira sudah beberapa hari yang lalu membuat kerajaan Langit dan juga Dewa mengibarkan bendera perang untuk menjalankan sumpahnya. Sebenarnya kaisar Zauhan sedikit terkejut dikalah banyak otang yang mengatakan ia jika ia adalah kaisar kejam dan tak ber prikemanusiaan. Dari mana mereka tau? Bukankah ia membunuh Qira saat itu hanya berempat. Apakah Ren sekarang menjadi penghianat?” Begitulah sekiranya yang ia pikirkan.


Lagkah kaisar Zauhan yang sudah lama tak nampak sekarang sangat tegas menuju aulah, sudah satu mingu tak keluar dari kediaman dan sekarang ia keluar dengan aurah kematian yangs sangat kental. Apakah kaisar Zauhgan dewa kematian?


“Salam kepada yang mulia kaisar. Semoga hidup seribu tahun...” Semua membungkuk secara hormat saat kaisar Zauhan memasuki aulah. Jubah kebangaannya berlengok kesana kemari dan diiringi oleh aurah yang mematikan.


Kaisar Zuahan mengangkat tanganya keatas tanda mereka boleh bangkit dari sujudnya lalu kembali ketempat duduk masing-masing.


Belum ada yang berani duduk sebelum kaisar Zauhan duduk, saat kaisar Zauhan sudah duduk barulah kaisar Zauhan menurunan tangan sebagai isyarat untuk mempersilahkan mereka duduk.


“Yang mulia kaisar yang murahnhati, terimakasih...” Ujar mereka serentak sekali lagi membungkuk lalu duduk dikursi masing-masin


“Berikan surat itu padaku...” Ujar kaisar Zauhan kepada perdana mentri Wouncu disampingnya, biasanya Ren yang disampingnya, tapi sekarang disisinya adalah perdana mentri wuncu membuat ia mendengus dingin.


“Ini yang mulia..” Perdana menri Wouncu memberikan surat itu lagi kepada kaisar Zauhan. surat pengibaran perang.

__ADS_1


Kaisar Zauhan mengambil surat itu lalu kembali membacanya. ia menghela nafas, “Bisakah kau jelaskan kenapa kerajaan mereka mau mengibarkan perang?” Tanya kaisar Zauhan masih tak mengerti.” Kita tak memiliki masalah pada mereka meskipun kita bermusuhan, ada apa? Bukankah perperangan diantara kerajaan Barat dan kerajaan Langit sudah mereda? Lalu ini apa?” Ia membanting satu gulungan pengibaran perang lagi.” Kenapa kerajaan Awan dan juga kerajaan Iblis ikut mengajukan perperangan...!” Bentaknya dingin.


Merka meneguk salivanya keras. Takut kaisar Zauhan mengamuk akan berita ini, tapi kebanyakan dari merka terbelalak kaget mendengarkan hal itu. Kenapa berperang?


__ADS_2