Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Qira dan Leon


__ADS_3

Isakan tangis yang memeluk Qira itu berasal dari ayahnya kaisar Alexon. Ia menyusul Qira turun dari mimbar saat itu. Dan semua percakapan anak-anaknya ia dengarkan. Karena itu ia tanpa ragu memeluk Qira.


“Ayah!. Adikku tak bisa bernafas.” Ujar Xian Lii yang menatap kasihan Qira yang wajahnya sudah memerah. Kaisar Alex Melepaskan pelukannya. “Terimakasih kau sudah memafkan kami ” Ucapnya lembut. Qira masih mengambil nafas rakus.


“Kapan aku mengatakan aku memaafkan kalian? Aku tak mengatakann sudah memafkan kalian bukan?” Tanya Qira dengan sedikit senyum. Ia melangkahkan kaki meninggalkan mereka yang masih terkejut apa yang diucapkan Qira. “Berusahalah untuk mendapatkan maafku lebih keras.” Ucap Qira, tangannya melambai diudara mengisyaratkan selamat tinggal.


“Oh ayolah. Tadi kau memeluk kami, itu tandanya kau sudah memaafkan kami.” Rengek Lian Lii mengikuti Qira dari belakang.


“Lian Lii benar.” Ucap Xian Lii tak kalah merengek.


Qira hanya tersenyum tipis mendengar rengekan mereka untuk dimaafkan tanpa berniat untuk berhenti dan mendengarkan rengekan mereka.


...


Dingin malam menjadi sabat bagi Qira. Ia duduk didekat jendela, menatap langit dengan sejuta bintang. Entah apa yang ia fikirkan. Tapi suara Leon menghentikan tatapannya pada bintang.


“Qiqi. Apa yang kau pikirkan?” Leon berdiri disisi kanan Qira dan mentap langit yang mengambil perhatian Qira.


“Tidak ada.” Ucap Qira ringan. Ia menatap lurus kewajah Leon.


“ Kita sudah menjadi teman sejak lama. Tapi kau masih tak ingin bercerita banyak hal. Apa kau tak pernah menganggapku teman Qira?” Tanya Leon menatap Qira. Selama ini ia tertipu oleh Qira. Ia tak tahu jika Qira adalah seorang tuan Putri. Ia tak tahu jika Qira menanggung begitu banyak penderitaan dan beban.


“Leon ada beberapa hal yang harus seseorang sembunyikan untuk dirinya sendiri. Kau tahu mengapa aku tak ingin menceritakan kesedihan dan bebanku padamu?” Tanya Qira. Qira beralih menap langit saat melihat Leon menggelengkan kepala sebagai jawaban “ Karena aku tak ingin membagi beban dan rasa sakitku kepada temanku, orang orang yangku sayangi. Aku hanya ingin menikmatinya sandiri. Aku akan membagikan kebahagianku saja pada orang-orang yangku sayang. Cukup kebahagian saja aku tak ingin ada kesedihan atau belas kasih.” Ucap Qira lembut.

__ADS_1


Leon menatap Qira sendu. Ia memgang pundak Qira lembut” Kau memang benar-benar baik Qira. Tapi aku mohon dari detik ini dan seterusnya aku ingin kau berbagi denganku apapun itu!. Aku ingin kita menjalani hidup dengan penuh kasih sayang. Aku tak pernah merahasiakan apapun padamu. Jadi ku mohon, setidaknya kau berbagi beban kepadaku. Supaya aku bisa membantumu memikul beban.” Ucapnya sendu.


“Terimakasih Leon.” Qira mengusap lengan Leon yang menggenggam pundaknya lembut. Qira menarik nafas panjang dan berucap “Aku sudah memaafkan mereka” ucapnya.


“Mereka?” Beo Leon.


“Ayah dan Kakak-kakak ku.” Jawab Qira.


“Mengapa kau memaafkannya Qiqi. Kau tau mereka sangat jahat padamu. Bahkan aku sangat ingin membunuh mereka sejak dulu.” Leon berujar dengan amarah. Matanya menatap Qira serius.


“Kau tahu Leon?. Setiap aku melihat Ayahku, aku selalu teringat tentang hal menyedihkan yang dulu Qira alami. Saat sakit tubuhnya disiksa,ia tak dipedulikan bahkan Qira meregang nyawa dengan mengenaskan. Kakiku, tangan dan punggungku patah saat itu. Ditambah luka pedang yang berlumbur racun itu masih terasa pedih diingatanku.” Pikiran Qira melayang akan kejadian kejadian dalam ingatannya itu. “Saat aku menatap Kakak-kakakku. Aku juga mengingat. Betapa aku membutuhkan kasih sayang saat itu dulu, aku ditendang, dicaci dan dimakai. Semua sudut istana ini membuat hatiku selalu berteriak untuk mengingat hal yang menyakitkan itu.” Qira menangis. Qira tak tahu jika hati tubuh yang ia gunakan masih terpaut dengan perasaan Qira yang lama.


Leon menatap Qira sedih. Bahkan ia mengabaikan kalimat Qira yang mengucapkan’ Qira Dulu’. Ia memeluk Qira dengan lembut dan menepuk pundaknya.” Karena itu. Aku mencoba menyakiti sumber semua kepedihan Qira alami, yaitu selir Mei bahkan putri Ken terkena juga. Aku juga berusaha untuk mengabaikan Ayah dan kakak-kakakku. Aku berusaha untuk membuat mereka menyesal. Tapi hatiku sama sekali tak bahagia Leon. Aku tak bahagia atas keberhasilanku akan dendam yang tuntas.” Ucap Qira lemah.


“Kita akan pergi dari istana ini dua hari lagi.” Qira tak mau hanyut dalam kesedihannya. Ia tak ingin menjadi perempuan lemah. Ia mengusap pipinya yang masih ada aliran sungai dari matanya.


“Bukannya kau sudah memaafkan kaisar ayahmu?. Mengapa kita harus meninggalkan mereka?” Leon masih bergelut dengan semua yang ada dipikirannya. Ia seperti menggeraikan benang kusut didalam otaknya.


“Aku ingin melupakan semuanya. Kita akan hidup bebas diluar sana, makan dengan buruan, hidup tanpa beban seperti dulu. Bukankah itu menarik Leon?” Qira tersyum terpaksa menatap Leon.


Leon menghela nafas terdalam menatap Qira. “Apa kau yakin dengan pilihanmu Qiqi?” Tanya untuk meyakinkan.


Qira mengangguk semangat. Ia beranjak dari tempat duduknya. Ia menepuk pundak Leon sedikit semangat. “Kau harus ingat. Kau harus sembuh sebelum dua hari mendatang, bagaimana kita bisa pergi sedangkan singaku lemah untuk menggendongku ketujuan.” Ucap Qira dengan mengejek.

__ADS_1


Leon berdecap dan berucap “ Aku tak lemah. Ku pastikan kita berangkat dua hari lagi dengan kekuatanku yang besar ini.” Ucap Leon.


“Haha. Istirahatlah, besok aku akan mengikuti lomba tarung bebas. Kau harus menemaniku, kau tahu, perlombaan ini sangat membosankan.” Qira membayangkan ia yang duduk sendiri dan menatap perlombaan yang sama sekali tak menarik perhatiannya.


“Kapan sifat sombongmu hilang Qiqi?” Leon menggelengkan kepalanya.


“Aku mengatakan apa adanya. Aku keluar sebentar. Kau ingat!. Kau harus istirahat.” Qira melangkahkan kakinya keluar kediamannya. Leon melangkahkan kakinya menuju kasur untuk beristirahat. Jika tidak ia akan terkena amukan Qira.


Qira melangkahkan kakinya menuju tempat yang paling ia sukai. Entahlah, tempat ini menjadi sumber ketenangan bagi dirinya saat semua yang ia lewati begitu berat. Itu adalah taman bunga Lili didekat kediaman naga.


Ia menatap langin bertabur bintang. ‘Mungkin aku memang tak dilahirkan untuk kasih sayang orang tua.’ Gumam Qira. Ia tersenyum getir melihat dirinya. Baik didunia modern sampai dunia kuno yang kini ia tempati. Tak ada orang tuanya yang menyayanginya. Cek, hidupnya sungguh menyedihkan.


“Hmmm.” Suara deheman yang terdengar berat berasal dari belakang Qira membuat ia menoleh untuk melihat asal suara.


Pria itu pria bertopeng yang sudah berapa kali ditemuinya. Mata biru Qira bertemu dengan mata hitam bak elang pria itu. Qira kembali ketempatnya semula tanpa mempedulikan tatapan pria itu.


‘Bahkan kau wanita pertama yang menolak pesonaku.’ Batin pria itu. Pria itu menggunakan cadar transparan berwarna putih. Ia menggunakan cadar karena ia selalu menjadi pusat perhatian akan ketampanannya. Bahkan dengaan ia menggunakan cadar masih menghipnotis tatapan kagum orang orang terhadap dirinya.


“Apa yang kau lakukan disini?” Dia mulai memecahkan keheningan mereka, kakinya melangkah untuk mensejajarkan kakinya dengan Qira. “Lalu apa urusannya denganmu?” Qira mengerutkan alisnya menatap pria itu.


“Sekarang sudah waktunya istirahat. Kau seorang perempuan, tak baik ditengah dinginnya malam.” Ia menatap Qira datar.


Qira tak berniat untuk menjawab pria didepannya, sampai pada pria itu menanggalkan jubah putihnya yang berbulu domba kepundak Qira. Qira terkejut akan hal itu. Ia memang kedinginan, tapi tubuhnya sudah kebal akan hal itu!.

__ADS_1


“Pakailah. “ ucapnya datar.


__ADS_2