
Wolf dan Leon hanya menurut saja. Mereka berhenti ditepi kolam. “Wahh, kita naik perahu yang itu. Ayoo.” Ucap Qira semangat. Ia menunjuki perahu yang berukir bungga mawar begitu indah.
“Ayoo. Hati-hati ya.” Ucap Wolf peduli.
Qira sama sekali tak menggubris ucapan Wolf. Ia berjalan cepat menuju penyewaan perahu tersebut dan meninggalkan Wolf dan Leon yang meneriakinya. “Paman aku mau menyewa perahu ini.” Ucapnya semangat.
Pemilik perahu itu menatap Qira. “Boleh. Tapi perahu ini cukup mahal nona.” Ucapnya sopan.
Memang benar. Perahu itu yang paling cantik dari yang lain. Belum lagi perahu itu yang paling menarik, karena itu belum ada yang berani menyewainya. Apa lagi dengan penampilan Qira yang seperti rakyat jelata. Padahal baju itu terbuat dari sutra halus yang memang dibentuk Qira seperti baju laki-laki. “Tidak apa paman. Berapa harga sewanya?” Tanya Qira.
“2koin emas nona.” Ucapnya.
"Qira jangan lari-lari. “ Sahut Leon dan Wolf yang baru berada dibelakang Qira
Qira hanya tersenyum. Ia mengeluarkan 2koiin emasnya. “Ini paman.” Ucap Qira. “Ayoo Wolf, Leon. Cepat kita naik perahu.” Teriak Qira seperti anak kecil.
Wolf dan Leon hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Qira. Tapi saat mereka baru saja mau menginjakkan kaki kedalam perahu tersebut ada suara seseorang dari belakang.
“Berhenti...!” Teriaknya.
Qira menatap arah suara. Begitu juga Wolf dan Leon. “Ada ap?a” Tanya Wolf.
Suara itu berasal dari seorang gadis yang dikawal beberapa perajurit dan dua dayang. Ia menggunakan baju yang sangat terbuka. Wajahnya lumayan cantik karena polesan bedak yang cukup tebal. Matanya menatap Wold berbinar. Ia mendehemkan suaranya dan tersenyum. “Maaf. Saya mau menyewa perahu ini.” Ucapnya lembut.
“Tapi aku sudah membayar duluan. Jadi i ni perahu milikku.” Ketus Qira menatap gadis itu.
Mulut gadis itgu mengerucut sinis. Ia menatap Qira tajam. “Hey orang miskin tak pantas naik perahu ini. aku yakin kau mencuri uang hanya untuk bersenang-senang.” Ucapnya ketus.
Semua orang menatap Qira dan gadis itu. Seketika semua orang berbisik-bisik dan melihat kejadian itu secara detail. Sedangkan Qira sama sekali taki peduli dengan ucapan orang miskin. Tapi ia sama sekali tak terima diucap pencuri!.”Aku tak mencuri...! . Ayo Leon Wolf kita main. Tinggalkan nenek lampir ini.” Ucap Qira malas.
Gadis itu melangkah cepat menuju Qira dan ingin mendorongnya kedalam danau. Tapi sayang tubuhnya sudah di dorong oleh Leon duluan sehingga tercebur kedalam kolam. “Jangan sakiti Qiqi kami...!” Teriaknya.
Gadis itu pasti terkejut setengah mati. tubuhnya basah dengan air. Untung ia masih dipinggir kolam. Sehingga ia tak tenggelam. Cepat-cepat para perajurit membantu tuannya.
Sedangkan Qira sama sekali tak peduli. Ia menarik tangan Wolf dan Leon naik keperahu. Ia menggunakan ilmu angin dan membuat perahu itu berjalan tanpa menunggu lama.
__ADS_1
“Dasar ****** sialan kau...!” Teriak gadis itu menatap Qira dan lainnya pergi.
Qira terkekeh geli menatap gadis itu.ia menjulutrkan lidahnya mengejek. “Dasar nenek slampir. “ Ucapnya keras.
Gadis itu menggerutu malu. Ia dipegang beberapa pengawalnya untuk naik. Bajunya penuh dengan lumpur, ia menatap seluruh orang yang menatapnya mengejek. “Apa yang kalia lihat. Cepat bubar...!” Teriaknya malu.
Sontak semua orang pergi meninggalkannya sendiri. “Nona tidak apa-apa nona?” Tanya salah satu dayangnya.
“Tak usah bertanya. Kalian mau mengejekku yaa...!” Teriaknya marah. Wajahnya basah, bahkan tatanan rambutnya berantakan. Ia mengepalkan tangannya mengingat wajah Qira.
Seluru perajurit dan dayangnya pun tertunduk takut.
“Awas kau. Akanku bunuh kau jika bertemu kembali......!” Teriaknya. Ia melangkah pergi dari tempat itu dengan wajah yang sangat malu. Karena baru kali ini ia dipermalukan oleh seseorang.
---
Beda dengan Qira. Ia duduk diujung perahu. “Wah. kita seperti berada ditengah-tengah langit.” Ucap Qira kagum. faktanya ia sekarang berada ditengah-tengah danau. Disana sudah tertata rapi seluruh bunga yang diletakkan lilin. Memancarkan sinar yang terang.
“Benar Qiqi. Ini sangat indah.” Ucap Wilf yang diangguki oleh Leon. Mereka berada tepat dibelakang Qira.
“Hp?. Apa itu Hp?” Ucap Leon bingung.
Qira terkejut. Ia lupa jika sekarang ia tak sendirian.. “Tidak ada. Itu sejenis alat untuk menggambar, mengirim pesan dan lainnya. Tapi jangan dibahas.” Ucap Qira. Ia sama sekali tak tau harus jawab apa jika masih saja dilanjutkan.
Leon dan Wolf mengernyit. “Maksudmu kuas? Kertas? Itu bisa kau gunakan untuk menggambar atu melukis, itu juga bisa membuat surat.” Ucap Wolf.
“Mungkin.” Ucap Qira singkat.
“Wolf Leon. Kalian duduk sini.” Ucap Qira. Ia menepuk bagian duduk disamping kanan dan kirinya. Tentu saja Wolf dan Leon tak menolak. Leon duduk disisi kiri Qira dan Wolf disisi kanannya. “Kita tidur disini saja ya. Didini sangat indah.” Ucap Qira.
“Tidak. Nanti kau masuk angin.” Ucap Wolf cepat.
“Wolf benar. Disini sangat dingin.” Sahut Leon.
“Lalu kita tidur dimana?” Tanya Qira.
__ADS_1
“Nanti kita cari saja. Kau tak usah khawatir. “ Ucap Wolf.
Qira hanya menghela nafas dan mengiyakan. “Ayo kita kembali. Aku mau membeli baju. Bajuku sudah kotor semua.” Ucap Qira. Ia berdiri dan mulai mengarahkan perahu itu untuk kembali kedarat.
Saat sampai didarat semua orang terkejut. Bagaimana bisa perahu itu sampai tanpa ada yang mendayaung?. Apa mereka hantu?.
Sedangkan Qira hanya acuh dan melompat menuju darat.”Ayooo.” Ucapnya mengajak Wolf dan Leon.
"‘Aku mau beli baju disana. Ayooo.” Ucap Qira sambiol menarik tangan mereka.
Qira masuk kedalam toko baju yang sangat ramai itu. Ia mulai memilih-milih baju yang sudah jadi. Ia cukup malas memilih kain baru menjait. Untunglah disini ada dua alternatif. Ia pergi ketoko baju pria dan mulai memilih.
“Qira. Kau tak mau membeli baju perempuan?” Tanya Wolf heran. Faktanya Qira seperti orang yang memang anti baju perempuan. Sedangkan ia perempuan!
Qira masih melihat-lihat baju. “Tidak. Aku tak bisa memakainya. Itu sangat sulit Wolf, kau harus memakai baju beberapa lapis. Terus kau harus mengikat ini, itu dan lainnya. Belum lagi itu sangat berta. Aku pusing.” Ucap Qira sambil memijat pelipisnya seakan-akan membayangkannya saja ia bisa sakit kepala.
“Aku jadi curiga kau perempuan asli atau bukan?” Ucap Wolf. Ia menatap Qira dari atas sampai bawah. Andai wajah Qira tidak cantik dan tubuhnya pendek nan mungil. Ia pasti sudah jadi pria rebutan.
Qira menggosok kepala. Ia muak akan pernyataan orang-orang yang meragukan ia perempuan. “Aku sama sekali tak peduli kau atau orang lain menganggapku perempuan atau bukan. Toh ini hidupku, aku akan hidup dengan apa yang membuatku bahagia dan nyaman. Bukan karena kata orang.” Jawab Qira acuh.
“Ini Qiqi. Ini sangat bagus.” Leon datang dari belakang Qira sambil membawa baju putih bercampur biru. Itu hanfu yang sangat indah. Dan ia juga memegang 3baju pria ditangannya dengan warna hitam, ciklat dan abu-abu.
Qira tersenyum dan mengambil baju pria yang berada ditangan Leon. “Bagus. Ayoo ini cukup.” Ucap Qira semangat. Ia memang tak bisa memilih baju. Jika ia memilih mungkin butuh waktu 2jam untuk satu baju, dan itu harus memasuki beberapa tokoh dulu.
“Ini?” Leon mengangkat hanfu putih.
Qira menggeleng. “Tidak. Itu untuk kau saja.” Ucaonya.
Leon menganga. Bagai mana bisa. Ia seorang pria...!. “Aku pria hey...!. ini untukmu.” Ucapnya ketus.
Qira hanya terkekeh. “Tidak. Ayoo.” Ucap Qira sambill berlalu.
“Kau ambil saja. Kau tak perlu memakainya. Ini juga bahan yang ringan dan mudah dipakai, nanti jika ada acara yang seperti ini lagi kau harus memakainya. Supaya kau bisa seperti gadis lainnya.” Sahut Wolf.
Qira masih berjalan. “Bawalah. Ayoo kita harus cari penginapan.” Ucapnya.
__ADS_1
Wolf dan Leon menyatuhkan tangan untuk bertepuk tangan sebagai tanda sukses. Lalu berjalan santai membawah hanfu Qira dengan bahagia layaknya mereka seorang gadis yang membawa baju yang mereka sukai.