Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Darah suci


__ADS_3

“Putraku. Lihatlah istrimu sangat cantik bukan?” Tanya ibu Ning dan memamerkan Qira disampingnya.


...


Kaisar Zauhan mendongak menatap Qira dan ibunya. Wajah ibunya full dengan senyuman, sedangkan Qira berwajah malas, ia bahkan menguap lebar. Qira menyeka sudut bibirnya yang berair.


Wajah kaisar Zauhan masih tetap datar. Tapi lain dengan hatinya, ia mengakuhi akan kecantikan Qira yang tertutup rapat akan penampilannya. Sudut bibirnya sedikit melengkung mengulas senyum tersembunyi, matanya lekat menatap Qira, tapi tak lama ia palingkan karena mata Qira bertemu dengan mata pemujiannya.


Qira mengangkat satu alisnya menatap kaisar Zauhan yang memalingkan wajahnya, ‘seburuk itukah ia berdandan sehinggah kaisar Zauhan berpaling tak mau menatapnya?


Qira menggelengkan sepalanya tak mau memikirkan hal yang tidak penting, lagi-lagi ia menguap karena mengantuk.


Ibu Ning menatap putranya masam. “Tidak apa-apa, dia memang seperti itu.” Ucap ibu Ning kepada Qira. Ia mengira sudut mata Qira yang berair karena menangis. Ia tak tau jika itu air mata kantuk...!


Qira mengerutkan keningnya sambil menyeka sudut matany. “Hnn.” Jawabnya acuh tanpa tau maksud dari ucapan ibu Ning.


“Sudah tak ada yang kalian ingin katakan?” Tanya kaisar Zauhan kepada ayah dan ibunya datar.


“Ah. Kami mau mengatakan jika kami akan kembali lagi kemanor kami. “ Jawab ibu Ning lembut, ia memegang tangan Qira lembut. “Kau sudah mendampingi putraku. Kau sudah menjadi bagian dari kami, aku minta, tolong rubah putraku kesediakalah, bantu kami melulukan hatinya. Aku tau dibalik penampilanmu yang seperti pria ini memiliki hati yang sangat lembut.” Ucapnya.


Qira mengerutkan lagi keningnya. “Say—“


“Tidak usah mengelak atau merendah diri. Ibu yakin kau bisa.” Potong ibu Ning.


Ayah kaisar Zauhan menatap Qira dan istrinya masam. “Dengarkanlah kata istriku nak. Kami sudah menjadi orang tuamu saat ini, meskipun kau hanya seorang anak mentri dan digosipkan bodoh.” Sahutnya.


“Asal usulku tak akan membuat kalian malu...! lagi pula aku tidak bodoh.” Elak Qira. Ia merasa sangat terhina oleh perkataan ayah kaisar Zauhan.


Ayah Kaisar Zauhan terkekeh. “Baiklah. Kami harus pergi .” Jawabnya. Ia bangkit dari duduknya, ia menepuk pundak kaisar Zauhan yang sedari tadi diam dan dingin. “Kami pergi. Jangan lupa untuk berkunjung kekediaman kami ya nak.” Ucapnya lembut.


Kaisar Zauhan hanya mengangguk, namun wajhnya tak ada ekspresi apapun. Ayah Kaisar Zauhan tersenyum masam menatap kadar kedinginan anaknya. “Ayo istriku..” Ucapnya menatap istrinya.


Ibu Ning membungkuk sebentar dan mengambil kotak kayu. “Ini ibu bawah untuk silsila kerajaan.” Ucapnya sabil menepuk pundak Qira.

__ADS_1


Qira menatap kotak itu bingung. ‘mengapa harus pamit dengannya?’ Batin Qira. “Apa ini?” Tanya Qira heran.


Semua orang didalam tersenyum malu, hanya kaisar Zauhan yang berwajah datar. “Ini darah suci.” Jawab Ibu Ning.


Qira semakin bingung. “Darah suci?” Beonya.


Ibu Ning mengangguk. “Iya. Ini darah sucimu.” Jawabnya.


Qira menggaruk telinganya. “Aku? Kenapa aku?” Tanyanya makin bingung.


Ayah kaisar Zauhan tersenyum dan menggeleng. ‘polosnya’ Batinnya.


“Ini darah malam pertamamu...” Jawab ibu Ning geregetan. Ia mencubit pipi Qira gemes akan kepolosan Qira.


“Malam pertama apa?” Tanya Qira semakin bingung.


Ibu Ning berdecap tambah gemes. Ia berbisik kepada Qira tentang sesuatuhal. “Darah perawan, darah kehormatanmu diwaktu malam pertama.” Bisiknya pelan.


Qira membuka mulut lebar, matanya membelalak. Sontak saja ia menyilangkan tangannya didada seakan-akan melindungi dirinya. Matanya menatap kaisar Zauhan marah. Ingin sekali rasanya ia membunuh saat ini jika Ibu Ning terkekeh dan berucap. “Bersenang-senanglah dihari pernikahan kalian. kami pergi dulu. “ Ucapnya.


Sedangkan kaisar Zuahan masih saja berwajah acuh. Mereka mengantarkn ibu Ning dan kaisar Terdahulu ayahnya Zauhan sampai keluar istana.


“Jangan lupa main kekediaman kami.” Ucap ibu Ning lembut. ia melambaikan tangan, tapi sebelumnya ia memeluk Qira hangat, tapi tidak dengan kaisar Zauhan. Seakan-akan mereka memiliki benteng pertahanan yang sangat tinggih.


Sesaat mereka pergi tanpa kata Qira menyerang kaisar Zauhan. Kaisar Zauhan menghindar semua serangan Qira.


Hiyak... Qira hanya menggunakan bela diri, pukul kanan kiri, putar, tendang. Ia bahkan menggunakan ilmu angin, matanya merah marah. Baju hanfunya berkibar bagaikan dewi turun dari langit. Rambutnya mengikuti alunan gerakannya.


Jujur saja kaisar Zauhan terpanah akan hal itu. Qira sangat cantik saat diterpah angin. Ia bahkan tak konsentrasi menghindar serangan Qira. Qira dengan cepatnya menendang perut kaisar Zauhan keras.


Seluruh orang yang menatap mereka menahan nafas, mereka bagaikan pendekar dari dewa, mereka berparas syurgawi. Kaisar Zauhan yang memiliki paras yang tak dapat di jelaskan dengan kata pemujaan, sedangkan Qira adalah keindahan yang sempurna.


Bugh,,,

__ADS_1


Qira berhasil menendang perut kaisar Zauhan. Kaisar cepat-cepat berkonsentrasi dan mulai menggunakan ilmu struli. Atau ilmu yang membuat Qira tak mampu bergerak barang seinci, “Hey.. lepaskan aku. Aku ingin membunuhmu..!” Teriak Qira marah.


Kaisr Zauhan menepak-nepak bajunya. Ia tahu apa alasan Qira marah. Ia mendekati Qira dan berucap. “Itu bukan darahmu.” Ucapnya dingin.


Tubuh Qira seakan kekurangan tenaga, ia melemaskan tubunya, kaisar Zauhan juga sudah melepaskan ilmunya. “Maksudmu. Tadi ibumu me---“


“Itu darah burung. Itu sudah teradisi kerajaan, jika kau tak memiliki kehormatan lagi, maka kau tak pantas menjadi permaisuri. Ibaratkan, jika kau menjaga kehormatanmu saja tak mampu, bagaimana kau mampu menjaga kehormatan kerajaan ini. “ Jawab kaisar Zauhan memotong perkataan Qira.


Qira menggaruk kepalanya. Jujur saja, seluruh tubuhnya sangat gatal hari ini. apakah ia benar-benar pingsan selama dua hari? Apa ia belum mandi selama itu menyebabkan seluru tubuhnya gatal? Tapi bahkan ia pernah tak mandi selama lima hari bukan? Atau karena kenyataan pahit yang ia hadapi?


“Maksudmu itu bukan darah malam pertama kita?” Tanya Qira polos.


Kaisar Zauhan menatap Qira cemooh. “Aku tak sudi menyentuhmu. Darah itu hanya untuk tradisi. Cih,,..” Ucapnya cemooh.


Qira menghela nafs syukur. Ia memang sudah bertekat pada dirinya akan memberi kehormatan dan mahkotanya pada pria yang memang pantas untuknya. Ia hanya ingin hidup tanpa beban dikemudian hari. “Syukurlah. Aku memang akan memberi mahkotaku pada satu pria yang memang pantas yang ku beri. Bukan pria yang hobby beristri seperti kalian.” Jawab Qira acuh.


Kaisar Zauhan menatap Qira tajam. “Apa maksudmu?” Tanyanya.


Qira menyekah keringat didahinya. Hari sangat panas dan mereka masih ditengah lapangan dan ditonton oleh banyak prajurit “Sudahlah. Kita berteduh.” Ucap Qira mendesah.


Kaisar Zauhan menatap Qira tajam, tapi tatapannya tertuju pada dahi Qira yang basah karena keringat, entah mengapa, tangannya bagiakan tersihir dan ingin menyekahnya lembut, matanya juga beralih kepada leher Qira yang basah, helayan rambutnya menempel karena keringat. Tangannya ter ulur dan merapihkan rambut dileher Qira yang menempel. Matanya pokus pada leher Qira yang basah, jujur saja, itu sangat sexy dimatanya, leher jenjang kurus, tulang kecantikan yang melengkung sempurna, kulit mulus dan putih semulus telur rebus, membuatnya tak bisa berpaling dari sana. Bahkan ia tak sadar jika tangannya mengelus leher Qira lembut untuk menyekah keringat yang sebesar biji jagung yang merusak pemandangan indah didepannya.


Pis...


Qira menepis tangan kaisar Zauhan. “Apa yang kau lakukan? Jangan sok romantis kepadaku.” Ucap Qira sinis. Ia menyeka lehernya yang masih dibanjiri keringat.


Kaisar Zauhan mengerjab sadar. Jantungnya berdenyuk menatap Qira. Ia merasa jika dirinya sudah gila saat ini. bagaimana bisa ia tak sadar akan hal yang memalukan...!


Seluruh prajurit menjadi saksi akan kejadian itu. Mereka merasa seperti ingin muntah darah, kaisar yang tak pernah mencintai wanita manapun begitu lembut? kaisar Zauhan bahkan tak pernah menyentuh seorang perempuan...!


Saat kaisar Zauhan sadar akan tatapan prajuritnya. Ia cepat ceat mengelak. “Kau sudah menjadi permaisuri dikerajaanku. Aku tak suka melihat penampilanmu yang begitu kumuh.” Jawabnya menghinah.


“Cepat pergi....!” Ucap Qira smabil menarik tangan kaisar Zauhan menjauh. Ia sangat malas berdebat kepada kaisar Zauhan yang tak ada habisnya.

__ADS_1


Kaisar Zauhan menepis tangan Qira. Ia menatap Qira tajam dan melangkah penuh wibawah meninggalkan Qira yang menggerutu kesal. Qira baru ingat jika ia tak boleh menariknya, berjalan mendahuluinya,


“Lihat saja, jika ikatan ini lepas. Maka kepala kau ku injak-injak.” Batin Qira. Qira melangkah dan mengalah, ia mengalah bukan karena kalah, tapi memang karena keadaan.


__ADS_2