
Leon“Kalian mau?” Tanya putri Tea sembari memberi satu tusuk tanghulu.
Leon dan Wolf menggeleng. Putri Tea hanya tersenyum dan mulai memakannya. “Woh.. ini sangat enak..” Gumamnya sembari mengunya. Pipi cubbynya tambah gembung saat pipi itu penuh dengan tanghulu.
Leon terkekeh melihat mata bulat dan jerni itu semakin membukat. Ditambah pipi cubby itu mengembang. Rasanya ia ingin menggigit pupi itu gemes, sedangkan Wolf hanya tersenyum tipis.
Tak menunggu lama putri Tea menghabiskan 20tanghulu tanpa jedah. Dan itu membuat Leon dan Wolf hampir tersedak air liur. “Kau lapar?” Tanya Leon.
Putri Tea tersenyum menampilkan gigi yang terselip sisa tanghulu. “Enak.” Ucapnya polos.
Tangan Loen terulur mengusap pipi bulat putri Tea. “Gigimu banyak sisa tanghulu.” Ucapnya.
Putri Tea terkejut. Pipinya memerah. Tentu saja ia berbalik menjahui Leon dan Wolf. Leon yang melihat tingkah kekanakan putri Tea hanya terkekeh dan menggeleng.
Kalian bertanya apakah orang-orang tak mengenali putri Tea? Jawabannya tidak. Karena putri Tea memang tidak pernah diperbolehkan didepan rakyat. Karena alasan tertentu., mau tau? Lanjut aja bacanya,
Wolf dan Leon hanya diam menatap punggung putri Tea. “Bagaimana dengan Qiqi Wolf?” Tanya Leon.
Wolf hanya memijat pelipisnya pelan. “Au yakin dia aman. Karena Qira kuat.”
“Kau benar.” Cicit Leon lagi. Mekipun Qira kuat. Tapi sayangnya rasa khawatir akan Qira masih tetap saja mengalir deras bagaikan hujan yang siap kapan saja turun.
Sedangkan Qira memilih menunggangi kudanya melajuh jauh. Ia memilih tempat dimana tempat yang paling bagus untuk ia merasa nyaman. Rumah-rumah diperkotaan sangat indah dimata Qira. Tapi Ia memilih menyusuri hutan karena jika melewati perumahan membuat dirinya tak bisa menunggang kuda secara brutal. Dia tak suka jika membawa kuda pelan. 'Pinggangnya sakit.' Jika berlama-lama berkuda.
Qira menghentikan laju kudanya saat melihat ada beberapa orang membawah satu pria paru baya memasuki sebuah gubuk tua dihutan. Alisnya terangkat. Ia memilih membawa Black ketempat yang lebih aman terlebih dahulu. “Apa kau merasakan jika sedari tadi ada yang mau bermain dengan kita Black?” Tanya Qira.
“Aku merasakannya. Bahkan yang mengikuti kita lebih dari tiga orang.”
Qira melajukan lagi kudanya. Ia tau jika digubuk itu adalah jebakan. “Ayoo kita perlihatkan bagaimana permainan yang baik itu seperti apa.” Ucap Qira diselah mengekang kuda.
Hutan yang begitu bagus nan asli didepannya berubah menjadi mencekam, daratan yang hijau mungkin akan berubah menjadi merah. Tepatnya akan menjadi hutan darah.
Sesaat setelah tempat yang Qira rasa cukup. Benar saja, ada 20orang yang menghalang jalannya. Sudut bibir Qira terangkat menjadi smirk evil. Ya, dia akan bisa menjadi malaikat penolong yang berhati suci, tapi jangan salahkan dirinya karena disisi lain ia mempunyai sisi jiwa iblis yang kejam.
“Berhentiii...!” Teriak pria berbaju serba hitam. Tepatnya salah satu dari mereka.
Qira menatap mereka dingin. “Kau sudah lihat bukan aku sudah berhenti. Bisakah kau tidak menjadi orang bodoh?” Jawab Qira.
__ADS_1
“Beraninya kau. Sebelum mati saja kau masih mau menghina orang.” Sahut orang lain.
Qira melompat dari kudanya. Ia melangkah mau, ya, sekarang ia sudah dikepung. “Apa yang kalian ingin dariku?”
“Kematian.” Sahut pria yang paling kekar. Sepertinya dia adalah ketua dari kelompok ini
Qira mengangguk diam. “Baiklah, kalian mau menjadi dewa?.” Qira tersenyum tipis.
“Hahah. Apa telingamu tuli? Aku mau kematianmu..!” Bentaknya lagi.
Qira menghembuskan nafas kasar. “Berarti kau mau menjadi dewa kematian bodoh...! Kau pikir kau bisa mencabut nyawa orang. Cek, dasar penjahat bodoh.” Jawab Qira lantang..
“Jangan banyak bicara... cepat tangkap dia dan bawah menuju gubuk,,,” Sahut dari rekan mereka yang lain.
Qira memamekan senyum evilnya. Rasanya dia memang sediki rindu dengan jiwa membunuh. Ia mengeluarkan dua pisau drai balik hanfunya dan meletakkannya didepan.
“Bunuh dia...!” Teriak pria tadi....
Seketika pula mereka menyerang Qira. Tapi, sebelum mereka menyerang Qira. Qira sudah bisa menghanguskan mereka dengan satu kali kedipan. Senyum evil Qira berkembang biak saat ini saat meliat wajah ketua penjahat itu menjadi pias.
Saat mereka maju menyerang Qira. Hanya beberapa langkah, entah datang dari mana, ada api yang melingkar dan melindungi Qira, tapi mendekat kepada mereka bagaikan omak yang dahsyat tat kalah sedekit kemudian. Dan sekarang mereka menjadi debu dalam waktu kurang dari 3menit.
“Bagaimana? Masih mau bermain denganku?” Tanya Qira mematikan.
Wajah pria itu tambah pias. Saat ini ia hanya berdua saja, jika Qira membunuh 18orang dengan satu detik, lalu apa kabar dengannya yang hanya berdua.
Clap...
Arg...
Pisau Qira menancap didada salah satu dari mereka. Qira lagi-lagi memberikan senyum yang mematikan. Saat pria itu hendak kaburm sayangnya Qira sudah berada didepannya.
“Mau kemana? Katanya mau bermain. Ayoooo.” Ucap Qira membuat pria itu tambah pias.
“Am am ampun...ma maafkan aku. Ma maafkan aku, aku tak sengaja. Kam kami salah orang. Kami ditugaskan membunuh wanita bodoh. bukan dirimu.” Ucapnya bergetar.
Qira tertawa didepan pria itu lalu menaik turunkan alisnya. “Siapa nama orang yang kalian ingin bunuh?”
__ADS_1
“Mi Ming Zu. Ya putri Ming Zu bodoh..” Jawabnya gugup lagi.
Qira berdecap sebal. Bagaimana bisa seorang penjahat sangat takut seperti ini. “Tunjukan dimana orang yang menyuruhmu.” Ucap Qira berubah dingin.
Pria itu menatap Qira dengan keringat sebiji jagung, bau gosong daging sudah sangat membuat dirinya mual. Sunggu ia merasa ingin muntah saat melihat temannya dimakan api begitu ganas. Sekarang ditambah temannya sudah mati tanpa menggunakan hitungan detik. Lalu kebodohan apa yang sedang ia hadapi? Ini bukan bodoh.. Tapi dewa kematian...!
“Kau tak mau menunjukanku? Baiklah..” Ucap Qira sambial mendekat.
Pria itu semakin pias. ia mematung ditempat, rongga mulutnya seakan penuh dengan kekosongan. Jujur saja, rasanya saat ini ia merasa bertemu dewa kematiannya sendiri. Sungguh gadis kecil didepannya ini lebih mengerikan.
Entah mendapatankan keberanian dari mana, pria itu mencoba menyerang Qira dengan pedangnya. Bisa Qira lihat jika tangan pria itu sedikit gemetar. ahhh rasanya sedikit mengasyikkan bermain dengan kucing hutan.
Qira hanya mengindar kiri dan kanan, tanpa mau menerima atau menyerang. Pria itu semakin marah dalam kekalutan. Bisa kalian bayangkan melawan dengan ketakutan? Disinilah ia sekarang. Dimana teknik berpedang yang selama ini ia peajari entah pergi kemana. Rasanya otaknya buntuh saat ini. yang ada hanya serang, bunuh, selamat..
Merasa sedikit memakan waktu Qira dengan cepat mengarahkan pisau satu satunya lagi tepat pada mata pria itu.
Clap...
Arh,...
Suara rintihan pedih itu melengkin ditelinga Qira. Pria itu sudah tak lagi menyerang. Tangannya sudah melepaskan pedangnya dan memegang mata kanan yang sudah tertancap pisau. Darah sudah memenuhi wajahnya. Sunggu jeritan yang ia keluarkan begitu pilu.
Saat ini Qora memandang betapa menyedihkan pria itu bergulin-guling ditanah sembari memegang pisau dimatanya. Cihh,, rasa kasian Qira melanda hatinya.
Clap..
Ahkk....
Qira memilih membunuh pria itu dengan memenggal kepalanya. Ia menggunakan pedang pria itu sendri. Setidaknya rasa sakit dimatanya akan hilang bukan jika kematian melanda?
“Waktunya bersenang-senang..” Guamam Qira. Ia mendekat kepada kepala mayat yang matanya di tanah dengan mata tertancap pisaunya. Tak lupa mengambil sarung pedang dan meletakkan dipinggangnya. Ia bahkan mengambil dua pedang sekaligus.
.
.
.
__ADS_1