Putri Zhu Qira Han

Putri Zhu Qira Han
Amukan Leon


__ADS_3

**Happy Aktion yuhuuu..... Kalo yang lain Happy Radding we beda yey wkwk.


Emang cuma 1Capter, tapi isi 2500 kata setara dengan 2up.... Mangat**.


.


.


.


.


.


Bugh... Bugh.. Bugh.... (Anggap suara langkah kaki Yaa..)


Langkah kaki sosok singa besar itu membela jalan dengan lihainya, mengaung membuktikan bahwa ia berkuasa, semua yang ada dhutan sana menyingkir untuk memberi jalan yang ia lewati. Ia lah si raja hutan. Singa besar alias Leon.(Bagus nggak bahasanya wkwkwk...


Ia berhenti sejenak karena tak tau harus pergi kemana. Ia melirik kanan dan kiri.” Bodoh, kenapa aku tak menanyakan dimana tempat Zoulan berada saat ini?” Tanyanya pada diri sendiri. Ia meringis pelan sembari mengaruk kepalanya. “Aku harus kemana?” Gumamnya. Ia orang baru dikerajaan ini, maka mungkin ia tau dimana saja lokasi disana.


“Barat,, utara, timur... Argh.. bodoh, aku kan harus cepat..” Ia menyugarkan rambutnya membuat berantakan semakin berantakan. Namun sesaat setelahnya ada puluhan panah yang melesat kearahnya..


Slap.. slap.. slap...


Leon membulatkan matanya melihat itu. Untunglah ia bergerak kekana tanpa disengaja., jika tidak ia pasti sudah mati. ia menatap nyalang diselitarnya, tubuhnya masih tubuh singa bukan manusia. “Goar...” Ia mengaum dengan kencangnya membuat burung-burung disana mencicit lalu pergi...


Slap.. slap.. slap...


Anak Panah masih meluncur indah menuju Leon. Tapi dengan lihaynya Leon menghoindar. Melompar, melesat kekanan dan kekiri, ia meningkatkan kecepatan dan Mrlalukan Zikzak kesemua arah. Karena ia menggunakan bentuk singanya membuat tubuhnya dan kepekaannya lebih tinggi akan sekitar, ditambah jika ada hal yang sedang menargetkannya membuat ia memang lebih gesit dari angin.


“Goar...(Keluar...)” Guramnya keras karena marah. Pungungnya luka karena terkena anak panah yang melesat.


Tidak sampai menancap, hanya mengores saja saat lewat. Ia kurang cepat sebesar satu detik. “Hahah....” Tawa itu menggema, sepertinya jumlah mereka lebih dari dua orang membuat Leon siap siaga menatap nyalang sekitarnya.


Ia mencoba kabur dan berlari. Tapi semakin ia cepar berlari semakin kencang juga tawa itu. Ia melakukan lari Zik zak. Kanan dan kiri. Melompat bahkan ia berlari dengan cepatnya untuk menghindar anak panah yang masih menyerangnya.


Slap.. slap.. slap... beberapa kali anak panah itu hampir menancap dipungungnya, tapi ia sangat cepat dan sangat lihai dalam berlari membuat mereka tak mampu menyeimbangkan gerak Leon.


Hujan panah telah selesai saat sudah jauh.. tapi Leon masih tetap berlari. Leon berlari bukan karena ia takut atau pengecut, tapi ia sadar jika saat ini bukan waktunya bertarung, tapi waktunya ia cepat-cepat menemukan kerajaan iblis itu. Ia takut jika yang menyerangnya ini adalah kerajaan Barat atau dari klan Bluerose. ia tak mau hal itu terjadi.


Saat nafasnya sudah naik turun ia memperlamban langkahnya. Ia melirik kanan dan kiri kembali. “Dimana ini?” Gumamnya pelan. Ia tak mengenali tempat ini, ia belum pernah kemari sebelum nya. Disana pohonnya sangat besar-besar bagaikan raksasa. Ia menatap kekanan dan kekiri, semua pohon berbentuk sama namun tangginya menjulang hingga keawan.


“Kau terlalu lemah ternyata... Baru sebentar saja kau sudah lelah dan beristirahat.,..” Ejek seseorang.


Sebentar? bahkan Leon berlari selama tiga jam!!


Leon membulatkan matanya. Ia mundur beberapa langkah dan melihat asal suara. Disana ada tiga manusia bermata biru. Dua diantara mereka memegang busur panah dan satunya lagi memegang pedang. Pemegang pedang ada yang paling didepan. Wajah mereka sangat tampan dan mempesona karena mata mereka berbeda.


Leon mundur beberapa langkah lagi dengan siap siaga. Ia kira ia sudah tak diuntit lagi, ia baru tau kenapa anak panah itu tak kembali menyerangnya, ternyata mereka kehabisan anak panah... “Siapa kalian? kenapa kalian mengejarku dan menganggu ku? Apakah aku mumpunyai salah kepada kalian?” Tanya Leon pada mereka. Ia belum merubah bentuk manusia ya...


Leon sudah kehilangan banyak tenaga saat ini, sebab sudah setengah hari ia berlari dan terus berlari tanpa henti dan istirahat karena mau menemui kerajaan Iblis. Tapi saat ini ia diberi halangan untuk segerah sampai. Bagaimana ini? ia pasti akan terlambat.

__ADS_1


Satu dari mereka yang memegang pedang itu maju. Dengan senyum smirknya ia menatap Leon nyalang. Mata birunya sedikit mengkilat karena marah. “Karena kalian sudah menggaunggu kaum kami, lagi pula kalian hanya makhluk rendahan, yang memang harus kami basmi. Kalian hanya sampah dimuka bumi ini.. Yang hanya pantas hidup itu adalah kaum Bloerose..” Ujarnya sombong.


Sial... Mereka kaum Bluerose. apakah mereka sudah ketahuan? Lalu bagaimana keadaan kakek Liu dan Wolf? Apakah mereka sudah ditangkap dan dimana mereka sekarang?” Batin Leon pada dirinya sendiri. Ia tak memikirkan dirinya sendiri. Karena memang ini misi mereka bersama.


“Hahaha...” Tawa mereka pecah saat melihat mata Leon. Mereka mampu membaca fikiran Leon membuat mereka tertawa renya.” Kau khawatir pada mereka?” Tanyanya membuat Leon membelalak, apakah mereka tau ia memikirkan kakek Liu, Leon dan Via?


“Iya.. kakek Liu. Wolf atau serigala jorok dan jelek itu.. hmm gadis cantik itu juga... mereka sudah dicincang dan diberi makan untuk burung gakgak...” Ujarnya sinis saat melihat fikiran Leon. Ia tau Leon meikirkan hal itu.


Leon kembali membulatkan mata. Ternyata benar, jika kaum blurese mampu membaca fikiran orang lain.” Apa mau kalian denganku? Dan aku tak yakin jika mereka ditangkap..” Ujarnya kekeh dengan ketegasan dan kekeh pendapatnya.


“Oh,... Aku tak memaksamu untuk percaya. Tapi kau akan segera percaya setelah kau juga ku cincang dan mati. selamat berjumpah dengan teman-temanmu disyurga... Kau mau bertemu dengan Qiramu bukan?” Ia menyeringai keji lalu mengangkat tanganya.


“Serang...!” Ujarnya keras membuat yang lain maju dengan ilmu anginnya. Mereka hanya mengerahkan telapak tanganya kedepan lalu mengentakkan kaki mereka lalu. Blus... Leon mundur dan hampir menabrak pohon.


Leon yang mendapatkan serangan menjadi terkejut, mereka juga bisa ailmu angin?. Tapi Leon tak akan semudah itu untuk menyerah. Ia dengan segera menahan berat badannya dikaki supaya tak terpental atau kembali mundur, hanya dua kilan saja, ia pasti akan tertabrak pohon dan memuntahkan darah. “Gouar...” Ia meraung lalu menyerang dengan menerkam.


Mereka saling mengindar kekanan dan kekiri.


Slap... dengan lihai sosok pria berpedang itu menyerang dengan pedangnya. Ia mengarahkan ditubuh Leon, dan dengan cepat Leon menepis pedang itu, meskipun itu akan membuat ia terluka, tapi itu lebih baik dari pada ia harus melawannya dengan pedangnya. Lebih bahaya nantinya.


Pedang itu jatuh. Lalu Leon menerkam salah satu dari mereka. Ia mengarahkan kuku-kuku runcingnya menuju jantung.


”Goar... "dengan ganas ia menerjang membuat sang lawan terjungkal.


Namun bugh... ia diterjang oleh yang lain membuat ia terpental kesamping dan sedikit menggelinding akibat terlalu keras, ia bahkan sedikit memelantunkan tubuh. “Kurang ajar kau...” Teriak oleh pria yang hampir mati oleh Leon. “Kau sedikit bertenaga rupanya..” Ujarnya pelan. Ia sadar jika ia baru saja meremehkan lawannya tanpa tau kekuatan dan keahliannya. Tapi tak masalah. “ Sepertinya sedikit menarik..” Ujarnya.


Leon sedikit meringis karena punggungnya sangat sakit akibat terjangan itu. Ia mencoba berdiri dengan menumpuhkan lututnya. Kedua sisi lutut kaki dan tanganya berdarah akibat gesekan dari tanah keras itu, dibagian punggungnya juga ada luka akibat terena ranting kayu. Ia menatap mereka nyalang.’ Aku harus bisa dan pergi dari mereka’ Itulah yang Leon gumamkan dalam hatinya.


Namun mereka tak akan membairkan itu.” Serang..” Teriak yang memegang pedang, seprtinya ia ketua dari yang lain. mereka mengarahkan pedang dan pisau mereka.


Leon hampir terpental lagi namun ia lebih cepat menerjang pria yang menggunaan ilmu angin itu. Leon dengan amarahnya ia menghunuskan kuku jari-jarinya kearah dada pria pemegang panah itu.


Lalu srakk... dengan sekali sentak ia mengoyak dan mencabut jantung itu. Ia meremasnya disitulah membuat sang pria berteriak kesakitan.


.... bugh.. Leon mkembali diterjang membuat ia memuntahkan darah. Slap... satu kali tebasan punggungnya kembali berdarah dan terluka.


Slap.. slap... sudah beberapa luka yang Leon dapat membuat ia meringis.


Saat ini Leon tak merasakan sakit karena amarahnya lebih besar. Ia menatap lawan nyalang, dengan sedikit gemetar ia kembali menerkam lalu...


car... car.. ia mencakar dua sisi wajah pria pemegang pedang itu membuat danging putih itu terkeloyak, bergaris-garis dan mengeluarkan darah. Car.. car.. car.. berkali-kali leon mencabik cabik dan mencakar wajahnya.


Lalu ia kembali mencengkram dadanya lalu mengambil jantungnya. Kebiasaan Singa siraja hutan. Jika bertarung memang menjatuhkan jantung adalah tujuanya. Ia mencabuk-cabik dada itu lalu menarik jantungnya. Jantung itu ia hancurkan dengan meremasnya. Tubuh Leon peduh dengan darah saat ini. kedua kukunya apun diselipkan daging manusia membuat satu lawan lagi meneguk saliva kering. Leon sangat menyeramkan saat ini. sungguh..!


Mata Leon menyalang. Bugh... satu terjalang lagi ia dapat. Ini berasal dari ilmu angin. Itu dari satu lagi lawannnya. Leon terpental dan punggungnya Ia mendarat disatu pohon besar. Dadanya tersenak membuat ia muntah darah. Lawannya dari klan bermata biru itu mengerang marah karena kawanannya sudah mati dengan tragis. Ia menghentakkan kakinya dan menjurusi ilmu angin membuat pedang itu terbang dan mengarah pada Leon. “Mati kau...!” Teriaknya.


Leon yang sudah seperti ini sudah pasrah, sebab ia sudah sangat lelah dan tak bertenaga. Ia sudah tak bisa bergerak. Tubuhnya sudah luka semua membuat tubuh singanya langsung berubah jadi manusia. Ia memejamkan mata untuk merasakan pedang itu menghunus kedadanya. Ia tersenyum tipis dan membayangkan wajah Qira penuh dengan senyuman. Ia juga membayangkan sebagaimana ia mengendong Qira dan memeluknya. ia menitihkan air matanya ‘Kita akan kembali berjumpah Qira. tungu aku..” Gumamnya.


Namun pedang itu tak juga sampai membuat ia mengernyit.” Apa aku sudah disyurga? Apa mati tak begitu sakit?” Gumamnya pelan. Ia mencoba membuka satu matanya untuk mengintip.


Tapi pandanganya tertutup oleh jubah putih seseorang. Dengan cepat ia membuka satu lagi matanya. Benar,,, dia adalah manusia karena ada kakinya dan ada tanganya. Tangan manusia penyelamatnya itu hanya ditegakkan keudarah, setara dengan dagunya namun dimajukan sedikit. Pedang itu berhenti..

__ADS_1


.....


“Sudah sejauh ini aku belum menemukan binatang buruan. Ada apa ini? kenapa tak ada hewan-hewan disekitar sini?” Ricau sosok itu bingung. Ia biasanya selalu mencari makanan dihutan ini, tapi ia tak menemukan satupun buruan. Apa para hewan buruan sedang menyepi dan sedang santuy?


“Apa Semua Hewan sedang berlibur dan tidur?” Gumamnya pelan. Ia menggeleng.” Aku ingin kekota, aku merindukan makanan terbuat daru mie itu. Sudah sepuluh tahun aku tak memakan-makanan luar.” Gumamnya lalu perhi dari hutan iytu dengan melesat.


Matanya menatap sekitar. Masih sepi.. sunyi dan juga suram. Ia melangkah maju dn maju tapi tak ada satupun warga. “ Apa pasarnya sudah pindah?” Ricaunya melihat suasana.


Hening... bagaimana bisa pasarnya pindah? Ia menggaruk lehernya yang tak gatal, sebab situasi ini membingungkan.


“Haloo.... Ada orang disekitar sini..”! Ia meletakan kedua sisi tanganya dipinggir bibirnya. Ia berteriak layanya orang hutan karena heran.” Apakah disini tak ada orang???” Teriaknya lagi namun hanya ada suara angin... beberapa kali juga ada suara gesekan kayu keranting, daun dan dedaunan lain.


“Sepertinya ada yang tak beres.,” Gumamnya pelan. Namun ia kembali terkejut saat ada lima kuda yang datang dan menemuinya, diatas kuda ada prajurit dari kerajaan Barat menggunakan baju perangnya lengkap dengan kepala dan muka ditutup, hanya menampilkan matanya saja, itupun sangat gelap dan tak nampak olehnya.


“Sedang apa kau disini? Cepat mengungsi dan pergi sii tua.. Kau ini keras kepala sekali, jika kau mati disini nanti bagaimana?” Teriak salah satu prajurit yang paling belakang.


Sii pria itu mengernyit.” Kenapa aku harus pergi dari sini? Dan kenapa aku akan mati disini?” Tanyanya menantang. Sebenarnya bukan menantang, tapi ia sedikit penasaran.


"Kan sudah dikatakan sedari kemarin.. para lansia harus pergi mengungsi.. anak-anak dan ibu-ibu. Kalian harus mengungsi sebab sebentar lagi kerajaan kita akan berperang. Kau ini tingal dimana ha? “ Teriaknya sama sekali tak sopan.


Pria itu embali melipatkan alisnya.” Aku tinggal dihutan.” Jawabnya jujur.


Prajurit itu mendengus dan melirik satu sama lain.” Wajar saja jika begitu. Ternyata kau manusia hutan rupanya.” Ujarnya ketus.” Sudah sana pergi dan mengungsi dari sini jika masih ingin tetap hidup. Kami tak akan berbaik hari hanya untuk menyelamatkanmu yang sudah tua itu. Jika kau gadis cantik, baru kami akan segera menolongmu. Kau harus sadar kakek tua..” Ujar salah satu yang lain...


“Kau benar Hoi.. Jika dia masih mau disini biarkan saja. Kalo ada yang mati satu tak masalah. Ia tak terlalu penting.. Kita harus cepat karena sebentar lagi peperangan tiba.” Ujar yang Lin. Ia cukup kasihan melihat pria itu diolog-olog oleh temannya. Ia orang yang punya sopan santun. Tenang saja..


“Haiss kau benar. Jika tidak kita pasti akan dibunyuruh kaisar Zauhan.. ayo..” Ujarnya lalu menarik tali kekang kudanya. Ia berbelok lalu meningalkan kakek itu.


Pria itu menatap mereka dengan dahi mengerut.” Perang? Apakah sudah dimulai?” Gumanya.” Setahuku tiga hari lagi.” Ujarnya pelan. Setelahnya ia membulatkan matanya saat sadar.” Perang dimulai? Asataga.. aku harus segera pergi dari sini..” Ujarnya lalu pergi dengan cepatnya. Menghiraukan rasa lapar drai perutnya yang sudah meronta-ronta meminta jata.


Goar.....


Ia menghentikan langkanya saat ia melihat dilangit-langit itu burung keluar berbondong-bondong. Bahkan kelelawar pun bergabung dengan burung-burung itu.” Ada apa disana?” Gumamnya melihat asal suara.


Karena ia penasaran, ia mendekat kesan lalu mencari asal suara. Beberapa saat ia mencari dan mencari, ia menemuan Leon yang sedang mencakar wajah dari mereka. Ia bahkan melihat Leon meremas jantung lawannya.


Lalu ia melihat tubuh singa Leon terpental dan jatuh. Ia memuntahkan darah. Ia terkejut karena lawan Leon mampu mengunakan ilmu angin. ‘Kaum bluerose..’ Gumamnya lalu keluar dari persembnyiannya.


Dengan segera ia berdiri didepan singa besar yang sudah menjadi manusia itu. Ia mengangkat tangan keatas untuk menghentikan ilmu itu, mudah baginya. Lalu ia menghempaskan tanganya kedepan dan.


Cap... huhh... Lawannya itu tertancap pedangnya sendiri. Pergerakan pria itu sangat cepat membuat singa di belakangnya itu membuka mulutnya. Lawannya jatuh ketanah dengan pedang tempus kebelakang. Ia kejang kejang dengan mata melotot.” Jadi ingat Qira..” Gumamnya. Qira memang sangat mudah membuh orang seprti itu. Ahhh...


“Kenapa kau berurusan dengan kaum bluerose?”


.


.


.


.

__ADS_1


**Come back oke..


Jangan lupa Like komen and vote oke**


__ADS_2